
***Hari ini adalah hari yang tak boleh di sia-sia kan oleh shella. Shella inggin mendapatkan sesuatu yang hanya akan ada di suatu tempat yaitu pasar malam. Berdiri di samping ranjang shella mencari-cari henfoun nya dan tak menemukan apapun di sana.
" Tck, aku lupa henfoun ku di banting," guman nya kesal.
Baju tanpa lengan menjadi pilihan nya, di tambah dengan celana jeans membuat kesan simpel untuk nya. Shella tak ingin berdandan ia terlalu malas untuk berada lama di depan cermin, rambut nya ia ikat tinggi dengan sedikit kepangan di sisi nya menambah nilai plus untuk dirinya.
Shella membuka lemari nya ia mendegus kesal tak ada tas satupun di sana ia lupa bahwa semua koleksi tas nya berada di Inggris dan dirumah Higashi terlalu lama berdiam shella memilih untuk tak membawa tas ia menuruni anak tangga.
Tak berselang lama seorang anak kecil tengah menatap nya kesal, bibir nya sedikit mengerucut tanda bahwa dirinya sangat marah akan wanita itu. Shella memegang lengan kecil itu dan memutuskan untuk tak membawa mobil sendiri ia tak bisa mengambil resiko yang tinggi lagi.
Reva Tersenyum ceria melihat wahana di pasar malam yang terlihat berkelap-kelip
Shella merasa sedikit tersenyum melihat keantusian gadis kecil itu.
" Tan! Ayo masuk," Ajak nya sambil memegang lengan shella memasuki kawasan pasar malam.
Di sinilah mereka berada ditengah-tengah orang yang berlalu-lalang menjadi satu dengan orang-orang yang berbeda karakter. Menelusuri pasar malam, hanya kita berdua shella dan Reva hanya mereka saja
Para pengunjung sibuk dengan urusan nya masing-masing. Reva menatap kemah yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, keantusian nya sedikit hilang ia menatap sosok yang berada di dalam kemah tanpa persetujuan wanita di samping nya ia berlari-lari menuju kemah itu.
" Reva tunggu," Shella mengejar anak gadis nya dengan tampang aneh ia melihat sekeliling kemah itu. Tak ingin membuang waktu ia berjalan masuk kedalam nya" Permisi apa anda melihat anak kecil_- ” ucapan yang terpotong melihat Reva tengah berada di pangkuan seorang tentara berbadan tegap dengan tampang dingin.
Ketiga tentara lain nya menatap shella dengan pandangan sulit diartikan, shella gelagapan ia bagaikan sepotong daging yang berada di tengah-tengah serigala lapar.
Tentara ganteng itu menurunkan Reva yang langsung berlari ke perlukan nya.
Shella menganjak diri nya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
" Papa! Kenapa papa ada di sini?" Tanya Reva pada sosok yang baru saja menunjukkan diri nya dari balik kemah lain nya.
" Reva! ”
" Papa ayo kita main! Boleh kan?" Tanya Reva dengan tampang lucu, membuat Gallen mimisan melihat tampang anak nya yang lucu.
" Reva mau main apa?" Tanya Gallen dengan antusias ia menunjuk ke arah kincir membuat mereka berdua pergi dari sana.
Sekarang hanya tingal shella sendiri di dalam kemah itu. Orang yang lebih tua berbicara pada nya" Zi temani istri mu untuk melihat kawasan ini . . Kau bebas tugas sekarang,” Zidan menghormat dengan tubuh yang tegap.
" Anu .. itu tidak perlu aku akan pulang saja”
" Nona sangat disayangkan jika langsung pulang, lebih baik menikmati malam ini saja," ucap tentara itu lebih tegas membuat shella menganguk.
Shella mendadak kesal di ikuti oleh seorang tentara di belakang nya membuat diri nya menjadi sorotan mata-mata yang sesekali tersenyum melihat ketampanan tentara di belakang nya. Shella bukan lah seorang putri atau penjabat untuk apa ia dikawal. Shella berhenti ia berbalik kebelakang mendekat ke arah Zidan yang diam dengan mode tentara nya.
" Aku bukan penjabat atau tuan putri! Semua mata melihat kita," Rajuk shella membuat zidan mengeyitkan dahi nya tak suka bagi nya shella adalah tuan putri yang harus dijaga dan di lindungi dengan nyawa nya.
" Kau merasa risih?" Tanya Zidan shella menganguk" Ada cara lain loh Nyoya Zidan Wijaya," Zidan memegang lengan shella
Shella berusaha untuk melepaskan gengaman nya itu tapi sia-sia karna Zidan semakin kuat meremas lengan nya.
