
Setelah sarapan Anggiva pun mulai membereskan piring piring kotor serta merapikan peralatan dapur yang setelah digunakan tadi.
Sedangkan Arsean entah kenapa saat ini ia tengah memandangi sebuah buku di tangan nya dan terlihat ia sedang khidmat seperti membaca buku itu.
Dilihat dari sampulnya itu bukanlah buku istimewa tetapi itu adalah buku novel milik Anggiva dan Arsean seperti tertarik untuk melihat isinya.
Selesai membereskan dapur gadis itupun menuju ruang tamu ikut duduk bersama Arsean disana.
Pemuda itu tak menyadari kedatangan Anggiva karena terlalu asik hingga gadis itu sendiri yang menegurnya.
" emang bisa baca... " tanya Anggiva meremehkan.
" hah tentu mana bisa, bicara saja baru kemarin kamu lancar dan sekarang mana mungkin kamu bisa mengerti huruf huruf seperti itu... " lanjut Anggiva melihat Arsean yang malah tak menggubris nya.
" budek kamu ya... " kesel Anggiva lagi lagi diabaikan.
" seorang gadis itu menangis meraung meraung karena kehilangan sang kekasih yang selama ini ia abaikan... sungguh sangat menyesal karena selama ini mengabaikan keberadaan nya namun setelah mulai sadar gadis itu harus kehilangan sang kekasih nya.... " bukan menjawab pertanyaan dari Anggiva tapi Arsean malah membaca sedikit bagian dari isi novel tersebut.
Anggiva membulat kan matanya membuka mulutnya selebar mungkin karena tak pernah mengira kalau Arsean bisa membaca.. kok bisa.
" s-sejak kk-kapan... " gadis itu gemetar.
" heung.. apanya... ini terlalu mudah bagiku... pertama lihat saja aku sudah mengerti.. " jawab Arsean enteng.
" m-mudah bagaimana... lalu pertama kali kita bertemu kenapa kamu bersikap bodoh seperti tak mengerti apa apa.. " ucap Anggiva.
" ha... bodoh bagaimana... aku tidak ingat.... ahh lupakan.. jangan ganggu aku.. aku ingin membaca banyak buku lagi.. apa kau punya..... " Anggiva mengangguk kaku namun masih sangat sangat heran terhadap sikap Arsean setelah insiden tenggelam nya.
" kenapa dirinya mendadak pintar setelah kejadian kemarin.. apa yang sekarang berada disini bukanlah orang yang sama saat pertama kali bertemu.. " gumam Anggiva.
Skip....
Tempat Anggiva bekerja hari ini diliburkan karena suatu peristiwa yang harus menjadikan pemiliknya caffe nya tutup.
Dan diwaktu yang kosong ini Anggiva berencana mengajak Arsean jalan jalan dari pada kebosanan dirumah hitung hitung ini kan hari terakhir libur sekolah dan besok harus mulai dengan kegiatan seperti biasa lagi. MEMBOSANKAN...!!!!!
Setelah membeli dua buah Es krim rasa coklat dan vanilla kedua insan itu pun kini tengah menikmati udara panas dibawah pohon rindang yang menyejukkan karena tiupan angin yang pas.
Menikmati yang segar segar disaat teriknya matahari terasa nikmat sekali sama seperti menikmati yang hangat hangat saat udara yang dingin.
" kamu tidak pergi siang ini... " tanya Arsean yang memang sudah bisa merasakan kepergian Anggiva disaat waktu seperti ini.
" pemiliknya ada urusan jadi caffe nya tutup..... " jawab Anggiva sembari menikmati es krim vanilla nya.
" ohya sudah lama aku mau tanya hal ini ke kamu karena aku penasaran.. " ucap Arsean.
" apa itu tanya saja.. " tanya Anggiva atau jawab Anggiva dari pernyataan Arsean barusan.
" waktu itu kamu mengajak aku ke tempat keramaian dan orang orang menyerahkan barang barang yang kamu minta padahal kamu hanya menyerahkan beberapa kertas petak... dan sekarang orang tadi memberi kita es krim dan kamu lagi lagi menyerahkan kertas petak itu... apakah itu benda ajaib yang bisa mengabulkan semua keinginan Kita. " ucap Arsean polos.
" ppffttt...... ahahahaha... hahaha... aku baru saja menilaimu sudah pintar ternyata aku salah.... ahahah... " Gadis itu tertawa dibuatnya.
" itu bukan jawaban... " gerutu Arsean.
" heumm... baiklah aku akan memberitahumu tentang itu... sebentar.. " Anggiva menjeda kalimatnya lalu mengambil selembar uang berwarna biru didalam kantong celananya.
" ini kan maksud mu.. " lanjut Anggiva sembari memperlihatkan lembaran uang itu.
" ah ya itu.... benda ajaib apa itu... " tanya Arsean.
