The Magic Of The Sea

The Magic Of The Sea
bab 39 Bermasalah dengan kakak kelas



Prok... prok... prok...!!!


" ayo semangat tata barang nya dengan rapiii jangan lelet.. " ucap Pak Nazar memerintahkan Arsean yang sedang membersihkan gudang.


Hukuman berakhir dijatuhkan pada Arsean dengan membersihkan gudang dan Pak Nazar selaku guru yang akan mengawasi dirinya.


Sedari tadi mulut Pak Nazar tiada diam disebabkan harus selalu menuntun Arsean yang tidak mengerti apa apa.


Dan Arsean sendiri pun bisa dilihat dari raut wajahnya yang tampak sangat kelelahan.


BRUUKHH...!!!


Arsean berakhir jatuh saat akan mengangkat buku buku yang didalam kardus dengan berat lumayan juga.


Mendengar itu Pak Nazar yang berdiri diambang pintu beranjak menghampiri Arsean.


" ada apa hmm.. " tanya Pak Nazar datar meskipun sedikit gelisah saat melihat nafas Arsean yang tak beraturan.


" ss-saya capekkk... " lirih Arsean.


Pak Nazar menghela nafas, beliau bukanlah orang jahat yang tak berperikemanusiaan.


Berhubung sebentar lagi jam pergantian pelajaran dan gudang sudah 80 persen telah dibersihkan jadi apa salahnya untuk menyudahi hukuman ini.


" ya sudah sekarang kau boleh pergi ke kelasmu... " ucap Pak Nazar.


" iyaa.. " jawab Arsean.


Baru hendak membangkitkan diri tiba tiba suara memalukan dari organ dalam terdengar.


Kruuukkk...!!


Arsean menyengir lalu memegang perutnya yang bersuara barusan, ya benar dirinya lapar sekarang. Memang sedari awal soal makanan bagi dirinya tidak bisa ditunda.


" apa pagi ini kau juga tak sarapan..?? " tanya Pak Nazar diangguk lucu oleh pemuda berparas imut itu.


" hah baiklah sebelum ke kelas kau ke kantin dulu.. Ayo saya temani biar kamu gak dihukum lagi kalau ketahuan makan dikantin saat jam pelajaran.. " lanjutnya.


Arsean sangat gembira dan langsung berdiri begitupun dengan Pak Nazar lalu mereka menuju kantin.


Singkat nya jam istirahat telah tiba.


Seluruh penghuni kelas langsung berhamburan ke kantin setelah para guru meninggalkan kelas dan sebagian ada juga yang ketempat lain.


Anggiva gadis itu sedari tadi perasaan nya tak tenang dan selalu mengkhawatirkan seseorang sampai dirinya lupa pada seseorang yang lain yang tengah berdiri disamping nya.


" ada apa... Ayo ke kantin...?? " Ajak Abian.


Gadis itu tak menggubris suara yang terdengar barusan sebab pikirannya tengah kacau saat ini.


Pukk....!!


" mikirin apa siihh.. " Abian kembali bertanya dan menepuk pelan bahu Anggiva.


" eh.. eng-engga kok.. kemana tadi ke kantin yaa..?? yaudah ayoo.. " Anggiva gelagapan.


" iyaaa... " jawab Abian.


Setelah nya gadis itu melangkah pergi mendahului Abian dan Abian mengekor dibelakang Anggiva.


Sampai dikantin netranya tetap sibuk mencari sosok yang sedari tadi dipikirkan, dan saat ditelaah lebih lagi ternyata ada gerombolan para gadis yang sedang mengerumuni bangku para cowok yang diyakini bahwa itu adalah Arsean dan Reval bersama teman-temannya.


Syukurlah setidaknya ia tau sekarang jika Arsean baik baik saja.


" tumben terlambat tadi kamu.. " ucap Abian memulai obrolan.


" yah gituuu... Aku bangunnya sedikit telat pagi ini.. " jawab Anggiva.


" pasti tidurnya nyenyak yaa.. " goda Abian.


" ahaha... yaaa gituuu.. " entah kenapa hari ini Anggiva tidak punya mood untuk berbicara dengan Abian terlebih lagi saat melihat Arsean yang sedikitpun tidak mencari keberadaannya.


" ngomong ngomong Arsean itu masih tinggal sama kamu yaa.. "


" ah eeee... Iyaa.. "


" kenapa eeee... Maksudku dia gak tinggal bareng orang tuanya gituu.. "


" eee... Orangtuanya lagi diluar negeri dan dia itu anak tunggal terlebih lagi dia gak punya paman atau bibi baik dari pihak ayah maupun ibuu... eeee.. Dia juga tidak punya kakek nenek lagi karena mereka sudah meninggal... Ya jadinya yang mereka punya hanyalah orangtuaku sebagai sahabat mereka dan mereka menitipkan anaknya itu pada kami. " cerita Anggiva panjang tentu saja itu semua adalah kebohongan besar.


" waawww... " Abian hanya manggut manggut berusaha untuk mengerti.


" tinggal bersama dalam jangka waktu yang tidak dekat pasti kamu punya perasaan kan sama diaa secara dia itu juga tampan.. " lanjut Abian.


