The Magic Of The Sea

The Magic Of The Sea
bagian 11 Kemana Dia.



Siang ini Anggiva memilih meminta izin tidak masuk kerja karena dirinya masih terpukul akan kehilangan Arsean dan sampai saat ini keberadaan pemuda itu belum juga ditemukan.


Percuma menunggu ditempat tadi dan menangis histeris meneriaki nama pemuda itu berjam jam walau nyatanya batang hidung nya pun tak terlihat.


Disinilah gadis itu berada sekarang memeluk guling dikamarnya tak henti henti nya menangisi Arsean.


" gak mungkin secepat ini kamu ninggalin aku kan....... Arsean... " gumam nya lalu menghirup ingus yang hendak keluar.


" andai si monyet itu tidak datang kamu gak mungkin akan hilang karena aku tetap mengawasi mu... hiks... gara gara Rafelio itu... hiks... awas dia.. hiks.. "


Ngomong ngomong soal Rafelio kini ia sedang berduaan dengan Naumi mantan pacarnya.


Setelah memohon mohon pada gadis itu dengan sejuta alasan kesedihan akhirnya mereka bisa bertemu dipantai ini, juga gadis itu harus mengikhlaskan pekerjaannya demi menuruti pria ini.


Berduaan dalam artian kata pasti ada keromantisan disana tapi berbeda dengan berduaan pada situasi mereka karena sedari tadi kecanggungan lah yang menghiasi suasana keduanya.


Naumi memang tetap pada pendiriannya tidak akan mengeluarkan suara sebelum Rafelio berucap sedangkan Rafelio sendiri lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu.


Sreett....


Rafelio terkejut bersamaan dengan Naumi yang tiba tiba bangun dari duduk nya hendak pergi.


" eh mau kemana.... " tanya Rafelio memegang tangan Naumi mencegat nya untuk pergi.


" gak ada yang mau diomongin kan.. " jawab Naumi jutek.


" A-ada kok... "


" terus kenapa dari tadi diam... " Rafelio cuma nyengir memamerkan gingsulnya.


" ayo duduk dulu.. tadi aku persiapan dulu sebelum melontarkan kata kata indah untuk mu... " ucap Rafelio mencairkan suasana.


" basi... " balas Naumi namun kembali duduk membuat Rafelio mengelus dada lega karena sang pujaannya tidak jadi pergi.


" sekarang katakan... apa yang mau dibicarakan... " lanjut Naumi menagih.


" eeee.... i-it-ittu... ak-aku.. "


" udah gagap ya sekarang... " potong Naumi kesal karena pria dihadapan nya bertele tele.


" eee... bukan... ck... aduh gimana ya cara ngomong nya... " Rafelio menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


" sekarang gak bisa ngomong juga.. " sahut Naumi.


" bukan.. bukan... kamu dengar dulu. "


" udah dari tadi aku dengar tapi kamu yang gak ngomong ngomong... "


" hehe... maaf... "


" serius gak sih... "


" iya iya serius... iya itu aku mau kita serius lagi iya.. serius... " ucap Rafelio rada rada keceplosan.


" maksud kamu... " Naumi mengerti namun ingin lebih mengerti lagi.


Rafelio memantapkan hatinya dan menggenggam kedua tangan Naumi yang diletakkan dimeja dengan tangannya.


" aku mau... aku mau kita kembali lagi... aku mau.. izinkan aku menjadi pasangan mu... aku ingin kita balikan... " Ujar pria itu dengan sungguh sungguh.


Wanita itu tak langsung menjawab dan perlahan melepaskan tangannya yang digenggam Rafelio.


" kenapa... " menyadari perlakuan wanita itu Rafelio pun bertanya.


" bukannya aku menolak dan waktu itu pun aku tidak ada niat memutuskan hubungan kita... tapi kamu tau sendiri kan bagaimana respon orang tuamu terhadap hubungan kita... jadi percuma kita.... percuma kita menjalin hubungan jika nantinya orang tua mu tidak merestui hubungan kita.. " jelas Naumi yang memang sudah pernah merasakan atas apa yang dikatakan nya itu.


Bahkan orang tua Rafelio sempat melontarkan cacian yang tak patut didengar kepada Naumi.


Selalu memprioritaskan status yang ingin terlihat sempurna dari segi manapun. Dikarenakan mereka dari keluarga yang cukup berada mengharuskan juga hubungan anak anak mereka dengan keluarga yang sepadan juga.


