
"Terimakasih sudah mengobatiku." Kata Adam kepada Novi."Aku hanya membersihkan dan memperban bagian yang luka. Benar apakah badanmu tidak bermasalah, aku takut gigitan dan cakaran anjing bermutasi menularkan virus serta racun." Balas Novi khawatir. "Emm, kurasa cakaran dan gigitan anjing bermutasi itu tidak beracun dan menularkan virus. Buktinya aku baik-baik saja sekarang." kata Adam melihat seluruh tubuhnya.
"Syukurlah kalau begitu." Novi tersenyum. "Baiklah, ayo kita pergi. Aku takut bau darah akan menarik perhatian hewan mutasi lainnya dan para zombie." kata Adam mengambil katana dan Pistol, lalu berjalan pergi diikuti Novi dibelakangnya.
Tidak lama kemudian Adam dan Novi tiba di sebuah rumah. Adam lalu menyalakan senter yang dia beli dari aplikasi shop saat perjalanan. "Aku akan memeriksa rumah ini. Kamu tunggu disini." Adam memberikan senter lain kepada Novi. "Baik." Kata Novi mengambil senter.
Adam kemudian mulai memeriksa seluruh bagian rumah. "Sepertinya rumah ini juga kosong." Kata Adam setelah memeriksa seluruh ruangan dan tidak menemukan seseorang, serta zombie. "Oh, apa dia pemilik rumah ini. Dia cantik." Adam melihat sebuah foto seorang perempuan.
Adam kemudian berjalan ke arah Novi yang sedang duduk di ruang tamu. "Ada tiga kamar kosong, kamu ingin menggunakan yang mana." Tanya Adam. "Emm, tidak bisakah kita tidur di sofa ini saja." Kata Novi. "Baiklah kalau begitu." Balas Adam. Adam tahu bahwa Novi takut tidur sendirian.
"Adam apakah kamu tidak merasa sakit saat berjalan." Kata Novi bertanya. "Aku jelas merasakan sakit, tapi aku menahannya." Adam tersenyum. Novi hanya bisa cemberut mendengar kata Adam. Novi tidak bisa menyalahkan Adam. Jika Adam tidak berjuang melawan anjing bermutasi, mungkin dirinya sudah di serang anjing bermutasi.
Beberapa jam telah berlalu saat ini Adam sedang menatap langit. "Kenapa kamu melihat langit." Tanya Novi. "Aku khawatir kepada orang tua dan kakaku. Terakhir kali aku mengabari orang tuaku sebelum aliran listrik dan sinyal dimatikan." Adam menghela nafas. "Aku berharap orang tuamu baik-baik saja, jadi jangan sedih Adam." Novi menghibur Adam. "Benar, Mereka pasti baik-baik saja." Adam mengangguk.
Keesokan harinya Adam dan Novi berdiri di luar rumah. "Aku merasa jauh lebih baik, setiap kali memakan steak yang kamu berikan." Novi merentangkan tangannya. "Kamu tidak akan pernah menemukan steak itu di restoran manapun." Balas Adam. "Aku tahu." Novi mengangguk.
Adam kemudian berjalan diikuti Novi dibelakangnya. "Bruum." Adam menoleh kebelakang dan melihat dua mobil yang sedang melaju ke arahnya. "Apakah mereka penjahat." Novi gugup dan menarik pakaian Adam. Novi masih trauma akibat kejadian beberapa hari lalu.
Kedua mobil berhenti di depan Adam. "Apa kalian ingin ikut, tapi ingat tidak ada sesuatu yang gratis." Kata seorang pria tersenyum. "Maaf, aku tidak tertarik ikut dengan kalian." Balas Adam. "Lalu bagaimana denganmu nona, apa kamu mau ikut dengan kami." Pria tersenyum dan menatap ke arah Novi. "Tidak, terimakasih." Novi menolak.
Melihat ajakannya ditolak pria tersenyum. "Hehe, kalian berdua beruntung dan bernasib sial. Kalian beruntung karna tidak menjadi manusia evolusi, dan menjadi target para zombie. Kalian bernasib sial karna suatu saat akan sadar, dunia telah berubah. Dimana yang kuat berkuasa dan yang lemah ditindas." Kata pria. "Brumm." Adam dan Novi kemudian melihat dua mobil pergi.
"Yang kuat berkuasa dan yang lemah ditindas, kutipan yang cukup menarik. Tapi aku tidak akan takut. Seseorang yang meremehkanku, akan bernasib sial." Gumam Adam. "Adam jangan dipikirkan, negera kita punya hukum." Kata Novi. "Tapi hukum mungkin tidak berlaku lagi setelah perubahan dunia terjadi." Balas Adam.
