The Magic Of The Sea

The Magic Of The Sea
bagian 25 Ikut kencan



Jam terus berdetak hingga waktu sore menjelang malam telah tiba, beruntung Anggiva telah berhenti dari kerjanya baru baru ini karena ia sendiri pun agak malas.


Dirasa badannya sudah agak segar, dirinya pun bangun dengan pelan setelah memindahkan tangan Arsean yang melingkar di perut nya dengan lembut. Lelaki itu masih tertidur begitu nyenyak tanpa terusik sedikit pun membuat Anggiva menatap gemas padanya.


" sampai segitunya menjaga ku... terimakasih yaa... bayi heung... haha.. lucu sekali ya mengingat waktu pertama kali bertemu... kamu cuma bisa heung... haha... " lirih Anggiva lalu memindahkan sapu tangan yang kering di dahinya keatas nakas.


Anggiva beralih turun dari tempat tidur namun sebelum itu menarik selimut menyelimuti Arsean sampai sebatas dada.


" tidur yang nyenyak yaa... aku akan menyiapkan makan... hah.. untung aku sakitnya tidak parah... hanya demam biasa. "


Anggiva menuju kedapur untuk menyiapkan hal yang tadi ia ucapkan.


Anggiva tipe orang yang jarang sakit namun sekali sakit bisa cepat sembuhnya atau gak bisa lama sekali untuk sembuh.


Melupakan mandinya atau memang sengaja tak mau mandi, Anggiva langsung begitu lihai untuk menyiapkan bahan makanan untuk makan malam nanti yah walau hanya menu biasa.


Inginnya sih beli namun berhubung untuk menghemat uang pemberian Abang nya dan ia pun tak kerja lagi jadilah ia makan seadanya.


Selesai dengan hal tersebut, baru saja hendak kekamar untuk membangun kan Arsean tetapi pemuda itu lebih dulu memperlihatkan batang hidungnya.


Berjalan masih agak sempoyongan sambil mengucek ngucek mata dengan rambut berantakan Arsean melangkah pelan kearah Anggiva lalu menarik kursi dimeja makan untuk ia duduki.


" hah kau sudah bangun bayi.. baru saja aku mau membangunkan mu.. " ucap Anggiva sembari menata makanan dimeja makan.


" kenapa Anggiva bangun.. apakah sakitnya sudah baik.. " tutur Arsean mengerjap polos menatap ke arah gadis itu.


Yang ditatap menyunggingkan senyum nya setelah membalas tatapan Arsean.


" beruntung sakitnya tidak terlalu parah jadi aku bisa bergerak bebas lagi.. dan terimakasih sudah merawat ku.. " Anggiva menarik kursi setelah membagikan bagian makanan untuk Arsean.


" terimakasih kembali.. " balas Arsean sebelum menyumpal mulutnya dengan makanan.


Setelah itu tak ada lagi obrolan diantara keduanya karena masing masing larut dalam menikmati makanan nya hingga semua makanan itu habis tak tersisa.


Srekk...


Anggiva bangkit dari duduknya ingin membereskan bekas piring kotor diikuti Arsean yang juga ikut membantu.


Setelah selesai mereka beralih beristirahat diruang tamu sembari menonton TV.


Sebenarnya hanya Arsean saja yang menonton sedangkan Anggiva sibuk dengan ponselnya.


Anggiva sedari tadi senyam senyum sendiri sambil mengetik entah dengan siapa ia menukar pesan lewat Handphone.


Namun satu pesan yang didapat dari pengirim lewat Handphone nya itu membuat jantung nya seketika berdegup kencang.


" aisss kenapa mendadak sekali... sebenarnya aku ingin sekali namun bagaimana dengan Arsean... " gumam Anggiva namun Arsean masih dapat mendengarnya.


" heung.. aku... kenapa..??.. " Arsean yang fokus dengan TV sempat sempatnya mendengar Anggiva yang menyebut namanya.


" ah bukan apa apa.. " jawab Anggiva dibalas oh ria oleh Arsean.


Tingg..


Sebuah pesan masuk dari orang yang sama dan setelah membacanya Anggiva semakin dibuat antara senang dan panik.


" Arrrrhhhh... bagaimana ini... apa yang harus aku lakukan.. kenapa Abian langsung pake pergi segala... " Anggiva mengusap wajahnya kasar.


Meski dapat melihat itu Arsean mengabaikan nya dan memilih untuk fokus pada siarannya.


Gadis itu melirik Arsean dan memanggilnya.


Merasa namanya dipanggil, Arsean pun melirik Anggiva.


" eee... akuu... akuu... ingin keluar...membeli sesuatu ssebentarr... eee.. bolehkan. " tanya Anggiva hati hati.


Arsean merubah ekspresi menjadi riang entah kenapa.


" aku ikut yaa... boleh yaa... aku ingin bersama Anggiva... yaa... "


Tuh kan Anggiva jadi tak tega menolaknya apa lagi saat melihat wajah polos itu.


" ayooo... boleh yaa.. aku juga mau temenin Anggiva beli beli.. " Anggiva menghela nafasnya dan detik selanjutnya ia mengangguk karena tidak ada pilihan lain.


