
Keempat manusia yakni dua orang wanita dan dua orang laki laki kini tengah duduk dibangku taman.
Setelah setiap mulut memberikan pendapat kini suasana menjadi hening, masing masing berkalut dengan pikiran sendiri kecuali Arsean yang memang tidak mengerti apa apa.
" huhhff... " helaan nafas terdengar dari yang paling tua siapa lagi kalau bukan Rafelio.
Lelaki itu memandangi setiap wajah yang duduk berhadapan dengannya, dan terakhir mengukir senyum pada sang pujaan hati.
" kamu tau kan kesalahan kamu Anggiva, berapa banyak lagi kebohongan yang masih kamu tutupi.. " Rafelio memandang kearah sang adik.
" maaf... " satu kata yang paling jarang keluar dari mulut Anggiva kini tertera untuk sang kakak tercinta.
Rafelio menghela nafas, lebih baik adiknya melawan dan kalau seperti ini dia kan jadi kasihan.
" apa uang yang aku berikan setiap bulan itu tidak cukup untuk mu.. " Gaya bicara Rafelio terdengar berbeda sekarang.
" apa karena keberadaan dia membuat kamu harus mencari uang lebih.. " lanjut Rafelio menuju pada Arsean yang duduk anteng.
" tidak... jauh sebelum keberadaan dia, aku sudah bekerja atas kemauan aku sendiri, jadi masalah ini tidak ada sangkut pautnya sama Arsean.. " sergah Anggiva cepat.
Naumi yang tidak tau harus berkata apa mencoba mengelus pelan pundak Rafelio berusaha memberinya ketenangan.
" tidak semua orang punya selera yang sama, terkadang mencari sedikit petualangan itu perlu, kehidupan itu tiada yang tau pada akhirnya akan menjadi seperti apa, dan pengetahuan bukan hanya tentang pelajaran, tapi pekerjaan juga. " tutur Naumi membuat Anggiva tersenyum mengiyakan.
" tapi-
" apa pun itu, adikmu pasti hanya ingin menjadi mandiri dan tidak membuatmu terlalu terbebani, dia menyayangimu meskipun dengan cara yang berbeda. " ucap Naumi memotong perkataan Rafelio.
Lagi lagi Anggiva dibuat terharu oleh teman kerjanya itu, kalau begini tanpa ragu ragu lagi ia akan langsung menyetujui Naumi yang akan menjadi calon kakak iparnya.
" jangan terlalu keras mengekangnya, seseorang juga perlu sedikit kebebasan untuk berbaur dengan lingkungan yang baik tentunya.. " lanjut Naumi kini benar benar membuat Rafelio mengerti.
Rafelio sadar dengan sikapnya begini pada Anggiva berarti dirinya juga sama seperti ayahnya yang terlalu mengekang dengan keras.
Lelaki yang menjabat sebagai Dosen muda itu kini beralih menatap Anggiva yang sedari tadi menatap nya.
" oke untuk masalah ini fine.. aku memaafkan mu.. tapi tentang masalah Ar-
" lo tu kenapaa sih goblok dari kemaren belum kelar juga masalah Arsean, tinggal iyain apa susahnya sih lagian gue gak bakal macam macam sama ni manusia, ngerti apa dia... heuuhh.. " Anggiva tak bisa mengontrol emosinya.
" plis deh bang, kalo lo ngizinin Arsean tinggal dirumah itu, gue bakal bantuin lo buat ngeyakinin papa supaya hubungan kalian direstui.. " ucapan Anggiva barusan terdengar menarik di telinga Rafelio.
" kita kerja sama, jika lo menjaga rahasia gue, gue juga bakal ngejaga rahasia lo. " final Anggiva hanya menunggu untuk tanggapan Rafelio selanjutnya.
" oke deal gue setuju. " timpal Rafelio tanpa ragu ragu.
" nah begitu napa, gak usah dibikin ribet urusannya.. " cibir Anggiva.
" yaudah lo pulang deh sana ganggu momen kita aja.. " usir Rafelio pada kedua manusia dihadapan nya.
" iya ini juga mau pulang, ayo Arsean... eh kak hati hati ya sama dia... " Anggiva masih sempat sempat nya menakuti calon kaka ipar.
Naumi hanya tersenyum menanggapi, lagipula ia tau kalau Anggiva hanya bercanda.
Anggiva dan Arsean pun pergi meninggalkan mereka menuju rumah.
Keduanya memilih berjalan kaki sembari menikmati udara pagi yang hampir siang.
Arsean berjalan dengan pandangan tegak kedepan sedangkan Anggiva sedari tadi terus memperhatikan rahang tegas milik lelaki di samping nya.
Kalau diam seperti ini mustahil sekali jika orang percaya kalau Arsean adalah orang yang goblok.
Teng...
Dan tanpa disadari, Anggiva menabrak tiang didepan nya karena terlalu terpesona melihat keindahan di samping nya sehingga keberadaan tiang pun menjadi tak terlihat.
Anggiva mengelus dahinya karena sakit dan balas memukul tiang yang menjadi korban.
