The Journey of Adam

The Journey of Adam
32. Hari Yang Sial



"Edo diamlah." Teriak Samsuri. Mendengar teriakan Samsuri Edo terdiam. "Adam bisakah kamu memberikan pistolmu kepadaku, aku akan menukarnya dengan beberapa makanan." Kata Samsuri tersenyum.


Adam hanya menghela nafas. Dia mengingat perkataan Aurel bahwa ada 5 manusia evolusi di pihak Samsuri. Jika Adam memaksa bertarung dengan pihak Samsuri. Adam yakin 90% dia akan mati. "Ambilah." Adam mengeluarkan pistolnya dan melemparkan ke arah Samsuri.


Samsuri menangkap pistol yang dilemparkan Adam dan memeriksanya. "Budi, beri dia 1 dus mie instan." Kata Samsuri. "Terimakasih, tapi aku tidak butuh." Kata Adam menarik gas motornya dan pergi meninggalkan Samsuri dan kelompokya. "Sombong." Edo menggertakan gigi saat melihat tingkah Adam.


"Menarik, lain kali saat kita bertemu. Kamu akan menyesal." Gumam Samsuri kemudian memasuki mobil. Sementara Novi hanya menghela nafas. Novi sangat kecewa dengan sikap Adam.


"Adam siapa mereka, apakah kata mereka benar. Kamu meninggalkan wanitamu." Tanya Merry. "Mereka hanya orang asing. Benar, aku meninggalkan seorang wanita kepada mereka. Karena wanita itu membongkar rahasiaku." Gumam Adam. Saat ini Adam 100% yakin bahwa Samsuri mengincar pistolnya.


Selama diperjalanan Adam melihat banyak zombie dijalanan. "Semakin ke barat, jumlah zombie yang aku temui semakin meningkat." Gumam Adam secara pelan. Adam berpikir bahwa dirinya telah melewati ratusan zombie.


"Woar." Tiba-tiba Adam mendengar geraman dan melihat sosok biru melesat ke arahnya. "Buukkk." "Bruuaakk." "Ahhhh." Adam dan Merry terjatuh dari motor. "Ughh, aku sangat sial hari ini." Adam memegangi dadanya.


"Merry apa kamu baik-baik saja." Kata Adam melihat Merry disampingnya. "Ahhh, sakit Renji." Merry kesakitan. Ekspresi Adam menjadi buruk melihat badan penuh luka Merry, serta kepalanya yang berdarah.


"Ggrrr." Mendengar geraman, Adam melihat zombie bewarna biru yang berjarak 15 meter darinya. "Heh, zombie tipe kecepatan ya." Kata Adam mengambil pedang dari punggungnya. "Grrr." Seakan tahu bahwa Adam ingin melawannya, zombie melesat ke arah Adam dengan cepat.


"Sial." Adam mengutuk dan secara reflek mengayunkan pedangnya ke depan. Zombie menghindari tebasan Adam, dan menusuk perut Adam dengan cakarnya. "Berengsek." Adam memegang lengan zombie kemudian menebas kepalanya. "Crash." Adam memotong kepala zombie.


"Ahhh." Adam berteriak saat menarik cakar zombie yang menusuk perutnya. Adam memuntahkan darah dan terjatuh. "Apa aku akan menjadi zombie." Adam tersenyum kecut melihat luka diperutnya.


"Grrr." Adam mendengar suara dan melihat banyak zombie berjalan mendekat ke arahnya. "Hahaha, aku benar-benar sial hari ini." Adam tertawa. "Tapi aku tidak ingin mati dimakan zombie." Adam membuka aplikasi shop di smartphonenya kemudian membeli steak hewan bermutasi dan pistol.


Beberapa detik kemudian steak yang terbungkus plastik dan pistol muncul di depan Adam. "Uuhh, Ayo bertarung." Kata Adam membuka bungkus plastik secara terburu-buru dan mengigit steak.


Sementara itu di kejauhan Samsuri dan kelompoknya melihat Adam bertarung dengan zombie. "Apa perlu kita membantunya." Kata perempuan yang tidak lain adalah Aurel. "Tidak perlu, bukankah kalian melihatnya. Dia bisa mengalahkan zombie evolusi tipe kecepatan." Kata Samsuri. Samsuri terkejut saat melihat Adam mengalahkan zombie evolusi tipe kecepatan.


"Adam." Novi yang melihat Adam bertarung melawan puluhan zombie merasa khawatir. "Cih, apa kamu perlu khawatir dengannya." Kata Edo melihat Novi. "Meski Adam meninggalkanku, dia telah menyelamatkanku beberapa kali." Balas Novi mengingat saat Adam bertarung melawan anjing bermutasi, dan badannya penuh dengan luka.


Saat ini Adam masih menebas zombie seperti orang gila. "Jangan menyentuh Merry." Teriak Adam melihat salah satu zombie akan mengigit Merry yang pingsan. "Buukk." Adam menendang zombie.


"Wooaarr." "Aahhh." Adam melihat tangannya tergigit. "Berengsek." Adam kemudian mulai menusuk kepala zombie dengan pedangnya. "Hehe, aku akan membunuh kalian semua." Adam tertawa seperti orang gila dan menebas para zombie.


Beberapa menit kemudian Adam yang badannya penuh dengan luka, duduk di samping Merry yang pingsan. Adam memeriksa denyut nadi dan nafas Merry. Melihat Merry masih hidup Adam menghela nafas. "Maaf, membuatmu seperti ini." kata Adam menggendong Merry dan berjalan ke arah bangunan terdekat.


Di kejauhan Samsuri dan kelompoknya terkejut melihat Adam berhasil menghabisi puluhan zombie seorang diri. "Orang itu pasti ahli berlatih bela diri kendo atau sejenisnya." Kata seorang pria. "Benar, orang normal biasa pasti akan mati melawan zombie. Terlebih lagi dia tidak tergigit dan berubah menjadi zombie." kata orang lain. Jika mereka tahu bahwa Adam tergigit berkali-kali dan tidak berubah menjadi zombie. Mereka semua akan terkejut dan tidak percaya.


Novi yang melihat Adam menang melawan puluhan zombie tersenyum dan menghela nafas. "Kemampuan dia tidak buruk." Kata Edo melihat Adam menang melawan puluhan zombie. Samsuri yang melihat Adam menang melawan zombie berkata. "Ayo pergi." Kemudian Samsuri dan kelompok pergi.


Saat ini Adam berada di dalam rumah kosong. Adam melihat Merry yang terbaring pingsan di lantai. "Aku berharap Merry tidak mengalami gagar otak dan tulangnya tidak ada yang patah." Kata Adam melihat kepala Merry berdarah dan badannya penuh dengan luka.


"Ughhh." Tiba-tiba Adam mengerang kesakitan. "Aku juga harus mengkhawatirkan diriku sendiri." Kata Adam melihat perutnya yang terluka. "Anehnya setelah tergigit dan tertusuk cakar zombie aku tidak berubah menjadi zombie." Gumam Adam.


"Benar, aku perlu membeli perban dan obat-obatan untuk mengobatiku diriku dan Merry." Kata Adam membuka aplikasi shop dan membeli perban serta obat-obatan. Beberapa detik kemudian perban dan obat-obatan muncul di depan Adam.


Adam kemudian mulai membersihkan luka Merry dan mengobatinya. Setelah selesai mengobati Merry Adam mengobati dirinya sendiri, dan memperban luka di perutnya. "Ughh, hari ini sungguh sial." Kata Adam berbaring di sofa dan melihat banyak pesan masuk di smartphonenya.