The Cunning Gril's Regret

The Cunning Gril's Regret
DI CURIGAI



Rombongan Zidan sampai di bandara mereka menunggu keberangkatan pesawat yang akan mereka tumpangi. Kanya merasa tak nyaman karna hanya dirinya yang seorang perempuan membuat Kanya menjaga jarak dari semua pria yang ada disana.


 Zidan menatap arloji di tangan nya melihat pukul 12.00 masih ada 15 menit sampai keberangkatan pesawat menuju bandara kota H.


* DI MOHON PADA PENUMPANG JURUSAN KOTA H UNTUK SEGERA MENAIKI PESAWAT *


 Suara pengumuman pramugari itu membuat rombongan Zidan menaiki pesawat.


" Nona anda duduk bersama ku"


" Baiklah "


 Kanya duduk dengan seorang tentara yang kelihatan nya masih muda dari umur nya.


 Pesawat pun lepas landas, mereka menikmati dunia nya masing-masing seperti Kanya yang hanya fokus dengan catatan medis yang segaja ia bawa.


  Sedangkan pemuda disampingnya nya fokus memainkan game yang berada di laptop nya, tak butuh waktu lama mereka pun terlelap dalam tidur singkat nya.


" Nona bangun ... Nona ... Nona "


" Apa kita sudah sampai?"


" Ayo cepat turun kapten sudah menunggu"


" Baiklah"


 Kanya mengekor pemuda itu dari belakang rasa kantuknya masih menyerang membuat Kanya beberapa kali oleng.


" Minum ___"


" Aku?"


" Yah kau ____ cepat minum aku tak ingin membuang waktu dengan dirimu"


 Kanya mengambil botol minuman yang teryata adalah jus lemon membuat Kanya muntah beberapa kali karna rasa asam yang membuat nya semakin membenci Zidan.


" Nona apa anda baik-baik saja" tanya pemuda itu memijit pelan tengkuk Kanya dengan lembut.


" Hmm, aku baik kok"


" Ayo kita naik helikopter! Nona bersama ku saja" ajak pemuda  itu langsung menarik lengan Kanya pada salah satu helikopter yang telah terparkir di lapangan.


 Tanpa mereka sadari ada sosok yang memandang tak enak kearah mereka, Kanya merasa senang melihat pemandangan yang luas dengan dominasi biru hijau itu.


 Tibalah mereka di sebuah perkemahan militer disana banyak para tentara dan warga sipil yang terluka.


 Para tentara muda yang bertugas mengamankan tempat itu mulai beraksi semua  sebut saja, Zidan menjadi Alpa( pemimpin) , Leon, Rifki, Andre, Ali mereka adalah tentara elit yang di pilih ketua dengan berbagai perhitungan.


 Zidan: Diamlah! Aku tau misi ini peringkat tengah tapi jangan sembarang untuk membuat keputusan karna kita tak tau dimana letak bahaya nya ...! "


" Baik kapten" Balas serentak mereka dengan posisi tegap dengan lengan menghormat.


" Mulai bekerja"


  Mereka mulai melakukan aksi nya. Kanya sendiri langsung menuju kemah militer dimana orang-orang cedera.


 Kanya menatap luka-luka yang lumayan 


" Nona terima kasih "


" Ingat harus Menganti perban nya yah"


" Nona ada pasien lagi"


 Rifki membawa seorang wanita paruh baya yang terluka di lengan dengan goresan kaca yang masih menancab.


" Tolong tahan ini mungkin akan sakit....


" Baik nona"


 Kanya menatap wajah wanita paruh baya itu yang sudah mulai memucat.


" Jahitan nya selesai"


 Kanya menyuntikan sebuah obat pembius membuat wanita itu tak sadarkan diri, ia beralih pada seorang tentara yang tertembak.


 Cukup lama ia mengoperasi tentara itu. yah  sudah  tiga hari lama nya Kanya hanya fokus pada kesehatan para tentara bahkan dirinya sampai lupa akan makan.


 Kanya mendudukkan diri nya di sisi ranjang, ia mengepang rambut nya dengan rapih rasa nya bosan berada dalam kemah


Ingin rasa yah iya pulang dan tidur dengan damai di ranjang king size milik nya...


 Tiba-tiba Leon masuk kedalam kemah nya membuat Kanya menatap nya...


" Nona segera makan, kapten menunggu nona cepat lah "


" Iya makasih, ucap Kanya di iringi senyuman palsu..


 Ini kesempatan ku untuk mengambil henfoun, yah sejak kedatangan nya kemari semua fasilitas di ambil oleh Zidan termasuk henfoun...


 Zidan mencurigai setiap anggota yang ada disana sebagai mata-mata  membuat Kanya hanya bisa pasrah.


 Kanya menghapiri Zidan yang tengah mengambil makanan kedalam piring nya


Para tentara itu makan dengan lahap hanya Kanya saja tak biasa memakan makanan hambar seperti itu.


 Bukan maksud Kanya untuk menghina makanan para abdi negara, hanya saja ia tak pernah memakan makanan hambar walau begitu Kanya juga seperti gadis biasa nya terkadang makan di pinggiran jalan...


" Kenapa melamun, cepat makan "


 Zidan Menatap Kanya dengan pandangan sulit diartikan.


" Bisakah kau kembalikan henfoun, ATM, rekening dan paspor ku?" Tanya Kanya dengan menunduk menghindari tatapan aneh dari anggota lain nya.


" Kenapa? Apa kau ingin kabur nona Kanya" Zidan berbisik di telinga nya membuat Kanya menghempas meja dengan kasar untung saja semua para tentara sudah selesai memakan makanan mereka.


 Kanya berjalan menjauhi ruang makan itu


Hari mulai gelap Kanya tak tau dia ada dimana. Yang ia ingat hanya berjalan tanpa tujuan menghindar dari para tentara karna merasa malu akan tindakan yang kekanak-kanakan.


 Kanya Menatap sebuah asap di udara ia mengikuti Ara asap itu, Hinga sampai lah disebuah kemah di pinggiran rawa-rawa.