
Tidak lama kemudian Adam dan yang lainnya menemukan rumah kosong, yang ditinggal pemiliknya. "Aneh, mengapa kita tidak bertemu zombie sama sekali." Tanya Adam melihat tidak ada zombie sama sekali di pemukimam. "Mungkin semua zombie di kawasan ini berkumpul untuk menyerang seorang manusia evolusi, atau semua zombie disini sudah dibunuh oleh seseorang." Balas Adam kemudian duduk di kursi.
"Benar, beberapa hari sebelum bertemu kak Adam. Kita bertemu dengan seorang manusia evolusi yang berbasis kecepatan. Dia bilang manusia evolusi, manusia biasa dan zombie memiliki bau yang berbeda. Apa zombie juga memiliki kemampuan sama, dapat membedakan manusia evolusi dan manusia biasa." Kata Angga.
"Itu pasti, karena aku pernah melihat dengan mata ku sendiri 3 zombie evolusi dan ratusan zombie biasa menyerang tempat seorang manusia evolusi tinggal." Balas Adam mengingat kenangan saat bersama Bunga, Edi dan Intan. "Mengapa mereka berdua harus mati." Gumam Adam dipikirannya saat mengingat kenangan bersama Bunga dan Intan.
"Kita akan beristirahat disini dulu, besok kita akan meneruskan perjalanan kita dan mencari beberapa makanan." Kata Adam. "Baik." Kedua saudara kembar mengangguk. "Aku ingin istirahat." Kata Adam berjalan menuju sebuah ruangan.
Setelah masuk Ruangan Adam melihat kamar dan mengangguk. "Desain kamar tidak terlalu buruk, kamar juga tertata rapi." Kata Adam kemudian mulai berbaring di kasur. "Tadi aku terlalu sembrono, jika vitalitasku setara manusia biasa. Mungkin saat ini aku masih pingsan, atau mati karena terlalu banyak kehabisan darah." Gumam Adam melihat luka di perutnya.
"Adam bolehkah aku masuk." Adam mendengar sebuah suara. "Masuklah." Balas Adam. Adam kemudian melihat Merry yang membuka pintu dan berjalan dengan hati-hati. Melihat Merry yang masuk ke dalam kamar, Adam berdiri dan menuntun Merry ke ranjang.
"Ada apa Mer." Tanya Adam. "Maaf Adam, disaat kamu terluka. Aku tidak bisa mengobatimu." Kata Merry mulai menangis. "Jangan terlalu dipikirkan, bukannya kamu juga belum sembuh total." Balas Adam menepuk pundak Merry.
"Baiklah , jika tidak ada yang ingin kamu sampaikan, aku ingin beristirahat." Kata Adam kemudian mulai berbaring di ranjang. "Istirahatlah Adam." Merry tersenyum kemudian mulai berjalan ke arah pintu. Melihat Merry yang meninggalkan kamar, Adam memegang perutnya. "Uuhh, rasanya sakit bila terlalu banyak bergerak."
Adam melihat tangan kanannya dan smartphone special tiba-tiba muncul. Adam kemudian mulai membuka aplikasi shop dan membeli steak hewan bermutasi seharga 100 coin. Beberapa detik kemudian smartphone mengeluarkan cahaya putih dan 1 porsi steak yang terbungkus plastik muncul di depan Adam.
"Jika aku tidak mengkonsumsi steak ini, mungkin butuh 1 minggu lewat untuk sembuh." Kata Adam kemudian mulai membuka plastik yang membungkus steak. Adam kemudian mulai mengigit steak. "Sangat lezat, aku tidak pernah bosan meski telah memakan ini berkali-kali." Kata Adam kemudian mulai memakan steak.
Beberapa menit kemudian Adam telah menghabiskan steak. "Setelah makan steak rasa sakit di perutku berkurang." Kata Adam memegangi perutnya. "Uuhh, tapi aku kehilangan 100 coin. Saat ini aku sangat butuh coin untuk mengupragade smartphone." Adam mulai cemberut.
"Aku harap tidak ada zombie evolusi atau hewan mutasi yang tiba-tiba muncul dan menyerangku. Jika ada zombie evolusi atau hewan mutasi yang tiba-tiba muncul. Aku terpaksa akan membeli bazoka." Gumam Adam kemudian mulai memejamkan matanya.
"Kak Adam bangun." Adam yang tertidur perlahan membuka matanya saat seseorang membangunkannya. "Ada apa Anggi." Adam melihat bahwa Anggi yang membangunkannya. "Kak Adam makanlah dulu." Balas Anggi mengambil satu sup dari meja.
