
Akhirnya jam yang ditunggu telah tiba.
Waktu pulang sekolah adalah hal yang paling didambakan terutama Anggiva apalagi setelah kejadian memuakkan tadi disekolah.
Sengaja gadis itu menunggu kelas kosong setelah itu barulah ia bergegas untuk pulang.
Sempat berpikir kalau dirinya yang paling akhir ternyata salah sebab terlihat seorang Abian yang masih berada diparkiran bersama motornya.
Ingin mengabaikan namun laki laki itu terlebih dahulu melambaikan tangan pada dirinya. Mau tidak mau yang padahal mau ia pun menghampiri Abian.
Abian tersenyum setelah Anggiva berdiri didepannya dengan tingkah canggung.
" ayo aku antarr.. " tawar Abian tanpa diminta.
" tap-
" sssttt ayolah... " tak bisa menolak lagi dengan senang hati Anggiva mengangguk iya.
Jadilah mereka berboncengan sekarang menyusuri jalanan kota yang begitu indah dihiasi dengan panasnya matahari.
Setelah kejadian pertengkaran Anggiva tadi, Abian tak lagi menuruti egonya untuk mengabaikan gadis yang disukainya.
" maaf ya soal pagi tadi.. " ucap Abian dibalik helm full face nya.
" soal apa.. " Anggiva sedikit meninggikan suaranya sebab suara motor yang begitu kencang ditambah lagi suara suara kendaraan lain yang begitu berisik.
" karena mengabaikan mu.. " jawab Abian dengan nada suara yang sama.
Anggiva tersenyum dibelakang tanpa disadari Abian dapat melihat senyuman itu lewat spion.
" lagian kenapa sih kamu tadi pagi.. dingin banget tau... "- Anggiva.
" kamu nya yang cuek.. "- Abian.
" kapan. "- Anggiva.
" semalam. " -Abian.
Anggiva terdiam mengingat kembali peristiwa semalam dan benar saja dirinya benar benar merasa bersalah karena mengabaikan Abian dengan malah lebih memperhatikan Arsean.
" a-ak-aku.... " Anggiva gugup tak tau harus mengatakan apa.
" lupakan.. lagipula itu kejadian semalam dan sekarang tidak usah ingat lagi hal hal yang sudah terlewat.. " Abian tersenyum menata hatinya.
Setelah itu hening tak ada lagi yang bersuara kecuali suara kendaraan kendaraan sampai akhirnya motor Abian berhenti didepan rumah Anggiva. Lebih tepatnya didepan gerbang rumah Anggiva.
Anggiva turun dari motor tak lupa menyunggingkan senyum pada orang yang telah bersedia memberinya tumpangan.
" terimakasih... " ucap Anggiva.
" sama sama.. " jawab Abian.
" eee mau mampir dulu.. " tawar Anggiva.
" lain kali saja ya lagian aku mau langsung pulang mau rebahan.. " tolak Abian dengan lembut.
" ouuwwhh... okey sekali lagi terimakasih yaa... " -Anggiva.
" iyaaa.. yaudah kalo gitu aku cabut ya.. daaa.. sampai besok.. " -Abian.
" besok libur.. " -Anggiva.
" oiyaaa.. lupa... besoknya lagi deh... " ucap Abian membuat Anggiva terkekeh.
" byee bye... " Abian melambaikan tangan setelah itu ia langsung menuju jalan pulang.
" byee... " Anggiva menyempatkan diri untuk membalas lambaian itu sebelum masuk kehalaman rumahnya.
Anggiva masih belum melunturkan senyuman nya itu mengingat peristiwa yang begitu membahagiakan hari ini bersama Abian meski wajah mulus nya itu harus tergores karena cakaran si Ayu.
Deg
Senyuman itu luntur seketika kala netranya melihat mobil yang begitu dikenal terparkir didepan rumahnya.
Itu mobil Rafelio mengapa ada disini dan pintu utama terbuka dan..... dan Arsean ada didalam rumahnya.
Berartii..........!!!
Anggiva langsung berlari memasuki rumahnya merapalkan doa agar Arsean tak ketahuan oleh kakaknya.
Namun terlambat, begitu masuk ia disuguhi pemandangan yang tak diharapkan. Terlihat dua orang lelaki sedang duduk berhadapan disofa yang berbeda. Dan bisa dipastikan dari raut wajah kakaknya itu terdapat amarah.
" ngapain kam-
" DUDUK ANGGIVA... "
Glupp...
Kakaknya itu tipe yang soft dan petakilan tapi sekali marah bisa sangat menyeramkan.
Anggiva mengambil tempat duduk disamping Arsean yang sudah menunduk sedari tadi.
Melihat Arsean yang begini ia jadi kasihan tapi ah sudahlah semoga ia tidak melakukan hal hal konyol lagi didepan kakaknya.
Tapi tidak harapan itu tak lagi jadi harapan karena seperti biasa tanpa tau keadaan, Arsean langsung memeluk Anggiva membuat Rafelio melotot seketika sedang kan Anggiva....
Greepp...
