
"Apa Angga kemari." Tanya Adam. "Eh, bukankah kamu dan Angga pergi bersama. Apa kalian berdua tidak pulang bersama." Tanya Ibu Adam. "Tidak, aku pergi ke markas tentara dulu sebelum pulang kemari." Balas Adam. "Oh, jadi begitu." Ibu Adam mengangguk. "Baiklah, aku akan pergi ke tempat Angga." Kata Adam membuka pintu.
"Jangan pulang terlalu malam Adam." Teriak ibu Adam. "Dia bukan anak kecil lagi sayang." Ayah Adam tersenyum kecut. "Aku menyuruhnya pulang tidak malam. Agar Adam bisa makan malam bersama kita." Ibu Adam mendengus.
Tidak lama kemudian Adam tiba di depan sebuah rumah dan masuk ke dalam. "Ahh, kak Adam." Adam melihat Angga, Anggi dan Merry. "Aku sudah tau bahwa kak Adam akan kembali dengan selamat." Angga tersenyum melihat Adam.
"Aku sungguh mengkhawatirkanmu Adam, setelah mendengar cerita dari Angga. Bahwa kamu memutuskan untuk tidak kembali menaiki truck." Kata Mery khawatir. "Aku beruntung karena ratusan zombie yang aku lawan adalah zombie biasa. Jika ada zombie tipe kecepatan, mungkin aku akan mendapatkan sedikit luka." Balas Adam.
"Eh, jangan bilang kamu membunuh ratusan zombie itu kak." tanya Angga. "Aku membunuh ratusan zombie itu." Balas Adam. "Hahaha, kamu sungguh luar biasa kak." Angga tertawa. Adam, Angga, Anggi dan Mery kemudian mulai mengobrol.
5 Menit kemudian Adam melihat Angga dan Anggi kemudian berkata. "Kalian berdua pergilah. Aku ingin bersama Mery." "Ah, baik. Anggi ayo kita jalan-jalan." Angga mengangguk dan berdiri, dia tahu Adam ingin menghabiskan waktu bersama Mery. "Emm, baiklah." Anggi melihat Adam kemudian berjalan ke arah pintu.
Melihat Angga dan Anggi pergi, Adam memegang tangan Mery dan berkata. "Ayo kita ke kamar." "Baik." Mery menjawab malu, dia tahu apa yang akan dilakukan Adam. Adam tersenyum kemudian menggendong Mery. "Ahhh." Mery berteriak.
Adam kemudian berjalan ke arah kamar dengan menggendong Mery. Adam masuk ke dalam kamar kemudian membaringkan Mery di kasur. "Aku suka kamu Mery." Adam mencium bibir Mery. "Aku juga menyukaimu Adam." Mery merasakan ciuman Adam dan memeluknya.
30 Menit kemudian Adam terbaring di kasur dengan Mery di sampingnya. "Mengapa kamu tidak tinggal denganku saja Mer." Tanya Adam. "Aku takut kedua orang tuamu tidak menyukaiku Adam. Kamu tahu aku adalah wanita buta." Balas Mery. "Kamu terlalu memikirkan yang tidak-tidak Mery. Bukankah kedua orang tuaku selalu bersikap baik padamu." Balas Adam.
"Orang tuamu melakukanku dengan baik, karena mereka tahu kita berdua hanyalah teman. Beda cerita jika kedua orang tuamu tahu bahwa kita sudah menjalin hubungan." Balas Mery. "Dunia telah berubah Adam. Di dunia yang kacau seperti ini. Orang buta sepertiku akan menjadi beban." Balas Mery.
Adam menghela nafas dan memeluk Mery. "Kamu bukan beban Mery. Kamu adalah wanita yang aku sukai." "Terimakasih Adam. Kamu adalah pria terbaik yang pernah aku temui." Mery tersenyum bahagia. "Baiklah, mengapa kita tidak melakukan ronde ke 2." Adam tersenyum. "Ahh, apa kamu masih kuat." Mery terkejut.
30 Menit kemudian Adam memakaikan Mery pakaian. "Adam, apa kamu tidak masalah jika aku hamil. Kamu telah mengeluarkan di dalam berkali-kali." Kata Mery. "Tidak masalah." balas Adam. "Maaf Mery, aku sudah memberimu pil pencegah hamil ke dalam minuman yang biasa kamu minum. Jadi kamu tidak akan hamil." Gumam Adam.
Adam dan Mery kemudian keluar dari kamar dan melihat Angga serta Anggi. Angga melihat Adam dan mengacungkan jempol. Anggi yang melihat kelakuan Angga mendengus. "Baiklah aku akan kembali. Jika kalian ada masalah carilah aku." kata Adam. "Baik kak." balas Angga dan Anggi. "Aku pergi mer." Adam mencium kening Mery. "Aku ikut denganmu Adam." "Eh, baiklah." Adam kemudian menggandeng tangan Mery.
