
"*Duh! Kepala ku sakit, Kemarin apa yang terjadi?"
" Kau sudah bangun shell,"
Shella menatap orang yang berbicara pada nya, ia melongo melihat orang itu yang baru saja keluar dari kamar mandi, hidung nya tiba-tiba mimisan dengan cepat ia beranjak pergi ke kamar mandi.
Shella mengisi penuh bak up nya dengan air dingin, ia merebahkan diri nya
Seperti nya ada sesuatu yang terjadi tapi apa? Shella memijit kepala nya menenggelamkan wajahnya nya bak up itu.
Ingatan nya mulai pulih, dimana ia minum alkohol sampai mabuk. Lalu diri nya menaiki mobil bersama Zidan, mereka pergi ke kantor catatan sipil mata nya membulat.
" SEMONGGA LANGENG,"
Suara kakek paruh baya itu menyadarkan shella, ia memegang kepala nya" AAAAAAAA ," suara triakan mengema.
Alisa dan Gallen terlonjak kaget mendegar triakan itu, cepat-cepat mereka menuju keatas. Alisa langsung menerobos ke kamar mandi disana shella tengah terbaring di lantai dengan berlumuran darah dari lengan nya! Tak lupa ada serpihan kaca yang menyayat lengan nya.
" Kalian tolong berikan baju untuk shella," triak Alisa dari dalam, dengan cepat Zidan memberikan kameja nya.
Setelah membantu shella berpakaian Zidan membawa gadis itu pergi ke rumah sakit. Luka nya lumayan parah banyak darah yang bercucuran membuat ia panik.
Zidan membaringkan shella di ranjang rumah sakit, menunggu dokter selesai memeriksa nya. ketiga orang itu melihat penuh cemas ke ruang IGD itu Alisa sesekali menegang membuat Gallen panik.
" Apa kalian keluarga pasien?" Tanya dokter yang baru saja keluar.
" Yah, saya kakak nya," Gallen membalas ucapan dokter nya.
" Begitukah? Luka nona shella tak parah, serpihan kaca itu tak mengenai urat nadi nya," ucap dokter itu pada mereka, ia telah lama kenal shella karna dia merupakan senior shella di rumah sakit ini.
" Apa bisa kami menemui nya?" Tanya Zidan.
" Dia terlalu stres. Jangan membuat diri nya terlalu depresi dengan menekan nya," Nasihat dokter itu lalu pergi dari sana.
Shella terbangun dari pingsan nya, ia mencabut infus di lengan nya. Seperti nya mereka menolong ku ia beranjak pergi dari sana. Tanpa menghiraukan sosok yang tengah terdiam di sofa memperhatikan setiap gerak-gerik nya dari tadi.
" Kau ingin kemana Nyoya Wijaya," Suara bariton dingin itu membuat nya menoleh.
" Kau lagi! Siapa yang Nyoya Wijaya marga ku Higashi," Bentak shella sambil menghela nafas kasar.
" Kembali ke tempat tidur! Kau seorang dokter kembali pasang kan infus nya atau aku akan mengumumkan pada media tentang pernikahan kita!" Ancam Zidan dengan tatapan devil membuat shella ketakutan.
" Bagus anak yang baik," ia mengusap kepala nya melihat shella memasangkan infus nya.
" Berikan aku kertas dan pulpen," ucap nya shella lebih mirip perintah kearah pemuda itu.
Zidan mengeyitkan dahi nya bingung, melihat gadis itu tengah asik menulis sesuatu, setelah selesai shella memberikan kertas itu ke arah nya
Ia membaca isi kertas itu yang merupakan perjanjian pernikahan.
Perjanjian pernikahan . . .
Pernikahan mereka tidak boleh terespon publik atau pernjanjian ini akan batal.
Pihak A tidak boleh menolak jika pihak B mengandung anak orang lain. Diri nya harus bisa menerima anak itu dengan sepenuh hati.
" Bagaimana apa kau bisa menuruti nya?" Tanya shella dengan tampang meremehkan karna ia segaja membuat perjanjian yang lumayan berat berharap dia akan menolak.
" Aku terima! Tapi kenapa harus menerima anak orang lain itu terlalu berat jadi aku menambahkan beberapa sarat. Pertama jika pihak A melangar perintah dari pihak B maka pihak A akan mendapatkan hukuman.
Kedua pihak A di larang untuk mendekati pria lain dengan alasan apapun atau pihak B akan memberikan hukuman.
Dan ketiga jika pihak A berusaha kabur meninggalkan negara ini maka pihak B akan membeberkan tentang pernikahan ini ke publik,"
" Apa! Sarat itu terlalu kejam untuk ku," Bantah shella membuat Zidan menyeringai kejam pada nya.
" Maka kau harus bisa menerima sarat ku, karna hukuman yang ku maksud adalah hubungan suami istri kau tak mau di rusak bukan," ia memegang dada shella pelan membuat diri nya meneguk Saliva nya dengan susah.
" Kapten kamu terlalu dekat, aku setuju masa kontrak ini setahun" Tegas shella membuat zidan terdiam.
" Jika kau sampai hamil anak ku maka tak ada jaminan untuk bisa bercerai kita akan terikat selama nya," Ucap Zidan menekan kata anak membuat shella membuang muka nya dengan rasa kesal yang menumpuk.
Zidan meningalkan tempat itu alasan Zidan menambah beberapa sarat agar membuat shella mengerti bahwa dirinya tak akan ada peluang untuk kabur, yang harus ia lakukan adalah membuat shella jatuh cinta pada nya atau membuat shella hamil anak nya dengan itu maka kontrak itu akan batal dan diri nya bisa bersama dengan anak itu sebagai tameng milik nya.
Mungkin memang kejam untuk anak itu
Tapi ini adalah satu-satunya jalan agar shella tetap berada di sisi nya, hanya untuk diri nya.
Shella berjalan pelan melewati Zidan yang tengah asik bertelepon, seketika sudut bibir Zidan terangkat melihat kucing kecil nya berusaha untuk kabur.
" Kau mau kemana shell?" Zidan menghentikan langkah shella yang tengah mengendap-endap.
" Ehehehe ... Anuu ak-aku mau ke salon," ucap nya gugup dengan bahu yang bergetar merasakan aura dingin dari Zidan.
" Benarkah” tanya nya dengan tatapan devil membuat shella gugup.
" Ahk! Kenapa memang nya? Kapten kau tak bisa mengekang ku aku berhenti jadi model karna ulah mu lalu apa aku harus mati kebosanan di rumah ini hah,"
" Bukan nya kau ingin ke salon pergi lah! ” ia memberikan dua kartu hitam limited kepada nya.
" Kapten jangan menyesali tindakan mu memberikan kartu ini," Senyuman jahat tercetak jelas di bibir shella.
" Kau hanya belum tahu saja. Aku ini siapa?' Kata Zidan dengan nada anggkuh membuat mental shella sedikit menciut melihat salah satu sifat yang tak terduga dari dirinya.
Shella pergi ke arah pintu disana sebuah taksi online yang ia pesan telah menunggu nya, shella langsung masuk kedalam taksi yang meningal kan kediaman itu*.