
Bel Istirahat kini berbunyi membuat para guru harus menunda pembelajaran nya, begitu juga para murid sepeninggal gurunya mereka langsung menuju kantin dan tempat lain sebagainya.
Lagi, Abian pergi keluar dari kelas itu tanpa sedikitpun menyapa Anggiva.
Meski merasa sedih namun Anggiva harus menepiskan perasaan tersebut karena urusan perut harus diutamakan terlebih dahulu.
Gadis itu menuju kantin dimana hampir semua murid berada disana termasuk Abian.
Ia kembali menyendiri dan memilih duduk sendiri dibanding bergabung dengan yang lain.
Meski dirinya duduk bersama teman sekelas nya yang berada disana belum tentu ia disambut dengan baik oleh mereka.
Beruntung tidak ada Reval disini membuat dirinya merasa sedikit senang.
Reval termasuk anak yang nakal dan pasti sekarang ia mencari tempat sembunyi untuk merokok bersama dengan teman temannya.
Anggiva mulai memesan makanan dan butuh sedikit waktu untuk menunggu makanan itu dihidangkan.
Abian melihat kearah Anggiva yang duduk sedikit berjauhan dengan nya lalu detik kemudian ia kembali memalingkan pandangannya kearah lain saat gadis itu akan menatap nya.
Ingatan semalam terus berputar dikepalanya membuat pagar tinggi diantara dirinya dan Anggiva untuk bisa dekat kembali.
Memang bukan siapa siapa tapi sungguh hatinya sakit diabaikan seperti itu.
Dimeja Anggiva, gadis itu terlihat menunggu makanan nya sembari memainkan ponselnya.
Namun tiba tiba bukan pengantar makanan yang datang melainkan Ayu dan teman temannya.
Ketiga orang tersebut menggebrak meja Anggiva membuat gadis itu menunda memainkan ponselnya.
Anggiva menatap satu persatu wajah orang yang membulli nya saat itu dengan tatapan tajam.
" kau lihat sendirikan, dia tidak ada bersama ku sebaiknya kau pergi jangan ganggu aku.. aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian.... " ucap Anggiva tanpa menunggu perkataan mereka.
Ketiga gadis itu saling menatap dan tertawa menertawai Anggiva.
" ternyata kau itu takut juga ya pada ancaman kami... huhuuu.. " ejek Ayu.
" kupikir dirimu itu berani tapi ternyata... "
" cemenn... " tambah Seila menyambung ucapan Tira.
" hah... maaf ya... sedikitpun aku tidak takut pada ancaman bodoh kalian... hanya saja aku tidak mau berurusan dengan tikus tikus kecil seperti kalian... lagipula bukan hal yang sulit untukku mendapatkan lelaki yang lebih baik daripada crush mu itu.. " ucap Anggiva sebut saja sombong.
" kurang ajarrr inilah yang membuat kami semua muak melihatmu.. kau itu sombong padahal satu teman pun tidak punya... seolah olah kau ini yang terbaik dan tak butuh orang lain dalam hidupmu.. sadarlah.. kau tidak akan sanggup hidup tanpa ada bantuan orang lain... jangan terlalu memuliakan dirimu sendiri... " Kesal Ayu.
Anggiva tersenyum remeh mendengar hal tersebut dan menatap mereka seolah olah mengejek.
" lebih baik aku memuliakan diriku sendiri daripada memuliakan orang lain yang nantinya tidak tau terimakasih.. " Ujar Anggiva.
" hah sepertinya kau memang butuh teman agar kau tidak merasa kesepian.. hanya orang yang tidak tau cara berteman yang berkata seperti itu.. " balas Seila.
" jangan terlalu sombong.. " tambah Tira.
Sedari tadi Abian melihat kearah mereka meski tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan, tetapi melihat dari gerak gerik mereka sepertinya mereka sedang berdebat ditambah dengan raut wajah yang saling tidak suka.
Benar saja baru saja Abian menebak dan tebakannya benar karena sekarang mereka menjadi pusat perhatian sebab bertengkar saling menarik narik rambut.
Abian tak bisa tinggal diam melihatnya, langsung saja ia mendekat kesana meningggalkan makanan yang baru dimakan separuh.
Ayu dan Anggiva saling menarik rambut lawan, mereka berdua sama sama keras tidak ada yang mau mengalah.
Sedangkan Seila dan Tira sudah tentu mendukung Ayu temannya.