" ini nama nya uang... kalau kita ingin sesuatu maka kita harus menyerahkan uang ini untuk memiliki nya namun harus sesuai dengan harga barang juga jumlah uangnya.. " jelas Anggiva dan Pemuda itu hanya manggut manggut paham.
" bisa dikatakan ini adalah benda yang sangat dibutuhkan manusia.. " lanjut gadis itu.
" ini ambillah untukmu.... " gadis itu tanpa ragu memberikan lembar uang yang dipegang itu untuk Arsean membuat mata pemuda itu berbinar.
" waaauuhhh... benarkah... " pemuda itu mengambilnya dengan senang hati.
" jangan boros, beli yang penting penting saja... " peringat Anggiva.
" iyaa... " jawab Arsean.
Setelah menghabiskan es krim nya masing masing, mereka pun beranjak dari sana berniat jalan jalan ketempat lain.
Anggiva berjalan di depan, sedangkan dibelakang Arsean tertinggal jauh karena terlalu menikmati area sekitar yang tampak menarik dimata pemuda itu.
Menyadari hal itu Anggiva pun berbalik dan menarik tangan Arsean untuk bisa jalan serentak dengan nya.
" nanti kamu bisa tertinggal jauh... " ucap Gadis itu sambil menggandeng tangan Arsean dan pemuda itu hanya bisa menampilkan wajah bingung nya.
Jalan kaki tanpa terburu buru sambil menikmati udara sejuk ternyata menyenangkan, apalagi banyak pohon pohon rindang menjadikan tempat berlindung dari panasnya matahari.
Jarang sekali Anggiva menghabiskan waktu seperti ini, biasanya gadis itu diselimuti rasa malas untuk berjalan tanpa kendaraan seperti ini.
Gadis itu berjalan beriringan dengan Arsean yang terus menatap kedepan dengan wajahnya yang serius.
Wajah tampan bercampur imut dan manis secara bersamaan mampu membuat Anggiva terbuai akan parasnya. Gadis itu tersenyum menatap wajah itu wajah yang benar benar sempurna menurut nya.
Walaupun tak sepintar orang lain tapi Anggiva suka dan entah kenapa hatinya telah menorehkan nama pemuda itu didalamnya.
Rasa takut akan kehilangan telah ada padahal dia hanyalah orang asing yang datang tanpa permisi dan sekarang berhasil mendapatkan posisi istimewa dihati gadis itu.
Sekarang Anggiva jadi salah tingkah dan cepat cepat membuang pandangannya saat Arsean menoleh kearahnya.
Pemuda itu tersenyum dan mengambil daun kering yang jatuh menempel di rambut gadis itu.
Mendapat perlakuan seperti itu jangan tanya bagaimana kondisi hati gadis itu sekarang.
" rambutmu jadi ketempelan daun karena banyaknya pohon disini.. " ucap pemuda itu terus menatap Anggiva.
" akh.. tidak apa apa... " balas gadis itu.
" rambutmu indah sekali... " gadis itu lagi lagi tersenyum mendengar ucapan Arsean.
" jika kamu ingin jadi ratu, izinkan lah aku menjadi rajanya... berikan celah dihatimu untuk mengisi namaku.. kan kujaga hati itu dari sampah sampah yang ingin mengotorinya... saat dirimu ingin mencari sosok imam tolong ajari aku tuk menjadi sosok imam yang kau idamkan.. jika hatimu masih kosong izinkan aku untuk mengisi nya... aku sudah terbuai akan dirimu.. jangan larang aku tuk membayangkan wajahmu karena itu adalah larangan yang harus ku langgar... " tutur Arsean tiba tiba.
" ngomong apa sih kamu... " Anggiva jadi salting mendengar nya.
" jika dirimu adalah jodoh yang ditakdirkan untuk ku.. maka percayalah itu adalah takdir terindah bagiku... " lanjut Arsean bertutur sembari mengelus rambut Anggiva.
" m-maksudnya... kamu... k-kamu... menyukaiku.... " hati gadis itu seakan meledak sekarang.
" tidak... itu hanya bagian novel milikmu yang tidak sengaja terhafal saat kubaca.. "
Deg
Bayangkan bagaimana perasaan gadis itu sekarang dan parahnya lagi dengan polosnya pemuda itu mencoloskan kata seperti itu.
" Eeuukhhh.... dasar gila... " kesal gadis itu langsung pergi meninggalkan Arsean.
" heung... apa salahku... apa dia tidak nyaman karena aku mengelus rambut nya... heii tunggu aku... " pemuda itu pun mengejar gadis yang sedang kesal dibuatnya.
Tidak ada yang salah hanya saja diriku terlalu terbawa perasaan saat dia bertutur kata yang padahal ia hanya bercanda namun aku terlalu berharap ditambah dirinya yang tidak peka.