
***Zidan tengah membaca koran di sofa sesekali mata nya merilik ke atas dimana tempat shella berada, sejak di rumah sakit ia tak keluar kamar sama sekali sekalipun ia menemui nya pasti wanita itu akan bersikap dingin dan acuh membuat Zidan hanya bisa menghela nafas bersikap sabar ini ujian.
Shella membuka pintu kamar nya ia mengedarkan seluruh pandangan nya
Berjalan menuju ke arah sofa dimana Zidan tengah menyeruput kopi nya dengan tenang, shella merasa Zidan terlalu memperhatikan nya bahkan ia mengejakan berkas nya di rumah kadang di kamar shella membuat wanita itu tak bisa bersikap tenang.
Uluran tangan menghadap pada wajah Zidan yang menatap nya aneh.
Zidan memberikan cangkir kopi itu membuat wanita itu mendegus kesal dan menaruh kembali di meja.
" ATM” ucap nya singkat.
" Kau mau kemana?" Tanya nya membuat shella menatap mata ungu Zidan dan mengecup kening nya sekilas.
" Berlanja,"
" Aku akan menemanimu," Zidan hendak beranjak dari sofa nya sebelum shella mendorong tubuh nya Hinga tetap duduk di sofa, ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik zidan berada dalam pangkuan laki-laki itu sesekali mencium aroma mint yang harum.
" Tidak perlu! Aku ingin sendiri . . Berikan ATM nya ,"
" Tidak, aku akan menemanimu," Tegas nya.
" Gak jadi," ketus shella sambil beranjak menuju ke atas ingin kembali ke kamar nya sebelum tangan kekar itu menghentikan nya.
" Hati-hati di jalan," ia memberikan tiga kartu hitam pada nya, shella mengambil semua kartu itu dan berjalan menuju parkiran disana taksi telah menunggu nya.
Zidan mengambil henfoun nya dan menelpon salah satu bawahan nya
Pandangan nya menatap kearah pungung shella yang semakin lama semakin menjauh ntah kenapa perubahan sipat shella membuat nya tak tenang.
" Hallo bos!"
" Terus awasi dia," ucap nya singkat lalu mematikan sambungan telpon itu.
" Ish, dasar bos" Rajuk di sebrang sana lalu beralih pada layar monitor di hadapan nya.
MALL....
Shella menatap deretan baju dan tas ia beralih pada toko makanan dan masuk kesalah satu toko mainan. Tatapan nya melihat anak-anak kecil yang tengah bermain bersama orang tua nya membuat hati kecil ini seakan di remas.
" Aku iri," ucap nya melihat anak-anak yang berlarian begitu saja.
Tanya segaja ia melihat kesamping dimana seorang anak tengah menangis.
" Huwaaa mama dimana papa?" Tanya nya dengan Isak tangis.
" Sayang papa mu sedang bekerja," Ucap wanita itu sambil mengelus rambut hitam putra nya.
" Mama selalu bilang papa kerja. Tapi papa tak pernah pulang kenapa ma? Apa papa tak menginginkan ku lagi? Apa papa membuang ku kan mah hiks,"
Jlebb
Shella memegang dada nya sakit itu yang ia rasakan, Bagaimana bisa orang tua yang tak menginginkan anak nya membuat shella teringat akan masa lalu nya.
" Mama kenapa aku di lahirkan hiks. . Lebih baik aku tak pernah ada saja agar mama tak merawat ku," ucap anak itu kembali shella mendegarkan semua pembicaraan anak dan ibu itu.
Wanita itu mengusap rambut nya pelan dan memeluk nya erat menenangkan anak nya yang terus saja menangis tak henti-hentinya.
" Sayang! Papa sayang padamu kok jangan nangis lagi,"
" Permisi! Kenapa kamu menangis?" Tanya shella mendekat ke arah anak itu yang tengah argumen itu.
" Nona maaf membuat anda tak nyaman," Ibu nya meminta maaf membuat shella mengeleng.
" Aku punya beberapa mainan, tadi nya untuk anak ku tapi karna kamu imut aku berikan pada mu yah," ia memberikan kantong mainan yang ia bawa ke arah anak kecil itu yang mendadak senang mendapat mainan itu.
" Makasih Tante,"
" Sama-sama berhenti menangis yah! Tante pergi dulu," Shela beranjak dari sana.
16 tahun yang lalu. . .
" Nek mama dan papa ada dimana? Kenapa shella tak bisa bertemu mereka?"
Sosok imut menatap kakek nenek nya dengan penuh harap mengharap kan jawaban yang sesuai.
" Apa mama dan papa membuang ku yah?" Tanya shella lagi membuat tatapan kedua orang itu memelas mereka memegang shella memegang dagu anak itu dan mengecup nya penuh akan kasih sayang.
Kedua orang tua itu mengambil sebuah kotak yang berada di laci kamar mereka
Argumen demi argumen terucap dari bibir mereka.
" Shella semakin lama semakin besar
Bahaya untuk kehidupan nya cepat atau lambat ia akan mengetahui bahwa dirinya di buang oleh wanita ****** itu,” Seru nya dingin.
" Ini salah ku karna tak bisa menghentikan pernikahan mereka . . Jika saja aku bisa menghentikan mereka maka shella tak akan lahir diri nya tak akan menderita seperti ini,"
" Kamu benar! Orang tua mana yang tega membuang anak nya sendiri hanya demi seorang anak haram milik nya, mewarisi kekayaan yang tak akan bertahan lama..."
" Kuharap nanti nya kita bisa memberikan kehidupan yang baik untuk cucu kita,"
" Yah! Untuk nya Digo telah memberikan semua nya pada putrinya sebelum ia menghilang. . ."
Tanya mereka sadari sosok lain tengah menguping pembicaraan mereka. Mata nya berkaca-kaca cairan bening keluar dari mata nya seperti yang ia duga bahwa ibu nya membuang nya. Tanpa shella sadari aura kebencian sudah tertanam sejak ia kecil Hinga terbawa semakin besar kebencian itu setiap saat membuat shella menjadi pribadi yang sombong dan arogan apalagi setelah mendegar pembicaraan itu.
\* BLAMM \*
Pintu di buka kasar.
Zidan yang tengah mengejarnya dokumen nya menatap heran kearah istrinya yang datang dengan aura membunuh yang kuat.
' kenapa dengan nya '
Ia menaiki anak tangga dan mengunci pintu kamar nya.
" HIKS\-Hiks huwaaa,"
Isak tangis nya pecah, kesedihan yang ia tahan selama bertahun\-tahun pecah begitu saja seharus nya tadi ia tak pergi ke mall saja.
Tok, tok, tok
Pintu di ketuk terdegar suara Zidan yang terdengar hawatir" Shell buka pintu nya! Atau aku dobrak," ucap nya.
Tak ada sahutan sama sekali. Zidan mendobrak pintu itu dengan kasar terlihat shella yang tengah menyandarkan pada kusen jendela, mata nya sedikit bengkak karna terlalu banyak menagis sedari tadi tanpa menghiraukan siapa yang datang .
' Rencana ku pasti mulus***,'