" pffftt... gak banget... lagian aku itu sudah menganggap nya seperti kakakku sendiri mana mungkin aku menyukai nya. " ucap Anggiva dengan kebohongan satu lagi.


" ouuhhh... " Abian tersenyum entah kenapa merasa senang saat mendengar ucapan Anggiva barusan.


Semua yang berada dikantin sangat terkejut saat mendengar gebrakan meja yang melengking keras.


Ingin protes namun nyali semuanya menciut saat melihat siapa pelakunya.


Kakak kelas 3 dengan jumlah mereka lima orang ditambah lagi semuanya mempunyai postur yang tegap.


Tampak jelas wajah bengis mereka meskipun tampan dan aura kesombongan yang begitu melekat.


Kelima nya mendekati meja Arsean yang sedang dikerumuni banyak wanita namun sekarang tidak lagi saat melihat kakak kelas itu menghampiri meja tersebut.


Sepuluh pasang mata begitu mengintimidasi saat menatap Arsean dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Yang ditatap malah sibuk menyuruput kuah soto dengan mulut penuh makanan.


Reval dan teman-temannya sedari tadi sudah menciut.


" hei kau anak baruuu... " panggil salah satu dari mereka yang memiliki nama Jordan atau bisa disebut dia adalah ketua dari geng tersebut.


Reval menyikut Arsean dengan sikunya saat melihat temannya itu mengabaikan kakak kelas yang terkenal sombong dan kejam.


Kepopuleran adalah hal utama bagi mereka jadi sudah jelas mengapa mereka tidak suka akan kehadiran Arsean yang tiba tiba merebut kedudukannya itu.


" heung... "


" kamu ditanya tuh.. " bisik Reval.


Arsean dengan pipi mengembung penuh makanan menatap orang yang menatapnya dengan bengis.


" mauu... " tawar Arsean sembari mengangkat mangkuknya dihadapan Jordan.


Lima detik kemudian....!!


PRAANGGG....!!!


Suara pecahan mangkuk yang dilempar oleh Jordan begitu melengking bersamaan dengan teriakan orang orang dikantin.


Arsean juga sama terkejutnya namun tak sampai pucat seperti Reval dan teman-temannya.


Tak hanya itu Anggiva sudah bangkit dari duduknya hendak menghampiri mereka namun ditahan oleh Abian yang takut jika Anggiva juga bisa kena imbasnya jika kesana.


" hei itu tidak sopan.. " seru Arsean menatap iba pada sisa soto yang berserakan.


Sreettt...!!!


Jordan menarik kerah baju Arsean membuat lelaki itu berdiri dengan paksa.


" jangan macam macam dengan ku.. " ucap Jordan pelan namun penuh penekanan.


" khhhkkk... lepaskan.. " Arsean merasa tercekek dan mencoba melepaskan pegangan itu walau tenaganya kalah kuat.


" kehadiran mu itu sungguh memuakkan bagi kami... " ucap Raka juga bagian dari mereka.


" apa masalahnya aku hanya ingin sekolah dan makan disinii... " ujar Arsean bukan takut namun pegangan dikerahnya membuat dirinya tercekik.


" hah masih saja berani melawan kau haa... Apa harus diberi pelajaran dulu sebel-


" STOOOPP.. " teriak Anggiva menghampiri mereka setelah lepas dari Abian yang menahannya.


" wah wah wah... Diantara para wanita yang mengagumi lelaki brengsek ini... Hanya kau sendiri yang berani membela seperti ini.. Hmm... Benar benar penggemar sejati.. " ejek Jordan.


" tutup mulut mu aku bukan penggemarnya aku hanya tidak tahan melihat kalian ini menindas orang lain apalagi dia masih dibawah kalian.. " tutur Anggiva.


" pffttt... ahahaha hei Dion mau kau pacari adik kelas ini... " ucap Jordan.


" hah pacarku masih banyak tapi kalo tampangnya seperti ini okelah.. " ucap Dion lalu tertawa bersama teman temannya.


" hah dasar playboy kenapa tidak kau sisakan satu pada ku.. " tambah Fahmi.


" kau itu jelek mana mau mereka... ahaha. " sambung Galang.


Gadis itu sungguh muak mendengarkan lelucon membosankan dari para lelaki ini.


Tanpa pikir panjang ia langsung menarik Arsean dari pegangan mereka hingga terlepas paksa.


" hei berani k-


" iya memang nya kalian mau apa sama anak perempuan seperti ku... Lihat saja aku akan melapor pada Guru jika kalian membuat keributan disini.. " ancam Anggiva lumayan membuat mereka takut.


" ck.. beraninya melapor dasar wanita... Ayo cabut.. " Jordan melangkah pergi meninggalkan mereka diikuti teman temannya.


" jangan cari masalah dengan mereka.. " ucap Anggiva.


" Terima kasih.. " Arsean menyunggingkan senyumnya.


" ingat di sekolah ini kita seperti orang asing jangan membuat mereka semua curiga... Aku dengan mu tidak punya hubungan apa apa mengerti... " bisik Anggiva diangguki Arsean lalu gadis itu melesat pergi.