
***Zidan membanting tubuh shella ke arah ranjang, gadis itu tanpa segaja terpeleset saat ingin berdiri tubuh nya mengenai permukaan meja membuat darah segar mengalir dari dahi nya.
Desiran nafas tak teratur. Otot-otot lengan nya menonjol. Hawa panas menyelimuti ruangan itu
Tatapan mata Zidan seolah ingin memakan mangsanya nya yang empuk dan lezat" jangan memancing kemarahan ku!" Ucap nya dingin dengan suara nya yang sedikit tercekal.
Shella meraih sisi meja ia berdiri dan berdecih sebal, ia terlalu meremehkan orang dihadapan nya ia baru saja mengetahui sisi baru dari suami nya itu.
" Memang nya kenapa itu kan salah mu . . Jika saja Kyo tak mati aku juga akan hidup bahagia bersama nya,” Ucap shella Menatap bola mata ungu di hadapan nya.
Zidan tak tahan akan sikap kekanak-kanakan dari istrinya, tangan lengan kekar nya mencekik leher shella tubuh nya sedikit terangkat. Shella menatap nanar leher nya rasa nya akan patah, ia berjingkit-jingkit berusaha menopang tubuh agar tetap bisa menginjak lantai.
Otot lengan nya mulai melemas, shella terjatuh ia beberapa kali terbatuk-batuk Zidan duduk di pinggiran ranjang. Menstabilkan emosi nya hampir saja ia menyakiti istrinya lebih jauh lagi.
Drtt ... Drtt ... Drtt...
Suara henfoun memecah keheningan di antara mereka.
Shella mengambil benda pipih itu Ia tak ingin di cap wanita lemah walau Tatapan Zidan menyuruh nya untuk mengabaikan telpon itu, wajah shella seketika berubah ia mengambil tas yang tak jauh dari tempat ia berada dan merogoh paspor nya.
" Kamu menemukan informasi tentang Kyo! Aku akan terbang ke Inggris sekarang"
[ Shell kenapa suara mu? Apa kau sakit aku saja yang ke sana? ]
" Tidak. Tolong jangan kesini! Jaga bukti itu aku akan segera menemui mu !!'
[ Baiklah! Aku juga menemukan surat yang di tinggal kan Kyo untuk mu ]
" Kyo, benarkah ?"
[ Iya ... ]
" MATIKAN SEKARANG JUGA " bentak Zidan.
Shella menelan ludah nya ia tak mengira kalo Kyo masih ada di dalam kamar, Kyo mengambil henfoun itu dengan kasar.
" Kembalikan _-"
" PLAKK "
Mata shella membulat tajam.
Ia menunduk dan memegang kepala nya menghindar dari bantingan henfoun itu yang hampir mengenai wajah nya,
Shella memungut benda pipih itu hati nya teriris melihat hal itu ia tak akan pernah memaafkan Zidan karna selalu mengusik kehidupan nya yang duluan tenang sekarang bagaikan seperti neraka bagi nya.
Zidan mengambil paspor shella dan merobek nya tepat di hadapan nya menghampurkan potongan kecil kertas itu air mata bercucuran dari mata hitam nya.
" Kenapa kau merobek nya!" Tanya shella dengan Isak tangis yang kali ini di perlihatkan pada nya.
" Jangan pernah bahas lagi tentang Kyo,"
" Aku tak mau! Ini salah mu karna mu Kyo mati. Aku tak akan memaafkan mu! Aku ingin bercerai cepat talak aku sekarang juga,"
" COBA KATAKAN SEKALI LAGI?'
" Talak aku sekarang juga! Aku ingin bercerai dengan mu,"
" Arghhh,"
" BRAKH”
Shella meringis menutup kedua mata nya melihat lengan berotot itu mengarah pada nya, kenapa tak sakit? Ia perlahan membuka mata nya lengan Zidan berlumuran darah. Yah darah Zidan membelok kan pukulan tadi hingga mengenai kaca di samping nya.
Shella ketakutan sunguh ia takut. Melihat Zidan yang sekarang beda yang dulu
Sosok Zidan yang selalu ia lawan dan menyebalkan sekarang berubah menjadi sosok yang kejam dan dingin.
