The Journey of Adam

The Journey of Adam
36. Tiba Di Kota Probolinggo



"Amunisi Shotgun ada 7, jadi satu peluru untuk satu musang." Kata Adam mulai membidik musang yang melesat ke arahnya. "Duuaarr." Peluru shotgun mengenai kepala musang. "Headshot." Kata Adam melihat tembakannya mengenai kepala musang.


"Waa" Semua musang menjerit dan melesat ke arah Adam bersamaan. Melihat 6 musang yang melesat ke arahnya, Adam dengan cepat mulai menembaki para musang. "Duar." "Duar." "Duar." "Ahhh." Adam melihat salah satu musang berhasil mengigit kaki kirinya.


"Lepaskan kakiku." Kata Adam kemudian membidik kepala musang. "Duar." Musang melepas gigitan Adam dan tergeletak di tanah tidak bernyawa. "Ahhh." Adam berteriak sekali lagi melihat kedua musang mengigit perut dan kaki kanannya. "Musang sialan." Adam menggertakan giginya dan menembak kepala musang. "Duar." "Duar." Kedua musang melepaskan gigitan dan tergeletak di tanah tidak bernyawa.


Adam melihat dua musang hendak bangkit dan berdiri. "Belum mati ya." Kata Adam berjalan ke mobil dengan memegangi perutnya yang terluka. Kemudian Adam mengambil pedang di dalam mobil.


Setelah mengambil pedang, Adam berjalan ke arah dua musang yang masih hidup. "Iii." Musang menjerit ketakutan saat melihat Adam mendekat ke arah mereka. "Ini akibatnya karena menyerangku." Kata Adam kemudian mulai menebas kepala dua musang. "Slasshh." "Slasshh" Kepala dua musang terpotong.


"Uuhh." Melihat dirinya telah berhasil mengalahkan kawanan musang, Adam tidak kuat berdiri dan terjatuh. "Adam." "Kak Adam." Kedua saudara kembar keluar dari mobil dan berjalan ke arah Adam. "Kak Adam kedua kaki dan perutmu." Anggi menangis melihat luka Adam.


"Jangan menangis, aku baik-baik saja. Ini hanya butuh beberapa hari untuk sembuh." Kata Adam tersenyum. "Kamu terluka demi melindungi kita kak." Angga mengigit bibirnya saat melihat luka Adam. "Baiklah, bantu aku berjalan ke mobil, dan ambil shotgun itu." "Baik." Kedua saudara kembar mengangguk.


Angga membantu Adam berjalan ke mobil, sementara Anggi mengambil shotgun Adam. Setelah duduk di kursi mobil, Adam mengeluarkan 4 granat dari saku celananya. "Itu." Angga gugup melihat 4 granat yang di pegang Adam. "Ini granat." Kata Adam kemudian mulai melemparkan 4 granat satu persatu ke sebuah pohon.


"Boom." "Boom." "Boom." "Boom." Granat meledak yang menyebabkan pohon hancur. "Apa masih ada musang yang tersisa jadi kamu melempar granat." Kata Angga dengan gugup. "Mungkin itu hanya perasaanku saja, tapi aku merasa ada yang mengawasiku dari balik pohon." Gumam Adam saat melihat pohon yang hancur.


"Pasang sabuk pengaman kalian, kita akan pergi." Kedua saudara kembar dan Merry mengangguk lalu memasang sabuk pengaman. Adam kemudian mulai menyalakan mesin dan menyetir mobil.


Setelah Adam pergi sesosok bunglon sebesar 1 meter, tiba-tiba muncul tidak jauh dari pohon yang hancur akibat ledakan bom. Beberapa detik selanjutnya bunglon tiba-tiba menghilang. Sebenarnya bunglon tidak menghilang melainkan berkamuflase dengan tanah.


Setelah beberapa menit perjalanan Anggi berkata dengan khawatir. "Kak Adam kenapa tidak berhenti dulu dan mengobati lukamu." "Benar Adam, jangan terlalu memaksakan diri." Kata Merry dengan khawatir. "Baiklah, sepertinya disini aman." Kata Adam menghentikan mobil di tepi jalan.


"Kak Adam, lukamu." Anggi mencoba menahan tangis melihat luka di perut Adam. "Cukup bersihkan lukaku dengan air, kemudian langsung perban." Kata Adam. "Baik kak." Anggi mengangguk kemudian mulai membersihkan luka di perut Adam dengan air. "Ahhh." Adam berteriak saat merasakan rasa sakit.


"Adam." Merry yang berada di dalam mobil merasa khawatir mendengar teriakan Adam. Sementara Angga hanya bisa tersenyum kecut mendengar teriakan Adam. Angga tahu bahwa rasa sakit yang di alami Adam sangat luar biasa.


Setelah selesai membersihkan luka, Anggi mulai memperban perut Adam. "Selesai, sekarang mengobati kedua kakimu kak." Kata Anggi. Adam mengangguk kemudian mulai mengambil pedang dan memotong celananya menjadi pendek.


"Cukup seperti tadi, bersihkan luka dengan air dan langsung perban." Kata Adam melihat Anggi yang masih menatap kedua luka di kakinya. "Umm, baik kak." Anggi kemudian mulai membersihkan kedua luka di kaki Adam dengan air. "Uuhh." Kali ini Adam mencoba untuk tidak berteriak saat merasakan rasa sakit.


Melihat kedua luka di kaki Adam telah dibersihkan, Anggi langsung memperban kedua kaki Adam. "Selesai." Kata Anggi. "Terimakasih." Kata Adam melihat kedua kakinya telah selesai diperban. "Tidak perlu berterimakasih kak, kamu terluka demi melindungi kita." Anggi tersenyum.


"Baiklah, kita akan istirahat beberapa menit kemudian melanjutkan perjalanan." Kata Adam. "Baik." Kedua saudara kembar membalas perkataan Adam. Sementara Merry terdiam tidak membalas kata Adam.


Setelah istirahat beberapa menit Adam kemudian melanjutkan perjalanannya. "Kak. Apa tidak masalah buatmu menyetir." Tanya Angga di samping Adam. "Tidak masalah." Adam menggeleng.


"Merry kenapa kamu hanya diam saja, apa kamu merasa pusing lagi." Tanya Adam melihat Merry yang terdiam selama perjalan. "Tidak, aku baik-baik saja." Balas Merry tersenyum. "Jika kamu butuh sesuatu katakan saja." balas Adam. "Baik." Merry mengangguk.


1 jam kemudian Adam tiba di kota probolinggo. "Kita sampai di kota Probolinggo." Kata Angga melihat gapura selamat datang di kota probolinggo. "Kita akan beristirahat jika menemukan sebuah pemukimam." Kata Adam. "Baik." Angga dan Anggi mengangguk.


Beberapa menit kemudian Adam berhenti di sebuah pemukimam. "Kak, apa masih ada orang yang tinggal disini." Tanya Anggi. "Aku tidak tahu, ayo cari rumah yang bisa ditempati." Kata Adam. Kedua saudara dan Merry mengangguk.


"Kak, apa kamu bisa berjalan." Tanya Angga. "Jika hanya berjalan tentu saja bisa, ambil ini dan bunuh zombie jika kamu melihatnya." Adam menyerahkan pedang ke Angga. "Baik kak." Angga mengangguk. Angga memiliki kepercayaan diri untuk membunuh beberapa zombie biasa.