The Journey of Adam

The Journey of Adam
46. Reuni



Adam, Merry dan kedua saudara kembar kemudian masuk ke dalam. "Pakai sabuk pengaman kalian, kali ini kita tidak akan berhenti meski menemui zombie." kata Adam mengenakan sabuk pengaman. "Ah, baik." Balas kedua saudara kembar.


"Angga ambilkan dus peluru didepanmu." Kata Adam. Angga memberikan dus peluru kepada Adam. Adam kemudian mulai mengisi peluru pistol miliknya. "Kak, kenapa kamu tidak membawa bazooka dan senapan mesin. Kedua senjata itu adalah barang berharga, mungkin kita bisa menjualnya setelah sampai di Surabaya." Kata Angga.


"Tidak, mungkin kamu akan dalam bahaya jika membawa barang itu ke Surabaya. Ingat! rakyat sipil tidak mungkin memiliki bazooka dan senapan mesin. Polisi dan pemerintah pasti akan mencurigaimu sebagai *******, lalu menangkapmu untuk di interogasi ." kata Adam dengan serius. "Ehh, aku tidak ingin ditangkap." Balas Angga dengan gugup. Angga tidak ingin ditangkap oleh polisi. Adam tersenyum melihat Angga yang gugup kemudian mulai menyalakan mesin mobil dan menuju ke barat.


1 jam telah berlalu, selalam di perjalanan Adam tidak berhenti setelah menemukan beberapa zombie yang berdiri dijalan. Adam hanya memperlambat mobil dan mulai menembaki zombie dari dalam mobil.


"Kak, apa kita sudah sampai di Sidoarjo." Kata Angga bertanya dan menggosok matanya. "Kita sudah sampai beberapa menit lalu." Balas Adam. "Benar, bagaimana kalian berdua bisa tertidur di perjalanan." Kata Adam heran melihat Anggi yang tertidur di pundak Merry.


"Angga dan Anggi pasti kelelahan Adam." kata Merry tersenyum. "Hehe, kami berdua memang mudah tertidur jika mengantuk kak." Angga tertawa. "Baiklah, kita akan mencari beberapa makanan di supermarket. Berharaplah masih ada beberapa makanan yang tersisa." Kata Adam. Angga mengangguk mendengar kata Adam.


Tidak lama kemudian Adam berhenti di depan sebuah supermarket. "Uuhh, apa kita sudah sampai di Sidoarjo." Kata Anggi bangun. "Tidak, kita kembali ke Probolinggo." Balas Adam berbohong. "Ahhh, kak Adam kenapa kita kembali ke Probolinggo." Anggi terkejut. "Kita sudah tiba di Sidoarjo, Adam hanya mengerjaimu." Balas Merry tersenyum. "Dasar." Anggi mendengus menatap Adam. Adam tertawa melihat Anggi yang jengkel padanya.


"Angga kamu disini menemani Merry, biar aku dan Anggi yang mencari makanan." Kata Adam keluar dari mobil. "Baik kak." Angga mengangguk. Anggi kemudian turun dari mobil dan mengikuti dibelakang Adam.


"Kak Adam sepertinya kita tidak akan menemukan sesuatu." Kata Anggi melihat supermarket yang hampir kosong. "Ayo kita lihat-lihat dulu." Balas Adam. "Baik kak." Anggi mengangguk dan mengikuti dibelakang Adam.


Tidak lama kemudian Adam dan Anggi keluar dari supermarket. "Kita hanya menemukan 4 bungkus mie instan kak." Anggi menghela nafas melihat 4 bungkus mie instan di kantong plastik. "Orang-orang yang belum mengungsi ke kota Surabaya, pasti mengambil semua makanan di supermarket. Jadi itu hal wajar bila tidak tersisa makanan sama sekali." Kata Adam.


"Kak, apa kamu menemukan beberapa makanan." Tanya Angga melihat Adam dan Anggi berjalan kembali ke mobil dengan membawa kantong plastik. "Kita hanya menemukan 4 mie instan." Anggi mengggeleng. "Eh, begitu sedikit." Angga terkejut.


