
Kanya tengah terdiam bermalas-malasan di balik selimut nya tak jarang ia mengumpat kesal melihat deretan notifikasi dari rumah sakit tempat nya berkerja. Tak ingin ambil pusing Kanya menatap sebuah pangilan masuk di layar henfoun nya.
Ia menggeser tombol hijau itu menempel kan benda pipih itu ke telinga nya.
" Ada apa Kaka?"
[ Shella mau ikut kakak traveling ]
" Traveling kemana aja emang nya kak "
[ London kakak tunggu di bandara ]
Cukup lama Gallen menatap ke arah luar tak ada tanda-tanda bahwa gadis yang ia tunggu akan datang, ia menatap dua paspor yang telah ia siapkan sebelum nya.
Gallen menatap seseorang yang ia kenali tengah berjalan bersama dengan rombongan nya, mereka berjalan ke arah nya.
" Len apa yang loh lakuin di sini?" Tanya sosok itu sambil menatap atas bawah penampilan sobat nya yang terkesan beda dengan membawa sebuah ransel.
" Gue ada kerjaan sekalian mau liburan! Loh sendiri mau kemana?" Tanya Gallen melihat rombongan orang-orang yang tengah membawa sebuah kotak yang lumayan besar.
" Ada tugas untuk ke Amsterdam "
" Ouh semangat meeen! Gue juga lagi nunggu kedatangan Shella," jawab nya membuat Zidan menganguk mereka pun berpisah di sana. Terlihat Zidan memasuki pesawat dan lepas landas Gallen menatap penuh harap ke arah pintu.
Cukup lama ia menunggu ia ingin beranjak menuju pesawat dengan perasaan kecewa sebelum sosok cantik muncul dihadapan nya. Sosok gadis memakai gaun dengan bagian bawah transparan terlihat celana hotpants yang ia kenakan, kacamata hitam yang berteger di hidung nya dengan tangan yang menarik koper berwarna pink.
" Ayo berangkat"
Hanya dengan dua kata Gallen tersenyum damai ia merangkul adik kesayangannya nya. Mereka memasuki badan kapal Shella terlihat senang melihat pemandangan di hadapan nya.
Beberapa jam berlalu Shella dan Gallen menatap hamparan kota London yang indah sesekali Gallen memotret adik yah yang tengah kegirangan melihat pemandangan disana.
" Shell kamu mau kemana dulu?" Tanya Gallen lembut gadis itu tengah berfikir serius lalu menatap layar henfoun di lengan nya.
" London eye"
Gallen menganguk mereka menuju kesalah satu tempat menyewa mobil disana Shella terlihat antusias melihat pemandangan indah itu.
" Waww .... Sungai Thames yang indah"
" Apa kamu senang"
" Hmm lumayan "
Hari menjelang malam mereka kembali ke hotel penginapan disana mereka memesan dua kamar, cukup lelah menjelajahi London eye membuat Shella tertidur lebih awal.
Gallen menatap layar monitor di hadapan nya ia mengutak-atik laptop itu menyelesaikan semua tugas yang harus di selesaikan, ia menatap jam sudah pukul sepuluh malam ia beranjak ke bawah untuk bertemu klien yang sama sama menginap di hotel itu.
Shella berjalan ke luar hotel ia menatap mobil yang telah terparkir hari ini Gallen tak akan bisa menemani nya untuk liburan karna banyak urusan yang mendesak.
Shella memakai earphone nya menyalahkan mobil itu, melajuka kendara roda empat itu dengan kecepatan tinggi.
Beberapa hari berlalu mereka mengelilingi kota London di mulai London eye, Big Ben, buckingham palace,Madametussaund London semua tempat wisata mereka keliling tak menyangka mereka sudah berada di London selama seminggu lama nya.
" Kak kenapa sih kita harus ke Amsterdam sih?"
" Ikut aja, Zidan juga ada disana," wajah antusias Shella membeku mendegar nama Zidan membuat nya mendingin.
" Kita ke salon dulu" ucap dingin Shella.
Mereka menuju kesalah satu destinasi wisata Amsterdam. Tanpa segaja mereka berpapasan dengan Zidan dan kelompok nya disana mereka pun menuju rumah dimana tempat itu telah di sewa oleh Zidan.
" Zi kenalin ini adik gue nama nya Shella" Gallen menyengol lengan adik nya dengan lembut.
" Shella" ia mengucapkan nama nya dengan suara terkesan dingin.
" Zidan" ia membalas uluran lengan nya.
" Dimana kamar ku?" Tanya Shella setelah mendapat kan pertunjuk ia berjalan ke arah kamar nya meningalkan mereka.
Genap sudah Satu Minggu mereka disana
Shella hanya mengurung dirinya di kamar nya, Gallen yang telah menyelesaikan pekerjaan nya dan Zidan yang telah menyelesaikan misi nya memutuskan untuk menetap di sana.