" Zi! Aku ingin bercerai!" Dengan nada sedu ia memegang pengelangan tangan Zidan.
Zidan menepis nya kasar, ia mendorong shella ke ranjang" Tanpa seijin ku kau tak boleh keluar dari kamar ini " ucap nya tegas pintu tertutup dengan kasar shella merosot ke lantai ia tak habis pikir pria yang ia nikahi begitu kejam pada nya.
" Hiks-hiks Huwaaaa!!"
" Sialan kau! Cepat buka pintu nya ”
Shella mengetuk-ngentuk pintu dengan kasar membuat suara kegaduhan dari kamar itu.
Rose dan Leon menatap Zidan yang datang tatapan mereka berlarih pada lengan Zidan yang berlumuran darah. Dengan cepat rose membawa kotak P3K Dan mengobati lengan Zidan dengan hati-hati.
" Dimana yang lain?" Tanya nya dingin.
" Mereka sudah pulang, bagaimana dengan shella," Ucap Leon dengan tampang aneh melihat nya.
" Dia menangis di kamar nya!"
" Apa kau memukul nya zi?" Tanya rose dengan pandangan lembut khas seorang kakak yang sedang menasehati adik nya.
" Aku memukul nya! Dia menagis karna aku
Sisi rapuh yang membuat ku kesal aku tak ingin melihat nya . . Aku orang berengsek yang membuat nya menangis," Jawab nya nanar.
" Sudahlah! Aku dan rose harus pulang sekarang.
7 hari berlalu . . .
Malam yang di taburi oleh bintang yang berkelap-kelip, warna cerah dan gelap berbaur menjadi satu hembusan angin menerpa dedaunan yang bergoyang dan perlahan jatuh, seberapa kuat pun pegangan pada dahan pohon itu daun yang tipis tetap lah lemah lambat laun akan menyerah dan di hempasan angin melayang tak tentu arah lalu jatuh ke bawah.
Tunas baru akan menopang kehidupan yang lama. Tatapan mata onio itu terlihat meredup
Terkurung di kamar ini, membuat diri nya sadar kekuatan yang selama ini ia kerahkan perlahan akan melemah.
" Apa benar wanita itu mahluk lemah?
Dan laki-laki yang terkuat?' Tanya shella ke arah sosok yang berdiri tak jauh dari tempat ia berada.
" Nyoya sudah seminggu anda tak makan ataupun minum, kesehatan anda akan melemah dan tuan akan menyalahkan saya,"
Tubuh yang menyandar pada sofa
Ia menengkurabkan wajah nya pada kedua lengan nya, rambut nya lusuh. Pakaian yang ia kenakan berantakan sudah satu Minggu shella tak Menganti pakaian ataupun mandi menurutnya nya tak ada guna nya.
" Tenang saja! Aku tak akan menyusahkan mu kok . . Pergilah aku ingin sendiri,” Ucap shella dengan sedikit menoleh ke hadapan nya.
Sepergi nya pelayan tadi. Ia membuka jendela dan menurunkan seprei yang telah di ikat dengan panjang ia turun dari atas kamar nya.
" Hufff," wajah nya perlahan menjadi kesal
Bukan tanpa alasan. Banyak tanaman kaktus di bawah kaki nya, disana juga Zidan tengah mendengar kan lagu mengunakan headset sesekali membalik halaman buku di tangan nya.
Rencana A gagal.
Ke esokan pagi nya Shinra telah siap dengan komputer di hadapan nya ia meretas ke amanan rumah itu, serine kebakaran terdegar berbunyi. Shella keluar dari pintu kamar nya dan sosok lain tengah menatap nya tanpa epresi.
Rencana B gagal.
Hari kedua shella telah siap dengan pisau di tangan nya, ia menusukan pisau itu pada lengan nya dan bertriak meminta tolong.
" Tolong! Lengan ku berdarah, aku akan mati," Triak nya dengan lantang.
" Tuan,"
Jentikan jari terdegar pintu terbuka para dokter ahli berjajar lalu mengobati luka itu dengan rapih, shella memangut kesal melihat bayangan orang itu berada di ambang pintu.
