The Journey of Adam

The Journey of Adam
50. Tiba Di Surabaya Volume 1 END



Adam minum setengah botol air lalu menyirimkan sisanya di kedua lukanya. "Ughhh." Adam merasakan perih saat menyiram lukanya dengan air. Adam kemudian mengambi pakaiannya untuk membasuh bekas darah di tubuhnya. Setelah selesai membasuh bekas darah di tubuhnya, Adam mulai memperban kedua lukanya.


Setelah selesai memperban lukanya Adam melihat mayat Edi dan berkata. "Aku akan menunggu disini sebentar, aku mempunyai firasat mereka akan kembali." Benar tebakan Adam. Setelah beberapa menit menunggu, Adam melihat dua mobil melaju ke arahnya.


"Adam apa kamu baik-baik saja." Adam melihat Jessica keluar mobil dan berlari kearahnya sambil menangis. "Aku baik-baik saja dan jangan memelukku, aku sedang terluka." Adam tersenyum melihat Jessica hendak memeluknya.


Adam syukurlah kamu baik-baik saja." Steven menghela nafas melihat Adam baik-baik saja. namun Steven bersedih saat melihat mayat di samping Adam. "Maaf, aku tidak bisa melindungi pak Edi." Adam bersedih melihat mayat Edi.


"Kak, ini bukan salahmu, kamu sebenarnya beruntung bisa selamat melawan beberapa manusia evolusi." Kata Angga menghela nafas melihat semua mayat yang tergeletak di jalan. "Benar Adam, kamu tidak perlu bersalah dengan kematian pak Edi. Dia sudah membulatkan tekadnya saat bertarung bersamamu." Steven menghela nafas. "Baiklah, Angga, Steven pindahkan mobil yang menghalangi jalan itu. Aku menebak mobil itu macet." "Oke." Angga dan Steven mulai berjalan ke arah mobil.


"Adam apa kamu terluka." Kata Merry saat menyentuh perban di tubuh Adam. "Aku terluka Merry, jangan sentuh perut dan dadaku." Balas Adam. "Ah, maaf." Merry mengangguk. Dia hampir saja menyentuh perut dan dada Adam. "Kamu tidak perlu minta maaf." Adam tersenyum dan mengelus rambut Merry. Merry tersenyum saat Adam mengelus rambutnya.


"Adam ada orang yang selamat." Steven berteriak saat melihat kedua wanita dan seorang anak kecil. "Abaikan saja mereka." Teriak Adam. Melihat Steven yang sedang memikirkan sesuatu Angga menepuk pundaknya dan berkata. "Abaikan saja mereka. Jika kamu memutuskan membawa mereka, mungkin kita akan berpisah disini. Kak Adam sudah berbaik hati tidak membunuh mereka." Angga menebak bahwa Adam sudah tahu ada orang yang masih selamat.


Mendengar kata Angga, Steven menghela nafas. Dia adalah seorang dokter, jadi dirinya memiliki sifat kemanusiaan yang tinggi. Tapi dia tahu, setelah berpisah dengan Adam. Perjalanan ke Surabaya tidak akan berjalan lancar. Dia juga ragu bisa selamat sampai di Surabaya.


Beberapa menit kemudian Angga dan Steven telah selesai memindahkan mobil yang macet. "Baiklah, kita akan mencari tempat untuk menguburkan mayat pak Edi terlebih dahulu." Kata Adam berdiri. "Baik." Angga dan yang lain mengangguk. Kemudian Angga dan Steven menggotong mayat Edi ke dalam mobil.


"Kak Adam, apa tidak masalahmu bagimu untuk menyetir mobil." Kata Angga melihat Adam terluka. "Jangan khawatir, aku lebih handal darimu saat menyetir meski dalam keadaan terluka. Aku tidak akan membuat mobil hampir hancur." Kata Adam melihat mobil memiliki banyak penyokan. Mendengar kata Adam Angga tersenyum malu, dia tidak terlalu bisa menyetir mobil.


Beberapa menit kemudian Adam berhenti di sebuah tempat dan mulai mengubur mayat Edi bersama-sama. "Adam aku tidak percaya kamu adalah pesulap." Kata Steven melihat Adam mengeluarkan 4 cangkul dari udara kosong. "Baiklah, ayo mulai menggali." Kata Adam. "Baik." Balas Angga dan yang lain.


1 jam kemudian Adam telah selesai mengubur mayat Edi. "Pak Edi aku sangat senang mengenalmu, dan terimakasih sudah menolongku. Maafkan aku." Adam melihat kuburan Edi dan menteskan air mata. "Adam jangan menangis." Jessica juga menangis dan menghibur Adam. "Baiklah, ayo pergi." Adam mengusap kedua air matanya kemudian berjalan ke arah mobil. Diikuti Angga dan yang lain.


"Kita akan menuju langsung ke Surabaya." Kata Adam. "Baik." Balas Angga dan yang lain. Adam kemudian masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobil. Steven juga masuk ke mobil yang dikendarainya.


Adam dan Steven mulai melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Selama perjalanan menuju Surabaya Adam menemukan banyak zombie yang berdiri di tengah jalan. Karena dalam mood buruk, Adam tidak menghentikan mobil dan mulai menabrak semua zombie yang berdiri di tengah jalan. Steven yang berada di belakang mobil Adam, terkejut melihat Adam menabrak begitu banyak zombie. "Mengapa aku dulu tidak memikirkan untuk menabrak semua zombie." gumam Steven dipikirannya.


