
***Para tamu lain nya beranjak pergi dari sana meningalkan aula yang kosong melompong dengan banyak nya sisa makanan di meja-meja, shella menuruni anak tangga dengan Zidan yang merangkul pinggang nya mereka terkesan sangat dekat dengan posisi berhimpitan. Shella mengekor Zidan masuk kesalah satu ruangan yang berada jauh dari aula. kaki nya sedikit pegal karna terlalu banyak berjalan.
★ KREK ★
Pintu terbuka. Zidan dan shella masuk kesana tatapan orang-orang menatap mereka dengan pandangan sulit diartikan mungkinkah mereka tak menyukai ku? Shella tanpa segaja menabrak pungung seseorang membuat nya sedikit terhuyung ke belakang sebelum tanggan kekar menahan nya.
" Hai! Ketemu lagi” ucap nya pada ku membuat ku membalas nya dengan anggukan singkat.
Aku mengedarkan seluruh pandangan ku pada setiap sisi di ruangan itu, tatapan ku berhenti pada seorang wanita yang tengah menatap nya juga kami saling bertatapan ada rasa takut dan ancaman yang ia berikan pada ku.
" Apa kamu shella Higashi?"
" Ia ayah..."
" Masih muda. . Keluarga Higashi memang selalu memiliki keturunan yang cantik hanya sayang nasib mereka tak secantik rupa mereka," ucap pria paruh baya yang aku yakini adalah pemimpin dari keluarga Wijaya, dan yang penting ia adalah ayah dari Zidan Wijaya.
" Sayang! Jangan memprovokasi menantumu di sini! Bagaimana jika langsung pada intinya saja," Seru wanita di samping nya menunjuk Zidan dengan tampang benci.
" Uhukkk baiklah, Zidan sudah cukup kau membuat onar sekarang giliran mu untuk memberikan kompensasi pada keluarga kita,” ucap nya membuat sekeluarga itu tersenyum ceria.
Aku memfokuskan pendengaran ku apa yang mereka maksud kompensasi apa mereka itu tak menyukai Zidan?
Shella berpikir keras hanya ada dua kemungkinan yang pasti tapi ia tak ingin membayangkan nya.
" Ayah! Maaf saja tapi aku lebih suka dengan profesi ku dan menginginkan kehidupan sekarang,”
" Anak kurang aja kau,” ia membanting gelas yang mengenai wajah nya.shella
terlonjak kaget dengan hubungan anak ayah itu yang rumit.
" Maaf ayah aku lebih suka hal ini! Aku tak ingin menjadi seperti ibuku yang selalu menuruti kehendak mu . . .”
" Zidan! Kau hanya anak wanita simpanan tak berhak untuk memakai marga Wijaya sedangkan Kevin adalah anak yang sah sudah seharus nya kau memberikan marga itu pada nya,....!!!"
Shella tertegun mendegar semua kalimat itu, tanga nya membungkam mulut nya mendegar bahwa laki-laki arogan itu hanya anak seorang wanita simpanan.
" Cih, pergilah kalian nanti aku bicarakan lagi," Wanita paruh baya itu membopong suami nya pergi dari sana.
Hanya Tinggal kami bertiga yang berada di ruangan itu, Kevin memegang lengan ku menarik ku pergi dari sana meningalkan Zidan yang tak bisa apa-apa.
Mereka berdua sampai di sebuah kolam yang luas Kevin menyuruh shella duduk di samping nya, mereka menikmati keindahan rembulan dengan angin yang sepoi-sepoi.
Shella menekuk lutut nya ia memeluk lutut nya dengan perasaan campur aduk, memang benar hal yang paling di takutkan akan muncul lambat laun dan tak ada celah untuk menghindar dari nya.
“ Apa kau bahagia dengan nya? Shell aku tau sifat mu dari dulu. Kumohon jujurlah shell kita tumbuh bersama dengan Kyo aku mengenal mu dari kecil kau tak mungkin menyerah pada pembalasan dendam mu itu kan Shell,”
" Kevin cukup! Pembalasan dendam untuk apa semua nya sudah berakhir,"
" Tapi shell Bagaimana dengan janji yang kau ucapkan dulu, bukan nya kau keturunan Higashi memiliki segala nya....!!"
" Aset dan properti yang ku punya sekarang di bawah tekanan Gallen dan selebihnya di bawah kendali Zidan ” ucap nya sedu dengan nada memelas.
