The Journey of Adam

The Journey of Adam
39. Tiba Di Kota Pasuruan



"Woar." Adam yang asik melihat rumah yang cukup mewah, melihat beberapa zombie tiba-tiba muncul dari salah satu rumah dan belari ke arahnya. "Eh, ada zombie ya." Adam mengeluarkan pistol dari sakunya kemudian mulai memibidik zombie. "Duar." "Duar." "Duar."


Angga yang disamping Adam sudah memegang pedang, dan bersiap untuk melawan zombie yang berlari menuju arah mereka. Namun Angga terkejut beberapa zombie di bunuh Adam sendirian dengan pistolnya. "Hanya beberapa zombie biasa, tidak perlu untuk serius." Adam menepuk pundak Angga. Angga tersenyum kecut saat mendengar kata Adam.


3 jam kemudian Adam akhirnya menemukan sebuah mobil. "Ayo masuk, kita sudah banyak membuang-buang waktu untuk mencari mobil." Adam tersenyum dan duduk di dalam mobil. Angga dan Anggi tersenyum kecut mendengar kata Adam.


3 jam lalu Adam menemukan mobil merek honda civic di sebuah bagasi. Adam menyuruh Angga dan Anggi membantunya untuk mencari kunci mobil di dalam rumah pemilik mobil. Akhirnya Adam menemukan kunci mobil setelah 3 jam mencari di dalam rumah pemilik mobil.


Setelah melihat Merry dan kedua saudara kembar masuk ke dalam mobil Adam berkata. "Kita akan pergi ke Pasuruan. Berharaplah kita tidak menemui hewan mutasi seperti kemarin." Merry dan kedua saudara kembar mengangguk mendengar kata Adam. Mereka tahu Adam belum sembuh total dan akan kesulitan jika bertemu beberapa hewan mutasi seperti musang.


1 jam kemudian Adam tiba di perbatasan kota pasuruan. "Akhirnya kita sampai juga di pasuruan." Angga menghela nafas lega melihat gapura selamat datang di kota pasuruan. Angga masih mengingat selama di perjalanan meski tidak bertemu dengan hewan mutasi. Mereka bertemu ratusan zombie yang berdiri di tengah jalan, dan Adam menabrak semua zombie yang berdiri di tengah jalan dengan mobil yang mereka kendarai.


"Kak Adam, kenapa kamu selalu memilih mengendarai mobil bagus. Jika akhirnya mobil ini rusak." Tanya Angga melihat kaca mobil yang penuh retakan dan body mobil yang penyok. Mendengar pertanyaan saudara kembarnya Angga, Anggi menunggu jawaban Adam.


"Karena aku bisa mengendarai mobil bagus milik orang lain dan merusaknya secara bebas." Adam tertawa dengan senang. "Gila." Angga dan Anggi bergumam di pikirannya secara bersamaan. Jika Adam tahu dia disebut gila oleh kedua saudara kembar. Adam akan menyuruh Angga dan Anggi untuk keluar dari mobil.


Beberapa menit kemudian Adam menghentikan mobil di tepi jalan. "Ayo turun, kita mencari rumah untuk beristirahat." Kata Adam turun dari mobil. "Oke." Balas Merry dan kedua saudara kembar.


"Ayo kerumah itu." Kata Adam menunjuk sebuah rumah. Adam, Merry dan kedua saudara kembar berjalan menuju sebuah rumah. Melihat pintu tidak terkunci Adam langsung masuk ke dalam rumah. "Eh, ada beberapa bekas makanan." Kata Anggi melihat beberapa bungkus makanan.


"Sepertinya rumah ini memiliki penghuni." Kata Adam memegang sebuah botol kosong yang dingin. "Karena penghuni rumah ini masih belum pergi. Mengapa kita tidak cari rumah lain untuk istirahat." Kata Merry.


"Siapa itu." Adam, Merry dan kedua saudara kembar mendengar sebuah suara. Kemudian Adam dan kedua saudara kembar melihat seorang perempuan yang keluar dari sebuah ruangan dengan membawa pisau. "Ahhh." Tiba-tiba Adam dan perempuan berteriak secara bersamaan.


