
"Huh." Pria berkaos hitam terkejut saat Adam memegang tangannya. "Sekarang giliranku." Adam tersenyum kemudian memukul dagu pria. "Buuk." Setelah memukul dagu pria. Adam menendang perut pria. "Bukk." "Ughhh." Pria terjatuh memegangi perutnya. Seakan belum puas Adam menghampiri pria dan memukuli wajahnya. "Buk, buk, buk."
Melihat pria berkaos hitam dipukuli oleh Adam, Samsuri berkata. "Cepat kalian bantu Bambang." "Baik pak." Beberapa orang berlari ke arah Adam. Adam berhenti memukuli pria dan melihat 7 pria berlari ke arahnya.
"Keroyokan ya." Adam tersenyum kemudian memasang kuda-kuda bertarung. "Buk." Adam memukul perut pria yang mendekat ke arahnya. "Ughh." Pria memegangi perutnya. Dia merasakan pukulan Adam sangat kuat.
Mereka tidak pernah tahu bahwa kekuatan Adam mencapai 10 poin, setara dengan petarung mma. Sementara mereka hanya pria biasa yang memiliki vitalitas 4 sampai 8 poin. Mereka akan kesakitan setelah terkena pukulan Adam.
"Hati-hati pukulannya cukup kuat." Kata pria berkaos hitam mencoba bangkit. "Kamu diam saja." "Bukk." Adam menendang wajah pria berkaos hitam dengan sangat keras. "Ughh." Pria berkaos hitam memegangi wajahnya.
"Semuanya serang dia bersamaan." Teriak seseorang. "Bukk." Tiba-tiba Edi memukul salah satu pria yang mencoba menyerang Adam dari belakang. "Jangan lupakan aku." Kata Edi. "Terimakasih pak." Adam tersenyum melihat Edi membantunya. Sebenarnya Adam bisa dengan mudah menghindari serang pria, berkat refleknya yang mencapai 10 poin.
"Berterimakasihlah setelah kita berdua mengalahkan mereka." kata Edi tersenyum. "Haha, baiklah." Adam tertawa. Adam kemudian mulai memukul pria yang hendak menyerangnya. "Bukk." "Arghh." "Bukk." "Arghh." Samsuri yang melihat perkelahian berkata. "Apa dia benar-benar manusia biasa."
Beberapa menit kemudian Adam dan Edi sudah mengalahkan 7 pria. Saat ini Adam mengusap keringat di dahinya dan melihat Samsuri, Aurel, Edo dan wanita berpakaian ketat. "Apa kalian berempat hanya akan berdiam diri disana." "Duar." "Duar." "Duar." "Duar." Tiba-tiba wanita berpakaian ketat menembak Adam dan Edi.
Adam melihat peluru mengenai perut dan dadanya kemudian terjatuh. Edi juga terjatuh setelah terkena dua tembakan di jantung dan perutnya. "Hei, kenapa kamu menembak mereka." Aurel berteriak melihat wanita berpakaian ketat menembaki Edi dan Adam. "Ini terlalu membuang-buang waktu. Terlebih lagi Budi sedang terluka. Apa kalian tidak khawatir Budi kehilangan banyak darah." Wanita berpakaian ketat melihat Budi yang sedang terbaring dan memegangi perutnya.
"Benar kata Fiona, cepat bantu Budi dan yang lain." kata Samsuri saat melihat Budi yang sedang terbaring. "Baiklah pak." Balas Aurel. Aurel dan Edo kemudian berjalan ke arah Budi. "Cepat perban lukaku." Kata Budi merintih kesakitan melihat Aurel dan Edo disampingnya.
"Tunggu, aku akan mengambil kotak p3k terlebih dahulu." Kata Aurel kemudian berjalan ke arah mobil. Tidak lama kemudian Aurel kembali dengan membawa kotak p3k. "Edo, perban luka Budi. Aku ingin melihat kondisi mereka berdua." Kata Aurel berjalan ke arah Adam dan Edi.
Aurel berjalan ke arah Edi dan memeriksa nafas dan denyut nadinya. Saat merasakan Edi tidak memiliki tanda-tanda kehidupan Aurel menghela nafas. "Dia telah meninggal." "Bagaimana dengan dia." Kata Bambang atau pria berkaos hitam duduk di tanah memegangi wajahnya.