Tidak lama kemudian Adam kembali ke rumahnya bersama Mery. "Oh, Mery. Sudah lama kamu tidak main kesini." Ibu Adam tersenyum melihat Mery. "Halo tante." Mery tersenyum. "Mom, mulai hari ini Mery akan tinggal bersama kita." kata Adam.
Melihat kode ibunya menyuruhnya pergi, Adam berjalan ke dapur. Adam kemudian melihat ayahnya yang duduk di dapur dengan memakan mie instan. "Apa kamu sudah memutuskan untuk memilih Mery dari pada Jessica." Tanya ayah Adam. "Sebenarnya Aku ingin memiliki Mery dan Jessica sekaligus." Balas Adam.
"Uhuk, uhuk." Ayah Adam terbatuk mendengar jawaban Adam. "Jika ibumu mendengar apa yang kamu katakana barusan. Dia akan memarahimu." Kata Ayah Adam. Adam tersenyum kemudian mulai mengobrol dengan ayahnya.
1 Jam kemudian Adam, Mery dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang makan. "Apa kamu bisa makan sendiri mer." Tanya ibu Adam. "Bisa tante." Mery tersenyum kemudian mulai makan. Melihat Mery makan ibu Adam kemudian juga makan.
15 menit kemudian Adam, Mery dan kedua orang tuanya selesai makan. "Adam apa kamu besok akan pergi membunuh zombie lagi. Kita saat ini sudah memiliki banyak stock makanan." Kata ibu Adam. "Iya, aku akan membunuh zombie lagi mom." balas Adam. "Baiklah jika itu keinginanmu." Ibu Adam menghela nafas.
1 Jam kemudian Adam sedang berbaring di kasur dengan Mery di sampingnya. "Adam apa kamu masih belum tidur." Tanya Mery. "Belum, memangnya kenapa mer." Tanya Adam. "Jika suatu hari aku menjadi zombie. Apa kamu akan membunuhku." Tanya Mery. "Tentu saja aku akan membunuhmu tanpa ragu." balas Adam.
Mendengar kata Adam Mery tersenyum kecut. "Tapi aku tidak akan membiarkan kamu menjadi zombie." Adam mengelus rambut Mery. Mery tersenyum saat mendengar jawaban Adam. "Baiklah ayo tidur. Besok aku akan membunuh zombie lagi." kata Adam. "Baik." Mery mengangguk.
6 Jam kemudian saat tengah malam Adam yang sedang tertidur menyentuh tangan Mery. "Eh, mengapa tanganmu." Kata Adam merasakan tangan Mery begitu panas. Adam terbangun kemudian melihat wajah Mery yang merah. Adam kemudian menyentuh dahi Mery. "Begitu panas."
Adam melihat smartphone special yang muncul di tangannya kemudian membeli obat penurun panas dan sebotol air mineral. "Mery buka mulutmu." Kata Adam. Melihat Mery tidak membuka mulutnya, Adam berkata. "Mery bangunlah."
"Uuhh." Adam melihat Mery yang berbicara. "Telan ini." kata Adam memberikan Mery pil. Mery kemudian menalan pil yang diberikan Adam. "Minumlah." Adam membuka botol air mineral. "Glek." Mery kemudian minum.
"Baiklah, kamu bisa tidur lagi Mer." Kata Adam melihat Mery. Adam melihat Mery dan bergumam. "Mengapa Mery tiba-tiba demam. Jangan bilang bahwa Mery akan evolusi." "Jika Mery berevolusi itu adalah hal bagus." Adam mengelus rambut Mery kemudian tidur di sampingnya.
Keesokan harinya Adam yang sedang tertidur mendengar teriakan. "Ahhhh." "Ada apa." Adam tiba-tiba berdiri dan melihat Mery yang masih tidur di sampingnya. "Adam keluar dari pintu dan melihat ibunya. "Ada apa mom." tanya Adam. "Lihat Adam, mami menjadi manusia evolusi." Adam kemudian melihat ibunya tiba-tiba berada di depannya.
"****. Begitu cepat." kata Adam melihat kecepatan ibunya. "Plak." Ibu Adam memukul kepala Adam. "Jangan mengatakan hal buruk." "Eh, maaf mom. Tadi hanya reflek." Adam mengelus kepalanya. Adam kemudian melihat ayahnya yang keluar dari kamar dengan cemberut.
"Adam, ibumu menjadi manusia evolusi tipe kecepatan sedangkan ayah tidak berevolusi sama sekali." Kata Ayah Adam dengan cemberut. "Jangan bersedih yah, aku juga bukan manusia evolusi." Adam menghibur ayahnya.