The Cunning Gril's Regret

The Cunning Gril's Regret
KEBOHONGAN



***Hujan menguyur ibu kota. Petir menyambar di mana mana tak ada tanda-tanda bahwa hujan akan mereda secepat nya. Zidan kini tengah terdiam di ruangan nya menikmati udara segar yang menerpa nya, tubuh nya ia sadar kan pada kusen jendela di samping meja nya. Sesekali rintikan hujan memasuki ke ke ruangan nya.


 Tetesan demi tetesan berlian putih itu jatuh tak beraturan ke tanah menimbulkan suara gemericik yang merdu, terlihat orang yang berlalu-lalang membawa payung dengan berbagai warna.


 Di tengah keasikan nya menikmati keindahan hujan, Zidan tanpa segaja melihat Gallen bersama dengan Asisten Yun memasuki ruangan nya.


" Zi! Aku ikut rumah mu yah, Alisa lagi marah," ucap Gallen menghempas kan tubuh nya kasar ke arah sofa.


" Terserah," jawab nya datar.


" Bukan nya aku perintahkan untuk mu agar berjaga di rumah? Kenapa kau malah berkeliaran?" Tanya Zidan ke arah asisten Yun yang menatap nya penuh tanda tanya.


" Tuan, anda sendiri menyuruh ku untuk ke sini! Bahkan semua pelayan di rumah pun di liburkan,..."


 Gebrakan meja kasar terdegar Gallen terlonjak dari tidur singkat nya, ia menegandah melihat asisten Yun yang berada di atas tempat ia berbaring Asisten Yun sedikit gugup melihat sipat tuan nya berbeda.


" Sekarang tanggal berapa?" Zidan menatap Gallen dengan pandangan yang dingin.


" 21 Januari . . .'


" Sial . . " 


 Zidan beranjak dari sana ia menerobos hujan yang di sertai oleh badai, mengemudi kendaraan roda empat itu dengan kesurupan sesekali mengelakson mobil di depan nya. Kenapa ia bisa lupa bahwa hari ini adalah hari berakhir nya kontrak satu tahun dengan wanita licik itu.


 Gallen dan asisten Yun mengekor dari belakang menerobos badai di sertaii petir yang menyambar di langit. Kilatan biru terdegar menakutkan.


“ JEDERR . . . ”


“ JEDERR . . . JEDERR . . .”


 Guntur saling bersautan.


 Daun-daun berhamburan jatuh ke tanah


 Zidan keluar dari mobil nya dengan kasar


Berlari sekencang-kencangnya ke arah pintu. Ia mendobrak pintu kokoh itu tak mempedulikan rasa ngilu di tangan nya.


" JLEBB "


 Mata nya menahan melihat nya. Rahang nya mengeras, gertakan gigi terdegar bersautan Zidan melangkah kan kaki penuh akan kemarahan.


 Gallen dan Yun pun tak kalah kaget melihat pemandangan di depan nya mereka yang baru saja keluar dari mobil langsung berlari kesana.


" SIALAN . . ."


 Zidan mengerang kasar menggoyangkan tubuh di hadapan nya. Darah segar semakin lama semakin banyak baju nya di penuhi oleh darah yang keluar dari area bawah nya. Wajah nya pucat basi detak jantung nya semakin lama semakin melemah.


 Tubuh yang terduduk di area anak tangga dengan darah yang mengalir menuruni setiap anak tangga membuat ukiran indah yang terlihat.


 Rumah sakit . . .


 Gallen tengah menunggu penuh harap dengan kecemasan yang begitu Basar, sesekali ia memegang lengan adik nya yang perlahan mulai mendingin bagaikan seorang mayat. Gallen tak ingin kehilangan adik kecil nya walaupun dia bersikap nyebelin tapi bagi Gallen adiknya adalah harta yang harus di jaga dan dunia nya.


" KRETT"


 Pintu terbuka.


  Seorang dokter wanita datang dengan map merah yang berada di gengaman tanggan nya. Ia mengecek nadi shella sesekali menancabkan jarum infus yang longgar.


" Dok bagaimana keadaan nya . . .?"


" Nona ini terlalu ekstrim ia memakan obat-obatan dengan jumlah besar membuat diri nya keguguran aborsi seperti ini sangat lah bahaya bukan hanya untuk janin yang dikandungnya tapi untuk ibu nya juga ..."


" Obat-obatan?" Ulang Gallen kearah dokter wanita yang sudah berumur itu.


" Maaf kan saya, saya dulu mengajarkan nona ini cara meracik racun dan obat-obatan karna saya harap bisa menjadi seorang dokter yang hebat, hanya saja saya tak tau jika nona ini akan sangat ekstrim,"


" Bagaimana dengan kondisi tubuh nya?" Tanya Gallen lagi memastikan keadaan adik nya.


" Setelah janin nya keguguran, rahim nona ini terluka peluang untuk mengandung hanya 15% itupun jika nona ini tak bertindak semena-mena lagi . . ." Gallen mengeram kesal ia tak menyangka adik nya yang begitu lucu bisa melakukan perbuatan seperti itu bahkan hewan pun tak membunuh anak nya sendiri.


" Makasih dok,"


" Saya permisi tuan,"


 Gallen menatap kearah Zidan yang tengah berdiam diri di kusen jendela mengedarkan pandangannya yang kosong ke arah bawah gedung. Gallen mengerti pasti sangat sulit bagi sahabat nya anak yang ia tunggu sampai sekarang malah di gugurkan oleh wanita yang ia cintai alasan yang pasti adalah kebencian nya pada Zidan.


