The Cunning Gril's Regret

The Cunning Gril's Regret
TERKURUNG



Tok, tok ,tok


 Suara pintu di ketuk sedari tadi gebrakan dari arah ruangan bertulisan" Shella " terlihat gaduh dengan teriakan yang membuat kuping orang yang mendengar nya tuli.


" Hei! Kalian cepat buka pintu nya "


" Apa kalian tuli hah "


Brag, brag, brag


 Suara kegaduhan itu membuat seorang pemuda yang tengah membaca koran pagi nya tak merasa tenang, Sudah seminggu adik nya di kurung karna tindakan gila yang ia lakukan membuat Gallen hanya bisa geleng-geleng kepala.


 Gallen menaiki anak tangga ia membuka pintu ruangan itu, terlihat kamar yang begitu acak-acakan dengan beling yang berserakan.


" Shell kakak bilang tenang kan dirimu, jangan merusak semua barang itu " Gallen memijit pelipis nya melihat kelakuan adik kesayangannya nya itu. Shella menatap Gallen dengan pandangan macan yang siap menerkam mangsa nya sesekali ia tertawa tak jelas membuat bulu kunduk Gallen terangkat.


" HAHAHA "


 ' Apa adik gue dah gila yah '


 Gallen mengusap wajah nya sesekali melantunkan doa agar para setan yang menghuni kamar itu bisa pergi dari ruangan itu.


* BLAMM *


 Pintu tertutup kasar.


 Shella semakin marah ia mengetuk-ngetuk pintu dengan kasar, sesekali mengucapkan kata kasar dan mencaci kakak nya itu dengan sumpah serapan yang membuat Gallen merinding.


 Suara mobil terdegar memasuki kawasan halaman Higashi, Gallen keluar melihat siapa yang datang.


 Sosok tampan dengan stelan khas kasual tak lupa kacamata hitam yang berteger di hidung nya membuat kesan keren dan cool,


Gallen mendegus kesal masalah satu belum selesai muncul yang lain nya.


Mobil militer itu terpangkir di hadapan nya sosok itu berjalan kearah nya dengan beberapa bingkisan yang ia bawa.


" Muka loh kusam amat Len ?" Tanya sosok itu sesekali memperhatikan bentuk muka dari sobat baik nya.


" Gue kurang tidur seminggu ini gak bisa tenang"


 Mereka melangkah pergi menuju ke aula disana sudah tersiap beberapa cemilan  dan juga kopi yang telah di siapkan sejak awal.


" Hah! Cape nya ”


“ tumben pak tentara muka nya kusut ” ledek Gallen membuat Zidan mengalihkan pandangannya nya dengan Tatapan Sima nya.


  Gallen mngambil beberapa CD game mereka bermain game semalam, Memang bukan hal asing bagi Zidan untuk menginap dan menghabiskan waktu libur nya dengan bermain game dengan sobat seedan sewaras nya.


 Shella sudah tak punya banyak tenaga lagi, ia melirik jam menunjukkan pukul 2 malam ia sangat lapar. Shella menyesal tak memakan makanan yang dibawakan para maid karna kemaahan nya pada Gallen yang mengurung nya.


  Jujur saja Shella sangat ketakutan berada dalam ruangan itu, sebuah ruangan yang telah merampas apa yang sangat ia sayangi.


" BAG, BAG, BAG "


 Suara pintu di gedong dengan keras membuat seorang pemuda tergangu karna suara yang membuat nya terbangun dari mimpi indah nya. Ia menguap melihat kearah Gallen yang tergeletak dengan posisi memeluk toples Bahkan air liur yah menetes.


 Ide jail terlitas di kepala Zidan ia memotret nya akan sangat seru jika perusahaan " Higashi " melihat cara tidur bos yang terkesan dingin dan cuek itu.


" BAG, BAG ,BAG "


 Suara pintu kembali terdegar Zidan mengikuti asal suara itu, hingga ia sampai di sebuah ruangan yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya nya.


 Ia membaca huruf yang tertera di pintu membuat nya mengeyitkan dahi nya heran bukan nya Shella kembali ke Amerika pikir nya.


" Aku lapar " Suara imut dan sedu itu terdegar dari balik pintu.


" Hei! Apa kau Shella?' Tanya Zidan membuat Shella dengan cepat berdiri dari posisi tengkurap nya.


' Sial sejak kapan dia disini, gawat jika dia mengenal ku'


" Hei apa kau Shella jawab aku,,,,


 Nada nya sedikit tinggi membuat Shella gelagapan mencari alat perubah suara nya.


" Yah, aku Shella! Kemana kakak ku?" 


" Aku memang lapar tapi kakak mengurung ku jadi kau pergilah kembali tidur maaf membangunkan mu ” Ucap Shella dengan lantang tak lupa beberapa penekanan kata di setiap kalimat nya.


" Aku bisa mendobrak nya menjauh dari sana atau kau akan terluka "


 Zidan mengambil ancang-ancang ingin mendobrak sebelum suara itu kembali muncul menghentikan nya.


