The Magic Of The Sea

The Magic Of The Sea
bab 35 Tiba tiba sakit..??



" sana jangan dekat dekat, usahakan menjauh lima langkah dariku... " kesal Anggiva mengejutkan Arsean yang mengekor tepat dibelakang nya.


Gadis itu mengerang frustrasi, memijit pangkal hidungnya, kembali merasa malu saat mengingat kejadian disekolah tadi.


Kini mereka telah sampai dirumah, pulang menggunakan taksi bersama Karena Rafelio tidak menjemput.


Anggiva membuka pintu yang terkunci lalu memasuki rumah dan langsung merebahkan dirinya ke sofa.


Arsean juga melakukan hal yang sama bahkan berdekatan dengan Anggiva membuat gadis itu kembali merasa kesal.


" apa kau tidak mengerti dari kata lima, LIMA..!! menjauh lima langkah dariku.. " ucapnya kesal.


Lelaki itu tidak menjawab ia malah memasang wajah lugunya kembali. Kalau sudah begini maka Anggiva tidak akan tega, tapi kejadian tadi sungguh memalukan walaupun sempat merasa senang.


" kenapa kau memelukku tadi, bukankah sudah kubilang jika disekolah kita pura pura tidak kenal saja hmmm... Apa susahnya sih beberapa jam saja menjauh dariku, jangan menempel terus seperti itu aku juga tidak suka... Haa.. Mengerti..!! " jelas Anggiva menatap wajah di depannya lekat lekat.


Arsean juga menatap wajah manis di depannya dan tersenyum menampilkan deretan giginya.


" ck kau ini mengerti tidak sih, jangan mengolok-olok ku dengan tersenyum seperti itu.. " ucap Anggiva.


" hei hentikan tatap-


Cuppp....


Anggiva gadis itu membelalakkan kedua bola matanya dan jantung nya berdetak dua kali lebih kencang saat Arsean mendaratkan ciuman di pipi kanannya.


Lagi lagi seperti inilah cara Arsean menghentikan Anggiva jika sedang cerewet, belum lagi ia sering menonton drama romantis dan adegan adegan lainnya masih tersimpan mulus di otaknya.


Jujur ciuman dan pelukan Arsean itu candu namun gadis itu terlalu gengsi untuk mengakuinya.


" OOUUUWWW YA AMPUUUUNN.... APA INIIII.... O MAY GOD... CK CK CK.. "


Anggiva dan Arsean keduanya seketika tersentak saat mendengar sumber suara dengan volume keras itu.


Dan ya ketakutan keduanya sebenarnya hanya Anggiva yang panik saat melihat kehadiran sang kakak apalagi sempat melihat apa yang Arsean lakukan padanya.


Rafelio yang baru pulang langsung menuju rumah sang adik untuk memastikan keadaan dan setelah sampai disini ia malah disuguhi dengan pemandangan yang begitu meng iri kan.


" wah wah wah... Apa ini hmm.. Apa ini pemanis sebelum makan siang.. " cibir Rafelio dan bergabung duduk bersama mereka, tak hanya itu tangannya sempat menemplok jidat Arsean membuat sang empu mengaduh sakit.


Anggiva memperbaiki duduknya dan bersikap setenang mungkin.


" kebiasaan ya abang kalo datang, lain kali ketuk pintu jangan langsung masuk. "


" jangan mengalihkan pembicaraan, katakan apa itu tadi... Apa itu memang sudah menjadi kebiasaan kalian.. " Kata Rafelio menagih penjelasan.


" jangan bicara sembarangan, dianya aja emang gitu suka tiba tiba.. " elak Anggiva membela diri.


" tapi kamu juga senang kan.. " timpal Rafelio.


" iya sih.. " gumam Anggiva yang masih bisa didengar Rafelio.


" HEH... benar benar ya kamu.. " Rafelio tak habis fikir.


" sebenarnya pengen interogasi ni anak tentang hari pertama dia sekolah, tapi mumpung ini udah siang mendingan kita makan dulu.. " tutur Rafelio sangat disetujui Anggiva.


Ketiganya pun bangkit dari tempat masing masing, sebelum makan siang Anggiva dan Arsean menuju kamar untuk mengganti baju sedangkan Rafelio menunggu di meja makan sambil menata makanan yang tadi sudah dibeli.


Singkatnya tiga manusia itu sudah berada dimeja makan sembari menyantap makanan.


Tak ada satupun suara yang memulai untuk bicara, hanya dentingan sendok yang terdengar.


Memilih fokus untuk menikmati makanan siap saji daripada mengobrol yang akhirnya menjadi perdebatan.


Arsean lagi lagi memasukkan makanan jenis lain ke dalam perutnya, memang apa salahnya dia kan juga manusia.


Menu makan siang hari ini adalah berlaukkan ikan.


Singkatnya makan siang telah usai. Sebelum mengistirahatkan diri, Anggiva membereskan bekas piring kotor dibantu Rafelio sedangkan Arsean memilih untuk santai memandangi kesibukan mereka.


Setelah nya mereka menuju ke sofa untuk membahas hal yang tertunda.


" ehem.. mulai darimana kita membahasnya...... " Rafelio memulai untuk membuka suara.


