
Mobil berwarna merah berpemilikan Abian kini telah terparkir ditempat Parkir milik sekolah, keduanya turun dan jalan beriringan menuju ke kelas.
Banyak mata yang menatap mereka kagum atau pun iri pada Anggiva yang bisa dekat dengan Abian dan pastinya para wanita yang seperti itu.
Yang namanya Anggiva sudah pastilah ia bodoh amat dengan sekitar yang menatapnya tidak suka, lain dengan para cowok yang menatapnya kagum.
Sampailah dikelas langsung saja mereka duduk ditempat masing masing karena sebentar lagi pun bel masuk akan berbunyi.
Reval yang baru sampai sempat menatap Anggiva yang membuang muka tak mau menatap nya.
Ingin menyapa, guru mata pelajaran sudah masuk jadilah ia menunda hal tersebut dan duduk di bangku miliknya.
Dari yang sebelumnya sibuk dengan urusan masing masing kini kelas kembali sunyi karena kedatangan seorang guru.
tap tap tap
Derai langkah kaki guru laki laki yang bernama Ahmad itu menuju sampai ke meja guru dan menaruh beberapa buku yang ia bawa untuk materi pelajaran.
Memandang setiap wajah muridnya lalu tersenyum karena guru ini termasuk guru yang ramah dan merupakan guru idola setiap murid karena sikapnya yang baik dan pelawak juga.
" assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..... " ucap pak Ahmad memberi salam.
" waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh... " sahut semua murid serentak.
" bagaimana kabarnya semua... " tanya pak Ahmad.
" baik paaaakkkk..... " sahut semuanya.
" ada yang kangen sama sekolah. " tanya beliau lagi.
" enggaaaaaaaa..... " sahut mereka semua terlalu jujur.
" kalau sama bapak ada yang kangen gak. " goda bapak yang berstatus duda beranak dua itu.
" kangeeeennn..... " itu para siswi yang jawab lalu diiringi tawa dan ledekan para siswa.
" hahaha... baik lah saya tau kalian memang setia.. " ucap pak Ahmad.
" pak ini si Naisa pengen ngelamar jadi ibu sambung Anna... " itu si Aira yang ngomong dan Anna merupakan anak bungsu pak Ahmad yang baru berumur 3 tahun.
" wuuuuuuuuuuu...... " sorak para cowok.
" iihh Aira lo apa apaan sihh... engga pak dia aja kali pak.... " balas Naisa tak terima.
" ahaha... tidak apa apa tidak usah malu.. emang sih Anna pengen punya ibu sambung kayaknya... " tenang saja bapak ini cuma bercanda kok dan lagi umurnya belum tua amat sekitar 30 tahunan gitu.
" ciahahahaha.... " dan ucapan pak Ahmad itu dihadiahi tertawaan para murid kecuali Anggiva yang cuma tersenyum menanggapi.
" baiklah becanda mulu daritadi sengaja ya menunda nunda pelajaran... " ucap pak Ahmad dan disoraki para murid karena tak terima sebab beliau sendiri yang mulai.
Begitulah kalau sedang jam pelajaran bapak duda itu yang terasa santai sekali walau pelajaran yang beliau pegang adalah sejarah.
Sebenarnya ada satu guru lagi yang seperti Pak Ahmad tapi berhubung mata pelajaran yang beliau pegang membuat para murid tak suka karena pelajaran itu adalah matematika.
Sekitar beberapa jam dan sudah pergantian pelajaran.... beberapa menit kemudian bel yang ditunggu pun tiba, alias bel istimewa.
Guru wanita itu mengakhiri pembelajaran nya lalu keluar dari kelas tersebut yang setelah itu berhamburan diikuti para murid yang keluar menuju kantin.
Kelas menjadi kosong hanya tersisa tiga orang disana yaitu Reval, Abian, dan Anggiva.
Reval bangun dari duduknya hendak mendekati Anggiva namun keduluan Abian yang mengajak gadis itu kekantin bersama.
" aahhhhh sial tu cowok emang sengaja ngehalangin gue sama Anggiva... awas aja lo... " kesal Reval juga keluar menuju kantin.
Di kantin, Anggiva dan Abian duduk bersama ditempat yang belum keisi orang lalu memesan untuk keduanya.
