The Cunning Gril's Regret

The Cunning Gril's Regret
REVA



***Shella tengah terdiam menatap rembulan ini sudah satu jam dari kunjungan asisten yu ke kamarnya, ia terlalu malas untuk berpindah tempat ia sudah berjam-jam berada di pojokan ranjang menatap paparan sinar rembulan yang cerah.


* CKLEK *


 Suara kunci terbuka.


 Shella menoleh sedikit kebelakang zidan datang dengan nafas yang hos-hosan  Tak berselang lama tubuh kekar itu roboh di ranjang milik nya.


" Astaga dia demam," shella memegang dahi nya panas tubuh nya begitu tinggi.


 Jam menunjukan pukul 2 pagi sudah tak


Enak hati jika menyuruh pelayan menyiapkan kompresan, ia masih memiliki hati untuk tak menganguk orang yang telah menghabiskan diri untuk di repotkan untuk nya.


 Zidan mulai membuka mata nya samar-samar terlihat ruangan bernuansa biru dengan banyak nya boneka di sekitar ruangan itu, hal yang paling ia yakini ini adalah kamar shella.


 Ia mengambil kompresan yang berada di dahi nya, baju nya pun telah di ganti menjadi piyama tidur. Ia menoleh sedikit kesamping terlihat shella tengah tertidur pulas di sofa sambil memeluk boneka kelinci kesukaannya.


 " Sudah jam 8 pagi kah!!' ia manatap arloji di lengan nya.


" Kamu sudah bangun? Baguslah cepat pergi dari kamar ku," ucap shella dingin.


 Senyum kecut penuh kelicikan terlihat di bibir nya, ia meraih lengan mungil milik shella. Mata shella membulat lebar tak berselang lama suara keheningan pun terlihat.


 Pukul 12 .00


 Hujan deras mengguyur ibu kota.


Zidan sekarang tengah berada di kantor milik nya, di sibukkan dengan kertas-kertas yang menumpuk di meja nya.


Baju lengan nya di gulung sampai siku terlihat otot yang menonjol yang sangat sempurna. Bukti bahwa dirinya rajin berolahraga, kancing baju nya di buka dua menampakan dada bidang. Tubuh kekar yang bisa membuat para kaum hawa tergila-gila pada nya. Para kaum hawa pasti ingin merasakan betapa keras dan indah nya otot nya itu.


 Tapi mereka harus menahan dirinya karna bos nya itu tak ingin di gangu dan satu hal yang paling penting mereka paling takut untuk kehilangan nyawa mereka, setidak nya mereka masih bisa menikmati kesempurnaan yang tiada cela.


 Dibaca lalu di tanda tangani tiap lembar kertas itu. Dibaca penuh akan keseriusan dan ketelitian setiap kata dan kalimat tak luput dari pandangan nya. Ia tak ingin mengalami kegagalan dalam pekerjaan nya


 Pukul 3 sore baru ia bisa menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk itu. Kertas itu telah habis ia baca dan ditandatangani beberapa lembar perlu untuk direvisi dengan teliti.


' waktu nya pulang," Zidan meregangkan otot-otot yang mulai kaku karna terlalu banyak berdiam diri.


 Mobil Mercedez Benz itu melaju di jalanan yang di guyur hujan, asisten Yu fokus untuk menyetir. Pandangan nya kedepan melihat banyak nya kendaraan yang berlalu-lalang.


 " Presdir apa anda perlu kesuatu tempat?" Tanya asisten yu pada nya.


" Bawa aku ke mini market,"


 Mobil itu terpangkir di depan mini market Zidan keluar dari sana. Hujan mulai reda jalanan mulai sepi dan sengan Zidan kembali dengan beberapa bungkus plastik hitam.


  Mobil itu kembali berjalan zidan keluar dari mobil itu membuka pintu rumah nya terlihat sepi, hanya ada beberapa orang pelayan yang tengah menyiapkan makanan hangat beruba bubur dan yang lain nya.


 Langkah kaki nya membawa kearah kamar tanpa segaja ia melihat shella tengah menangis dalam pelukan maid yang paling tua.


