The Magic Of The Sea

The Magic Of The Sea
bagian 23 Kelinci yang tidak bisa ditinggal



Ting.


Bunyi sendok yang menggema saat ditaruh diatas piring yang kosong itu. Arsean mengusap perutnya dan bersandar di kursi setelah memasukkan sarapan ke dalam perutnya.


Anggiva juga melakukan hal yang sama lalu bergegas membereskan piring piring kotor agar ia segera berangkat sekolah.


Sedangkan Arsean hanya diam memperhatikan.


Setelah semua beres Anggiva pun berpamitan.


" aku pergi kesekolah.. saat kutinggal jangan membuat ulah lagi kau mengerti. " peringat Anggiva dan diangguk mantap oleh Arsean walau nantinya ia lupa atau apa.


" pintaaarrr... " puji Anggiva sembari mengusak gemas rambut lelaki itu.


Tak tinggal diam Arsean lalu mengambil tangan yang mengusak rambutnya kemudian menciumnya entah darimana ia pelajari, mungkin kebanyakan nonton kali.


Cup..


" setelah selesai langsung pulang ya. " lembut Arsean sampai menusuk jantung sang gadis didepannya.


Jadi salah tingkah lagi Anggiva lalu melepaskan tangannya dan bersikap sebiasa mungkin.


" kayaknya setiap hari begini deh... kamu kan sudah terbiasa harusnya-


Greepp..


" gak mau aku gak mau ditinggal... aku maunya Anggiva terus berada disamping ku aku tidak bisa hidup tanpa Anggiva. " Anggiva tak mampu melanjutkan kalimatnya saat tubuhnya lagi lagi ditempeli oleh lelaki itu.


Ini bukan pertama kali tapi rasanya tetap membuat jantung tidak aman.


Gadis itu tersenyum menepuk nepuk bahu Arsean dan setelah nya melepaskan pelukan itu dengan pelan karena ia juga harus ingat waktu untuk sekolah.


" bukan tidak bisa hidup tanpa aku tapi tidak bisa hidup tanpa nyawa... hahah... kau iniii... suatu saat ada kalanya kita berpisah. " lirih Anggiva diakhir.


" berpisah...???... " bingung Arsean.


" aku dan kamu tidak lagi bersama... mungkin... tapi aku harap itu takkan pernah terjadi.. " bagaimana tidak ia mengatakan seperti itu, keberadaan Arsean belum diketahui oleh keluarga dan kerabatnya lalu apakah kehadiran Arsean yang entah darimana asalnya bisakah diterima dikeluarganya nanti.


" eee... aku sudah terlambat... aku harus segera pergi... baik baik ya dirumah. " Ucap Anggiva mengalihkan topik.


" heumm... cepat pulang ya.. " lirih Arsean.


" iyaaa... " jawab Anggiva lembut.


Anggiva mulai membalikkan badan namun langkah nya berhenti dan kembali menatap Arsean, namun kali ini ia mendekat kearah lelaki itu dan...


Cupp..


Tepat sekali gadis itu mendaratkan kecupan sayang di pipi Arsean sambil berjinjit karena tingginya dengan tinggi Arsean tidak sepadan.


Arsean yang merasa diperlakukan seperti itu serasa berbunga sampai tak bisa memperlihatkan ekspresi bahagia nya.


" jangan buat aku kesal seperti kemarin.. dengan duduk diam menungguku saja sudah membuat ku senang... setelah selesai aku akan langsung pulang... daaa.. " dengan malu malu Anggiva mengatakan itu lalu langsung berlari kearah pintu dan pergi menuju sekolah.


Sepeninggalnya Anggiva, Arsean mematung dan memegang dadanya.


" kenapa seperti ada yang joget joget didalam dadaku ini.. " ucap Arsean yang juga bingung dengan perasaan nya sendiri.


" Anggiva ituu.... aku ingin selalu bersama nya... dan sekarang aku merindukan nya.. aku ingin selalu berada didekatnya.. " lanjut Arsean.


Disekolah Anggiva.


Singkat saja sekarang sudah menuju jam istirahat dan bisa dipastikan banyaknya murid yang menuju kantin termasuk Anggiva sendiri.


Tengah asyik menunggu pesanan, Tiba-tiba bahunya ditepuk pelan dari belakang dan bersamaan dengan itu pula Abian muncul dan menarik kursi untuk duduk bersama Anggiva.


" boleh gabung yaa... " tanya Abian menyunggingkan senyum.


" ee.. i-iyaaa... " jawab Anggiva salting sendiri.


Entah kenapa kehidupan Anggiva sekarang dipenuhi dengan kesaltingan apalagi semenjak kemunculan Arsean.