"Sampai jumpa dikehidupan selanjutnya." Kata Adam mulai menembaki Aurel, Samsuri, wanita berpakaian ketat dan yang lain. "Dur, dur, dur, dur." "Ahhhh." "Ahhhh." Semua orang menjerit saat tertembak oleh senapan mesin. Adam mengabaikan teriakan semua orang dan terus menembak.
"Click, click." Tidak lama kemudian peluru senapan mesin habis. Adam terjatuh di tanah dan melihat Edi yang terbaring di tanah dengan mata terbuka. "Maaf pak, karena diriku kamu mati." Adam menangis melihat Edi yang meninggal.
Setelah terkena dua tembakan di dada dan perutnya, Adam pura-pura mati. Namun sebenarnya Adam membeli senapan mesin otomatis dengan persediaan peluru yang sudah terpasang seharga 30 coin.
Adam kemudian melihat banyak mayat yang tergeletak di tanah dengan memiliki banyak luka tembakan di tubuh. "Ini semua karena kalian memaksaku." Adam perlahan berdiri dan berjalan ke arah wanita berpakaian ketat. Adam melihat wanita berpakaian ketat sudah meninggal, kemudian mengambil pistol dari saku celananya.
"Ini untuk Bunga." "Duar." Adam menembak salah satu mata wanita berpakaian ketat. "Ini untuk Intan." "Duar." Adam menembak mata lain wanita berpakaian ketat. "Ini untuk pak Edi." Adam menangis kemudian menembak mulut wanita. "Duar." Wajah wanita hancur akibat tiga tembakan Adam.
"Hiks, hiks, hiks." "Ada orang yang masih hidup." Kata Adam saat mendengar suara tangisan. Adam kemudian berjalan ke arah salah satu mobil dan melihat 2 wanita dan 1 anak kecil sedang menangis. "Dulu mereka bilang memiliki 20 org lebih. Tapi kuhitung mereka hanya beranggota 15 org. Mereka pasti menemui beberapa zombie atau hewan mutasi yang menyebabkan korban. Aku juga ingat wanita itu mengatakan Novi meninggal karena hewan mutasi." Kata Adam.
"Tolong jangan bunuh kami." Kata salah satu wanita ketakutan saat melihat Adam. "Apa kalian salah satu keluarga pria di luar." Tanya Adam. seorang wanita mengangguk, sementara wanita lain menggeleng. Adam mengehela nafas dan berkata. "Aku tidak akan membunuh kalian." Adam tahu mereka tidak bersalah. Sementara dirinya bukan maniak pembunuh.
Adam kemudian berjalan ke arah mayat Edi dan berkata. "Pak Edi, aku sudah membalaskan dendammu. Kamu harus tenang di alam sana." Adam tersenyum kemudian mulai menutup mata Edi. Adam kemudian mulai mengambil kotak p3k yang tergeletak di tanah dan membuka pakaiannya.
Saat membuka pakaian Adam melihat dua peluru di dada dan perutnya. "Aku beruntung memiliki vitalitas yang cukup tinggi. Hal itu membuat daging dan tubuhku jauh lebih keras. Jadi peluru pistol tidak menembus bagian terdalam tubuhku. Tapi aku tidak tahu jika itu tembakan dari senapan mesin dan shotgun." Adam menghela dan melihat mayat wanita berpakaian ketat yang seorang manusia evolusi tapi meninggal saat terkena tembakan bertubi-tubi senapan mesin.
Adam kemudian mengambil alat penjepit dari kotak p3k untuk mengeluarkan peluru di dada dan perutnya. "Arghhh." Adam berteriak kesakitan saat mengambil peluru di dadanya. "Satu berhasil." Adam terengah-engah kemudian mengambil peluru di perutnya. "Arghhh." Sekali lagi Adam berteriak saat mengeluarkan peluru dari perutnya. "Selesai." Adam melihat dirinya berhasil mengeluarkan kedua peluru.
Adam kemudian mulai membuka aplikasi shop di smartphonennya dan membeli satu botol air serta sebuah perban. Tidak lama kemudian smartphone mengeluarkan cahaya putih dan sebuah botol air serta perban yang terbungkus plastik muncul di depan Adam.