
"Baiklah, kemasi barang-barangmu bu. Kita akan berangkat." Kata Adam. "Ahh, kita berangkat sekarang juga." Novi terkejut. "Tidak, kita berangkat tahun depan." Adam tertawa. "Baiklah, aku akan kemasi barang-barangku." Novi masuk ke dalam kamarnya.
Tidak lama kemudian Novi telah selesai berkemas. "Baiklah. Ayo berangkat." Kata Adam kemudian diikuti Bunga, Edi dan Intan. Melihat Adam yang perkataannya ditaati Novi bergumam. "Dulu dia sangat nakal, sekarang dia menjadi seorang pemimpin." Novi tersenyum dan mengikuti Adam.
"Beruntung sekali mobilmu cukup untuk 5 orang pak." Kata Adam melihat Novi yang telah duduk di dalam mobil. "Ya, aku juga beruntung memiliki mobil yang bisa dinaiki banyak orang." Balas Edi tersenyum.
Saat dalam perjalanan Adam selalu menembak zombie yang dia temui. "Aku telah menghabiskan 1 dus yang berisi 25 peluru." Kata Adam membuka 1 dus peluru yang baru. "Adam dari mana kamu mendapatkan pistol." Tanya Novi. "Aku mengambilnya di mobil polisi beberapa hari yang lalu." Balas Adam bohong. "Dasar pembohong." Intan bergumam pelan.
"Critt." Tiba-tiba Edi menghentikan mobilnya. "Astaga." Adam terkejut dengan yang dilihatnya. "Apa semua zombie berkumpul disini." Tanya Bunga dengan badan gemetar. "Aku tidak tahu, setidaknya jumlah zombie pasti ribuan." Balas Edi dengan gugup. "Cepat putar balik pak, sebelum mereka tahu." Kata Adam dengan ekspresi buruk. "Aku tahu." Edi mengangguk dan mulai memutar.
"Ahh, ada beberapa zombie yang berlari ke arah kita." Teriak Novi. "Tenang, aku akan menghadapinya jika mendekat." Kata Adam dengan wajah serius. "Wrooom." Edi menancap pedal gas dan mulai menjauh dari kawanan zombie. "Fiuuhh, kita berhasil lolos." Bunga, Intan dan Novi menghela nafas.
"Rencana kita untuk pergi ke kota Surabaya di batalkan untuk saat ini." Kata Adam dengan ekspresi jelek. "Oke. Aku ingin tahu kemana para zombie itu pergi." Kata Edi. "Aku tidak tahu, mungkin mereka ingin menyerang tempat manusia berevolusi berkumpul." Balas Adam.
"Eh, apakah zombie mengincar manusia yang berevolusi." Tanya Novi. "Benar, mereka mengincar manusia yang berevolusi. Saat kita dirumah Adam, ratusan zombie dan 3 zombie evolusi menyerang sebuah rumah di depan lokasi kita." Balas Intan. Novi terkejut dengan kata Intan.
"Adam di depan ada beberapa orang yang menghadang kita." Kata Edi. "Hmm, berhenti pak. Aku ingin tau apa mau mereka. Kalian para perempuan jangan turun." Kata Adam. "Baik." Bunga, Intan dan Novi menjawab.
"Cepat turun." Kata seorang pria berteriak. Adam menaruh pistol di sakunya dan keluar dengan membawa pedang di tangannya. "Suruh semua orang turun." Kata pria berkaos hitam. "Jika kami menolak, apa yang ingin kamu lakukan." Balas Adam. "Hehe." Pria berkaos hitam tertawa, kemudian seorang pria tiba-tiba ada di belakang Adam, dengan mengarahkan senjata tajam dilehernya.
"Sangat cepat, aku bahkan tidak sempat menghunus pedangku." Adam bergumam dengan ekspresi buruk. "Cepat jatuhkan pedangmu." Kata seorang pria yang mengarahkan senjata tajam ke leher Adam. Adam menghela nafas dan melemparkan pedangnya ke tanah.
