
Seseorang terbaring begitu tenang diranjang, tak ada lagi suara erangan yang keluar.
Anggiva dengan setia mengusak ngusak rambut Arsean dengan lembut.
Rambut itu telah lepek karena keringat tadi.
Sungguh tak tega jika melihat si polos ini merasa sakit.
Sesekali gadis itu tersenyum melihat wajah Arsean yang begitu lucu saat diam seperti ini. Dia begitu tampan, Anggiva tidak bisa berbohong kalo soal itu.
Dirasa handuk kecil yang menempel didahi Arsean sudah mengering, Anggiva pun kembali membasahi handuk itu dan menempel kan ke dahi Arsean secara hati hati agar sang empu tak terbangun.
Ceklek..
Pintu kamar Arsean terbuka kembali dan itu adalah ulah Rafelio.
Anggiva melihat kedatangan sang kakak sejenak lalu kembali melakukan tugasnya.
" darimana...? " tanya Anggiva tanpa melihat lawan bicaranya.
" toilet.... bagaimana keadaannya. " jawab Rafelio sekaligus bertanya.
Lelaki itu mendekati Arsean yang sedang tertidur dan duduk disamping Anggiva di tepi ranjang.
" dia sudah tidur setelah minum obat. " jawab Anggiva.
" berarti obat itu ampuh dan kita tidak perlu memanggil dokter. " ucap Rafelio.
" tetap saja aku masih khawatir dengan keadaan nya, seharusnya kita memanggil dokter dan bertanya tentang penyebab dia sampai kesakitan seperti tadi. " oceh Anggiva membuat Rafelio beberapa kali mengorek ngorek telinganya.
" tadi aku terburu buru makanya langsung beli obat.. Sudahlah yakin saja kalau dia tidak apa apa.. " ujar Rafelio.
" tap-
" eunghh.. "
Anggiva tak lagi melanjutkan kalimat nya saat mendengar lenguhan kecil dari mulut Arsean, tak hanya Anggiva Rafelio juga ikut memperhatikan pergerakan Arsean.
" kau sudah bangun, eee... maafkan keributan tadi kau pasti bangun karena terganggu oleh kami... " ucap Anggiva menyesal.
Arsean tak langsung menjawab, ia berusaha menetralkan cahaya yang masuk ke matanya lalu memandang setiap orang yang berada disana.
" apa perutmu masih sakit.. " tanya Anggiva lembut dan dapat gelengen lemah dari orang yang ditanya.
" benarkah kau baik baik saja.. " ulang Rafelio dan dapat anggukan dari Arsean.
" baiklah aku hanya ingin memastikan. " lanjut Rafelio lalu tangannya menekan perut Arsean untuk memastikan jika dia tak lagi kesakitan.
" akhhh... " Arsean mengerang sakit dan memegang tangan Rafelio yang menekan perutnya.
" Hei bodoh lepaskan jika begitu siapa yang merasa tidak sakit.. " ucap Anggiva sembari memukul kepala Rafelio membuat sang empu meringis sakit.
" hei kau tidak sopan memukul kepalaku. " kesal Rafelio sambil memperbaiki rambutnya yang padahal tidak rusak sama sekali.
Anggiva tidak peduli dan malah memperhatikan Arsean membuat Rafelio tambah kesal.
" masih sakit engga.. " Anggiva merasa tak tega melihat raut wajah Arsean yang kesakitan karena ulah Rafelio.
Gadis itu pun berinisiatif untuk mengelus perut Arsean dengan lembut.
" apa ke dokter aja yaa.. " usul Anggiva yang langsung mendapat celengan brutal dari Arsean.
" ah tidak apa apa aku baik baik saja. " ucap Arsean dan memindahkan tangan Anggiva dari perutnya dengan lembut.
" kenapa kau takut sekali pergi kedokter, apa ada sesuatu yang kau sembunyikan hm... " Tanya Rafelio menaruh curiga.
Mendengar itu Arsean tak berani menatap Rafelio yang memandangnya dengan curiga.
" sudahlah jangan membuat dia merasa tidak nyaman.. " Anggiva menengahi kecurigaan Rafelio.
" hmm.. tidak bisa dibiarkan begitu saja, minggir kau sebentar.. " kata Rafelio mengusir Anggiva dan duduk lebih dekat dari Arsean.
" eee... Maaf.. " lanjut Rafelio pada Anggiva karena telah membuat adiknya mencium lantai dengan pendaratan yang lembut.
Sebenarnya niat Rafelio cuma ingin menakut nakuti Arsean.
" tolong ya beri kami para lelaki sedikit waktu... " ucap Rafelio pada Anggiva.