"Kita akan mencari supermarket lagi." Kata Adam masuk ke dalam mobil. "Baik." Balas kedua saudara kembar bersamaan. melihat Anggi sudah masuk ke dalam mobil. Adam menyalakan mesin mobil dan mulai mencari supermarket.


Tidak beberapa lama setelah kedua saudara kembar masuk ke dalam supermarket. Adam melihat tiga orang masuk ke dalam supermarket, dua pria dan 1 wanita. "Aku tidak menyangka akan bertemu mereka berdua disini." Adam tersenyum melihat tiga orang yang baru saja masuk ke dalam supermarket.


"Adam apa kamu melihat seseorang yang kamu kenal." Tanya Merry kepada Adam. "Benar, aku melihat seseorang yang pernah menolongku, saat aku terluka." Adam tersenyum namun beberapa detik kemudian bersedih. "Tapi seseorang yang dia sayang meninggal karena diriku." Gumam Adam secara pelan. Merry terkejut saat mendengar kata Adam. "Dia pasti marah saat tahu seseorang yang dia sayang meninggal karena diriku." Adam menghela nafas.


Beberapa menit kemudian Adan melihat kedua saudara kembar berjalan ke arah mobil diikuti dua pria dan seorang wanita. "Sepertinya aku memang harus menyapa mereka." kata Adam kemudian keluar dari mobil.


Saat Adam keluar dari mobil wanita yang dibelakang kedua saudara kembar dan seorang pria tua berbadan kekar terkejut. "Adam apa itu kamu." Teriak wanita yang tidak lain adalah Jessica. "Ini Aku Jessica, halo pak Edi sudah lama kita tidak bertemu." Adam tersenyum. "Adam, aku mengkhawatirkanmu." Jessica berlari ke arah Adam dan memeluknya. "Ehh." Kedua saudara kembar terkejut melihat Adam tiba-tiba dipeluk oleh seorang wanita.


"Adam akhirnya kita bertemu kembali." Jessica berkata dengan senang. "Kita bertemu kembali, apa kamu tidak malu memelukku di depan orang." Balas Adam tersenyum. Jessica tersipu kemudian melepas pelukannya. "Halo pak." Adam menghampiri Edi. "Adam syukurlah kamu baik-baik saja." Adam dan Edi berpelukan.


"Halo Adam, aku Steven saudara Jessica. Jessica sudah bercerita banyak tentangmu. Aku juga tidak tahu bahwa kamu kenal dengan pak Edi." Kata seorang pria berkacamata. "Aku Adam, apa kamu dokter yang menyembuhkan pak Edi." Adam dan Steven berjabat tangan. "Benar, aku adalah dokter magang." Balas Steven.


"Adam kenapa kamu tidak bersama Intan." Tanya Edi. "Maaf pak." Kata Adam menghela nafas dan bersedih. "Uuhhh." Mendengar Adam meminta maaf Edi merasa sedih. "Apakah kamu mau aku bercerita disini." Tanya Adam. "Tidak, ayo kembali ke tempat kami dulu jaraknya tidak jauh dari sini." Balas Edi. "Baiklah." Balas Adam.


"Anggi kamu temani Merry. Kita akan berjalan kaki." Kata Adam. "Baik kak." Anggi mengangguk kemudian berjalan ke mobil dan berbicara ke Merry. Adam kemudian melihat Merry keluar dari mobil bersama ditemani Anggi.


"Apa dia buta." Tanya Steven. "Benar, dia buta." Adam mengangguk. "Kamu pria yang baik Adam. Tidak meninggalkan wanita buta sepertinya dalam keadaan saat ini." Steven tersenyum kepada Adam. Adam hanya tersenyum kecut mendengar kata Steven. Adam tidak baik, dia pernah membunuh beberapa orang sebelumnya. Meski orang-orang yang dibunuhnya berniat jahat padanya.


Tidak lama kemudian Adam dan yang lain mulai berjalan. "Itu rumah yang kami tempati." Kata Steven menunjuk sebuah rumah. Adam dan yang lain kemudian berjalan ke arah rumah. Steven membuka pintu kemudian masuk ke dalam diikuti Adam dan yang lain. Adam kemudian duduk di ruang tamu bersama yang lain.