"Apa kamu masih menolak, bukan hanya kaeala kamu terpotong tapi dia juga akan mati." kata pria berkaos hitam. Kemudian semua orang mengarahkan pistol ke Edi. "Ini buruk, jika seorang dibelakangku seorang evolusi pasti dia juga seorang evolusi. Terlebih lagi mereka memiliki pistol." Gumam Adam dipikirannya.
"Kakak, kita menemukan tangkapan besar." Kata seorang pria disamping pria berkaos hitam. "Haha, benar. Malam ini kita akan berpesta." Pria berkaos hitam tertawa dan berjalan ke arah Bunga, Intan dan Novi.
"Ahh, aku lebih suka yang muda." Pria berkaos hitam menyentuh pipi Bunga. "Ahh, jangan sentuh aku." Bunga menjerit. "Sialan." Adam menggertakan giginya. "Hahaha, jangan mencoba melakukan perlawanan, atau kepalamu akan terpotong." Pria yang mengarahkan senjata tajam di leher Adam tertawa.
"Kak, di dalam bagasi mobil ada banyak makanan dan satu bazoka." Kata seorang pria mengecek bagasi. "Hahaha, aku ingin lihat bazoka seperti apa." Pria berkaos hitam tertawa dan berjalan ke bagasi.
"Hehe, menarik. Ini bazoka asli. Dari mana kalian mendapatkannya." Kata pria berkaos hitam. "Jika kamu melepaskan kami, aku akan memberi tahu dimana kami mendapatkan bazoka itu. Asal kamu tahu, disana terdapat banyak peluru bazoka." Adam berbohong.
"Hahaha, kamu lucu sekali. Saat ini kamu dalam posisi tidak bisa bernegosiasi." Pria kaos hitam tertawa. Adam terdiam kemudian berkata. "Baiklah, aku akan mengantar kamu ke tempat bazoka itu berada." "Hahaha, kamu cukup pintar untuk manusia normal." Pria berkaos hitam tertawa.
"Manusia normal." Adam bingung. "Ho, kamu pasti tidak tahu. Kami manusia yang berevolusi, bisa tahu mana manusia normal dan manusia evolusi." Pria yang mengarahkan senjata tajam ke leher Adam menjelaskan. "Cukup bro, jangan menjelaskan ke dia." Kata pria berkaos hitam. "Oke kak." Balas pria.
"Sialan, aku baru tahu manusia evolusi bisa tahu siapa manusia normal dan manusia yang berevolusi. Pantas saja mereka berani berbuat kejatahan di siang hari." Adam bergumam di pikirannya. "Baiklah bro, kamu bawa beberapa orang untuk pergi dengannya." Kata pria berkaos hitam.
"Kemudian, bagaimana dengan pria tua ini kak." Kata seorang pria melihat Edi yang sedang duduk dan menyerah. "Tembak kakinya, buat dia tidak bisa berjalan." Kata pria berkaos hitam. "Jangan!." Intan berteriak. "Duar." "Duar." "Ahhh." Edi berteriak saat kedua kakinya ditembak. "Kakek." Intan menangis dan ingin berlari ke arah Edi namun dihadang oleh pria berkaos hitam.
"Kalian berengsek." Intan marah dan ingin memukul pria berkaos hitam. Pria berkaos hitam mencibir kemudian menepuk leher Intan. Intan kemudian tidak sadarkan diri. "Hiks." Bunga dan Novi ketakutan dan mulai berpelukan.
"Sialan." Adam mencoba menahan amarahnya dan menggertakan giginya melihat Edi yang kedua kakinya tertembak. "Haha, aku katakan jangan melakukan hal aneh. Atau kepalamu terpotong." Pria yang mengarahkan senjata tajam ke arah leher Adam tertawa.
"Baiklah, kamu bisa pakai mobil ini untuk pergi ke tempat bazoka itu berada. Kalian berdua pergi bersama Variz. Sisanya kembali ke markas." "Baik kak." Kata beberapa orang kemudian membawa Intan yang pingsan. "Aku akan menyelamatkan kalian." Adam bergumam di pikirannya melihat Bunga, Novi dan Intan yang dibawa pergi.