The Journey of Adam

The Journey of Adam
48. Melawan Samsuri Dan Kelompoknya



"Tidak kusangka kita bertemu lagi." Kata pria gemuk yang tidak lain adalah Samsuri. "Hmmm." Adam mendengus seakan merasa dejavu. "Ternyata kamu masih hidup." Kata seorang pemuda yang tidak lain adalah Edo.


"Adam apa kamu kenal dengan mereka." Adam melihat Edi, Jessica dan Steven berjalan ke arahnya. "Aku tidak mengenal mereka." balas Adam. "Oh, apa itu kamu Adam." Adam melihat seorang wanita yang turun dari mobil. Wanita itu adalah Aurel.


Adam melihat Aurel yang keluar dari mobil dan berkata. "Mengapa dia tidak keluar dari mobil." "Apa maksudmu Novi." Balas Aurel. "Benar, dia yang kumaksud." Balas Adam. "Wanita yang kamu maksud sudah mati karena hewan mutasi." Kata sebuah suara wanita dari dalam mobil. Adam terkejut mendengar berita bahwa Novi telah mati. Kemudian Adam lebih terkejut melihat seorang wanita berpakaian ketat yang keluar dari mobil.


Saat melihat wanita berpakaian ketat, Adam menyeringai. "Akhirnya kita bertemu lagi." "Benar, kita bertemu lagi." Balas wanita tersenyum. Adam mengambil pistol dari sakunya dan menembak wanita berpakaian ketat. "Duar." "Adam apa yang kamu lakukan."Aurel dan Edo berteriak melihat Adam menembak wanita berpakaian.


"Bangsat." Adam melihat seorang pria tiba-tiba muncul di depannya dan mendendang perutnya. "Ughh." Adam memegangi perutnya. Adam kemudian melihat pria sudah ada disampingnya dengan menodongkan pistol di kepalanya.


"Adam kenapa kamu tiba-tiba menembak wanita tersebut." Steven terkejut melihat Adam tiba-tiba menembak seorang wanita. Bahkan Edi dan Jessica juga terkejut saat Adam tiba-tiba menembak wanita. "Pak Edi, dia wanita yang membunuh cucumu." Balas Adam. "Apa." Edi, Jessica dan Steven terkejut mendengar kata Adam. Bahkan kedua saudara kembar, dan Merry yang berada di dalam mobil terkejut dengan kata Adam.


"Ughh, tidak kusangka kamu langsung memberikan hadiah sambutan saat kita bertemu kembali." Kata wanita terbangun memegangi dadanya. Adam tidak terkejut melihat wanita tidak terluka. Adam menebak wanita adalah manusia evolusi berbasis vitalitas.


"Samsuri, dan kalian semua. Aku sarankan jangan ikut campur dengan urusanku." Kata Adam mengancam. "Oh, aku tahu kamu memiliki dendam padanya. Tapi saat ini dia anggotaku, dan satu hal yang kamu perlu tahu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anggotaku." Balas Samsuri menatap Adam.


Mendengar balasan Samsuri Adam tersenyum dan berkata. "Kamu sebaiknya jangan arahkan pistol di kepalaku." "Hahaha, apa kamu mencoba mengancamku. Kamu hanyalah manusia" sebelum menyelesaikan kata-katanya, Adam sudah mencengkram leher pria dan mengambil pistolnya dengan cepat.


"Ugghhh." Pria tidak bisa bernafas saat lehernya di cengkram oleh Adam. "Adam lepaskan Budi." Teriak Aurel saat melihat Adam mencengkram leher pria. "Adam, apa kamu ingin melawan kami." Kata Samsuri dengan serius.


"Jika kalian menghalangiku untuk membunuh wanita itu. Aku tidak masalah melawan kalian." Kata Adam dengan ekspresi serius. Adam sudah tidak peduli melawan beberapa manusia evolusi. Yang ada di pikirannya sekarang adalah membalas dendam kematian Bunga dan Intan.


