The Journey of Adam

The Journey of Adam
23. Kematian Bunga Dan Intan



"Aku yakin mereka akan kehabisan peluru." Kata Adam kemudian mulai menembak dari Jendela. "Duar, duar." "Duar, duar." Baku tembak pun terjadi.


Jika ada seseorang yang melihat aksi Adam saat ini. Mereka pasti akan bilang bahwa aksi Adam, mirip seorang polisi yang baku tembak dengan seorang penjahat seperti di film-film.


Beberapa menit kemudian Adam melihat pihak musuh sudah berhenti menembak. "Pasti mereka kehabisan peluru." Kata Adam kemudian berjalan dengan pelan ke dalam bangunan. "Ceepp." "Argghhh." Adam melihat sebuah pisau yang menusuk bahu kirinya.


"Hahaha, bisa menghindari peluru. Tapi tidak bisa menghindari pisau yang kulempar." Pria berkaos hitam tertawa. "Hehe, menyerahlah. Kamu tidak akan menang melawan kami." Seorang pria tertawa.


"Sombong, selama aku punya pistol. Kalian tidak akan menang." Kata Adam menggertakan gigi kemudian membidik pria berkaos hitam. "Ehh." Pria berkaos hitam dengan dua pria disampingnya terkejut mendengar kata Adam.


"Apa kamu tidak kehabisan peluru." Tanya pria berkaos hitam. "Huh, kamu meremehkan persediaan peluruku." Adam mencibir kemudian menembak pria. "Duar." "Ughh." Pria berkaos hitam mengerang kesakitan saat bahunya tertembak.


"Kakak." "Beraninya kamu menembak kakak." Teriak dua pria disamping pria berkaos hitam. "Huh, seharusnya kalian sadar akan posisi saat ini." Adam mencibir kemudian mulai menembaki kedua pria. "Duar, duar." "Duar, duar."


Adam berhenti menembak setelah melihat kedua pria jatuh di lantai. "Apa kamu berani melawanku tanpa pistol." Kata pria berkaos hitam menatap Adam. "Huh, aku bodoh jika menyetujui tantanganmu. Saat melempar pisau, aku tahu bahwa kamu manusia evolusi tipe kekuatan." Balas Adam.


"Rupanya kamu sudah tahu ya." Pria berkaos hitam mencibir kemudian tiba-tiba melempar sebuah pisau dengan sangat cepat. "Sial." "Cepp." Adam tidak sempat menghindar dan perutnya tertusuk pisau. "Haha, sungguh bodoh." pria berkaos hitam tertawa melihat Adam yang perutnya tertusuk pisau.


"Aahhh." Adam berteriak dan mencabut kedua pisau yang tertancap di bahu dan perutnya. "Aku tidak akan mati, jika hanya tertusuk dua pisau." Adam terengah-engah dan mengusap darah yang keluar dari mulutnya.


"Mencari kematian." Pria berkaos hitam marah kemudian mulai melempar pisau sekali lagi ke arah Adam. Namun kali ini Adam bisa menghindari pisau karna reflek yang cepat.


"Temui penciptamu." Kata Adam tersenyum kemudian membidik pria berkaos hitam. Namun Adam melihat pistol kehabisan peluru. "Hahaha, pelurumu sudah habis. Ini kesempatanku." Pria berkaos hitam tertawa dan berlari ke arah Adam.


Adam mengambil pedang katana di punggungnya kemudian berlari ke arah pria berkaos hitam. "Slasshh." "Buukk." Adam berhasil menebas badan pria, namun Adam juga terkena pukulan di perut dan terlempar sejauh 5 meter.


"Ahhh. Dasar berengsek." Pria berkaos hitam meraung kesakitan saat dirinya terluka akibat tebasan pedang Adam. "Uhuk. Matilah berengsek." Adam batuk darah kemudian mengisi pistol dengan peluru dan menembak pria berkaos hitam.


