The Journey of Adam

The Journey of Adam
61. Melawan Puluhan Kucing



30 Menit kemudian Adam dan Santy berada di ruang makan. "Wahh, burger." Santy terkejut melihat burger. "Apa kamu suka burger." Tanya Adam. "Saya suka kak." Santy mengangguk. "Emmm, enak." Santy memakan burger.


"Entah kenapa makanan yang di munculkan kak Adam selalu lezat dan enak." Kata Santy. "dia lebih ceria dari pada kemarin." Gumam Adam kemudian berkata. "Nanti siang kamu ingin makan apa." Tanya Adam. "Pizza kak. Apa kakak bisa memunculkan pizza." Balas Santy. "Bisa." Adam mengangguk. "Kak Adam memang terbaik." Santy tersenyum kemudian memakan burger.


10 Menit kemudian Adam dan Santy telah selesai makan dan keluar dari rumah. "Kita akan pergi kemana kak." tanya Santy. "Kota Malang." Balas Adam berjalan menuju motor. "Grrr." "Kak ada zombie." teriak Santy melihat beberapa zombie yang berjalan ke arahnya. "Hanya zombie biasa." Adam mengambil pistol di sakunya kemudian menembaki zombie. "Duar." "Duar."


Tidak lama kemudian Adam telah membunuh beberapa zombie. "Ayo naik." Kata Adam menaiki motor. "Baik kak." Santy mengangguk kemudian naik motor dan memeluk Adam. "Bruum." Adam menarik gas dan pergi.


Beberapa menit setelah pergi, Adam melihat seekor gorila hitam sebesar 3 meter yang berada di tengah jalan. "Ini mengingatkanku saat pertama kali melawan gorila." Adam menghentikan motornya kemudian melihat smartphone di tangannya dan membuka aplikasi shop.


Adam turun dari motor kemudian membeli satu bazoka seharga 20 coin. Sebuah bazoka muncul di depan Adam. Santy terkejut melihat sebuah bazoka yang muncul di depan Adam. "Huu huuu." Gorila melihat ke arah Adam dan memukul-mukul dadanya. "Selamat tinggal." "Busshh." Adam menarik platuk bazoka.


"Booom!!." Rocket meledak saat mengenai badan gorila. "Ahhhh." Santy berteriak saat terkena hembusan angin. "Apa gorila itu mati kak." tanya Santy melihat asap ledakan yang belum menghilang. "Gorila itu pasti mati." balas Adam.


Setelah asap ledakan menghilang. Adam dan Santy melihat gorila tergeletak di tanah dengan kehilangan setengah badannya. "Kamu sungguh luar biasa kak." Santy melihat Adam dengan kagum. "Jika dulu saat bertemu gorila aku langsung membeli bazoka. Mungkin aku tidak akan koma dan tulang rusukku tidak patah." Adam tersenyum kecut meningat kenangan saat dirinya jatuh koma dan di rawat oleh pak Edi.


"Sigh, aku teringat lagi dengan pak Edi." Adam menghela nafas. "Ayo kita pergi." kata Adam menaiki motor. "Baik kak." Santy menaiki motor kemudian memeluk Adam. "Bruum." Adam menarik gas dan pergi.


4 Jam kemudian Adam tiba di kota Malang. "Ayo kita bersitirahat di rumah itu." Kata Adam melihat rumah mewah. Adam turun dari motor kemudian membuka gerbang. Adam berjalan ke arah pintu di ikuti Santy. "Pintu di kunci." Kata Adam kemudian mendobrak pintu. "Bruaakk." Adam menendang pintu.


Saat pintu terbuka Adam tiba-tiba berteriak. "Menghindar." Adam membuat Santy menghindar kesamping. "Wussshhh." Adam melihat seekor kucing berukuran 80 cm melewati Santy dengan cepat.


"Ahhh. Kucing." Santy terkejut melihat kucing sebesar 80 com. "Grrr." Adam melihat 4 ekor kucing sebesar 80 cm di dalam rumah, yang melihatnya dengan tatapan permusuhan. "Sepertinya pemilik rumah ini sangat menyukai kucing." gumam Adam kemudian mengambil dua pisau dari saku celananya.


"Berdiri di belakangku Santy." Kata Adam melihat 5 kucing. 1 kucing di luar rumah dan 4 kucing di dalam rumah. "Baik kak." Santy mengangguk dan berdiri di belakang Adam. "Grrr." 5 kucing melesat ke arah Adam secara bersamaan. "Cari mati." "Slasshh." "Slasshh." "Arrghh." Adam berhasil menebas dua kucing. Namun ketiga kucing mencakar tubuhnya.