Entah kenapa rasanya ia tidak bisa menolak Arsean saat ini.


" yeyeyyyy... nanti beli bebek lagi ya. " pinta anak itu tersenyum riang.


" jangan seperti anak kecil katanya udah dewasa... " balas Anggiva.


" ohiya... yasudah tidak jadi.. " ucap Arsean masih dengan ekspresi yang sama.


Hufff aman.. daripada beli yang aneh aneh kan mending uangnya disimpan apalagi saat ini keuangan nya tidak bisa diprediksi karena ia telah memilih hidup mandiri meskipun Abangnya selalu mentransfer uang bulanan.


Mereka pun bersiap namun sebelum itu Anggiva sempat membalas pesan Abian yang dari tadi menunggu balasan darinya.


Anggiva mengubah perjanjian, awalnya Abian menawarkan diri untuk menjemput Anggiva tetapi gadis itu menolak nya dan mengatakan akan pergi bersama sepupunya dengan alasan tidak bisa ditinggal.


Sejujurnya Abian sangat keberatan namun karena ia tidak mau membuat Anggiva kecewa dirinya pun mengiyakan saja walau dalam hati ingin sekali meniadakan sepupu Anggiva agar ia bisa berdua saja dengan gadis itu.


Kini Abian lebih dulu sampai disebuah Cafe tempat perjanjian ketemuan mereka. Lelaki itu memesan satu cappucino sembari menunggu kedatangan Anggiva beserta sepupu Anggiva ngomong ngomong.


Tiga kali meneguk cappucino nya akhirnya yang ditunggu tunggu pun kunjung tiba.


Abian tersenyum melihat Anggiva dengan penampilan yang begitu waw namun detik selanjutnya hatinya menjadi tidak mood saat melihat satu lekaki lagi yang terus menempel pada Anggiva.


Abian mempersilahkan duduk keduanya dengan senyum semanis mungkin.


" maaf ya kalo kelamaan nunggu nya. " ucap Anggiva memulai obrolan.


" santai saja aku juga baru baru aja disini. " jawab Abian terus menyunggingkan senyumnya.


" ohya kenalin sepupunya aku.. Arsean.. " ujar Anggiva kini memperkenalkan lelaki yang duduk disebelahnya.


" orang yang sama diwaktu itu kan.. " balas Abian yang memang pernah bertemu dengan Arsean saat mampir kerumah Anggiva waktu itu dan sampai sekarang ia masih mengingat wajah lelaki yang diakui sebagai sepupu Anggiva walau Abian sendiri tak yakin.


Sebenarnya waktu itu Anggiva bilang Pemuda ini adalah anak teman ayahnya yang sudah dianggap gadis itu sepupu lalu kenapa sampai sekarang pemuda ini masih bersama Anggiva pake ngintil lagi.


" ayo pesan... " ajak Abian diangguki Anggiva.


Abian memanggil pelayan dan tak butuh waktu lama pelayan itu menghampiri mereka dan menyerahkan daftar pesanan nya.


" mau pesan apa mas mbak.. " tanya mbak pelayan tersebut.


" burger sama jus apel ya.. kalo kamu apa Anggiva... " tanya Abian menatap gadis itu.


" samain aja deh... kalo kamu Arsean.. mau apa hmm.. " tanya Anggiva lembut.


" burger itu apa.. " tanya Arsean polos dan diam diam Abian serta mbak pelayan tak bisa menahan tawa mendengar nya sedangkan Anggiva sudah biasa dia menghadapi Arsean yang polos begini. Hah apakah Arsean juga harus dikenalkan semua jenis makanan.


" itu makanan dan aku samakan saja ya pesanannya... " ucap Anggiva diangguki Arsean.


" yaudah mbak pesanan nya sama ya.. " final Abian.


" baik... mohon ditunggu sebentar. " kata mbak pelayan dan setelah itu ia ngibrit pergi.


" dia asalnya darimana sih.. kok makanan aja gak tau.. " tanya Abian pada Anggiva.


" ah itu... memang sudah biasa.. kan kamu tau sendiri waktu pertama kali kamu ketemu dia.. hmm.. " jawab Anggiva.


" apakah dia... ee... maaf... apakah dia itu idiot... " ucapan Abian itu membuat Anggiva melotot kearahnya, entah kenapa ada rasa tidak rela saat orang lain mengatai Arsean.


Melihat perubahan Anggiva yang tiba tiba jadi tidak mengenakkan, Abian menarik kembali ucapannya dan berusaha memperbaiki suasana yang nyaris canggung. Sedangkan Arsean sendiri ia sedang sibuk memanjakan matanya melihat sekeliling.


" lain kali jangan berkata seperti itu.. " datar Anggiva.


" maaf maaf aku minta maaf... " sesal Abian.


Suasananya pun menjadi agak canggung diantara keduanya sedangkan Arsean masih sibuk melihat lampu kelap kelip yang dipasang di dinding Cafe tersebut.


Dan lagi ada rasa tak suka dihati Abian saat melihat Arsean yang seperti begitu dibela oleh Anggiva ditambah lagi melihat struktur wajahnya yang begitu tampan membuat Abian semakin iri walau dirinya tergolong tampan tetapi Arsean lebih tampan darinya.