
***BEBERAPA HARI KEMUDIAN . . .
“ Nyonya anda tidak perlu melakukan semua ini,”
Seorang pelayan wanita berumur menatap nya tak percaya. Sesekali ia mengambil alih dan memberikan barang yang di perlukan oleh wanita yang di panggil Nyoya itu.
Sudah 5 jam lama nya mereka berkutik di halaman belakang villa tak ada seorang pun yang berani mendekat, mereka sudah tahu bahwa nyonya muda nya dalam kondisi mood yang buruk.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut wanita itu dirinya hanya fokus pada beberapa tanaman dan bunga yang ia tanam. Setelah selesai menanam ia berlarih menuju salah satu kolam dan mencabuti rumput liar yang berada di sana.
Bibi Ket Hanya bisa menggeleng kepala melihat tindakan nyonya muda nya itu, apa mungkin terlalu depresi hingga Seperti itu.
" Awww ___" Rintih nya.
Para pembantu dan penjaga mulai berlari ke arah nya dengan panik tak berselang lama seorang pelayan yang di kenal bibi Ket itu membawa sebuah kotak P3K.
Ia mengoleskan betadin setelah membersihkan luka itu, Sesekali mencabut duri tanaman yang bersarang di kulit tangan nya.
" Nyoya! Apa sebaik nya kita ke dokter?"
" Tidak perlu..."
" Tapi Nyoya______ bagimana jika luka nya infeksi?" Tanya bibi Ket mulai khawatir karna shella meneruskan kegiatan awal nya mencabuti rumput liar.
" Aku baik-baik saja . . . Kalian pergilah jangan anda yang menganguk ku lagi paham," Ucap nya penuh akan penekanan yang di dominasi nada dingin.
Para pelayan itu satu persatu beranjak pergi meningalkan shella yang masih fokus dengan benda tajam di hadapan nya, ia mengambil sebuah pohon ceri dan mengali lubang untuk menanam nya.
Keringat membasahi wajah cantik nya sesekali rasa perih membuat nya tertegun luka yang tadi mulai terbuka lagi.
Sebuah mobil Lamborghini Aventador berhenti di halaman depan.sosok jangkung berjalan dengan berwibawa tak lupa dengan perlengkapan ketentaraan nya.wajah nya yang terkesan dingin membuat nilai plus dalam tampilan keren nya.
Langkah kaki jenjang itu menyusuri setiap ruangan yang berada di sana, sampai akhirnya ia sampai disebuah ruangan yang berada di paling pojok villa itu.
Ia memasuki ruangan bernuansa abu itu
Menurunkan ransel ke ranjang dengan kasar. Membuka pakaian tebal itu dan melempar nya kesembarang arah. Pakaian di lantai itu di ambil oleh sosok lain yang berada di ruangan itu.
" Bisakah kau jangan terlalu jorok seperti ini!!" Ucap nya singkat dan menaruh nya pada ember yang baru saja ia bawa.
" Aku lelah!' balas nya cuek.
" Ais, makanan sudah siap mandilah lalu turun kebawah ..."
Shella berlalu pergi dari sana, sepasang mata ungu itu melirik nya dengan heran
Tak berselang lama ia masuk kedalam kamar mandi, menguyur tubuh nya dengan air dingin shower membiarkan tetesan itu menyegarkan tubuh nya.
Kurang dari 10 menit ia sudah berpakaian rapih dengan memakai pakaian santai biasa. Shella menoleh kearah datang nya suara bariton yang dingin itu.
" Kau masak apa?" Tanya nya dengan mendudukan diri nya kasar ke kursi.
" Pasta," ia menaruh sepiring pasta dengan parutan keju, membuat siapapun yang melihat nya akan meneteskan air liur nya.
Di tengah-tengah kegiatan mereka shella beranjak ke atas untuk mengambil henfoun nya, Zidan memakan makanan nya dengan nafsu tak menghiraukan sekitarnya.
Seseorang berjalan ke arah, ia menaruh undangan di hadapan nya Zidan Menatap dengan kedua alis nya yang terangkat heran. Wanita itu menghembuskan nafas kasar lalu memberikan dua buah coklat kehadapan nya.
" Undangan untuk pesta ayah besok."
" Kenapa aku harus kesana?" Tanya Zidan sinis membuat gadis di hadapannya nya menautkan sebelah alis nya.
" Terserah kakak saja! Ngomong-ngomong berikan itu untuk kakak ipar,"
Langkah kaki jengjang itu berbalik keluar ruangan, hentakan tumit sepatu hig hels itu beradu dengan lantai marmer yang mengkilap. Zidan memandang gadis kecil itu yang hilang dari balik pintu sedangkan shella yang baru saja kembali menatap dengan tampang heran.
" Untuk mu!!"
Ia mengeser dua coklat itu kehadapan nya.
" Tumben!" Ucap nya singkat.
Shella kembali ke dapur sambil memakan coklat di tangan nya. Ia membereskan kekacua akibat ulah nya, membersihkan perabotan bersama dengan mengelap kompor dan meja makan.
Sesandung kecil keluar dari bibir nya sesekali ia bergumam kasar mencaci maki seseorang dengan sumpah serapah nya.
" Shell besok kau ikut aku ke suatu tempat,"
" Malesss...."
" Tck, kau berani menolak?"
Shella berlari dari sana dengan tampang ketakutan melihat tatapan intimidasi dari Zidan yang seakan menusuk nya. Shella menatap pantulan diri nya di cermin terlihat sedikit lingkaran hitam di bawah mata nya. Ia mendengus lalu membaringkan tubuh nya pada ranjang king size milik nya.
Perlahan mata nya mulai berat ia pun mengantuk dan terlelap dalam tidur nya.
