The Journey of Adam

The Journey of Adam
22. Pertempuran



"Cepat masuk ke dalam mobil." Kata pria yang dipanggil Variz. Adam melirik ke arah Edi yang meringis kesakitan, kemudian berjalan ke arah mobil. "Hehe, jangan melakukan hal aneh." Varis tersenyum kemudian duduk di kursi depan, sedangkan Adam duduk di kursi belakang bersama seorang pria.


"Tunjukan dimana kamu menemukan bazoka itu." Kata seorang pria yang duduk di kursi mengemudi, dan mulai menjalankan mobil. "Hehe, kalian sungguh bodoh." Adam tertawa. "Huh." Variz dan kedua pria terkejut dengan kata Adam.


Adam mengambil pistol di saku celananya dan menembak kepala pria disebelahnya. "Duar." "Kamu memaksaku untuk melakukan ini." Kata Adam kemudian dengan cepat menembak Variz yang hendak menyerangnya. "Duar." Adam menembak ke leher Variz. "Sialan." Variz memegangi lehernya yang mengeluarkan darah akibat terkena tembakan.


"Hehe, mau kabur ya." Adam melihat pria yang duduk di kursi mengemudi keluar dari mobil dan berlari. Adam turun dari mobil kemudian membidik pria. "Duar, Duar." Adam mengenai salah satu kaki pria.


Melihat dia mengenai kaki pria, Adam berjalan ke arah Variz yang mencoba menghentikan darah di lehernya. "Percuma saja, kamu akan mati." Adam menatap Variz. "Sialan, jika aku mati. kamu juga harus mati." Variz berkata dengan serak dan melompat ke arah Adam . "Duar." Adam menembak kepala Variz yang melompat ke arahnya.


"Huh, meski dia manusia evolusi. Dia akan tetap mati saat tertembak di leher dan kepala." Kata Adam melihat Variz yang sudah tidak bernafas. Adam berjalan ke arah pria yang kakinya tertembak. "Kumohon jangan bunuh aku." Pria menangis dan memohon terhadap Adam.


"Maaf, seharusnya kamu tidak melakukan kejatahan." Kata Adam kemudian membidik kepala pria. "Sialan." Pria marah kemudian mengambil pisau di sakunya, dan melompat ke arah Adam. "Duar." Adam menembak kepala pria.


"Apa aku sudah kehilangan rasa kemanusiaanku, dan menjadi psikopat pembunuh." Kata Adam melihat pria yang dia bunuh, sedangkan dirinya tidak mempunyai rasa penyesalan setelah membunuh seseorang.


Adam berjalan ke arah mobil kemudian mengambil pistol milik pria yang dia bunuh. "Pistol HS-9." Kata Adam melihat jenis pistol kemudian menaruhnya di saku celana. Adam kemudian berjalan ke arah Edi yang berjarak 50 meter darinya.


"Adam cepat tolong Mereka." Kata Edi melihat Adam berjalan ke arahnya. "Aku tahu, tapi pertama-tama aku akan menolongmu dulu." Adam kemudian menggotong Edi dan berjalan ke sebuah toko.


"Ughh." Edi mengerang saat dia duduk. "Yang bisa kulakukan saat ini adalah menghentikan pendarahanmu pak." Adam membalut luka tembak di kaki Edi dengan perban yang dia temukan di toko.


"Baiklah, aku baik-baik saja. Cepat selamatkan mereka." Kata Edi terengah-engah. "Kamu adalah seorang kakek yang baik, meski sedang terluka kamu tetap mengkhawatirkan cucumu. Ambil ini pak, yakinlah aku akan membawa Intan dan yang lainnya dengan selamat." Adam memberikan pistol yang dia ambil dari pria kepada Edi.


"Aku yakin kamu akan menyelamatkan mereka, dengan pistol ini aku akan baik-baik saja." Edi mencoba tersenyum. Adam tersenyum kemudian menepuk pundak Edi dan berjalan pergi. Adam melihat sebuah bangunan yang cukup jauh dan berkata. "Hari ini akan banyak kematian." 


Saat ini di sebuah bangunan pria berkaos hitam sedang duduk bersama seorang wanita berpakaian ketat. "Bos, apa kamu akan bermain dengan mereka bertiga." Kata wanita melihat ketiga perempuan yang diikat. Yang tidak lain adalah Bunga, Intan dan Novi.


"Tidak, aku akan bermain dengan perempuan yang paling muda, kemudian aku memberikan 1 perempuan ke variz dan 1 untuk yang lainnya." Pria berkaos hitam menyeringai. "Perempuan yang tidak dipilih bos dan Variz pasti bernasib sial, karena akan di gangbang." Wanita menyeringai.


Sementara itu Adam sudah sampai di depan bangunan kemudian menendang pintu. "Bruak." "Siapa." Adam melihat seorang pria keluar dengan membawa pistol di tangannya. "Kamu." Pria terkejut saat melihat Adam. "Halo." Adam tersenyum kemudian menembak kepala pria. "Duar. "Sebelum sempat melakukan apapun, pria mati karena tertembak di kepala."


"Suara tembakan." Pria berkaos hitam terkejut saat mendengar suara tembakan. "Apa ada zombie yang mendekat." Kata wanita terkejut. "Tidak, aku tidak mencium bau zombie. Aku ingin melihat mengapa mereka menembak." Pria berkaos hitam berjalan keluar ruangan diikuti wanita dibelakangannya.


"Mengapa sepi, seharusnya ada tiga orang lagi termasuk pria berkaos hitam itu." Kata Adam mengingat ada 7 orang yang menghadangnya. Sementara dia sudah membunuh tiga orang sebelumnya ditambah satu lagi saat ini.


"Oh, rupanya kamu." Adam melihat seorang pria yang muncul bersama wanita dibelakangnya. "Cepat bebaskan mereka, kalau tidak aku akan menembak kepalamu." Kata Adam mengarahkan pistol ke pria berkaos hitam.


"Hahaha, apa kamu berani menembakku." Pria kaos hitam tertawa. "Hmm." Adam mendengus dan tiba-tiba menunduk saat merasakan bahaya. "Duar." Detik berikutnya Adam melihat peluru yang lewat di atas kepalanya.


"Hampir saja." Adam menghela nafas kemudian menoleh ke asal suara tembakan. Adam melihat dua orang yang berjalan ke arahnya. "Hebat, baru kali ini aku melihat seseorang yang bisa menghindari peluru. Apakah kamu bisa menghindari peluru selanjutnya." Pria berkaos hitam menyeringai.


Adam yang merasakan bahaya tiba-tiba berlari. "Duar, duar." Adam melihat dua pria mulai menembakinya. "Sial." Adam berlari keluar bangunan. Adam bersembunyi di balik dinding kemudian berteriak. "Kalian lebih baik menyerah, dan lepaskan mereka sebelum aku marah."


"Hahaha, kamu pikir dirimu siapa. Kamu bukan manusia evolusi." Pria berkaos hitam tertawa. Adam yang mendengar balasan menggertakan gigi dan bergumam. "Apa perlu aku melempar granat atau membidik mereka dengan bazoka. Tapi aku takut menghancurkan bangunan ini, dan membahayakan Bunga dan yang lain."


Melihat tidak ada suara tembakan, Adam kemudian mengintip dari jendela. "Duar." "Centar." "Uuhh." Wajah Adam terkena pecahan kaca. "Bagaimana bisa mereka tahu." Adam mengusap darah di wajahnya.