Abian mendekat kearah mereka yang sedang saling mencakar lalu menarik Anggiva dalam pelukannya dan melindungi gadis itu dari amukan Ayu.
" KALIAN PEGANGI DIAAA... " teriak Abian pada yang ada disana untuk menahan Ayu yang sudah membabi buta begitu juga dengan Anggiva yang meronta ronta dipelukannya.
Seila dan Tira dibantu beberapa orang berhasil menahan Ayu sedangkan Abian membawa Anggiva menjauh dari kerumunan itu.
Anggiva terus meronta membuat Abian kehabisan akal hingga pada akhirnya lelaki itu menggendong Anggiva berniat membawanya ke UKS melihat beberapa luka kecil pada kulitnya yang terkoyak karena cakaran Ayu.
Mereka sampai di UKS, langsung saja Abian menurunkan Anggiva dan menduduki gadis itu diranjang.
" kenapa kau membawaku kesini... aku ingin menghabisi musang itu.. " Anggiva terlihat dikuasai amarahnya membuat Abian harus menahannya.
" tenang lah duluuu... " ucap Abian sembari menjadikan dirinya pagar untuk menghalangi Anggiva.
" kau jangan ikut campur.. dia yang memulai nya duluan... akan ku selesaikan masalah nya hari ini juga dengan si brengsek itu.. " Ucap Anggiva keras kepala.
" dengar aku-
" minggir aku ingin kesana jangan halangi aku jangan ikut campur-
" YAAAA.. AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGIZINKAN MU DILUKAINYA OLEHNYAAA... DAN AKU AKAN SELALU IKUT CAMPUR DALAM MASALAH MU.. KAU MENGERTI ITUUU... HAA... " Abian meninggikan suaranya karena kesabaran nya telah habis membuat Anggiva terdiam seketika bukan hanya itu, penjaga UKS yang awalnya tidur terperanjat ditempat.
Abian menatap tajam kearah Anggiva dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu membuat Anggiva harus meneguk ludah entah takut atau terpesona dengan wajah didepannya.
" jangan bertingkah bodoh seperti tadi... kau bisa saja terluka.. " kini Abian melembutkan suaranya.
" tunggu disini aku ku obati lukamu.. " Abian menghampiri petugas UKS untuk meminta kotak p3k.
" ada yang bisa saya bantu.. " tanya petugas itu setelah mengumpulkan nyawanya sehabis dibangun paksa dalam tidurnya.
" biar aku saja kau tidur saja lagi, maaf mengagetkan mu.. " jawab Abian.
" ebb.. berikan aku kotak obatnya. " lanjut Abian.
" itu terletak dilemari sana.. " tunjuk petugas tersebut kearah barang yang diminta.
" baiklah terimakasih sekali lagi maaf mengagetkan mu.. " ucap Abian dan petugas itu hanya mengangguk angguk saja karena sungguh ia sangat terkejut tadi.
Abian kembali menghampiri Anggiva setelah mengambil kotak obatnya, lalu mengeluarkan beberapa alat yang diperlukan.
Lelaki itu terlihat sibuk mengelap goresan kecil diwajah Anggiva dengan lembut, meskipun begitu gadis itu tetap meringis kala lukanya terkena.
" huuuff.. tahan okeyy... " Abian meniup luka diwajah Anggiva membuat jantung gadis itu kembali tak aman.
" lain kali jangan bertindak seperti ini, lihatkan sekarang wajah mulus mu jadi tergores buat apa skincare mahal mahal nanti. " ucap Abian membuat Anggiva tak terima.
" iihhh apa sih lagian dia yang mulai duluan manas manasin aku.. " elak Anggiva.
" lain kali bawa es biar gak kepanasan. " balas Abian membuat Anggiva menggerutu.
" lagian kenapa sih udah gede masih aja bertengkar... karena apa sih.. pasti karena ngerebutin aku yaaa... " ucap Abian membuat Anggiva merasa tak enak karena pertengkaran ini juga berhubungan dengan Abian.
" iihh kepedean.. " cibik Anggiva membuat Abian tertawa.
Tuhkan sekarang hatinya giliran terpincut sama Abian.
Perlakukan selembut ini hati siapa yang tidak meleleh apalagi saat melihat Abian begitu keras melindungi dirinya.
Huuff sekarang kepincut sama Abian dan pulang sekolah nanti pasti ada Arsean yang selalu membuat jantung nya tak aman.