
Kanya ketakutan melihat para orang-orang yang ia yakini para penjahat itu terbukti dengan ada nya beberapa Sandra disana.
" KRAK"
Tanpa sengaja ia menginjak kayu membuat suara itu mengalihkan perhatian nya pada Kanya, para orang-orang itu mendekati nya dengan wajah garang. mereka menyered nya sampai membentur tanah
Kanya di ikat dengan keras membuat nya tak bisa memberontak.
Kanya beberapa kali ditampar dengan keras, membuat air mata menetes menahan rasa perih yang ia rasakan para penjahat itu bukan hanya menyiksa dirinya tapi menyiksa sandera lain nya.
" Aaaaa huwaaa!!"
Tangisan terdegar menyayat Kanya melihat pemandangan itu dengan ketakutan wajah memanas melihat lengan anak kecil itu di injak dengan kasar.
" Hei kau gadis kecil! Apa kau dokter medis para tentara itu? Beritahu aku dimana Cip nya?" Tanya penjahat yang lebih tua kearah kanya.
" Aku tidak tau" Kanya membalas ucapan nya dengan pandangan berkaca-kaca.
Suara tamparan mengenai pipi nya Kanya menahan rasa panas di pipi nya.
" Kalian boleh menyiksa ku tapi jangan siksa anak-anak itu kumohon "
Penjahat itu tertawa terbahak-bahak dan semakin menjadi-jadi menyiksa sandera lain nya.
" Beri tahu aku dimana cip nya?"
" Aku tidak tahu" jawab Kanya sambil berusaha melepaskan ikatan nya. Setelah ikatan itu terlepas aku berusaha berdiri
Lalu merebut pistol yang berada di tangan penjahat itu, aku langsung mengambil ancang-ancang untuk menembak mereka dengan lengan bergetar.
Kini ketua penjahat itu sangat murka pada nya, dengan melampiaskan pada anak-anak yang di sandera dengan memukuli mereka membuat kanya ketakutan melihat pemandangan itu. Ia melempar pistol itu dan maju membiarkan diri nya menjadi sandera asal semua anak itu selamat.
" Bagus lah kemari jangan biarkan anak tak berdosa tersakiti" Bos itu menatap Kanya dengan pandangan puas. Ia menarik dagu ku membuat wajah ku menengadah ke atas ia menempelkan pistol itu pada kening nya.
DORR
Aku menutup mata ku membiarkan semua berjalan dengan alur cerita seperti dulu, yah seperti saat aku di culik dan di siksa
Aku perlahan membuka mata ku tak ada rasa sakit atau darah yang keluar dari kepala ku.
Teryata tembakan itu berasal dari samping mengenai kepala bos itu, Kanya merosot ketanah saking takut nya mengingat kejadian itu.
" Nona maaf kami terlambat" Rifki berjalan kearah nya Dengan membawa pistol di lengan nya.
" Hei jangan kemari, pergilah"
Kanya memandang dengan tatapan kosong kearah mereka semua, Leon melepaskan para sandera dan yang lain nya mengikat biang keladi dari semua masalah misi yang ia terima.
" Nona _- "
" Kumohon pergi lah"
Kanya berdiri meninggalkan tempat itu ia berjalan dengan lunglai.
Cukup lama ia meninggal tempat itu ntah kenapa perut nya seperti di remas melihat adegan berdarah itu.
" Hueekk . . . Hueekk .. hueekk..."
Iya memuntahkan isi perut nya.
Zidan yang mengikuti Kanya sedari tadi mengawasi tempat dimana Kanya berada
Tatapan nya melihat seekor ular mendekat kearah nya, ular itu mematuk paha Kanya membuat Kanya merasakan kesakitan.
" SRETT "
Ular itu terbagi menjadi dua dengan lemparan pisau yang di lemparkan Zidan
Kanya menengadah melihat sosok tinggi di belakang nya.
" Kau tak apa-apa?"
" Hei kenapa kau menyusul ku?" Tanya Kanya yang mulai mendapatkan kesadaran nya kembali.
Kanya ketakutan melihat para orang-orang yang ia yakini para penjahat itu terbukti dengan ada nya beberapa Sandra disana.
" KRAK"
Tanpa sengaja ia menginjak kayu membuat suara itu mengalihkan perhatian nya pada Kanya, para orang-orang itu mendekati nya dengan wajah garang. mereka menyered nya sampai membentur tanah
Kanya di ikat dengan keras membuat nya tak bisa memberontak.
Kanya beberapa kali ditampar dengan keras, membuat air mata menetes menahan rasa perih yang ia rasakan para penjahat itu bukan hanya menyiksa dirinya tapi menyiksa sandera lain nya.