' Zi ini keterlaluan '
Batin shella menyumpah kasar, ia memegang perut nya yang sakit sudah sepuluh hari ia tak memakan makanan apapun, ia menatap tablet vitam yang isi nya tingal dua butir lagi pikiran nya berputar keras bagaimana ia harus bertahan tanpa makanan?
" Memakan vitamin setiap hari pun tetap saja tak bisa menahan rasa lapar ku," Shella menatap sinar mentari yang mulai tergantikan dengan rembulan.
KANTOR ZW COPT . . .
Rapat tengah berlangsung di sekitar meja bundar itu terlihat banyak orang yang tengah siap dengan berkas nya masing-masing.
" Biro iklan dengan cepat mengubah pikiran nya ini semua berkat Presdir Zi," Ucap seorang laki-laki bertubuh gempal yang merupakan Asisten dari pemasaran produk.
" Presdir Zi! Karna mereka tidak keberatan bisakah kita beralih?' Tanya seorang pria yang berwajah muram dengan kerutan tipis di wajah nya.
" Mereka tidak keberatan jika kepentingan mereka di lindungi, tapi mereka bukan hanya mementingkan uang. . ."
Zidan membawa laporan ke uangan dan file yang berada di meja.
" Uhukkk. . Uhukkk . . Uhukkk . . ."
Zidan beberapa kali terbatuk, wajah nya sedikit pucat dari biasa nya bahkan tak ada epresi dingin seperti hari-hari biasanya membuat para pengawai merasa aneh dengan perubahan bos mereka.
" Presdir anda perlu istrirahat . . ." Ucap agen pemasaran itu lagi.
" Aku tidak apa-apa, lanjutkan."
" Uhukkk . . Uhukkk . .'
" Presdir wajah anda pucat!" Seru wanita salah satu dari antara mereka.
" Tidak perlu khawatir! Andin tolong perhatikan setiap proses nya dengan cermat,"
" Tapi mereka sudah mengatur jadwal yang sangat ketat," ucap Andin.
Zidan menegok ke arah samping jam menunjukkan pukul 2 malam.
"Bagaimana jika begini, aku memberikan waktu 3 hari untuk penelitian jika hasil nya buruk maka kita akan mengunakan rencana B asisten Yu dan aku akan datang dengan rencana yang lebih konservatif
Kalian bisa bertanya pada asisten Yu jika ada masalah . . ."
Zidan beranjak dari kursi nya" Uhuk asisten Yu' ia menoleh ke samping dimana asisten nya seharus nya berada.
" Bos Anda bukan nya menyuruh asisten Yu untuk membeli obat," Seorang pria berkepala 4 memberitahu nya.
" Baiklah! Kalian bisa kembali dahulu," Ucap nya datar.
Shella mendegar kan ucapan asisten Yu yang berada di hadapan nya, ia membawa sepiring makanan dengan minuman di Baki yang ia letakan di hadapan shella.
" Shella, aku ingin meminta mu berhenti menyiksa Presdir Zi " ia MEMBENAHKAN kacamata nya.
" Kau selalu bersikap egois! Saat kau menyebabkan masalah dirinya harus berurusan dengan mu," lanjut kalimat nya lagi.
" Kau mungkin bisa bertahan tanpa makan aku tau kau selalu mengonsumsi vitamin tapi presiden sejak mengurung mu tak pernah menyentuh makanan sedikit pun . . ."
" Apa maksudnya?" Tanya shella.
" Di malam hari ia harus berurusan dengan pekerjaan. Yang tak bisa ia kerjakan di siang hari karna mengurusi kau dengan segala taktik licik mu. Kau pikir presiden adalah robot ia jatuh sakit," Kalimat yang dingin penuh akan penekanan shella merasakan ketulusan dalam kalimat kasar yang ditunjukkan untuk dirinya.
" Dia sakit," ulang nya lagi.
Asisten Yu berjalan ke luar ia menutup pintu dengan kasar terdegar suara pintu yang terkunci shella menatap rembulan apa ia terlalu berebihan***.