" Zi"_+


" Aku ingin menenangkan diri," Zidan keluar dari ruangan ia  berjalan ke arah parkiran masuk kedalam mobil sport milik nya.


 Jalanan terlihat sepi dan sengan tak ada kendaraan sama sekali jam menunjukkan sudah pukul 2 malam waktu yang bagus untuk terlalap dalam buaian selimut yang tebal.


Tiba-tiba di hadang oleh 3 mobil di depan nya. Spontan ia langsung menghentikan laju mobilnya.


" Sialan!!" Di pukul nya setir mobil dengan kasar" Ada apa lagi sekarang?!" Runtuk nya kesal sambil merogoh pistol dari balik baju nya.


 Mood nya sedang tidak bagus sekarang.lalu, dengan kasar di buka nya pintu mobil dengan kasar. Sudah biasa bagi nya di hadang atau di ikuti tapi karna Sekarang ia butuh pelampiasan Zidan Tersenyum licik ada mangsa yang mengantarkan nyawa nya sendiri.


 Tatapan nya menahan. Rahang nya mengeras. Di depan nya berdiri 30 orang berbadan tegap dan bongsor.


" Ada urusan apa kalian? Mood ku sedang hancur lebih baik kalian pergi selagi aku sedang berbaik hati!" Ucap nya dingin.


Namun tetap saja segerombolan itu tetap menghadang.


" Kami menemui mu ingin memberikan ucapan selamat karna istri dan anak mu dalam kondisi yang tragis." Ujar nya. Salah satu yang berdiri di depan orang yang memimpin segerombolan orang itu.


" Hah! Kau tau dari mana apa ini ulah mu? Aku bisa menghabisi mu dalam kurun waktu beberapa detik" Mereka sendiri yang mengantarkan nyawa nya. Sudah cukup ia tak ingin berbelas kasihan lagi, ia butuh pelampiasan sekarang juga.


" Bunuh dia”


 Mereka berlari dan menyerang Zidan dengan sangat brutal.


1 vs 30


 Serangan demi serangan ia tangkis. Pukulan demi pukulan ia hindari. Tak jarang ia juga  membalas pukulan itu, ntah kenapa kekuatan nya seakan meningkatkan sekarang bayangan darah yang mengalir di anak tangga membuat Zidan seakan kerasukan ia membalas pukulan mereka dengan cepat tanpa mereka sadari satu demi satu mereka terbengkalai di jalanan.


1vs 1


 Pertarungan semakin sengit, sekarang hanya tingal dua orang yang tersisa.


Sean menyeringai memegang sudut bibir nya yang berdarah, denga Lucah ia menyerang ketua nya dengan cepat tanpa bisa di hindari oleh nya.


 Nafas nya terengah-engah, musuh nya sudah tumbang tergeletak di pinggiran jalan.


Zidan menyeringai.


" DOR . . ."


 Peluru keluar dari pistol di tangan nya. Menembus permukaan kulit satu persatu milik musuh nya.


 ~~~~~~~


 Sementara itu shella tengah duduk di ruangan rehabilitasi. Kejadian beberapa hari lalu membuat mental nya sedikit merosot apalagi saat zidan datang dan mengamuk ke arah nya, ia mencaci dirinya dengan kata kasar membuat shella hanya bisa menelan ludah nya saja.


 Gallen berada di depan nya membawakan sebuah benda tipis pada nya.


" Shella apa kau yakin?" Tanya nya lagi memastikan keputusan adik nya itu.


" Aku yakin kan! Aku ingin pergi dari negara ini sekarang juga," ia menatap Gallen dengan Tatapan sedu nya.


 " Ambil paspor ini . . . Apapun keputusan mu pergilah sebelum Zidan tau," ia memberikan benda tipis kearah nya.


 " Kabur setelah membuat masalah kau memang tak berubah nona shella Higashi ..."


 Suara bariton itu membuat mereka berdua mengalihkan perhatian nya.


" Zi- Zidan sejak kapan?" Tanya shella dengan gugup serta ada sedikit ketakutan.


" Pertama menghancker henfoun ku


Kedua mengugurkan anak ku


Ketiga ingin kabur dari ku? Maaf nona shella Wijaya aku tak selembut itu," ucap nya lantang membuat shella meneguk Saliva nya.


" Kontrak kita sudah selesai! Perjanjian itu sudah tak beratri kenapa aku harus percaya pada mu?"


" Aish, kau memang pintar tapi kebohongan mu itu masih ada celah . . . Aku sudah membeberkan pernikahan kita mulai saat ini semua orang akan tau kau adalah istri ku," Nada yang sarat akan penuh ancaman.


"  Kenapa kau tak melepaskan ku saja, apa yang bisa kau lakukan pada ku?" Triak shella frustasi.


 " Kau memang tak relevan, dua orang yang tidak relevan kenapa harus bersama?' 


" Shella aku ini suami mu, relevan apa jika aku memberikan pilihan kau bisa memilih?" Senyuman jahat penuh kelicikan terlihat.


" Tentu saja jika aku punya keputusan," balas shella singkat.


" Aku memberi mu dua pilihan hidup bersama ku atau cerai berikan aku jawaban setelah tiga hari," Ucap Zidan sinis ke arah ku.


" Kau akan mengetahui kebohongan ku selama ini..."


" SIALAN KAUU" triak shella.


 Para suster dan dokter berhamburan keruangan itu. Memberikan suntikan yang mengandung obat penenang membuat shella pingsan Gallen hanya bisa menatap sedu dan suram ini awal baru yang mungkin akan sulit untuk mu shell***.