
Berdiri di depan pintu kamar dengan kedua tangannya yang membawakan nampan berisi nasi dan air minum.
Gadis itu kini mendorong pintu dengan kakinya dikarenakan kedua tangannya penuh lagipun pintu ini tidak dikunci.
Gelap itulah yang pertama kali dilihat, berniat menaruh nampan itu terlebih dahulu sebelum menekan tombol lampu kamar Arsean.
Duggh..
" anjing kampret pakek kejedot segala ah. " gerutu Anggiva yang menabrak kaki meja dengan lututnya dan beruntung nya ia menemukan meja tersebut lalu menaruh nampan itu.
Klaks...
Tombol lampu dinyalakan dan dapat dilihat gulungan selimut yang berisi orang tengah tertidur diranjang nya ya itu adalah Arsean.
Pantesan gak ada suara ternyata tidur toh pikir Anggiva.
Gadis itu pun mencoba membangunkan Arsean yang bagaimana pun juga ia harus makan sekarang.
" heii... banguuunn.... " lembut Anggiva sambil menepuk pelan pipi Arsean.
Yang dibangunkan mulai tersadar namun sebelum itu wajahnya terlihat menampakkan raut kesakitan.
Anggiva yang jelas memperhatikan hal tersebut, gadis itu pun menyibak selimut Arsean yang menutupi tubuh laki laki itu sampai bahu.
Gadis itu semakin merasa bersalah ketika melihat kedua tangan Arsean memeluk perutnya sendiri yang bisa diartikan kondisi perutnya tidak baik baik saja sekarang.
" ya ampunn.. maafkan aku.. seharusnya aku tak membiarkan mu kelaparan.. ayo sekarang bangun dan makanlah.. " Ucap Anggiva sembari membantu Arsean untuk bangun setelah membuka matanya.
Arsean mendudukkan dirinya dan bersender masih dengan meremas perutnya sedangkan Anggiva sibuk dengan nampan makanan yang akan diberikan pada lelaki itu.
Anggiva duduk ditepi ranjang lalu mengambil sesendok nasi beserta lauk untuk disuapkan pada Arsean.
" ayo aaaaaa.... " mangap Anggiva sambil menyodorkan suapan itu.
Namun Arsean tak kunjung membuka mulut padahal makanan sudah berada didepan mulutnya, dirinya masih sibuk mencengkram perutnya yang terasa keram.
" ayo buka mulut mu... kau harus segera makan.. " intruksi Anggiva.
Arsean tak menggrubis dan malah bergerak tak karuan sekarang.
" hiks.. kenapa sakit sekali.. " lirihnya bahkan sudah ada jejak airmata di pipinya.
Melihat itu Anggiva jadi tidak tega dan menaruh piring nasi itu di nakas dekat tempat tidur.
" sssyuusssttt.... tenang lah... apa sangat sakitt... maafkan aku aku benar-benar minta maaf aku menyesal dan lagipula setengah nya hal ini juga karena si monyet itu.. padahal aku tak berniat membiarkan mu kelaparan sampai malam begini.. " sesal gadis itu sibuk mengelus lembut perut Arsean.
Greepp...
Lagi lagi pelukan ini yang Anggiva dapatkan, menepiskan rasa sakitnya terlebih dahulu demi memeluk gadis dihadapan nya kelakuan siapa lagi kalau bukan Arsean.
" aku minta maaf... aku janji tidak akan mengulangi lagi.. hiks.. maafkan aku.. tolong jangan marah lagi... hiks.. " adu Arsean.
Anggiva tersenyum dipelukan Arsean dan beralih mengangkat tangannya untuk mengelus pundak lelaki itu berniat untuk menenangkannya.
" aku juga minta maaf... sudah yaa.. ayo sekarang kamu harus makan... " ucap Anggiva sembari melepaskan pelukan itu dengan lembut.
" akhh.. " ringis Arsean tak sengaja memegangi perutnya.
" kau tidak apa apa... kalau memang parah ayo kita kedokter saja... " khawatir gadis itu.
Arsean menggeleng brutal.
Anggiva terkekeh lalu kembali mengambil piring nasi diatas nakas dan menyuapi Arsean.
" ayo... aaa... setelah ini minum obat sakit perut yaa... " Arsean mengangguk setelah melahap suapan yang diberikan Anggiva.
