The Journey of Adam

The Journey of Adam
38. Bertemu Ratih



"Kak Adam apa lukamu tidak sakit." Tanya Anggi saat Adam melihat luka di perut dan kedua kakinya. "Tidak, jika aku tidak terlalu banyak bergerak." Adam tersenyum. "Ahh, berarti saat kamu jalan tadi pasti kesakitan." Tanya Anggi. "Jangan terlalu khawatir, aku sudah biasa terluka." Balas Adam tersenyum.


Anggi tiba-tiba teringat saat bertemu Adam pertama kali. "Benar, saat bertemu pertama kali dengan kak Adam, badan kak Adam penuh dengan luka setelah melawan zombie. Tapi mengapa kak Adam tidak berubah menjadi zombie, meski tergigit zombie." Anggi bingung.


"Oh, mungkin imunitas di tubuhku kuat, jadi setelah terkena gigitan dan cakaran zombie. Aku tidak berubah menjadi zombie." Kata Adam mengarang alasan. "Sigh, aku juga berharap mempunyai imunitas kuat seperti kak Adam. Aku takut berubah menjadi zombie saat terkena gigitan zombie." Angga menghela nafas.


"Bila kamu tidak ingin berubah menjadi zombie, jangan sampai tergigit zombie." balas Adam. "Bicara memang mudah kak, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan masa depan." Angga menghela nafas. Mendengar kata Angga Adam bergumam. "Benar, aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, jika smartphone tiba-tiba menghilang."


"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku." Kata Adam berjalan menuju ruangan. "Melihat Adam berjalan pergi Angga bergumam. "Kak Adam terlalu santai, bahkan menganggap kamar itu miliknya." Anggi tersenyum mendengar kata Angga.


Keesokan harinya Adam sedang berdiri di luar rumah bersama Merry dan kedua saudara kembar. "Kak Adam, Mengapa tidak pergi besok saja, luka-lukamu masih belum sembuh." Tanya Anggi. "Oh, meski lukaku belum sembuh. Aku tidak masalah untuk berjalan." Adam tersenyum. Dengan vitalitas mencapai 20 poin dan mengkonsumsi 2 steak daging bermutasi. Luka Adam sembuh 60% dan Adam tidak merasa sakit saat berjalan.


"Baiklah, ayo masuk ke dalam mobil. Kemudian kita akan berhenti saat menemukan supermarket." Kata Adam kemudian berjalan ke arah mobil diikuti Angga dan Anggi yang menuntun Merry.


Melihat Merry dan kedua saudara kembar telah masuk ke dalam mobil. Adam langsung menyalakan mesin mobil. "Kak, apa bahan bakar mobil masih banyak. Terlebih lagi apa kita tidak mengganti mobil saja." Tanya Angga melihat kaca depat mobil yang retak dan kaca belakang yang pecah. "Bahan bakar cukup banyak, jadi kita tidak perlu khawatir. Kita akan mengganti mobil setelah menemukan beberapa makanan di supermarket." Balas Adam kemudian mulai menyetir mobil menuju barat.


Beberapa menit kemudian Adam menghentikan mobil didepan supermarket. "Mari berharap masih ada beberapa makanan di dalam." "Aku juga berharap begitu." Angga mengangguk. "Kalian berdua tunggu disini, biar aku dan Angga yang pergi." Kata Adam kemudian turun dari mobil. "Baik." Anggi dan Merry mengangguk.


Adam dan Angga kemudian berjalan ke arah supermarket. "Adam apa itu kamu." Saat hendak masuk ke dalam supermarket, Adam mendengar seseorang memanggilnya. Adam berbalik kemudian melihat seorang perempuan yang dikenalnya. "Ratih." Kata Adam saat melihat perempuan di depannya adalah Ratih, tetangga rumahnya yang berevolusi.


"Adam aku kira kamu sudah mati." kata Ratih melihat Adam. Mendengar kata Ratih, Adam mencibir. "Aku juga mengira kamu sudah mati saat zombie evolusi menyerang rumahmu." Mendengar kata Adam, Ratih tiba-tiba mengigit bibirnya.


"Kak Adam apa kamu mengenalnya." Kata Angga saat melihat Ratih. "Dia tetanggaku." Balas Renji. "Dia manusia evolusi tipe kecepatan yang aku ceritakan." Balas Angga. "Oh, jadi manusia evolusi yang kamu temui adalah dia." Adam terkejut mendengar kata Angga.