" Aaaaa huwaaa!!"
Tangisan terdegar menyayat Kanya melihat pemandangan itu dengan ketakutan wajah memanas melihat lengan anak kecil itu di injak dengan kasar.
" Hei kau gadis kecil! Apa kau dokter medis para tentara itu? Beritahu aku dimana Cip nya?" Tanya penjahat yang lebih tua kearah kanya.
" Aku tidak tau" Kanya membalas ucapan nya dengan pandangan berkaca-kaca.
Suara tamparan mengenai pipi nya Kanya menahan rasa panas di pipi nya.
" Kalian boleh menyiksa ku tapi jangan siksa anak-anak itu kumohon "
Penjahat itu tertawa terbahak-bahak dan semakin menjadi-jadi menyiksa sandera lain nya.
" Beri tahu aku dimana cip nya?"
" Aku tidak tahu" jawab Kanya sambil berusaha melepaskan ikatan nya. Setelah ikatan itu terlepas aku berusaha berdiri
Lalu merebut pistol yang berada di tangan penjahat itu, aku langsung mengambil ancang-ancang untuk menembak mereka dengan lengan bergetar.
Kini ketua penjahat itu sangat murka pada nya, dengan melampiaskan pada anak-anak yang di sandera dengan memukuli mereka membuat kanya ketakutan melihat pemandangan itu. Ia melempar pistol itu dan maju membiarkan diri nya menjadi sandera asal semua anak itu selamat.
" Bagus lah kemari jangan biarkan anak tak berdosa tersakiti" Bos itu menatap Kanya dengan pandangan puas. Ia menarik dagu ku membuat wajah ku menengadah ke atas ia menempelkan pistol itu pada kening nya.
DORR
Aku menutup mata ku membiarkan semua berjalan dengan alur cerita seperti dulu, yah seperti saat aku di culik dan di siksa
Aku perlahan membuka mata ku tak ada rasa sakit atau darah yang keluar dari kepala ku.
Teryata tembakan itu berasal dari samping mengenai kepala bos itu, Kanya merosot ketanah saking takut nya mengingat kejadian itu.
" Nona maaf kami terlambat" Rifki berjalan kearah nya Dengan membawa pistol di lengan nya.
" Hei jangan kemari, pergilah"
Kanya memandang dengan tatapan kosong kearah mereka semua, Leon melepaskan para sandera dan yang lain nya mengikat biang keladi dari semua masalah misi yang ia terima.
" Nona _- "
" Kumohon pergi lah"
Kanya berdiri meninggalkan tempat itu ia berjalan dengan lunglai.
Cukup lama ia meninggal tempat itu ntah kenapa perut nya seperti di remas melihat adegan berdarah itu.
" Hueekk . . . Hueekk .. hueekk..."
Iya memuntahkan isi perut nya.
Zidan yang mengikuti Kanya sedari tadi mengawasi tempat dimana Kanya berada
Tatapan nya melihat seekor ular mendekat kearah nya, ular itu mematuk paha Kanya membuat Kanya merasakan kesakitan.
" SRETT "
Ular itu terbagi menjadi dua dengan lemparan pisau yang di lemparkan Zidan
Kanya menengadah melihat sosok tinggi di belakang nya.
" Kau tak apa-apa?"
" Hei kenapa kau menyusul ku?" Tanya Kanya yang mulai mendapatkan kesadaran nya kembali.
Zidan tak membalas ucapan Kanya ia berjongkok, Kanya membulat kan mata nya melihat Zidan memegang kaki nya ia mengangkat perlahan kaki nya dan menghisap bisa ular di paha nya.
" Cuih "
" Cuih "
" Cuih "
Zidan Menatap lekat-lekat paha mulus milik Kanya sesuatu dalam diri nya mulai bergejolak dengan posisi intim mereka.
" Lepaskan, ini tak pantas" Kanya memalingkan muka nya karna ada semburan merah di wajah nya.
" Kita harus kembali, "
" Naiklah"
Zidan berjongkok membuat Kanya bertanya-tanya ia tak ingin memiliki balas Budi dengan musuh nya membuat Kanya hanya diam tanpa merespon.
" Kau bisa tetap balas dendam pada ku"
" Hei! Kau terima kasih"
Kanya menyembunyikan wajahnya pada punggung lebar milik Zidan, mereka melewati hutan berantara itu dengan kesunyian.
Kunang-kunang menghiasi langit malam Zidan menegok kebelakang melihat Kanya tengah tertidur karna kecapean sedikit senyuman terukir di wajah nya.