Pantas Anggiva memilih pergi dari rumah itu karena gadis itu tak tahan terus dikekang dipaksa terlihat sempurna baik dari segi pembelajaran atau apa pun itu.


Harusnya Rafelio juga bisa berbuat demikian namun dikarenakan dia punya hati yang lebih dewasa menjadikan ia harus bertahan dirumah itu tak ingin jadi anak durhaka.


" aku tau... tapi aku tidak sanggup terus menerus menahan perasaan ku padamu. " tutur Rafelio.


" aku juga.. tapi apa yang bisa kita perbuat.... sebesar apapun cinta kita namun tidak ada artinya jika tanpa restu orang tua.. " ucap Naumi bahkan pipi sudah basah karena airmata.


" orang tuamu sudah dibutakan oleh harta dan jabatan juga pujian dari mana mana menjadikan mereka sombong dan haus akan kesempurnaan hingga memandang rendah orang orang seperti ku... "


" maaf aku harus mengatakan ini dan menyakiti perasaan mu.. " lanjut Naumi.


" iya aku tau.. tapi aku masih terlalu takut untuk melawan mereka. "


" kamu anak yang baik.. dan pasti kamu tidak mau jadi anak durhaka dengan melawan mereka... aku hargai itu dan bahkan ku kagumi tapi... bukan maksud lain.. hanya saja... ahh.. kita memang tidak akan pernah bisa bersatu... " terang Naumi.


" maksud mu... " tanya Rafelio.


" orang tua itu nomor satu... tetap lah jadi anak yang baik jangan melawan orang tua dan mungkin dengan itu kamu juga bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku.... " jelas Naumi semakin membuat Rafelio bingung.


" engga Naumi... kamulah yang terbaik untuk ku... "


" hanya untuk mu... bukan untuk orang tua mu kan.. jadi mana mungkin bisa.. " balas Naumi putus asa.


" aku akan berusaha membujuk mereka untuk merestui hubungan kita... itu pasti.. " ucap Rafelio mantap.


Naumi tersenyum dan memegang tangan Rafelio membuat jantung pria itu jedag jedug.


" itulah yang kutunggu darimu.. coba bujuk tapi jangan melawan.. bujuk lah dengan kata kata yang baik tidak perlu pemaksaan.. oh jika nantinya mereka tetap tidak setuju???.... "


" apa... " tanya Rafelio sudah menduga yang tidak tidak untuk kelanjutan kalimat dari Naumi.


" berarti berhenti sampai disitu saja... mungkin kita memang tidak berjodoh. " bukan menyerah tapi Naumi berubah untuk ikhlas.


" tidak... tidak... mana mungkin bisa begitu... aku sangat mencintaimu... jangan bicara seperti itu... " runtuh lah pertahanan pria itu yang kini tengah menangis.


Apalagi Naumi yang sedari tadi sudah menangis namun ditahan tahan sebab tak ingin terlihat rapuh didepan orang yang dicintai nya.


" jangan menangis... " ucap Naumi berusaha menghibur Rafelio dengan menepuk nepuk pundak pria itu.


" aku tidak sanggup jika takdirku tidak bisa berjodoh dengan mu... " lirih Rafelio.


" aku juga... " gumam Naumi.


" maka dari itu apapun rintangan nya harus kita lalui sama sama dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa membujuk orang tua ku mendapatkan restu untuk kita berdua.... " tegas Rafelio menghangatkan hati Naumi.


" Naumi.... tunggu lah aku... aku mohon... beri aku waktu untuk mendapatkan restu.. " lanjut Rafelio menatap Naumi dalam dalam.


Wanita itu menghapus jejak airmata nya juga menatap Rafelio dan tersenyum menganguk angguk pelan membuat pria itu kegirangan.


" iya... aku akan menunggumu.. " ucap Naumi berhasil memberikan semangat kembali pada Rafelio.


" benarkah... ahahaha... aku senang sekali... akhirnya.. dan aku janji akan berusaha memenangkan hati mama dan papa.. " ucap Rafelio membuat gestur semangat dan percaya diri.


" ahaha.. iyaa.. aku akan selalu mendukung mu... " tambah Naumi.


Keduanya pun kembali menjalin hubungan seperti awal awal dan untuk saat ini biarkan mereka melepaskan rasa rindu dengan saling berbagi cerita dan menukar senyum.