" Bibi sakit! Hiks aku belum pernah merasakan sakit seperti ini saat datang bulan," Isak tangis nya mengadu pada maid yang hanya tersenyum.


" Karna nona mungkin baru saja " berbisnis" dengan tuan itu maka nya sangat sakit . . Taha lah bibir juga dulu seperti itu" elusan lembut mengenai kepala nya shella menganguk tapi tangisan nya masih belum reda malah semakin menjadi-jadi.


 Darah merembes dari ************ nya


Zidan menyuruh maid itu untuk pergi meningal kan shella yang masih menangis tak karuan.


" PLACK"


" Kenapa kau disini? Kau berengsek," ucap shella sambil memandang Zidan benci.


" Yah aku memang berengsek," balas nya cuek.


 " Bersihkan dirimu! Bau amis ini membuat ku tertantang," Shella membelototkan mata nya ia mengambil bingkisan itu dan pergi menuju kamar mandi.


 Butuh waktu lima belas menit shella menatap bingkisan yang Isi nya adalah berbagai merek pembalut, sejak kapan pria arogan dan dingin seperti nya bisa membelikan barang seperti itu.


  Para maid mengantar kan berbagai makanan hangat pada nya, shella ngiler melihat makanan enak dihadapan nya


Tapi prioritas utama bukan lah makanan.


" Bibi bisakah pinjaman aku telfon mu?" Tanya shella dengan jurus puppy eye nya.


" Ini Nyoya," ia memberikan benda pipih itu kearah shella yang dengan antusias menerima nya. Ia mengetik sebuah no dan mulai tersambung ke sebuah no yang ada disana.


[ Hallo! Ini siapa yah ?]


Tanya di sebrang sana.


" Aku shella, anjou bisakah aku minta tolong pada mu?" Tanya shella penuh akan harap pada nya.


[ Gadis bodoh! Hei hime-san aku mencarimu sejak kejadian itu kau menghilang lagi memang nya kau kemana saja. .?]


" Aku baik-baik saja untuk sekarang! Tolong kamu cari daftar nama seseorang untuk ku ?"


[Heh? Maksud mu tentang Giselle saingan mu saat di dunia model...?]


 Anjou mengigat kejadian seru beberapa taun yang lalu.


" Yah! Bisakah kau_-"


 " SEJAK KAPAN KAU TAK PATUH?" Ucap suara bariton dingin mengambil kasar henfoun gengam nya itu.


" Kalian keluar . . Ini Printah Nyoya tak boleh memegang ponsel atau benda elektronik lain nya siapa pun yang melangar akan di hukum," ucap nya penuh akan ancaman shella meneguk Saliva nya ntah kenapa ia begitu takut setelah kejadian itu, memori nya masih mengigat jelas saat henfoun nya di banting dan yang paling penting paspor nya di sobek.


Tap, tap, tap


 Suara langkah kaki Menuju kearah nya mereka berdua melihat kearah pintu terlihat sosok mahluk manis tengah Tersenyum dengan lollipop di lengan nya.


 Mata nya yang berbinar membuat shella langsung memeluk nya, spontan membuat Zidan menyingkir dari jalan nya.


" Sejak kapan kamu disini?" Tanya shella mencium balita berumur 3 tahun itu.


" Bibi! Ice cream!" Ucap nya singkat.


 Shella berjalan menuju kebawah dengan mengendong balita itu, ia menuju kedapur membuka kulkas besar mengambil satu cap es cream rasa stroberi untuk nya.


' bagaimana enak kan?" Tanya shella antusias bahkan ia lupa dengan rasa sakit yang tadi membuat nya menangis.


" Lumayan...!"


" Reva! Menginap bersama bibi kan, ayolah besok kita main ke pasar malam" ucap shella pada balita itu.


" Hmmm" balas nya dengan masih banyak camilan di mulut kecil nya.


 Senyuman licik terlihat shella telah merencanakan sesuatu dengan adanya Reva ia bisa lebih leluasa kemanapun dan sesuka nya***.