Tak ada jawaban, kedua murid SMA itu memilih untuk diam menunggu kelanjutan dari sang dosen.


" baiklah eumm.. Arsean bagaimana sekolahmu tadi... Apa terjadi sesuatu, apa mereka semua menyukai mu.. " tanya Rafelio pada seorang yang asyik bengong.


" ahh.. baik tapi tadi seorang wanita membentak ku dan menyuruh aku keluar. " jawab Arsean.


" wanita..?? bukankah semua wanita disana menyukaimu, ohh apa mungkin ada juga wanita yang merasa jengkel padamu yang sama seperti ku.. " ujar Anggiva dan Rafelio memilih untuk mendengar keduanya.


" tidak tapi wanita itu kelihatan jelek dibandingkan yang lain.. " tukas Arsean.


" oh apa sekarang kau sudah mengerti tentang fisik seseorang.. " balas Anggiva.


" aku tidak berbuat salah tapi dia menyuruhku keluar dan tidak mengizinkan ku untuk membawa tas ku.. " jelas Arsean.


" lalu dengan seenaknya kau masuk ke kelas ku dan memelukku.. " ucap Anggiva keceplosan yang padahal nya dia sangat ingin merahasiakan hal ini pada semua orang terutama pada kakaknya.


Setelah mengatakan ucapan barusan, Anggiva melotot dan menutup mulutnya.


" Whaatt..?? Arsean juga ngelakuin hal itu disekolah.?? " tanya Rafelio pada keduanya.


" eee... sudahlah tidak usah diperpanjang, aku juga sudah melupakan nya. " jawab Anggiva.


" Arsean kamu itu harus mengerti tempat dan keadaan dong jangan seenaknya seperti itu, bahkan jangan sembarangan memeluk adikku kau mengerti.. " ujar Rafelio dengan nada marah.


Melihat itu Anggiva merasa kasihan, tidak ada seorang pun yang boleh memarahi Arsean kecuali dirinya.


" sudahlah.. " Anggiva berusaha memperbaiki suasana apalagi kasihan melihat Arsean yang sudah menunduk.


" sudah apanya kau sendiri juga senang kan diperlakukan seperti itu, kalian memang tidak bisa dibiarkan tinggal bersama. " marah Rafelio.


" tu kan mulai, mulai lagi, haaa, jangan cari ribut dengan ku okey.. " Anggiva berusaha menetralkan emosinya.


" terus saja membelanya.. " kesal Rafelio.


" aku tidak membelanya tapi ingat kesepakatan kita hmm jangan pura pura lupa.... " ucap Anggiva.


" tapi-


" aaarrhh.. "


Perdebatan keduanya terhenti kala mendengar erangan dari Arsean sembari memegang perutnya.


Melihat itu Anggiva langsung panik dan bertanya apa yang terjadi, Rafelio juga tak kalah panik.


" apa yang terjadi apa perutmu sakit.. " tanya Anggiva memegang tangan Arsean yang mencengkram perutnya.


" apa yang salah dengan mu.. " lanjut Anggiva semakin tak tega melihat raut kesakitan Arsean.


" mungkin dengan makanan nya.. " jawab Rafelio asal asalan.


" tapi kenapa bisa, biasanya apapun yang kau makan kau tetap baik baik saja.. " Anggiva panik kedua tangannya begitu sibuk membantu Arsean.


Sedangkan Arsean sendiri merasa sangat kesakitan bahkan keringat sudah membasahi tubuhnya.


" abang tolong kenapa kamu diam aja sih. " tegur Anggiva.


Sebenarnya Rafelio bukan diam saja tapi mencoba untuk berpikir apa yang telah terjadi, dirinya juga terlalu panik melihat Arsean tidak seperti biasanya bisa merasa kesakitan.


" bawa saja ke dokter.. " usul Rafelio.


" baiklah-


" tidak a-ku ti-dak mm-mau kemana mana, ak-aku disini saja ber-sama Anggiva. " jelas Arsean terbata bata.


" tapi kau harus dibawa kerumah sakit, hiks.. kita harus tau apa yang terjadi padamu.. hiks.. aku tidak bisa melihatmu seperti ini hiks.. hiks.. " Anggiva telah menangis sekarang.


" tolong disini saja aarrhh.. akhh.. " Arsean tak peduli dengan area bajunya yang kusut karena meremasnya.


" hiks.. Rafelio apa yang harus kita lakukan hiks.. tolong hiks.. dia sangat kesakitan. " Anggiva menangis tersedu sedu membuat Rafelio semakin berkecamuk.


" begini saja, kita tidak mungkin memaksanya pergi kedokter yang ada dia malah melawan.. Kau urus saja dia sebentar sedangkan aku, aku akan pergi membelikan obat untuk nya. " usul Rafelio diangguki brutal oleh Anggiva.


" iya cepatlah aku tidak kuasa melihat dia kesakitan seperti ini hiks.. "


" oke aku pergi dulu.. kalau ada apa apa langsung kabari aku.. "


" iyaa.. "


Rafelio langsung bergegas pergi dari sana sedangkan Anggiva membantu menenangkan Arsean yang mengaduh sakit sebisanya.