Lagi lagi Anggiva membuat para cewek cewek kesal karena mendekati siswa incaran mereka.
Dan ada sekelompok siswi berjumlah tiga orang yang bahkan mengancam akan membuat perhitungan pada gadis itu.
" siaalll... gak terima gue kalo cewek gak punya temen kayak dia bisa ngedekatin crush gue... awas... gak akan gue biarin.. " ucap Stevia sambil meremas botol minuman yang ia pegang.
" benar Stev... jangan mau kalah kalau sama cewek modelan kayak dia... " tambah Naisa selaku bagian dari mereka.
Dirumah nya pak Diwantara.
Harusnya jam segini beliau masih ada dikantor tetapi karena panggilan dari rumah yang mengatakan sang istri sedang sakit, menjadikan beliau tancap gas langsung pulang menemui sang istri.
Pak Diwantara langsung terburu buru menuju ke kamar istrinya mengabaikan para pembantu nya yang menyapa saat dipintu utama.
Membuka pelan pintu kamar dan mendekat ke ranjang memperlihatkan sang istri yang terbalut selimut serta sapu tangan kompresan yang menempel didahinya.
" kenapa bisa sakit heumm... " lirih Pak Diwantara mengelus rambut istrinya.
Tindakan itu membuat nyonya Indriani terbangun dan membuka mata mendapati suami yang sudah di depan matanya.
Nyonya Indriani mengulas senyum dibibir pucat nya.
" kenapa kamu pulang mas... aku baik baik saja kok.. " lirih Nyonya.
" jangan tanya kenapa aku pulang... sudah pasti aku mengkhawatirkan dirimu.. " jawab Pak Diwantara yang sekarang sudah mendudukkan bokongnya ditepian kasur.
Keduanya terdiam sejenak saling melempar senyum sebelum Nyonya Indriani mengeluarkan suara.
" akuu... aku merindukan putriku... aku ingin sekali bertemu dengan nya.. " ucap Nyonya Indriani pelan.
Benar Pak Diwantara pun merasakan hal yang sama namun beliau lebih memendamnya.
" aku akan segera menemukan nya.. tenang saja sayang... dia pasti akan kembali lagi kerumah ini.. " ucap Pak Diwantara menenangkan.
" setelah dia kembali kamu harus janji mas kalau kamu tidak akan mengekang nya lagi... kasihan dia.. " ujar Nyonya Indriani.
" iya sayang aku janji aku pun menyesal sudah memperlakukan nya seperti itu. " tulus Pak Diwantara terlihat menyesali perilakunya.
" sudah ya sekarang kamu istirahat... cepat sembuh istriku... " Pak Diwantara mengecup sang istri lalu keluar dari sana tak lupa menutup pintu kembali.
Pak Diwantara menuruni tangga dan duduk disofa ruang tamu lalu mengambil handphone nya disaku untuk menelpon seseorang.
Panggilan tersambung dengan orang seberang.
" haloo... "
" ................... "
" sedang apa kamu..... "
" ................. "
" ouuhh... "
"................ "
" begini... sebenarnya papa mau minta tolong sama kamu.... "
" ............... . "
" mamamu sakit dan ia ingin sekali menemui adikmu... karena itu tolong cari adikmu ya sampai ketemu... kasihan mamamu sampai sakit memikirkan nya dan tolong bujuk dia supaya mau pulang... "
" ......................... "
" iya papa minta tolong sama kamu. "
" ................. "
" yasudah kalau begitu papa tutup ya.. sampai nanti.. "
" .......... "
Panggilan diputuskan dari keduanya dan Pak Diwantara kembali memasukkan handphone nya kesaku celana.
Sebenarnya bisa saja Pak Diwantara pergi menyusul ke sekolah Anggiva tapi percuma kalau anaknya tetap tidak mau pulang walau dipaksa dan malahan semakin membuat hubungan mereka menjauh nantinya.
Sedangkan Rafelio orang yang barusan ditelpon Pak Diwantara juga merasa bingung bagaimana harus membujuk adiknya yang keras kepala, tapi mau tidak mau Rafelio harus membujuk nya dan lagipula ibunya sampai sakit begitu sudah pasti Anggiva tidak akan tega menolak nya.