Gallen ingin sekali memanjakan sang adik
Mungkin adik nya akan bosan dengan terus berada di kamar nya. Bukan tanpa sebab Shella mengurung dirinya iya tak ingin bertemu dengan Zidan.
" Aku harus segera balas dendam" runtuk Shella sambil mengikat rambut nya tinggi-tinggi.
" Kau ingin balas dendam pada siapa?" Suara bariton itu membuat nya tersentak ia melihat Zidan tengah menatap nya dengan pandangan aneh...
" Bukan urusan mu "
Shella menganguk setelah pintu tertutup ia melepaskan softlens mata nya untuk menutupi warna mata merah itu.
Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil mereka akan pergi kedesa kinderdijk
Desa yang terkenal akan 1000 kincir itu desa ini sering di kunjungi wisatawan untuk mencapai ke desa ini membutuhkan waktu satu jam.
" Kak aku ngantuk "
" tidur lah nanti kakak bangunin kamu ketika dah sampai " iya mengelus rambut adik nya dengan gemas.
" Len apa dia model itu?' tanya zidan yang sedari tadi diam.
" Hmm, Shella adalah seorang model"
" Hahaha model banyak gaya rambut aja diwarnai dua warna masa iya ujung nya doang warna merah," Ejek Zidan membuat Gallen mengerutkan kening nya tak suka.
" Ini warna asli"
" Ehhh "
Shella tergangu dengan percakapan kedua orang itu ia menguliat membuat Zidan sedikit melihat perut gadis itu yang putih bersih. Mereka pun sampai disana Shella menjauh dari kedua orang itu ia memutuskan untuk bermain ice chating.
Suhu dingin membuat Shella tak kuat lagi menahan nya, ia beberapa kali bersin membuat Zidan menatap nya dengan pandangan aneh.
" Minumlah"
" Makasih"
Zidan menganguk mereka menikmati salju dengan damai, tanpa segaja seseorang melempar kan kopi kearah Shella membuat baju nya basah.
" Maaf tuan Kenapa anda tak sopan?" Zidan berdiri menatap pria paruh baya bertubuh tegap itu.
" Gadis kecil ikut om yuk, kita nikmati malam ini berangan menuju ke surga" Sosok lain nya muncul memegang lengan Shella dengan kuat.
" Lepas" Zidan menepis uluran tangan itu.
" Hei kau bocah, apa kau tak tau siapa aku? Aku adalah penguasa desa ini "
" Ouh jadi kalian kelompok SIO yang kabur itu yah?" Zidan meledek nya.
" Serang" Printah ketua nya.
Zidan dengan sigap menarik lengan Shella kebelakang nya, ia melindungi nya Shella sekilas menatap bayangan Kyo di pungung nya mata nya membulat membayangkan darah bercucuran dari tubuh Kyo.
" KYAAAAA" triak shela.
" Hei kau kenapa?" Tanya Zidan melihat Shella ketakutan, ia berjongkok tanpa sadar sebuah pisau mengarah pada nya Shella yang menatap itu dengan refleks mendorong Zidan membiarkan lengan nya tersayat.
SRETT
" ARGHH" iya merintih kesakitan luka itu mengeluarkan darah yang lumayan banyak.
Zidan menatap horor orang yang menusuk Shella ia menyerang nya dengan membabi buta melihat gadis kecil itu kesakitan.
Para penjahat itu terkapar tak berdaya dengan luka sayatan yang lebih dalam
Zidan menelpon posisi setempat tak berselang lama muncul polisi membawa mereka semua.
Shella berjalan mendahului Zidan yang mengekor di belakang, mata nya mulai sayu ia mulai merasa pusing merasa darah nya seakan membeku.
BRUKH
Ia kehilangan kesadaran nya dan terjatuh ke salju dingin.
" Hei! Bangun" Zidan menggoyang kan tubuh kecil itu, ia merobek baju nya membalut luka lengan nya dengan asal-asalan.
" Di saat seperti ini Len loh dimana"
Zidan mengendong Shella yang tak sadarkan diri, ada rasa khawatir di dirinya melihat gadis itu terkapar tak berdaya mereka menuju kesalah satu klinik.
" Zi Shella kenapa?" Tanya Gallen dengan nafas hos-hosan.
" Kita di serang kelompok SIO, gue kira kelompok itu dah gue beresin teryata ada yang kabur....
" Sudahlah yang penting loh selamet" iya menepuk bahu nya pelan.
Gallen masuk ke ruangan Sheila membiarkan tentara itu menunggu di luar Sheila mengejapkan beberapa kali mata nya hal pertama yang ia lihat adalah Gallen.
" Kak semua berakhir kacau" Shella memanyunkan bibir nya.
" Sudahlah "
Gallen menghibur adik nya karna traveling mereka gagal. Shella semakin benci akan Zidan karna setiap mereka bersama maka ia akan bernasib sial.