Amplok berada di hadapan Zidan mendengus kesal dan merogoh benda pipih yang berada di meja kerja nya.
" Hallo! Ada apa zi?" Tanya orang di sebrang sana dengan sedikit nada ferminim yang manja dan genit.
" Antarkan sebuah gaun yang elegan dan bagus! Ingat jangan terlalu terbuka,”
" Hufff! Baiklah nanti aku akan kirimkan,” Balas nya dengan nada lesu.
Zidan menghempas kan tubuh nya pada sofa di ruangan berlanjar. Ia melihat Poto wallpaper di henfoun nya dengan sedikit senyuman. Menggulung lengan baju nya ia kembali fokus untuk mengejarnya file dan dokumen di hadapan nya di tanda tangani lalu di di revisi itu lah yang ia lakukan tanpa ada celah sedikitpun untuk sebuah kesalahan sekecil apapun.
Shella terbangun dari tidurnya, ia menatap jam Sudah menunjukan pukul 10 pagi apa ia terlalu kecapean hingga tak mendegar suara para pelayan yang sedari tadi mengetuk pintu. Aku beranjak membuka pintu terlihat Bibi yang tengah membawa sebuah kotak dengan pita di sisi nya
Aku terheran-heran melihat isi dari kotak itu yang merupakan sebuah gaun. Tak ingin membuang waktu aku langsung mandi dan berpakaian rapih.
Gaun berwarna merah dengan motif bunga-bunga yang begitu elegan hanya saja bagian dada nya terlalu kecil membuat nya sedikit sesak. Di sinilah shella berada menungu jemputan yang akan datang setelah selesai make up, bibi muncul dan mengatakan untuk menunggu nya di luar.
TIN! TIN!
TIN! TIN!
Suara klakson mobil.
Aku mendongak ke arah depan sebuah mobil militer hitam terpangkir di halaman
Seseorang muncul dengan pakaian khas militer nya, beberapa lambang dan logo terlihat di kedua sisi nya. Kaki jenjang nya yang terbalut sepatu tentopel hitam mengkilap melangkah ke arah nya
Tatapan yang tajam membuat ku sedikit grogi semakin lama tubuh bongsor itu semakin dekat pada ku.
" Naik ke mobil!" Ucap nya lantang aku terlonjak kaget, dengan cepat masuk ke mobil militer itu mendudukan diriku di samping nya yang sedang menyetir.
" Kita akan kemana?" Tanya shella sedikit memberanikan diri nya menatap iris ungu di depan nya.
" Ke rumah keluarga Wijaya! Ingat jangan berlarian kemana pun tempat itu tak aman bagiku ataupun dirimu,"
Aku hanya menganguk saja Cukup lama kami berjalan memasuki aula rumah keluarga Wijaya, banyak orang di sana aku bingung harus apa dan memutuskan untuk berdiam diri di pojokan dengan beberapa minuman soda.
Shella sangat cantik di malam ini
Membuat para tamu memuji nya tak jarang mereka mendekati nya dengan sedikit godaan pada nya, Shella hanya bisa tersenyum dan menjawab dengan ramah para karyawan dan tamu undangan itu.
******* Sialan zi apa kau segaja meninggalkan ku sendiri hanya karna ingin bersama gadis kecil itu.....
Shella menguman kasar melihat kedekatan dua orang itu.
" Auhh apa kau punya mata hah, lihat gaun ku jadi kotor nih!" Runtuk seorang tamu undangan dengan marah pada nya.
Shella tanpa segaja menyengol seorang wanita menumpahkan minuman yang ia bawa ke baju nya, wanita di samping nya terkenal sangat arogan dan sombong bernama kemvita.
" Maaf nona aku tidak segaja," ucap shella sambil membersihkan gaun wanita itu.
" Tck. Jangan sentuh gaun mahal ku dengan tangan kotor mu," tepisan kasar membuat shella kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai.
" Hei gadis kampungan! Apa kau tau siapa aku? Aku ini seorang model lulusan universitas.....* Ucap nya sombong membuat shella terpancing amarah, ingin rasa nya ia mengulek tubuh wanita di hadapan nya.
" Maaf kan aku. Bagaimana kalo kita beli yang baru,"
" Beli..? Bahkan uang gaji mu selama setahun belum tentu bisa membeli nya," ucap kemvita di selingi tawa mengejek membuat shella mendengus kasar.
" Apa kau tau siapa perempuan ini nona kemvita? Dia adalah menantu keluarga Wijaya .... Apa anda ingin bermain api?" Tanya sosok jangkung ber- jas putih berjalan kehadapan mereka.
" Tuan Nichi ! Aku sungguh tidak tau, maaf kan aku!" Ucap kemvita dengan suara bergetar kehilangan nyali nya.
" Iss, hanya seorang model rendahan saja sudah berani menghina keluarga Wijaya,” ucap Kevin memandang nya tajam.
Kevin merangkul shella dengan tatapan sulit diartikan, tanpa mereka sadari sosok yang sedari tadi berdiri di pojok ingin rasa nya membawa perempuan itu dan memborgol nya agar tak jauh dari nya.
Hanya karna ia ada urusan perempuan itu sudah membuat masalah memang wanita liar batin Zidan memelas.
" Pergilah . . Sebelum kami menuntut mu karna menghina menantu kesayangan keluarga Wijaya," ucap nya penuh pemakaman akan kata kesayangan.
" Baik terimakasih tuan Nichi " Kemvita berlalu begitu saja dengan rasa malu yang besar.
Mereka jadi pusat perhatian shella menatap Kevin pemuda yang sudah tak ia temui setelah beberapa tahun itu.
Mereka menyingkir menghindari tatapan mata yang melirik nya aneh***.