1 jam kemudian Adam tiba di kota Surabaya. Adam melihat perbatasan kota dijaga ketak oleh polisi dan tentara. Adam juga melihat sebuah pagar yang terbuat dari kawat setinggi 5 meter sebagai penghalang masuk. "Semuanya Turun." Kata Adam. Kedua saudara kembar dan Merry turun lalu keluar dari mobil.


"Apa kamu terluka." Tanya seorang tentara. "Benar, aku ditembak oleh seseorang beberapa hari lalu." Adam membuka pakaiannya dan menunjukan perban di tubuhnya. Melihat perban masih baru, dan kedua luka tembak Adam mengeluarkan darah tentara berkata. "Kamu sungguh beruntung masih hidup setelah tertembak di dada dan perut." Balas tentara. "Aku hanya beruntung." Adam tersenyum.


Adam kemudian melihat Angga dan yang lain diperiksa. Setelah Adam dan yang lain di periksa. Mobil yang Adam dan Steven kendarai juga diperiksa oleh tentara. "Apa ini bukan mobilmu." Tanya salah satu polisi." "Tidak, aku menemukan di jalan. Mobilku sudah hancur akibat serangan zombie." Balas Adam.


"Aku maafkan kamu kali ini karena mencuri mobil." Balas Polisi saat melihat Adam bersama banyak orang. Polisi tahu Adam dan yang lainnya hanya manusia biasa. Mereka tidak akan selamat jika hanya berjalan kaki menuju Surabaya. "Setelah tiba di kamp pengungsian jangan mencuri. Atau kalian akan menerima hukuman berat." Polisi memperingatkan. "Baik pak." Balas Adam dan yang lain.


"Ini tiket kalian, kalian dikategorikan pengungsi biasa." Adam dan yang lain menerima tiket dari salah satu polisi. "Kalian bisa masuk." Adam mengangguk kemudian masuk ke dalam kota mengendarai mobil. Setelah masuk ke dalam kota Adam terkejut melihat kota seperti biasanya. Ada beberapa orang yang berdiri di jalan dan mengobrol.


"Apa kota ini tidak memiliki hewan mutasi dan zombie sama sekali." Kedua saudara kembar terkejut melihat beberapa orang yang santai dan mengobrol di tengah jalan. "Mungkin tidak ada hewan mutasi dan zombie di kota ini. Pemerintah pasti mengerahkan semua polisi dan tentara di jawa timur untuk membunuh hewan mutasi dan zombie. Agar kota Surabaya bisa menjadi tempat pengungsian." Adam menebak. Kedua saudara kembar dan Merry mengangguk mendengar kata Adam. Mereka setuju dengan pendapat Adam.


Tidak lama kemudian Adam berhenti setelah tiba di depan supermarket yang ramai. "Aku ingin melihat-lihat. Apa kalian ingin ikut." Kata Adam. "Aku ikut." Balas kedua saudara kembar dan Merry. Adam kemudian turun dari mobil bersama kedua saudara kembar dan Adam.


"Adam apa itu kamu." Saat turun dari mobil. Adam mendengar sebuah suara yang sangat akrab. Adam berbalik kemudian melihat seorang pria dan seorang wanita berambut kuning. "Mom, Dad." Kata Adam terkejut melihat yang memanggilnya adalah kedua orang tuanya. "Adam itu bernar-benar kamu." Wanita berambut kuning menangis dan memeluk Adam.


"Aw, aw. Jangan peluk aku Mom. Aku sedang terluka." Kata Adam kesakitan. "Ahh, kamu sedang terluka." Ibu Adam melepas pelukan. "Nak, aku sangat khawatir denganmu." Ayah Adam tersenyum dan mengelus rambut Adam. "Dad, Mom aku baik-baik saja." Adam tersenyum.


"Baguslah kamu baik-baik saja. Adam apa mereka temanmu." Kata Ayah Adam melihat kedua saudara kembar dan Merry. "Benar Om, kita teman Adam." balas kedua saudara kembar. "Adam mempunyai banyak teman, ayo ketempat kami tinggal." Kata Ibu Renji.


"Apa kami boleh ikut." Tanya Anggi. "Tentu saja, bukankah aku baru saja mengajak kalian." Ibu Adam tersenyum. "Ayo berjalan kaki saja, tempat tinggal kami tidak terlalu jauh." Balas Ayah Adam. "Baik." Balas kedua saudara kembar dan Adam.


Melihat Ayah dan Ibu Adam memimpin jalan Angga yang berjalan disamping Adam berbisik. "Aku tidak menyangka ibumu adalah orang luar Kak. Aku kira rambutmu itu di cat." Adam tersenyum kecut mendengar kata Angga. "Benar kak Adam, aku tidak mengira ibumu orang luar. Terlebih lagi dia pandai berbicara bahasa Indonesia." Kata Angga. "Baiklah, ngomong-ngomong di mana Jessica dan Steven." Kata Adam. "Mungkin mereka berhenti setelah melihat kenalan mereka." kata Angga. "Bisa jadi." Balas Adam.


"Adam ayo berjalan dengan cepat." kata Ayah Adam. "Dad, bukankah sudah kubilang aku sedang terluka." Kata Adam. "Oh benar aku lupa." Ayah Adam tertawa. Kedua saudara kembar, Merry dan Ibu Adam tertawa.


Volume 1 END