" Anggiva kemana sajaa... aku takut.. moster itu suara nya keras sekaliiii.... dia bentak bentak... " adu Arsean masih memeluk Anggiva.
Rafelio sedari tadi sudah melotot karena dengan beraninya lelaki itu memeluk adiknya tanpa izin didepan dirinya.
" lepaskan akuuu... lepas.. duluuuu.. " Anggiva berusaha melepaskan pelukan itu meski kuat namun akhirnya terlepas juga.
Anggiva tak berani menatap kakaknya sekarang yang pasti sangat marah, lagian ngapain sih ni orang ada dirumah nya. Bukannya ia seorang dosen yang punya kesibukan sendiri.
" apa itu... " Rafelio menunjuk dengan dagunya persoalan pelukan barusan.
" Abang akuuu... akuu bisa jelasin. " gugup Anggiva.
" udah aku jelasin tadi Anggiva tapi orang ini tidak percaya... " tanpa diminta Arsean menjawabnya.
" ssssttt diam kamu.. " ucap Anggiva pada Arsean.
" Abang akuu... mohon jangan dilaporin kemama papa yaa... akuu.. kita berdua cuma tinggal bareng aja gak ngelakuin apa apa sumpah beneran lhoo.. " jelas Anggiva.
" emangnya siapa dia kenapa dengan mudahnya kamu ngizinin dia tinggal bareng sama kamu.. " tanya Rafelio.
" kalo aku ngasih tau kejujuran nya Abang pasti gak bakal percaya.. karena sebenarnya aku juga belum tau pasti tentang dia.. " jawab Anggiva.
" GILA KAMUUUU... " bentak Rafelio membuat Arsean terperanjat ditempat.
" bang pliss... dengerin akuuuu... " mohon Anggiva bahkan sudah terlihat jejak airmata disana.
Melihat adiknya yang akan menangis, Rafelio jadi tidak tega. Jadilah ia diam memberi kesempatan untuk mendengar penjelasan sang adik.
" Dia..... di-diaaa.... did-
" sejak kapan kamu gagap.. " potong Rafelio kesal mendengar adiknya yang bertele tele.
" pada pagi itu dia tiba tiba sudah berada disamping ku... saat kutanya dia malah tidak bisa berbicara layaknya manusia yang seumuran dirinya.. bahkan kelakuan nya itu sangat polos seakan tidak bisa mengerti apa apa... ketika aku berpikir untuk mengusirnya aku tidak tega karena wajah itu benar benar polos... " jelas Anggiva.
" apa judul novel yang kamu cerita kan barusan itu... " sergah Rafelio yang berpikir adiknya itu sama sekali tidak jujur.
" iihhhh.... reseeeeekkkk.... aku gak ngarang cerita... yang ku katakan tadi memang persis seperti yang kualami... dasar bodoh.. " habis sudah kesabaran seorang Anggiva.
" siapa orang tuamu... " Rafelio mengabaikan Anggiva dan malah bertanya pada Arsean.
" ck.. orang tua apanya sihh namanya aja aku yang ngasih... " ucap Anggiva sebelum Arsean membuka mulutnya.
Rafelio menghela nafas panjang, ingin tidak percaya tapi dirinya sama sekali tidak menemukan kebohongan dimata adiknya. Ingin percaya sungguh hal ini tidak masuk akal.
" kenapa dengan mudahnya kamu bisa percaya dengan lelaki ini.. " tanya Rafelio pada Anggiva.
" y-yaaa... ya karena aku kasihan.. " jawab Anggiva.
" kasihan apa karena ganteng... " tanya Rafelio lagi.
" dua duanya... " jawab Anggiva jujur.
" HEHH.... " sungguh Rafelio geleng geleng kepala dibuatnya.
" Abangggg... plisss dong.. " rayu Anggiva.
" inget ya gue lagi marah ini.. kalau udah ngomong lo gue berarti kemarahan nya udah level akhir... " ucap Rafelio tidak semenakutkan tadi.
" halllahhh.. biasanya juga ngomong lo gueeeee... " cibir Anggiva.
" masalah ini belum selesai ya gue gak bisa percaya aja sama ini manusia... lagian gue juga gak yakin kalau dia manusia. " tutur Rafelio.
" coba aja kalo Arsean itu cewek, lo juga pasti bakal gak bisa nolak kan.. udah deh bang...plisss masalah ini jangan sampai ketauan sama mama dan papa.. " ujar Anggiva.
" enak aja gak bisa... " tolak Rafelio mentah mentah.
" bang lo tu susah banget diajak kompromi sih anj*ng.. " kesal Anggiva.
" ini juga demi kebaikan kamu sayang. " sahut Rafelio.
" sayang pantat lo bilang aja lo kalah saing sama kegantengan dia makanya gak mau nolong kan... " nyolot Anggiva.
" lo udah keciduk juga masih berani nyolot ya anak kecil.. " bantah Rafelio.
Mulailah perang adu mulut yang lagi lagi dilakukan oleh kakak beradik ini, sedangkan Arsean hanya diam menonton dengan wajah cengo polosnya.