
Singkat saja, waktu pulang sekolah pun tiba. Para guru mengakhiri materi pelajaran nya begitu juga para murid yang begitu senang mendengar bel pulang.
Lagi lagi Reval keduluan Abian yang mendekati Anggiva.
" bareng yuk... " ajak Abian.
" gak papa emangnya... " tanya Anggiva tak enak bukan tak suka.
" ya gak papa lah malahan aku senang. " jawab Abian.
Keduanya pun jalan bersama menuju sampai ketempat parkir meninggalkan Reval dengan perasaan kesalnya.
Sampai disana netra Anggiva menangkap sosok yang amat dikenalnya di luar pagar beserta mobil hitamnya dan menunda kegiatannya hendak menaiki mobil Abian.
" ada apa... " tanya Abian melihat Anggiva yang menghentikan pergerakan nya.
" itu... bentar deh... " tunjuk Anggiva pada sosok yang melambai padanya.
" siapa.... " tanya Abian melihat seorang pemuda itu.
Bukan menjawab Anggiva malah menghampiri pemuda yang berdiri diluar pagar itu, tak ingin ketinggalan dirinya pun ikut mengekor dibelakang.
" hay... " sapa seorang pemuda sesudah dihampiri adiknya siapa lagi kalau bukan Rafelio.
" ngapain lo disini... " tanya Anggiva bukannya tak senang tapi aneh aja tiba-tiba abangnya ngejemput begini.
" mau ngejemput kamu dedek... yok ikut abang pulang... " jawab Rafelio.
" sorry bang tapi gue udah duluan diajakin pulang sama temen.... " ucap Anggiva sambil melirik Abian disamping nya.
Abian menyunggingkan senyum saat Rafelio memandang kearahnya, dan Rafelio pun melakukan hal yang sama.
" abang ada perlu sama kamu... jadi ikut abang aja ya... sayang... " mohon Rafelio memelas pada adiknya.
" iihh.. jijik gak mau... " tolak Anggiva mentah mentah.
Kali ini Rafelio melirik Abian yang di sebelah adiknya, sepertinya ingin mengatakan sesuatu padanya.
" untuk kali ini saya minta tolong... biar saya aja ya yang bawa pulang adik saya yang keras kepala ini... " ucap Rafelio terlihat formal.
" b-baik... " terpaksa Abian harus mengiyakan.
" loh loh abang gimana sih pokoknya gue gak mau ikut lo... " kesal Anggiva.
" plis sayang kali ini abang bukan hanya menjemput kamu tapi abang mau membawa kamu pulang.... pulang kerumah papa sama mama... " Anggiva malah tambah kesal mendengar nya.
" maksudnya apa sih... abang gak bis-
" mama dirumah lagi sakit karena mikirin kamu... jadi tolong kali ini aja.. kamu ikut abang kerumah... " potong Rafelio dan sedikit meninggikan suaranya.
" mama sakit lo dek... apa kamu gak kasian.. oke kamu marah sama papa tapi sama mama engga kan.. setidaknya jenguk lah dia sayang... " lanjut Rafelio.
Anggiva diam tak ada niatan untuk menjawab dan memang sebenarnya ia sangat merindukan ibu dan ayahnya tapi mengingat perlakuan sang ayah yang mengekangnya membuat nya kembali merasa marah.
" Saya permisi dulu..." Abian undur diri karena mengingat ini masalah keluarga.
" iya... " balas Rafelio ramah.
" jadi gim-
Rafelio tidak jadi melanjutkan kalimat nya karena melihat Anggiva yang masuk kedalam mobil tanpa berkata apa pun lagi. Sepertinya adiknya itu mau pulang, langsung saja Rafelio ikut masuk ke mobil dan duduk dikursi pengemudi.
Mobil itu dilanjutkan dengan kecepatan normal dan singkat cerita sampai lah dirumah yang sudah lumayan lama ditinggalkan gadis itu.
Rafelio turun lebih dulu lalu diikuti Anggiva setelah itu. Terlihat gadis itu masih ragu ragu untuk melangkah kan kaki kedalam rumah itu.
" ayoo... " ajak Rafelio.
Dengan langkah pelan ia mengekor dibelakang abangnya.
Rafelio membuka pintu utama menampakkan isi rumah mewah itu yang sangat indah dengan barang barang mahal.
" tenang.... sepertinya papa kembali ke kantor nya lagi.. ayo kita pergi ke kamar mama... masih tau kan tempat nya.. " Rafelio hanya bermaksud menggoda agar Adiknya itu tidak terlalu canggung.
" ihhh.. lo pikir gue pikun apa.. " balas Anggiva.