" Shell, kenapa kau jadi lembek seperti ini bukan nya kau mengatakan sumpah setan waktu Kyo terbunuh,” Kevin menepuk bahu shella membuat nya terlonjak kaget.
"Walaupun aku ingin melanjutkan balas dendam ini.... Zidan tetap tak akan melepaskan ku,"
" Shella aku bisa membantu mu lagi untuk menghil_-' ucapan nya terpotong oleh suara bariton yang dingin dan penuh penekanan.
" Tidak baik seorang jendral membawa istri orang," ucap nya penuh penekanan.
Zidan melempar kasar shella pada kursi belakang mobil, mobil militer itu melaju dengan kecepatan super tinggi di jalanan yang ramai dengan kendaraan.
" Zi_________ zi_________ awassss aaaaa” triak shella saat mobil mereka hampir menabrak truk di hadapan nya.
" Diamlah," ucap nya.
Shella muntah-muntah di semak-semak ia tak kuat memang biasa nya suka balapan tapi mobil militer dan mobil sport itu beda membuat nya tak kuat merasa pusing.
Zidan menyodorkan botol Aqua pada nya yang langsung di leguk kandas oleh nya.
" Apa kau kenal Kevin?" Tanya Zidan sambil memijit tengkuk nya perlahan dengan lembut.
" Tidak,”
" Kau tak bohong kan?" Ucap nya lagi.
" Kita cuma kenal saat di pesta tadi Huekk____ Huekkk____" 🤢🤢🤢🤢🤢 semua isi perut nya keluar bersama an dengan cairan lambung.
" Apa kau memandang rendah Aku? Karna seorang anak wanita simpanan?" Tanya Zidan lagi membuat shella terdiam bingung harus bicara apa.
" Cih, kau pulang lah sendiri aku masih ada urusan,” Zidan mengendarai mobil nya meningalkan shella yang terdiam di jalanan hutan berantara.
Shella menghembuskan nafas kasar teryata dia selain sombong juga tak punya tangung jawab. Shella melihat google map yang menunjukkan Arah ia berada.
" Apa kau gila aku harus berjalan 30 kilometer hanya untuk sampai ke jalan raya," Umpat shella kasar dengan nada yang tinggi.
Shella merasakan ngilu kaki nya lecet
Sudah berjalan begitu jauh namun tak ada kendaraan sama sekali. Apa Zidan begitu tega meninggalkan wanita secantik dirinya di sini hanya bisa pasrah saja.
6 jam kemudian shella sampai di jalan raya. Ia mencegat taksi dan meminta nya mengantarkan nya ke rumah Zidan, tak berselang lama mereka sudah sampai di halaman depan shella memberikan beberapa lembar uang.
Shella membuka pintu utama di sana terlihat Zidan tengah meminum kopi nya dengan tenang, sesekali membaca file di gengaman nya mengabaikan shella yang berjalan terpincang-pincang.
Bibi pelayan menatap tak percaya melihat kaki shella berdarah bahkan lecet. Ia menghampiri nya dan bertanya dengan khawatir.
" Nyoya kenapa anda berjalan tanpa alas kaki?" Tanya nya penasaran melihat shella menjinjing hig hels nya.
" Aku semalam tak pulang! BI tolong siap kan air hangat lalu bawa ke atas yah oh yah jangan lupa taburkan garam sebanyak-banyaknya," ucap shella ke arah bibi Ket membuat pelayan tua itu menganguk.
" Baik nona. . . Apa ada lagi?”
" Sekalian beri garam untuk aku mandi yah bi," shella beranjak dari sana pergi menaikin anak tangga dengan kesusahan.
Zidan menatap pungung shella sekilas lalu beralih pada bibi ket yang sudah membawa baskom dan garam yang di pinta shella.
Shella merendam tubuh nya pada air garam rasa ngilu dan perih terasa bersautan. Jika saja ia tak menyentuh tanaman beracun di jalan tubuh nya tak akan bentol-bentol bahan tubuh nya memerah semua.
Bibi Ket menatap nya bingung, melihat tubuh shella di penuhi bentol-bentol bahkan pungung nya merah, air yang ia pakai perlahan menjadi hitam pekat.
" Nyoya air nya menjadi hitam," ucap bibi Ket pada nya.
" Tidak apa-apa! Racun nya sudah keluar dari tubuhku,” Tembak shella dengan nada lemah.
2***