Mendengar kata Adam, Edi dan Steven memiliki ekspresi buruk. Sementara Jessica sudah gugup dan panik. Kedua saudara kembar dan Merry juga panik saat mendengar Adam akan bertarung melawan Samsuri dan kelompoknya.


"Sialan." Pria berkaos hitam mengutuk melihat dia telah menusuk temannya sendiri. "Jika Reflekku tidak mencapai 10 poin. Mungkin diriku telah tertusuk pisau." Kata Adam dengan ekspresi buruk melihat pria yang menusuk temannya sendiri.


"Bambang kenapa kamu menusuk Budi." Aurel menjerit melihat pria berkoas hitam menusuk temannya sendiri. "Ini salah dia, dia membuat Budi menjadi Perisai." Teriak pria berkaos hitam yang di panggil Bambang. Mendengar kata pria berkaos hitam Adam berkata dengan serius. "Kalian harus tahu, aku tidak akan ragu membunuh seseorang yang mengancam hidupku. Meski orang itu adalah manusia evolusi."


Adam menghela nafas kemudian berteriak. "Kalian semua cepatlah pergi, dan tinggalkan aku sendirian." Edi, Jessica, Steven dan kedua saudara kembar terkejut mendengar teriakan Adam. Steven cepat pulih dari lamunannya kemudian berteriak. "Cepat pergi." Steven kembali ke mobilnya dengan menarik Jessica.


"Pak Edi ayo pergi." Teriak Steven di dalam mobil. "Aku tidak akan pergi, aku akan bertarung di sisi Adam karena musuhnya adalah pembunuh cucuku." Kata Edi dengan ekspresi serius. "Adam jangan mati." Teriak Jessica. "Kalian berdua jangan mati." Steven menggertakan gigi kemudian menyalakan mesin mobil dan mulai menjauh dari Adam.


Angga yang mendengar teriakan Adam dan melihat Steven sudah mulai menjauh, bergegas ke kursi pengemudi dan mulai memundurkan mobil. "Kak Adam, pak Edi jangan mati." kedua saudara kembar dan Merry berkata bersamaan.


Samsuri yang melihat kelompok Adam sudah pergi berkata. "Apa kamu ingin bertarung melawan kami menggunakan senjata api, atau dengan tangan kosong." Mendengar kata Samsuri ekspresi Adam berubah serius, dia tidak mempunyai keuntungan jika bertarung dengan tangan kosong melawan kelompok Samsuri yang memeliki beberapa manusia evolusi. Jika dia bertarung menggunakan senjata api. Dia dan pak Edi akan tertembak sekaligus, karena Adam melihat orang-orang Samsuri memegang pistol.


"Aku ingin bertarung dengan tangan kosong." Balas Adam. "Bagus." Samsuri mengangguk mendengar kata Adam dan berkata. "Jangan menggunakan senjata tajam dan senjata api melawannya." Beberapa pria mengangguk dan menyimpan pistol dan senjata tajam di saku mereka.


"Pak Samsuri, Adam. Apa masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik." Kata Aurel. "Aurel apa kamu bodoh, dia sudah membuat Budi terluka." Teriak Edo melihat Budi yang sedang terbaring di tanah memegangi perutnya yang terluka. Meski dia manusia evolusi berbasis kecepatan, tapi vitalitasnya tetap seperti manusia biasa.


"Baiklah, apa kalian ingin datang satu persatu padaku atau sekaligus." Adam menaruh pistol di sakunya lalu melihat Samsuri dan kelompoknya. "Sombong, kamu bisa mengalahkan Budi karena keberuntungan pria berkaos hitam berkata kemudian melesat ke arah Adam.


"Cepat." Adam melihat pria berkaos hitam sudah ada di depannya dan menendang perutnya. "Ughh." "Bukk." "Bukk." Pria berkaos hitam memukuli Adam dengan sangat cepat. Adam terus menangkis pukulan pukulan pria berkaos hitam. "Dapat." Kata Adam memegang tangan pria.