Tidak lama kemudian Adam dan Novi menemukan sebuah motor yang bisa dikendarai. "Akhirnya kita menemukan motor yang bisa kita pakai." Novi tersenyum melihat kunci yang masih tertancap di motor. "Ayo pergi." Kata Adam duduk di motor. "Baik." Novi duduk dan memegang pakaian Adam. Melihat Novi sudah siap, Adam mulai menghidupkan mesin dan mengendarai motor.
"Adam lihat di depan." Kata Novi. Adam kemudian memberhentikan sepeda motor karna melihat pohon tumbang yang menghalangi jalan. "Hehe, sepertinya kita dapat tangkapan cukup bagus." Seorang pria muncul dari balik pohon, dan menjilati bibirnya. "Benar, dari penciumanku. Mereka berdua bukan manusia evolusi." Kata pria lain yang membawa celurit.
"Adam." Novi ketakutan dan meremas pakaian Adam. "Tenanglah." Balas Adam kemudian turun dari sepeda motor dan berkata. "Apa kalian berdua penjahat." "Lebih tepatnya orang memanggil kami begal." Pria menyeringai. "Sudah cukup basa-basinya, kalian bisa mati." Adam mengeluarkan pistol dari sakunya kemudian menembak pria yang membawa celurit.
"Duar." Adam mengenai dada pria. Pria yang tertembak di dada pun terjatuh. "Sial, kamu mempunyai senjata api." Pria gugup melihat temannya tertembak, dan mulai berlari. "Ho, mau lari kemana." Adam kemudian membidik pria. "Duar." "Duar." "Ahhh."
Pria terjatuh saat peluru mengenai punggungnya. "Kumohon jangan bunuh aku." Kata pria terjatuh di tanah dan memohon kepada Adam. "Maaf, aku mempunyai pengalaman buruk dengan penjahat." Kata Adam kemudian membidik kepala pria. "Duar." Pria pun mati akibat tertembak di kepala.
Adam kemudian berjalan ke arah pria yang terkena tembakan di dada. "Pura-pura mati setelah terkena satu tembakan." Kata Adam. "Pria tiba-tiba membuka matanya dan mengayunkan celurit ke Adam. Melihat pria mengayunkan celurit, secara Reflek Adam menghindar kebelakang. Namun celurit tetap mengenai dirinya.
Adam melihat bajunya robek dan darah mulai menetes dari dadanya. "Seorang manusia evolusi tipe kekuatan." Kata Adam melihat pria. "Benar, karna kamu telah membunuh temanku. Kamu akan mati." pria melesat ke arah Adam. "Adam kemudian membidik kepala pria. "Duar, duar."
Dua peluru mengenai kepala pria. Pria berhenti berlari dan terjatuh di depan Adam. "Uuhh, sakit." Adam mengerang melihat darah terus mengalir dari dadanya. "Adam kamu terluka." Novi menangis melihat luka tebasan di dada Adam.
"Jangan panik, aku tidak akan mati karna luka seperti ini." Kata Adam kemudian membuka aplikasi shop di smartphone special dan membeli obat penghilang rasa sakit, alkohol serta perban. Smartphone mengeluarkan cahaya putih kemudian obat, alkohol dan perban muncul di depan Adam.
"Cepat obati aku." Kata Adam melepas pakaiannya dan menunjukan perban di tubuhnya berlumuran darah. "Baik." Novi mulai melepas perban lama Adam. "Adam." Novi menangis melihat luka baru Adam. "Cepat obatilah." Adam mengigit bibirnya. "Baik." Novi mulai mengobati Adam.
10 menit kemudian Novi selesai mengobati dan memperban luka Adam. "Baiklah, ayo pergi." Kata Adam kemudian berdiri dan berjalan ke motor. "Adam, tapi kamu baru saja terluka. Sebaiknya istirahat terlebih dulu." Kata Novi khawatir. "Istirahat di tengah sawah begini terlalu bahaya.
"Naiklah cepat." kata Adam. "Baik." Novi mengangguk dan mulai naik di motor. Adam kemudian mulai memutar arah dan pergi mengendarai sepeda motor. "Adam jika kamu sakit, lebih baik berhenti saja." Novi melihat wajah pucat Adam. Novi menebak Adam kehilangan banyak darah. "Tenanglah, aku baik-baik saja." Balas Adam.