" gak ah... kan kamu punya teman sendiri... dan gak mungkin aku ngajak kamu... " lembut Anggiva.


" teman???.. datang disaat dia susah dan kita senang..??.. kurasa tidak ada yang namanya teman. " ujar Abian.


" disaat senang kan butuh teman juga. " imbuh Anggiva.


" iya... tapi masalah nya kenapa disaat kita susah dia tidak ada... setelah pertemanan setia ku dikhianati... aku tidak percaya lagi yang namanya teman.. " Abian terlihat serius dan Anggiva tidak tau harus menanggapi apa.


" kamu sendiri bagaimana... " lanjut Abian.


" ah.. akuu... yaaa... aku yap bisa dibilang seperti itu tapi bedanya aku sendiri yang malas berteman... hehe... " Anggiva jawab seadanya dan itu bukan kebohongan.


" diri sendiri adalah teman terbaik.. " lanjut Anggiva.


" malas kenapa... " tanya Abian dan disela sela itu ia sempat mengode penjual yang kebetulan melihat kearahnya untuk membuatkan pesanan langganan nya.


" euum... gak tau.. udah ah gak usah ngomongin teman... " Anggiva berusaha menghilangkan topik tersebut.


" lalu apakah aku ini bisa dianggap temanmu... atau... eee... "


" untukmu ada pengecualian... yaa... mulai sekarang kamu adalah temanku... untuk saat ini... yaa... hehe... " jawab Anggiva lalu pandangannya teralihkan pada pesanan yang dibawa penjual kearahnya.


Abian tersenyum namun entah kenapa ada rasa tidak puas dihatinya saat Anggiva mengatakan hanya teman karena dia mungkin sudah menaruh perasaan lebih pada gadis itu.


Rupanya duduk diam tak mencampuri urusan orang lain ada saja yang benci, seperti teman teman sekelas Anggiva yang menatap kesal kearahnya karena bisa begitu dekat dengan sang pujaan mereka. sudah kubilang Abian adalah siswa tampan disekolah itu dan sejauh ini belum ada yang mengalahkan nya meskipun hampir setara.


" kenapa sih si pendiam itu bisa dekat dekat sama Abian.. pake pelet apa dia.. " ucap Ayu seorang siswi yang menjadi ketua geng dari dua temannya.


" diam diam rupanya berani juga ngomong sama cowok gitu... ditambah judes banget lagi... " timpal seila.


" wajahnya juga songong banget asli. " Tira menambahi.


" awas aja gue hajar nanti... Abian itu kan crush gue.. berani berani nya ditempelin. " kesal Ayu.


" mungkin Abian duluan yang nempel. " ucap Seila namun setelah itu ia menutup mulutnya sendiri karena keceplosan bikin Ayu tambah kesal.


" diam lo... lo teman gue apa bukan sih. "


" tau tu.. " tambah Tira.


Kembali ke tempat Anggiva dan Abian bercengkrama, saat ini mereka tengah menikmati makanan masing masing sesekali bersuara untuk meramaikan suasana.


" enak yaa.. " ucap Abian.


" sama kayak kemaren kemaren.. " jawab Anggiva.


" tapi enak... " timpal Abian.


" tapi ya sama... " tambah Anggiva dan mereka pun saling tersenyum.


" ohya kepengen lagi ya jalan jalan bareng kayak waktu itu.. " Anggiva tau kemana arah pembicaraan Abian dan seketika ia teringat ada satu makhluk tampan yang ditinggalkan dirumah.


" iya seruuuu... tapiii... ya gimana lagi... kepengen sih tapi gak bisa.. " Anggiva beralasan karena entah kenapa Arsean berada didekat nya terasa lebih nyaman saat ini.


Diajak jalan bareng sama crush adalah impian nya sejak dulu namun akhir akhir ini Arsean berhasil memudarkan perasaan bucin itu dan malah bisa dibilang Anggiva entah kenapa lebih senang bersama lelaki asing itu.


" yah baru aja aku mau ngajak kamu jalan. " Abian menyendu.


" iyaa tapi mau gimana lagi... " imbuh Anggiva.


" emang sibuk apa... " tanya Abian sembari menyeruput kuah sotonya lagi.


" eee.... ini... ee... ituuu... baru baru ini aku beli kelinci dan aku udah janji untuk jagain dia setiap saat dan aku gak mau jauh jauh dari diaa... " alasan yang tidak masuk akal namun Anggiva tidak kepikiran hal yang lain lagi.


" masak sih... " jelas alasan yang tidak begitu tepat menurut Abian.


" iya itu... yaudah lanjut habisin makan lagi yuk nanti keburu bel masuk.. " Anggiva mengalihkan suasana dan Abian terpaksa mengiyakan saja karena memaksa hanya membuat Anggiva risih nantinya.