"Kak Adam, masih ada beberapa makanan yang tersisa." Kata Angga saat menemukan beberapa bungkus mie instan dan snack. "Berikan setengah makanan kepadanya." Kata Adam. "Baik." Angga menaruh setengah makanan di kantong plastik dan memberikan ke Ratih.


"Terimakasih." Kata Ratih saat menerima makanan dari Angga. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Kata Adam saat melihat Ratih hendak pergi. "Apa." Balas Ratih. "Seperti apa bau tubuh manusia evolusi dan manusia biasa" Tanya Adam. "Oh, aku lupa kamu tidak mengetahuinya. Karena cuma manusia evolusi yang bisa membedakan bau manusia biasa dan seorang evolusi." Ratih tersenyum.


"Baiklah, tidak perlu bertele-tele." Kata Adam. "Baiklah, karena kamu sangat penasaran dengan bau tubuhmu sendiri aku akan memberitahunya." Balas Ratih melihat Adam. "Manusia biasa tidak memiliki bau tubuh, sementara kami manusia evolusi memiliki bau tubuh seperti aroma bermacam-macam bunga." Lanjut Ratih. "Lalu bagaimana bau zombie." Balas Adam. "Zombie memiliki bau yang busuk." Kata Ratih.


"Huh, meski aku tahu kalau zombie berbau busuk." Kata Adam. "Jika kamu tahu mengapa masih bertanya. Tapi manusia biasa hanya bisa mencium bau busuk zombie dari dekat. Berbeda dengan kami manusia evolusi, kami manusia evolusi bisa mencium bau busuk zombie dalam jarak 10 meter." Balas Ratih. "Eh, begitu jauh." Adam terkejut dengan jawaban Ratih.


"Baiklah, apa kamu tidak ingin bertanya lagi." Tanya Ratih. "Tidak." Adam menggeleng. "Jika begitu aku pergi." Balas Ratih kemudian mulai berlari dengan sangat cepat. melihat Ratih yang sudah pergi Angga berkata. "Kak Adam sepertinya hubunganmu dengannya tidak akrab untuk seorang tetangga."


"Benar, kami adalah tetangga yang buruk. Bahkan aku hampir memotong lengan saudaranya." Kata Adam mengingat dia sangat marah, saat mengetahui makanannya di curi oleh Ratih dan kelompoknya. "Ehh." Angga terkejut dengan jawaban Adam. Adam tersenyum melihat Angga yang terkejut dan bergumam. "Dia telah berubah, dia bukan Ratih manja yang dulu aku kenal."


Sementara itu Ratih tiba-tiba berhenti berlari dan menoleh kebelakang. "Sepertinya dia masih membenciku karena kejadian itu." Ratih mengingat saat Adam benar-benar marah mengetahui makanannya di ambil oleh kakak dan teman-temannya. "Tapi dia juga tidak mengerti kondisi kami saat itu, terlebih lagi kakak dan teman-temanku sudah mati." Ratih mengepalkan tangannya mengingat saat kakaknya digigit oleh zombie.


"Zombie itu, aku akan membunuhnya." Ratih mengigit bibirnya saat mengingat wajah zombie berkulit putih yang tersenyum mengejek kearahnya. "Jika aku ingin membunuh zombie itu, aku harus bertambah cepat lagi." Ratih mengepalkan tangannya kemudian berlari dengan sangat cepat.


Saat ini Adam sudah berada di dalam mobil bersama Merry dan kedua saudara kembar. "Kak Adam siapa perempuan tadi, sepertinya aku mengenalnya." Tanya Anggi. "Dia tetanggaku dan manusia evolusi yang kamu temui." Balas Adam. "Benar Anggi, dia perempuan evolusi yang kita temui beberapa hari lalu." Kata Angga.


"Jika dia tetangga kak Adam, mengapa kak Adam tidak mengajaknya pergi bersama." Tanya Anggi. "Bisakah kamu tidak bertanya." Balas Adam. "Ehh, baiklah kak." Anggi mengangguk. Melihat Anggi diam, Adam kemudian menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan.


Beberapa menit kemudian Adam menghentikan mobil di area kompleks. "Ayo turun, dan cari mobil baru." Kata Adam turun dari mobil. Merry dan kedua saudara kembar kemudian turun dari mobil. "Kompleks rumah ini cukup mewah, pasti ada seseorang yang memiliki mobil bagus." Adam tersenyum. "Dia terlalu pilih-pilih." Gumam Angga melihat Adam yang asik melihat rumah-rumah.