Jari-jari nya bersentuhan dengan jari lentik milik shella rasa hangat itulah yang didalam. Semburan merah terlihat di pipi wanita itu.
Zidan Tersenyum tipis melihat wanita dihadapan nya hanya fokus melihat berbagai wahana yang berada di sana," Kau mau coba," Tunjuk nya pada salah satu wahana yang paling ekstrim yaitu rumah hantu.
Shella merangkul lengan kekar itu tubuh nya bergetar melihat sekeliling nya tak ada suara yang terdengar membuat rasa sunyi dan menyeramkan.
" Zi kumohon bicara lah! Aku takut," Shella menegelamkan wajah nya pada dada bidang Zidan yang terdiam tak merespon.
" AAAAAAAA"
Shella bertriak melihat hantu yang bergelantungan, ia langsung melompat ke pelukan Zidan dengan kuat tanpa ingin melepaskan nya sama sekali.
Zidan Tersenyum kecut melihat wanita yang berada di perlukan nya tanpa ingin melepaskan nya" Bagaimana rasa nya ketakutan dan tak ada respon dari nya, shell sekarang kau pasti mengerti kan bagaimana takut nya aku dulu saat kau meningalkan ku . . . Saat kau membenciku karna Kyo dan saat kau meminta ku untuk bercerai" batin Zidan Tersenyum sinis melihat shella yang tengah muntah\-muntah di kawasan yang tak ada orang nya.
Ia terlalu takut untuk bisa berdiri tubuh nya bergetar hebat, perut nya seperti di koyak\-koyak ia tak bisa lagi.
Pandangan nya semakin lama semakin memburam ia tak sadarkan diri.
Rumah sakit . . .
Shella Perlahan membuka mata nya orang pertama yang ia lihat adalah Zidan yang tengah duduk disampingnya nya, sebuah surat berada di lengan nya shella merebut surat dintangan Zidan kasar ia membaca setiap deretan huruf yang berada di sini
Jantung nya berdetak kencang saat melihat kata " POSITIF " dunia nya seketika hancur Bagaimana bisa ia hamil di detik terakhir kontrak pernikahan bahkan hanya tingal satu Minggu lagi sampai diri nya bisa bebas sepenuhnya.
Flash back
Zidan panik melihat istri nya berubah menjadi pucat, ia berlari kearah ruangan dokter yang ia kenal siapa lagi kalo bukan pemilik rumah sakit ini sekaligus paman dari istrinya.
Zidan menunggu dengan cemas ini salah nya jika saja ia tak membawa shella kerumah hantu maka dirinya tak akan berakhir seperti ini.
Pintu terbuka menampakan sosok yang tengah tersenyum ramah pada nya" Selamat istri anda sedang mengandung" ucap nya membuat Zidan tercengang kaget.
" Hamil?" Ulang nya lagi.
" Ia usia kandungan nya baru 2 Minggu," jelas dokter itu lagi membuat Zidan Tersenyum ramah dan berterima kasih.
Zidan masuk ruangan shella ia mengelus perut yang masih rata milik shella, ia sangat bersyukur akan dikaruniai anggota baru yang akan menyambut nya dengan senyuman imut atau tingkah lucu nya membuat Zidan tak sabar untuk merasakan momen itu.
Shella tak bisa menerima hal itu ia tersenyum manis kearah nya, untuk sekara
ng satu\-satunya cara agar Zidan tak terlalu mengawasi nya ketak hanya dengan berpura\-pura menerima kenyataan ini.
" Zi! Aku ingin pulang," ucap nya manja kearah Zidan dengan pandangan puppy eye nya.
" Aku masih harus berbicara dengan dokter dulu, apa ada yang kau inginkan ?" Tanya Zidan dengan mengecup pipi nya sekilas.
Shella tampak berpikir lalu ia mendapat kan ide" Zi bisakah kau membelikan aku martabak yang berada di dekat stasiun T?" Tanya shella dengan merangkul lengan kekar nya.
" Itu terlalu jauh sayang, tapi aku akan membelikan nya untuk mu," Zidan pergi meninggalkan tempat itu.
' apa emosi ibu hamil seperti itu sedikit sedikit manja, lalu marah, bertingkah imut dan kadang cemberut pikiran wanita itu lebih merepotkan dari strategi militer '
Zidan pergi ke arah parkiran ia memasuki mobil nya, dan melaju dengan kecepatan tinggi tanpa ia sadari sosok lain tengah berdiri di jendela Tatapan mata nya penuh kebencian.
" Ini permulaan," ucap nya singkat lalu mengusap kaca jendela di samping nya dengan lembut. Terlihat tulisan dengan uap nafas nya " Kehancuran " tulisan yang terpampang di benda bening itu***.