"Adam kenapa kamu disini." Kata perempuan yang tidak lain adalah Ratih. "Justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Bukankah 4 jam lalu kamu masih di Probolinggo. Mengapa kamu sudah ada disini." Balas Adam.


Mendengar balasan Ratih Adam tersenyum kecut dan berkata. "Baiklah, karena kamu disini aku akan pergi." Kata Adam berjalan menuju pintu. Mendengar kata Adam hendak pergi Ratih berkata. "Adam." "Apa." Adam berbalik. "Aku ingin berbicara berdua dengan kamu." Kata Ratih. "Kalian tunggu diluar." Kata Adam. "Baik." Merry dan kedua saudara kembar berjalan pergi.


"Apa yang ingin kamu katakan." Tanya Adam. Adam tahu bahwa jika Ratih ingin menyerangnya. Adam tidak punya kesempatan untuk menghindar. Karena Adam sadar refleknya tidak cukup cepat untuk mengikuti pergerakan Ratih.


"Apa kamu masih membenciku karena kejadian itu." Tanya Ratih. Mendengar kata Ratih Adam berkata. "Karena kamu telah memberitahuku tentang perbedaan bau manusia evolusi, dan manusia biasa. Aku tidak membencimu lagi." "Ehh, kamu tidak membenciku lagi karena aku menjawab pertanyaanmu." Ratih heran.


"Benar, karena aku sangat penasaran. Setiap kali aku bertemu dengan manusia evolusi. Mereka mengatakan aku hanyalah manusia biasa. Sekarang aku tahu alasan mereka mengatakan aku hanya manusia biasa." Balas Adam. "Kamu tetap aneh dari dulu." Ratih tersenyum mendengar kata Adam.


Melihat Ratih tersenyum kepadanya Adam heran. "Mengapa kamu tersenyum." Tanya Adam. "Aku senang kamu tidak membenciku lagi." Balas Ratih. "Perempuan memang mahluk aneh dan susah dimengerti." Gumam Adam dipikirannya.


"Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin kamu katakan aku akan pergi." Kata Adam melihat Ratih. "Mengapa kamu tidak disini saja, aku juga sudah ingin pergi." Balas Ratih. "Oh, kamu mau pergi kemana." tanya Adam. "Aku ingin kembali ke Surabaya." Balas Ratih. "Kembali, berarti kamu sudah dari sana." Balas Adam. Ratih mengangguk.


"Bagaimana situasi disana." Tanya Adam. "Kamu akan tahu sendiri, bukankah kamu juga akan pergi kesana." Balas Ratih tersenyum. "Ngomong-ngomong kamu tidak terlihat cukup baik." Ratih melihat kedua perban di kaki Adam, serta banyak bekas luka di tubuhnya.


"Untuk manusia biasa sepertiku harus bertarung dengan sekuat tenaga melawan zombie." Balas Adam. "Baiklah, aku tahu kamu bisa bertarung dan mengalahkan beberapa zombie biasa. Tapi jika kamu bertemu hewan mutasi atau zombie yang berevolusi cepat lari. Kamu bukan tandingan mereka." kata Ratih.


Mendengar kata Ratih Adam hanya tersenyum. Ratih tidak akan tahu jika Adam telah mengalahkan beberapa zombie evolusi dan bermacam-macam hewan mutasi seperti kera, anjing dan musang.


"Aku pergi dulu, ingat saranku tadi." Kata Ratih berjalan menuju pintu keluar. Melihat Ratih yang pergi Adam menyeringai. "Kamu terlalu meremehkanku."


Saat ini Ratih keluar dari rumah dan melihat Merry dan kedua saudara kembar. "Masuklah, kalian bisa tinggal disini." Kata Ratih. "Apa kamu mau pergi." Tanya Angga. "Benar, karena kita beberapa kali bertemu aku akan memberimu saran." "Saran apa." Tanya Angga penasaran. "Jangan mudah bergantung kepada orang lain, kamu harus mengandalkan diri sendiri." balas Ratih kemudian berlari dengan sangat cepat.