The Cunning Gril's Regret

The Cunning Gril's Regret
Rasa curiga



Zidan tengah diam di kursi kebesaran nya dan menunggu Hendra untuk mencari tahu kebenaran tentang Shella yang akhir-akhir ini membuat nya galau.


Tok, tok, tok...


" Masuk"


" Presdir gawat! Saham kita merosot dengan cepat !!'


" Apa ?'


" Seperti nya ada seseorang yang meng hancker perusahaan kita. Bahkan keamanan kita dapat di tembus bagaimana Presdir?" Hendra menatap atasan nya dengan wajah ragu-ragu menunggu jawabatan.


" Selidiki tentang itu,"


 Zidan menatap dokumen di laptop nya wajah nya terlihat geram melihat saham perusahaan nya merosot.


" Oh yah tuan tentang nona Shella ada titik terang, nona Shella sejak lahir di besarkan di Amerika kehidupan nya pas-pasan ia bahkan sempat menjadi gelandangan sampai akhir nya menjadi model di umur nya yang ke 12 tahun. Shella masuk ke universitas kedokteran saat usia nya 15 tahun sejak itu keberadaan nona Shella di rahasiakan ....


" Oh, menarik! Lalu bagaimana dengan Kanya ?" Tanya nya dingin.


" Nona Kanya menurut informasi sangat lah rahasia keberadaan nona Kanya sangat samar, ada saksi yang bilang nona Kanya berasal dari lulusan universitas kedokteran Amerika dan memulai debut nya di kota ini sekitar tiga tahun lalu . . Menurut Steve keberadaan nona Kanya dan Shella sangat rahasia dan berdekatan,,,,,,"


" Jadi dia membiayai hidupnya nya dengan gaji sebagai dokter" Senyuman devil tercetak jelas.


 Hendra meningal zidan yang tengah kalut dengan pikiran nya, Zidan menatap dokumen-dokumen di hadapan nya terlihat dua Poto disana yang menurut nya sangat mirif hanya rambut dan bola mata yang beda.


 Kanya aku akan membuat mu menjadi milik ku hanya milik ku Zidan Menatap kedua foto itu


kanya sedari tadi tengah fokus dengan laptop nya ia mengutak-atik laptop nya senyum jahat tercetak jelas di bibir nya


Kelicikan nya membuat perusahaan Wijaya bangkrut adalah masalah waktu.


Kanya yang di juluki wanita jenius dalam bidang hacker bisa menjatuhkan beberapa perusahaan besar dengan membuat virus dan menembus keamanan setiap perusahaan musuh nya.


  Kanya menatap arloji di tangan nya yang menunjukkan pukul 10 malam tanpa sadar memata-matai perusahaan Wijaya membutuhkan waktu seharian untung saja hari ini pasien operasi tak banyak membuat nya bisa beristirahat dengan lega.


" Akh cape nya " Kanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


" Seperti nya aku ingin makan baso sudah beberapa Minggu tak memakan nya"


 Kanya berjalan dengan girang ia menuju ke parkiran disana sangat sepi tak banyak orang berlalu-lalang, Kanya menghentikan kegiatan yang hendak memakai jaket nya karna suara bariton dari arah belakang.


" Kalian . . Kenapa berada di sini?" 


" Teryata kau memiliki dendam pribadi pada ku nona Kanya," iya memegang lengan Kanya dengan kuat membuat Kanya kesakitan.


" Lepas apa kau mau mematahkan lengan ku?" Iya memberontak.


 Zidan menghempas tubuh Kanya hingga tersungkur ke jalanan ia menatap Kanya dengan pandangan devil mengigat bahwa kanyalah yang menghancker perusahaan nya membuat dirinya rugi beberapa miliar.


" Kau membuat perusahaan ku hampir bangkrut dengan menghancker nya" ia mencekik leher Kanya membuat Kanya kesulitan bernafas. Kanya memberontak ia menatap tatapan mata Zidan yang begitu tajam.


" Memang nya kenapa jika itu ulah ku uhukk-uhukk" iya terbatuk-batuk.


" Tangkap dia jebloskan ke penjara "


" Memang kau kira aku tak bisa mengendalikan pemerintahan?" Ejek Kanya membuat Zidan memberikan beberapa lembar foto.


" Sialan, apa yang kau lakukan pada Sean" iya melihat Sean tengah di ikat dengan penuh memar.


" Hanya ada dua pilihan mu ikut bersama ku atau diam di balik jeruji besi tapi aku tak bisa menjamin keselamatan bocah itu,,,,,,,


 Kanya menatap penuh kebencian ia tak ingin kehilangan lagi, Zidan membawa Kanya kesalah satu mobil yang terpangkir mereka menuju sebuah rumah yang sangat besar.


 Kanya turun dari mobil nya ia melihat halaman yang luas, dengan taman bunga yang indah, air mancur yang tinggi membuat Kanya sedikit terpana mereka menuju kesalah satu ruangan yang ada di belakang rumah itu.


" Sean"


" Tan-te" lirih nya.


" Bertahan lah ... Maaf karna aku kamu jadi seperti ini," iya memeluk Sean yang penuh akan luka.


" Tolong bawakan obat untuk nya" triak Kanya kearah Zidan yang terdiam tak merespon.


" Kumohon, apa kau ingin membunuh orang yang berharga untuk ku lagi" Kanya berlutut di hadapan Zidan membiarkan harga diri nya turun di hadapan pria itu.


" Asal kan kau bisa berjanji untuk membantu ku menghancker beberapa perusahaan?"


 " Aku janji"


  Kanya membopong Sean menuju ruangan kesehatan disana iya mengobati Sean dengan air mata yang terus terurai.