" kamu gakpapa Anggiva... " tanya Arsean menghentikan langkahnya dan mencoba meniup dahi gadis itu yang memerah.
" sakit.. lagian ni tiang kenapa ditarok disini sih ganggu aja.. " omel Anggiva memukul kembali tiang tersebut.
Wajar saja tiang berada disana dan mereka berjalan dipinggir di tempat tiang itu berada, masa tiang ditaruh ditengah jalan, kan itu yang salah.
" kok bisa Anggiva nabrak benda ini. " kata Arsean menelisik benda dihadapan nya.
" ya gak tau, ayo ah jalan lagi. " Anggiva menyudahi perkara tersebut dan berjalan mendahului Arsean agar dirinya tak terpesona lagi sampai menyakiti diri sendiri.
Anggiva terus berjalan didepan Arsean dan lelaki itu mengekori dibelakang, namun dilangkah selanjutnya membuat Anggiva berhenti karena mendengar keributan dibelakang nya.
Tentu tak terima, Anggiva langsung menghampiri mereka.
" ututuuuu ganteng banget sihhh. " ucap si perempuan yang berambut dora.
" gemessyy banget, jangan jangan kamu idol yang disembunyikan yaa.. " tambah perempuan yang bertubuh gendut.
" uuuhhh mau foto dongg.. " timpal perempuan yang lebih cantik dibanding kedua gadis lain.
Arsean yang diperebutkan malah senyum senyum tak tau situasi.
" heh minggir kalian... " ucap Anggiva dengan nada tak bersahabat.
" ini orang kenapa sih cemburu banget, nunggu giliran kita dulu dong. " ucap si gadis berambut dora.
" iya ih.. " gadis gendut itu juga menambahi.
" ayo sini foto. " gadis yang ketiga sudah mengeluarkan handphone nya untuk memotret dan menarik Arsean lebih dekat dengan dirinya.
Dan hal itu membuat Anggiva semakin geram, langsung saja gadis yang memiliki kesabaran tipis itu menarik Arsean ke dekatnya.
" dia pacar guee... " ucap Anggiva penuh penekanan membuat ketiga gadis itu merasa kecewa.
" jadiii gak usah kecentilan sama pacar orang yaaa, ayo sayang kita pergi. " lanjut Anggiva dan menggandengkan tangannya pada tangan Arsean.
" ihhh resek gue do'ain kalian cepat putus. " ucap si dora.
" kasihan banget ya cowo nya dapat modelan cewe kayak gitu.. " timpal gadis yang lebih cantik dari kedua temannya.
" hah.. gue yakin tu cowo pasti terpaksa, udah jelek galak pula. " ucap si gendut.
Tap...
Baru tiga langkah, Anggiva menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ketiga perempuan yang mengatainya barusan.
Arsean yang melihat itu juga mengikuti langkah Anggiva yang menghampiri perempuan itu.
" Anggiva mau foto juga sama mereka. " ucap Arsean semakin membuat Anggiva naik darah.
" diam kampret.. " emosi Anggiva.
Kini Anggiva tepat berada dihadapan ketiga gadis itu dan Arsean berada disamping Anggiva.
" coba ulangi sekali lagi. " pinta Anggiva datar pada makhluk di hadapannya.
" heuh apa ha lo pikir kita takut sama modelan cewe kayak lo.. " balas si gendut.
Anggiva memutar bola mata jengah dan manatap ketiga lawan satu persatu.
" brengsek.. "
PLAKK...
Dengan gerakan cepat, Anggiva menempelkan lima jarinya dipipi si gendut membuat si empu meringis dan semua yang melihat itu terkejut terlebih lagi Arsean.
" heh kurang ajar lo main tangan. " ucap gadis cantik itu pada Anggiva.
" gue orang nya gak bisa main mulut jadi langsung aja ya main tangan. " balas Anggiva tersenyum remeh.
" mau ngajak berantem lo, ayo sini. " Si dora sudah menarik jurus.
Anggiva tersenyum menanggapi dan detik selanjutnya, tendangan miliknya mampu membuat si dora tidur di tempat.
" akhh... " Ringis si dora terduduk di jalan.
" satu lagi ayo maju.. " ucap Anggiva menyisakan satu lawan lagi yang tampak ketakutan.
Gadis cantik itu sudah mengambil ancang ancang dan Anggiva baru saja hendak melayangkan tinjunya, tiba tiba tubuhnya digendong tanpa aba aba oleh Arsean dan berlari membawanya pergi menjauh dari mereka.
" hei lepaskan aku belum meninju wajahnya yang sok cantik ituuuu... lepaskan akuuu... hei lepaskan.. " Anggiva terus memberontak tapi Arsean bisa menahannya sampai membawanya pergi menjauh.
Dirasa sudah jauh barulah Arsean menurunkan Anggiva.
" aku hanya gak mau Anggiva buang buang waktu sama mereka, ayo kita pulang. " Arsean lebih dulu berucap membuat Anggiva menunda ucapan mutiaranya.
" ayo kita pulang.. " lanjut Arsean dan Anggiva memilih mengiyakan.