" hahaha... kali aja.. yaudah ayok.. "
Keduanya menaiki tangga dan menuju kamar sang ibu yang terletak di lantai dua.
Sampai didepan pintu kamar perasaan Anggiva jadi campur aduk.
" kamu siapkan... " tanya Rafelio dan Anggiva mengangguk mantap.
Pintu dibuka pelan menampilkan sosok yang amat sangat dirindukan kini terbaring dengan kompresan di dahinya.
Anggiva tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Langsung saja ia berlari memeluk sang ibu yang sedang tertidur diranjangnya.
" hiks... mama... aku pulang... hiks.. " gadis itu menangis meletakkan kepala didada sang ibu hingga membuat orang yang sedang tertidur itu bangun.
Nyonya Indriani mulai membuka mata dan detik kemudian ia menyadari dadanya terasa berat karena tumpuan kepala Anggiva.
Nyonya Indriani mulai menitikkan airmata ketika Anggiva memperlihatkan wajahnya yang sudah dibasahi airmata.
Rasa bahagia melebihi apa pun itulah yang dirasakan seorang ibu ketika melihat anaknya kembali setelah pergi dari rumah.
" hiks... sayang... mama sangat merindukan mu.. nak... hiks... mama kangen... " tangis Nyonya Indriani.
" iya ma... aku juga kangen... hiks... maafin aku ya maa.. hiks.. " ucap Anggiva tersedu sedu.
Rafelio yang berdiri diambang pintu ikut menyeka airmata menyaksikan pertemuan yang mengharukan ini.
Begitulah berkat kembali nya Anggiva seketika Nyonya Indriani merasa segar kembali dan sekarang beliau sedang disuapi bubur oleh anak bungsu nya sedangkan Rafelio sudah berpindah ke kamar nya membiarkan mereka saling melepas rindu.
Jika Anggiva sedang bahagia karena bertemu sang ibu, jangan lupakan satu orang lagi yang menunggu kepulangan Gadis itu hingga melewatkan waktu makan siangnya.
Dirumah Anggiva, Arsean sangat berharap gadis itu cepat kembali dan sesekali mengelus perut nya yang sedari tadi berbunyi karena lapar.
Karena sudah tak tahan, ia pun menuju dapur mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Namun tidak ada satupun makanan yang terlihat dimatanya membuat nya kembali ke ruang tamu untuk menunggu Anggiva.
Kembali Kerumah Pak Diwantara.
Kini sudah memasuki waktu magrib dan sebentar lagi langit akan gelap karena sudah waktu malam.
Anggiva terlalu asyik membantu ibunya di dapur menyiapkan makan malam, setelah makan bubur tadi seperti ajaib seketika membuat Nyonya Indriani pulih kembali.
Ditengah tengah kebahagiaan mereka tiba tiba seseorang menghampiri kesana dan membuat kegiatan mereka ditunda sejenak.
Pak Diwantara memarkirkan mobilnya sepulang dari kantor dan setelah itu masuk kedalam rumah karena sebentar lagi sepertinya akan turun hujan melihat keadaan langit yang mendung.
Awalnya ia ingin melangkah ke kamarnya namun terhenti saat mendengar keributan di dapur dan sesekali terdengar suara yang sangat familiar baginya.
Karena penasaran beliau pun menuju dapur dan setelah sampai disana hatinya terasa sangat bahagia melihat anak perempuannya yang sudah kembali. Rafelio memang bisa diandalkan pikir nya. tak tahu saja beliau kalau selama ini Rafelio juga ikut kerja sama dengan adiknya.
Pak Diwantara mendekat kearah mereka terlebih lagi perasaan Anggiva merasa takut kalau ternyata Ayah nya masih marah padanya.
Kini Pak Diwantara tepat berdiri dekat dihadapan putrinya dan Nyonya Indriani yang menyaksikan itu hanya diam saja.
" pulang juga kamu anak nakal.. " ucap Pak Diwantara membuat Anggiva tak berani menatap wajah itu.
Greepp..
Anggiva terkejut ketika tubuh nya ditarik kepelukan sang ayah yang ia pikir akan memarahinya habis habisan.
" dasar anak nakal.. kau pikir papa tidak merindukan mu heumm... mamamu juga sampai sakit memikirkan mu.. " Anggiva mendusel kepala nya didada bidang sang ayah.
" maafkan aku paaa... hiks.. " kini gadis itu kembali menangis.
Keduanya saling melepas rindu begitu juga Nyonya Indriani yang ikut memeluk mereka, tak ingin ketinggalan Rafelio yang menuju dapur ingin mengambil makanan seketika ikut berpelukan dengan mereka karena melihat mereka yang sedang bahagia bahagianya.