"Bisakah kamu menyuapiku." Kata Adam menggoda Anggi. "Ehh, bisa." Anggi tersenyum malu. Anggi kemudian mulai menyuapi Adam. "Apa kamu yang membuatnya." Tanya Adam. "Benar kak, bagaimana rasanya." Balas Anggi. "Rasanya enak, meski sedikit asin." Balas Adam. "Ehh, sepertinya aku terlalu banyak memberikan garam." Balas Anggi.
"Dari mana kamu menemukan bubur." Tanya Adam. "Aku menemukan bubur di kulkas, dan beberapa bahan makanan lainnya." Balas Anggi. "Sepertinya penghuni rumah ini tergesa-gesa saat pergi." Kata Adam. "Mungkin kak." Balas Anggi menyuapi Adam.
Beberapa menit kemudian Adam selesai menghabiskan bubur, dan Anggi tetap di kamar bersamanya. "Kak Adam, bolehkah aku bertanya sesuatu." Tanya Anggi. "Tanya saja." balas Adam. "Bagaimana kak Adam dapat memunculkan shotgun dari udara kosong." Kata Anggi.
"Aku seorang pesulap. Aku dapat memunculkan barang apapun yang kuinginkan." Kata Adam berbohong. "Ahh, benarkah." Anggi terkejut. "Benar, tapi ada harga yang harus kubayar saat memunculkan barang dari udara kosong." Balas Adam dengan ekspresi serius.
"Ahhh, apa yang harus dibayar kak Adam." Anggi penasaran. "Nyawaku." Balas Adam. "Ahhh." Anggi berteriak dan menutup mulutnya. Melihat ekspersi Anggi Adam tertawa. "Haha, aku hanya bercanda." "Fiuh, kak Adam menakutiku." Anggi mengelus dadanya.
"Wooaarr." Adam dan Anggi mendengar suara geraman. "Zombie." kata Adam secara spontan. Adam dan Anggi kemudian keluar dari kamar. "Kak, ada puluhan zombie di depan." Kata Angga melihat Adam dan Anggi keluar kamar. "Oohh, apa ada zombie evolusi di antara mereka." tanya Adam. "Biar kulihat." Balas Angga kemudian mulai mengintip dari jendela.
"Sepertinya tidak ada zombie evolusi diluar." Kata Angga setelah melihat puluhan zombie dari jendela. "Mungkin mereka hanya lewat." Balas Adam kemudian mulai merenung. "Aku berharap juga begitu." Angga mengangguk.
"Kak, kamu sedang memikirkan apa." Tanya Anggi melihat Adam yang termenung. "Ehhh." Adam tiba-tiba kaget. "Apa yang kamu bilang." Tanya Adam. "Kak Adam sedang memikirkan apa." Balas Anggi. "Aku hanya berpikir, kemana tujuan para zombie pergi. Apakah mereka akan berkumpul di satu tempat untuk menyerang dimana manusia evolusi berada." Balas Adam.
"Ahh, aku berharap manusia evolusi yang menjadi target para zombie bisa selamat." Kata Anggi. Mendengar kata Anggi Adam tersenyum dan bergumam. "Perempuan yang baik, dia masih memperdulikan keselamatan orang lain meski dunia telah berubah."
Beberapa menit kemudian Adam sedang duduk bersama Merry dan dua saudara kembar. "Aku tidak menyangka kak Adam adalah pesulap." Kata Angga terkejut mendengar penjelasan dari Adam beberapa menit lalu. "Benar, aku juga terkejut saat tahu Adam adalah seorang pesulap." Kata Merry yang duduk di samping Anggi.
"Kenapa kalian begitu terkejut, tidak ada yang special menjadi seorang pesulap." Kata Adam minum secangkir teh yang dibuatkan Anggi beberapa menit lalu. "Jangan meremehkan dirimu sendiri kak. Menurutku kak Adam adalah pesulap tingkat atas, karena dapat memunculkan barang seperti shotgun dan granat dari udara kosong. Jika dulu kak Adam ikut kompetisi sulap, Kak Adam pasti juara 1." Balas Angga.
Mendengar kata Angga, Adam hanya tersenyum dan bergumam. "Sebenarnya aku tidak bisa sulap sama sekali, tanpa bantuan smartphone mungkin nasibku sekarang sangat menyedihkan. Ehh, bukankah nasibku sekarang juga menyedihkan." Adam melihat luka di bagian perut dan kedua kakinya.