" Jika kau mendobrak nya akan mengangu para pelayan, sebaik nya kau kembali saja aku juga tak akan mati kelaparan. Aku ingin tidur selamat malam,,,,,,,


 Zidan Menatap sekilas pintu itu lalu pergi dari sana dengan rasa penasaran yang memuncak, ia memutuskan untuk ke aula kembali melanjutkan tidur nya yang tertunda karna masalah tadi.


 KE ESOKAN PAGI NYA . . .


 Kanya berlari dari rumah besar di hadapan nya sang mentari belum menapak kan cahaya nya, Kanya berlari menjauh dari sana 15 menit lama nya Kanya istrirahat di sebuah pemakaman yang sangat sepi bahkan tak ada mobil yang berlalu-lalang...


Kanya kembali ke tempat semulai dimana pertama kali ia tersesat di jalanan yang sepi tak ada orang untuk bisa ia bertanya kemana arah yang benar! Bahkan satu mobil pun tak ada yang lewat Kanya mendegus kesal bertriak tak jelas ia menyiapkan rencana Ekstrim yang sudah ia putus kan.


 Di arah belakang sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Kanya berlari sekencang-kencangnya ke arah jalan ia merentangkan tangannya mobil yang tadi nya melaju dengan cepat mulai melambat kearah nya.


TIN! TIN!


TIN! TIN!


" Hei gadis apa kau sudah gila! Cepat minggir tuan kita bisa terlambat!" Triak pak supir dengan sedikit mengeluarkan kepalanya dari dalam jendela.


" Tolong aku, aku di kejar orang mohon antarkan aku ke rumah sakit aku mohon aku akan membayar. "


" Tuan bagaimana ini?" Tanya pak supir kearah tuan nya yang tengah duduk dengan posisi menyilang kan kaki nya sambil menatap seseorang yang ia kenali dihadapan nya.


" Biarkan dia masuk "


" Hei nona, kau cepat lah masuk 


Atau tuan kami akan terlambat " ucap pak supir dengan suara yang lantang.


 Kanya membuka pintu belakangan kemudian ia masuk kedalam nya. Kanya membulatkan mata siapa yang ada dihadapannya.


 Kanya berniat akan kembali keluar sebelum tanggan kekar menarik nya untuk tetap diam, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang suasana cangung menghiasi.


" Hei kau! Apa kau yang kau lakukan di pemakaman ini?” tanya tuan muda itu dengan sedikit menyuling kan senyuman tipis.


" Bukan urusan mu, yang penting cepat antar aku kerumah sakit!" Kanya mendelik tajam sambil menampakan iris merah yang redup.


" Saya akan mengantarmu! Tapi ini tidak gratis loh nona,


 Apa nona bisa membayar saya dengan debit atau cash, aku orang nya tak bisa menunggu lebih lama dengan apa yang aku perbuat untuk orang itu ,,,,,,,


" Apa kau mengancam ku berengsek?" Tanya Kanya dengan sedikit memandang iris ungu di hadapan nya.


" Tergantung nona menangapi nya apa ini ancaman atau bentuk rasa terima kasih nona, jadi nona akan membalas ku dengan apa? Apa dengan tubuh nona yang bahkan tak se bagus milik Alisa ayu mungkin ...."


" Berisik! Ambil ini nanti aku akan kembali menemui mu dengan bayaran nya," Kanya memberikan sebuah kalung berbentuk Tsabit yang sangat ia sayangi sebagai jaminan.


 Kanya berlari secepat-cepat nya menuju ke arah rumah sakit, ia tak mempedulikan lagi rasa sakit akibat kaki nya lecet yang penting ia harus menyelamatkan Yoyo.


 Yoyo adakah teman Kanya yang lebih muda dari nya, yoyo adalah tuan muda dari perusahaan penerbangan militer 


Kanya sangat kaget mendegar kabar bahwa yoyo kecelakaan oleh karna itu ia kabur dari kediaman nya, dengan menyelinap naas nya ia malah tersesat karna sudah lama tak kerumah itu.


" Kalung pemberian Kyo , sudah lah yang penting yoyo harus selamat dulu "


 Kanya masuk ke ruang operasi ia menatap teman nya yang tengah terbaring dan mulai menyalakan lampu operasi dihadapan nya.


 Bercak darah terlihat di bawah mobil nya


Zidan mendegus mengigat bahwa gadis itu tak memakai alas kaki, membut kaki nya lecet ia menatap kalung di gengaman nya


Terukir kata " KYO ” walau sangat kecil tapi bisa terbaca oleh nya.


" Tuan kita sudah sampai di restoran senra' pak supir menghentikan mobil nya di depan restoran itu.


" Kau bisa menjemput ku nanti,  saya masih ada beberapa hal yang harus dikerjakan " ucap Zidan dingin ia berjalan kedalam restoran dengan kesan wibawa yang terpancar jelas dari dirinya.