The Cunning Gril's Regret

The Cunning Gril's Regret
Berakhir



Shella kini tengah kesakitan dada nya panas seakan mencabik-cabik daging nya dari dalam tubuh nya mulai lemas.


 Shella menatap hamparan lautan yang indah seakan menyambut nya untuk melompat kedalam nya.


" Shu aku menyayangimu mu selalu sampai kapan pun,"


" Selamat tinggal Shu,"


 Shella merentangkan kedua tangannya dan mulai memejamkan mata nya, melemaskan seluruh tubuh nya ia melompat dari tebing yang curam itu.


 Ombak menerjang batu karang dengan ganas dan kuat seakan memperingat kan nya Siapa pun yang masuk kedalam gulungan ombak tak akan pernah bisa kembali lagi.


" Shu ," Cairan bening keluar dari mata nya 


 Tubuh itu kini melayang di udara siap menghempas kedalam dasar lautan yang dalam.


" BYURRR "


" SPRASS"


 Tubuh itu tengelam dalam air yang biru itu Menghilang tanpa jejak.


 


 Hari itu hujan menguyur kota Kini Shu tengah menatap jendela dengan tatapan kosong nya merasakan hembusan angin dingin menerpa tulang nya, percikan air hujan sedikit masuk kedalam ruangan nya.


" Shu aku menyayangimu," 


 Shu terperanjat kaget melihat tubuh ibu nya memeluk nya dan hilang dengan sekejab ia menitis kan air mata seperti nya ibunya sudah tiada sekarang.


Kadang cinta memang tak selalu haru memiliki dan seseorang lebih cenderung dalam ambisi


cinta adalah sesuatu yang samar dan penuh akan nafsu yang tak tertahan kan.


Hanya saja Melepas akan sangat sulit dari pada menyimpan perasaan itu didalam lubuk hati terdalam. perasaan adalah sesuatu yang sangat sulit untuk di jelaskan namun memiliki arti mutlak.


" Dia sudah mati!" ujar Shu kearah Sean yang menatap hujan seakan menyampaikan sebuah perasaan.


" Shu!" pangil Sean lembut.


" Ibu telah mati! dia telah mati paman dia mati... dia meninggal aku sendiri paman," Triak Shu kearah Sean dengan kobaran api kemarahan.


" Shu, apa ku yakin Tante telah mati!" Tanya lembut Sean membuat Shu menganguk dalam pelukan nya.


" Aku tak bisa menjaga ibu paman! dia mati karna sumpah nya dia mati paman," Triak Shu histeris sambil membanting semua perabotan yang ada disana.


" Cukup Shu!"


seseorang muncul dari balik pintu membuat anak kecil itu memandang nya sinis


ia kembali beralih pada Sean yang terdiam dalam lamunan nya sendiri.


" Kau yang membuat ibu mati!"


" Shu!"


Zidan merangkul tubuh kecil itu mengusap nya menenangkan emosi dan kesedihan Shu yang berlarut-larut. tanpa sadar Zidan menitih kan air mata nya sudah cukup takdir mempermainkan nya.


Sekarang yang harus ia lakukan adalah menjaga Shu, menjaga buah hati antara dirinya dan shella membuat anak yang rapuh itu menjadi sosok yang kuat dan berwibawa ia bersumpah akan membuat Shu menjadi orang no satu di negara ini menjadi sosok yang di hormati.


Sean Tersenyum kecut memandang kosong keluar jendela, hati nya sedkit sakit memegang**


dada nya seperti sesuatu yang baru akan terjadi sekarang.


" Tan! Seperti nya jalan yang kau pilih akan membawa trauma untuk nya,"


guman Sean pelan. hembusan angin menerpa tubuh nya seakan memberikan sebuah pelukan hangat untuk yang terakhir kali nya.


jika kau mengenal kasih sayang kau juga akan menanggung kebencian dunia memang sangat sulit di hartikan yang jelas cinta adalah sesuatu yang tabu dan menyakitkan.