Arsean menikmati makanan itu dengan khidmat apalagi Anggiva yang menyuapi nya.
Suapan demi suapan telah masuk ke perut Arsean hingga ludes tak tersisa, tak lupa pula Anggiva memberi lelaki itu air minum.
" mau tambah lagi.. " tawar Anggiva setelah menerima gelas kosong yang diberikan Arsean bekas minumnya.
Arsean menggeleng lembut tak lupa menyunggingkan senyum pada gadis yang telah merawatnya.
" tunggu disini ya.. aku akan membawa piring ini ke dapur dan mengambil obat sakit perut untuk mu.. " ujar Anggiva dan berlalu darisana tak lupa membawa piring kotor tersebut.
Sepeninggal Anggiva, Arsean kembali membaringkan tubuhnya dikasur tanpa menunggu makanan yang barusan dimakan dicerna dulu.
Beberapa menit kemudian Anggiva kembali kekamar Arsean sambil membawa obat dan segelas air putih.
" jangan langsung tidur, kau harus minum obat dulu.. " cegah Anggiva dan mendudukkan dirinya ditepi kasur Arsean.
Lelaki itu kembali bangun dan menerima obat yang diberikan Anggiva.
" bagaimana cara nya ini.. " tanya Arsean memegang pil obat ukuran sedang itu.
" masukkan obatnya kedalam mulutmu lalu dorong dengan air setelah itu. " jawab Anggiva.
" air punya tangan.. " tanya Arsean polos, terkadang otak konyolnya itu muncul juga.
" aiss.. maksudku.. masukkan obat itu ke dalam mulut mu lalu minum air dan biarkan air itu mengalir ketenggerokan mu bersamaan dengan kau menelan pil itu... dasar kau ini.. minum obat saja harus diajarkan sampai sebegitunya.. disaat saat seperti ini ni aku mempertanyakan sebenarnya kamu ini darimana sih.. " tutur Anggiva membuat Arsean bingung.
" lupakan.. dan lakukan seperti yang diawal aku bilang tadi.. " lanjut Anggiva tak bisa melupakan fakta kalau Arsean ini sebenarnya masih ada rada rada begonya.
Arsean mulai melakukan seperti yang dikatakan Anggiva tadi, namun bukannya langsung menelan pil bersamaan dengan air lalu ia malah menyemburkan air itu bersamaan dengan obat tersebut kewajah Anggiva membuat wajah gadis itu basah sekarang.
Prruuffffttt.....
Arsean melototkan matanya dan segera membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.
Sedangkan Anggiva nampak pasrah dengan wajahnya yang basah terkena semburan Arsean.
" maafkan aku... maaf... " cicit lelaki itu pelan.
" mengingat kamu sedang sakit... baiklah aku tidak mempermasalahkan tentang ini... sekarang kau tidur lah... aku akan membersihkan wajahku.. " ucap Anggiva sama sekali tak ada gurat marah diwajahnya.
Arsean mengangguk tak ingin membantah lagi dan ia pun membaringkan tubuhnya tak lupa menarik selimut sebatas bahu.
Anggiva langsung meninggalkan kamar itu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Sampai dikamar mandi gadis itu terlihat menggerutu sendiri.
" aaaiiss... kalau saja dia tidak sakit.. pasti sudah aku balas semprot dia... aarthh.. apa ini menjijikkan sekali... ya ampun... ludah nya mengenai wajah skincare ku.. " Anggiva terus membasuh wajahnya dengan air sambil bercermin.
" hahh... dasar... manusia darimana sih dia.. kok bisa ya dia gak ngerti tentang cara kehidupan manusia meskipun sudah dewasa... apalagi saat pertama kali bertemu dia terlihat seperti bayi yang baru lahir tidak bisa mengerti apa apa.. kenapa aku tidak pernah curiga sebelumnya pada dia... apakah aku harus menyelidiki dari mana dia berasal... rasanya ada janggal pada dirinya itu. " ujar Anggiva menatap dirinya didepan cermin.
" sungguh kedatangan nya sangat misterious.. apalagi yang tiba-tiba langsung berada diranjangku saat itu. " lanjut nya.
" meskipun dia terlihat polos aku tidak bisa menganggap remeh juga.. aku harus tau darimana dia berasal... yah semoga saja ada petunjuk. " monolognya.