" dan kamu ayo jawab... " lanjut Rafelio dan kini ia memegang kerah baju Arsean.
" lo gila yaa.. " cibir Anggiva namun diabaikan Rafelio.
" kamu itu dari awal sudah aneh, ingat ya kecurigaan ku masih ada terhadap kamu dan sekarang kecurigaan itu semakin besar. " jelas Rafelio.
" ayo katakan.. " lanjut Rafelio menggoyangkan pundak Arsean.
Lelaki itu bukannya tak ingin menjawab tapi ada sesuatu yang ditahan sedari tadi.
" minggir gak sebelum aku tendang.. " ancam Anggiva.
" ayo di jawab.. " Rafelio masih menagih jawaban pada Arsean.
" hug.. hueekk... huukkhh.. " Tak lagi dapat ditahan, Arsean memuntahkan isi perutnya tepat dibaju Rafelio membuat dosen itu menegang di tempat sedangkan Anggiva meledakkan tawanya.
" hukkhh... maafkan aku perutku terasa seperti diaduk aduk.. hugg.. " Arsean menutup mulut nya merasa mual.
" ahahahahaha.... hahahaha... mampuussss... maammmpuuusss... " Anggiva berucap puas melihat Rafelio yang terlihat pasrah.
" huekk.. " Rafelio ikutan mual melihat muntahan Arsean di bajunya dan langsung berlari kekamar mandi.
" ahahaha... rasaiiinn sok soan sih makan tu muntahan.. ahaha... "
" maaf aku tidak sengaja.. " sesal Arsean.
Anggiva langsung menduduki tempatnya yang tadi dan membantu membersihkan Arsean dengan air yang ada dibaskom sedari tadi sudah berada disana.
" tidak apa apa.. sini aku bersihkan.. " Anggiva memaksakan diri membersihkan bekas muntahan yang ada di mulut serta baju Arsean.
Berusaha menguatkan diri yang padahal dia ikutan mual melihat hal tersebut.
" uuuhh ya ampoouunnn tolong kuatkan dirikuuu.. hukkhh.. " batin Anggiva.
" nah sudah selesai.. aku bawa ini ke belakang dulu yaa kamu lanjut tidur aja.. " Anggiva lalu bergegas pergi dari sana sambil membawa baskom tersebut.
Sepeninggalan Anggiva, Arsean tersenyum melihat perlakuan gadis itu padanya dan merasa sedikit bersalah pada Rafelio.
Lalu ia membaringkan diri dan sesekali mengelus perutnya yang merasa tak karuan.
" uuhhkk.. apa yang salah dengan perutku, uuuhh.. rasanya tidak nyaman.. huukk.. aahh muall.. " Arsean menutup mulutnya dan meremas perutnya.
Obat yang tadi memang ampuh tapi masih meninggalkan bekas.
Lelaki itu memaksakan diri untuk tidur agar merasa tak sakit lagi.
Sedangkan dikamar mandi, Rafelio sibuk membersihkan bajunya yang terkena muntahan Arsean dan tak berhenti mengoceh kesal.
" ckk.. sial banget sih padahal aku mau nakutin tu anak tapi malah aku yang kena beginian, kalo aja aku gak mikir dia lagi sakit... udah aku ajak baku hantam dia.. huhuhuu baju mahal ku sudah ternodaii.. " oceh Rafelio.
" awas Anj*** " ucap Anggiva tiba tiba memasuki kamar mandi sambil berjalan terburu buru masuk ke toilet.
" tu anak kenapa sewot.. " Rafelio bingung melihat adiknya yang masuk ke toilet dan detik kemudian ia mendengar suara muntah dari dalam.
" huh.. sok kuat kena juga kan lo. " cibir Rafelio dan kembali sibuk mencuci baju.
Setelah selesai menuntaskan muntahnya yang hanya keluar air bening, Anggiva pun keluar untuk mencuci muka dan berdiri disamping Rafelio yang sibuk membersihkan baju.
" huumm sok kuat, kerasa juga kan lo. " cibir Rafelio.
" diam lo, uuuhh gak kuat guee... iuuhh. " ucap Anggiva.
" ahahahaha... hahahahah... rasaiiinn gue balas ngetawain lo sekarang ahahahaha... ahahaha.. " Rafelio merasa puas tertawa sedangkan Anggiva merasa kesal dan menyiram kakaknya dengan air.
" iihh jangan basah tauuu... "
" biariin uwlee.. " Anggiva menjulurkan lidahnya dan berlari meninggalkan Rafelio disana.
" huu untung adek kalo engga udah lama gue jadiin spageti.. " cibir Rafelio dan lanjut mengucek bajunya yang padahal sudah tak ada lagi noda yang tersisa.