The Cunning Gril's Regret

The Cunning Gril's Regret
KEMBALI



*Pagi ini Shella memutuskan untuk joging bersama dengan gina teman nya, mereka telah meninggal kan kawasan villa Shella dan menuju pulau Dewata Bali untuk sekalian berlibur di musim panas ini.


 Gina sangat antusias melihat para bule yang berada disana, tanpa sadar Shella Tersenyum ramah melihat gina yang seperti bocah yang melihat permen.


  Mereka memulai berlari-lari pelan di sekitar pulau itu. Keringat mengalir dari tubuh Shella dan gina mereka memutuskan untuk istrirahat setelah berlari cukup lama.


" Dok apa kamu bisa bahasa Inggris?" Tanya gina menatap Shella.


" Memang nya kenapa?" Balas Shella dengan lantang.


" Tuh! Ada bule ganteng kita minta foto yuk?" Gina memandang Shella dengan pandangan penuh harap.


" Memang nya kau tak bisa bahasa Inggris? Atau kau masih pemula bukan nya di sekolah kita selalu diajarkan?" Shella meminum air mineral yang ia bawa.


" Aku gak bisa dok! Kalo dokter bisa gak?" Ulang nya lagi membuat Shella memutar bola mata nya bosan.


" Aku bisa beberapa bahasa, Inggris, Mandarin, Jepang, Perancis, dan Indonesia 


Ayo, katanya kau ingin berfoto,"


 Shella berjalan mendahului gina yang kegirangan karna akan berfoto dengan bule. Gina tak tanggung meminta beberapa foto dengan bule yang tengah menikmati masa libur nya di pulau Dewata itu.


 Next time


 Shella membaringkan tubuh nya di lantai. Ia merogoh saku celana nya melihat berita dalam dan luar negri. Senyuman bahagia terpancar dari wajah nya melihat berita pernikahan Gallen dan Alisa diadakan dengan megah.


 Shella menjalani kehidupan seperti biasa 


Bekerja dan bekerja untuk mendapatkan uang. Bahkan pihak rumah sakit sangat berterima kasih akan kedatangan Shella yang merupakan dokter lulusan Amerika 


  Shella sendiri mulai terbiasa hidup di negara dua musim ini. Waktu berlalu begitu cepat tak terasa sudah setahun lebih diri nya berada di Indonesia.


 Shella memandang makalah yang dibawa Sean kehadapan nya, Sean sekarang sudah berumur 16 tahun sudah lumayan dewasa untuk bisa menghidupi kehidupan nya sendiri.


 Shella kagum akan bocah itu yang sudah bisa manggang di perusahaan entertainment desainer copt dimana mereka membuat desaine baju kalangan atas untuk para artis. Dan juga membuat rancngan rumah, villa, dan juga gedung membuat Shella membulatkan tekad nya untuk kembali ke luar negri.


 Hari ini ia menunggu kedatangan Sean dengan cemas, cemilan di tangga nya tak lepas dari pandangan nya ia menguyah dan memakan nya dengan penuh was-was mendapati Sean belum pulang kerja.


 Jam menujukan pukul 10 malam Sean kembali dengan tampang  ceria membuat Shella memandang nya dengan perapat segitiga di dahi nya.


" Kenapa kau pulang telat” tanya nya dengan jitakan keras mengenai kepala nya membuat Sean cengegsan.


" Ayolah Tan! Tadi aku di jadikan pekerja tetap sebagai seorang asisten. Jadi teman-teman meminta ku untuk meneraktri nya, ini ku bawakan serabi kesukaan Tante,"


 Ia memberikan kotak itu pada Shella yang menghela nafas, ia mendudukkan diri nya di sofa empuk berwarna putih itu.


" Sean, aku ingin kembali ke sana," Ucap nya dengan singkat.


* BRAKH *


 Sean memukul meja sampai retak ia


" Tan! Apa kau tak takut jika dia akan balas dendam pada mu, lalu bagaimana dengan aku Tan apa kau akan meningalkan ku sendiri...." Sean menatap wajah wanita berumur 21 tahun itu.


" Sean sudah dewasa pasti bisa mengurus dirimu kan? Tinggalah disini lalu setelah kau cukup umur aku akan memberikan blue drop pada mu. Sean kau harapan Kyo satu-satunya jadi kumohon jadilah seseorang yang patut di banggakan," Shella mengusap rambut Sean dengan penuh kehangatan membuat Sean menganguk mendapatkan perhatian itu.


" Hati-hati Tan! Jangan sampai melukai dirimu" 


 Sean beranjak menuju kamar nya


Shella menatap nya dengan pandangan sedu, Sean mulai tumbuh dewasa ia tak inggin jika dirinya akan terus bergantung pada Shella karna itu tak akan membuat Sean menjadi mandi dan kuat. Shella mengepak pakaian nya kedalam koper ia berencana akan kebandara mengambil jadwal pagi hari agar bisa sampai di negara nya saat sore hari.


 BANDARA....


 Semua pasang mata tertuju pada seorang perempuan yang baru saja keluar dari pesawat. Kacamata hitam berteger di hidung nya membuat kesan cool pada diri nya. Kaos berwarna hitam dengan hotpants yang sewarna melekat di badan nya.


TAP, TAP, TAP


 Hentakan tumit beradu dengan lantai


perempuan itu berjalan dengan anggun kearah tiga orang yang tengah menunggu nya di luar bandara.


 Kaki berbalut sepatu sneaker Korea terlihat serasi di diri nya menampakan kesan seperti seorang artis papan atas.


 Ia berlari menuju balita yang tengah di gendong wanita dihadapan nya.


" REVA' ia bertriak dan mengecup kening bayi perempuan itu dengan lembut membuat sang ibu tertawa melihat tingkah nya.


" Kenapa kau tertawa?" Tanya Shella melepaskan kacamata hitam nya.


" Kau sangat lucu! Seperti nya kehidupan mu di luar negri sedikit merubah gaya fashion mu yang tadi nya sedikit tomboy menjadi feminim" Ucap wanita itu dengan senyuman yang terukir di bibir nya.


" Apa itu pujian atau ejekan?" Kesal Shella membuat kedua orang itu tertawa.


" Aku inggin mengendong nya" ia mengambil alih Reva dari Alisa yang sekarang tengah hamil satu bulan itu.


 Gallen menarik koper Shella menuju ke mobil nya, Shella sangat asik berbicara dengan Reva walaupun hanya dengan balasan yang tak ia mengerti.


 TIN! TIN!


 TIN! TIN!


Suara klakson mobil.


 Aku memandang ke arah dimana asal suara itu, terlihat sebuah mobil putih tengah terpangkir di depan.


Aku membulat kan mata melihat siapa yang datang tubuh ku bergetar ketakutan


Aku berkali-kali meneguk Saliva ku*.