"Hehe, kamu seharusnya tahu. Bahwa seseorang yang berani melawan manusia evolusi bukan manusia biasa." Adam tersenyum kemudian mengisi pistol dengan peluru dan menembak pria berkaos hitam sekali lagi.


"Duuaarr." Pria berkaos hitam terkena tembakan di kepala dan jatuh di lantai. Adam berjalan ke arah pria dan melihat pria tidak bernyawa. "Jujur, pukulanmu lebih menyakitkan dari pada pukulan monyet mutasi, yang kuhadapi beberapa hari lalu." "Uhuukk." Adam kemudian terbatuk dan melihat darah di tangannya.


"Jika vitalitasku rendah, mungkin aku sudah tidak sadarkan diri saat ini." Adam tersenyum kecut kemudian mulai berjalan menaiki tangga. Saat tiba di lantai 2 Adam melihat seorang wanita berpakaian ketat yang berdiri di depan pintu.


"Apa kamu membunuh Bastian." Kata wanita berpakaian ketat. "Siapa Bastian, dan tunjukan dimana mereka kalau tidak aku akan menembakmu. Jangan berpikir bahwa aku tidak berani membunuhmu, karena kamu seorang wanita." Balas Adam menatap wanita.


"Tenang aku hanyalah wanita biasa, Bastian adalah pria berkaos hitam yang kamu lawan. Para wanita yang kamu maksud ada di dalam kamar ini." Kata wanita mengangkat tangannya. "Minggir." Adam mendorong wanita ke samping dan masuk ke dalam ruangan.


Saat di dalam ruangan Adam melihat Bunga, Intan dan Novi yang tangan dan mulutnya di sekap menggunakan kain . "Emm." "Emm." Saat melihat Adam masuk ke dalam ruangan. Ketiga perempuan menggeleng. Adam bingung dengan ketiga perempuan yang terus menggeleng dan mendekat ke arah mereka. Saat tiba di depan ketiga perempuan, Adam terkejut melihat ada bom waktu di samping mereka.


Adam mulai panik saat melihat hanya tinggal 7 detik sebelum bom meledak. 6, 5. Melihat hanya tinggal 4 detik yang tersisa sebelum bom meledak. Adam mengambil bom dan melempar ke arah jendela. 1. "Booomm!!." Bom meledak.


Tidak lama setelah bom meledak seorang wanita berpakaian ketat keluar dari bangungan tanpa terluka sama sekali. "Pria bodoh, dia percaya aku bukan manusia evolusi." Wanita menyeringai dan berjalan menjauh dari bangunan.


Beberapa menit kemudian Adam membuka matanya dan terbatuk. "Uhuk, Uhuk." Adam melihat dirinya masih batuk darah. Adam berjalan ke arah Bunga, Intan dan Novi yang tidak sadarkan diri.


Saat memeriksa nafas dan denyut nadi ketiga perempuan badan Adam gemetar. "Ahhhh, ini tidak mungkin kan, mengapa seseorang yang kukenal selalu meninggalkanku." Adam berteriak kemudian mulai memeluk Bunga dan berkata. "Bunga kumohon bangunlah, jangan bercanda padaku. Kamu pasti tidak mati kan." Adam menangis dan memukul-mukul pipi Bunga secara pelan.


"Intan bangunlah, kakekmu menunggmu jangan bilang bahwa kamu mati juga." Adam menangis dan mendorong-dorong bahu Intan. "Ahhh, ini tidak mungkin kan." Adam menangis kemudian melihat Bunga kembali. "Kumohon Bunga bangunlah, bukankah kita baru saja bersama kembali." Adam mulai menangis dan memeluk bunga.


"Adam." Adam mendengar suara serak dan melihat Novi yang membuka matanya. "Bu Novi jangan memaksakan dirimu." Kata Adam kemudian duduk di samping Novi. "Apa Bunga dan Intan baik-baik saja." Balas Novi dengan suara serak. "Tidak bu." Adam mulai menangis kembali dan menggeleng.