"Berengsek, sudah lama aku tidak terluka melawan hewan mutasi." Adam melihat dua kucing yang terkena tebasannya perlahan berdiri. "Mati." Adam mengambil pistol dan menembak dua kucing di lantai. "Duarr." "Duaar." "Meoww." Ketiga kucing ketakutan melihat teman mereka mati dan berlari menjauh.


"Jangan berpikir untuk pergi." kata Adam menembaki 3 kucing. "Duar." "Duar." "Duar." Adam berhasil mengenai dua kucing. Namun satu kucing berhasil melarikan diri. "Duar." "Duar." "Meow." Adam membunuh 2 kucing yang melarikan diri.


"Ayo masuk ke dalam." Kata Adam memasuki rumah. "Baik kak." Adam melihat smartphone yang muncul di tangan kanannya dan membuka aplikasi shop. Adam kemudian membeli sebuah perban dan sebotol alkohol seharga 5 coin. Smartphone bersinar kemudian perban dan alkohol muncul di depan Adam.


Adam kemudian menuangkan alkohol ke luka cakar di tubuhnya. "Uuhh." Adam merintih kesakitan. "Kak, biar aku yang memperban lukamu." Kata Santy melihat Adam. Adam melihat Santy dan memberikan perban. Santy kemudian mulai memperban luka di badan Adam.


"Gggrrr." "Grrr." Tidak lama setelah selesai memperban luka di badannya. Adam mendengar suara geraman. Adam berdiri kemudian melihat ke luar. "Berengsek." Adam mengutuk saat melihat puluhan kucing sebesar 80 cm yang berkumpul di depan rumah. "Adam mengkunci pintu kemudian berkata. "Bersembunyilah Santy." "Baik kak." Santy mengangguk kemudian mulai bersembunyi.


Adam membuka aplikasi shop kemudian membeli sebuah bazooka RPG-7 seharga 20 coin, sebuah senapa mesin M-60 GPMG seharga 10 coin dan 200 amunisi senapan mesin seharga 20 coin. Beberapa detik kemudian smartphone mengeluarkan cahaya putih dan sebuah bazooka, senapan mesin serta amunisi peluru muncul di depan Adam.


"Ini mengingatkanku saat melawan serangan zombie berkulit putih." Kata Adam memasang amunisi peluru di senapan mesin. Adam membawa senapan mesin di tangan kanan dan bazooka di tangan kirinya.


Adam berjalan ke arah pintu dan menendangnya. "Bruak." Pintu terbuka. "Grrr." Puluhan kucing melihat Adam dengan tatapan permusuhan. Adam menjatuhkan senapan mesin dan mulai membidik puluhan kucing dengan Bazooka.


"Mati.""Buzzz." Adam menarik pelatuk Bazooka. "Rocket melesat ke arah puluhan kucing. "Booom!!." Ledakan terjadi dan puluhan kucing terlempar. "Meow." "Grrr." Kucing yang selamat dari ledakan mulai melesat ke arah Adam.


Adam membuang bazoka kemudian mengambil senapan mesin. "Duur." "Duur." "Duur." Adam menembaki kucing yang melesat ke arahnya. "Meow." "Slasshh." "Aghh." Adam melihat satu kucing berhasil lolos dari tembakannya dan mencakar kakinya. Tepat di area luka tembak yang masih belum sembuh total.


"Bajingan." Adam menendang kucing. "Wusshh." Namun kucing menghindari tendangan Adam dengan mudah. "Mati kau kucing sialan." "Dur." "Dur." 'Meow." Adam berhasil menembak kucing. "Dur." "Dur." Adam menembaki kucing yang mendekat ke arahnya.


5 Menit kemudian Adam melihat puluhan tubuh kucing yang tergeletak tidak bernyawa. "Jika para pecinta kucing tahu apa yang aku perbuat. Mungkin mereka akan membuat petisi untuk memenjarakanku." Adam tersenyum.


Adam masuk ke dalam rumah kemudian menutup pintu dan mengkuncinya. "Adam menaruh senapan mesin dan duduk di kursi." Adam melihat smartphone di tangan kanannya kemudian membeli sebotol bir seharga 10 coin.


Adam membuka botol bir dan mulai minum. "Glek." "Glek." "Ahhh." "Kak Adam." Adam melihat Santy yang berjalan ke arahnya. "Ambil perban dan alkohol tadi. Kakiku terluka lagi." kata Adam melihat luka cakar tepat di area luka tembak yang masih belum sembuh total. "Baik kak." Santy mengangguk dan mengambil perban serta alkohol.


"Bersihkan luka di kakiku dengan alkohol." Kata Adam. "Baik." Santy kemudian membersihkan luka di kaki Adam dengan alkohol. "Uuh." Adam merintih. Setelah membersihkan luka dengan alkohol, Santy memperban kaki Adam.