
***30 menit kemudian...
Shella sampai di kantor Zidan dengan perasaan kesal ia melangkahkan kaki nya masuk ke sana, gedung berlantai 30 itu membuat shella sedikit takjub hanya saja dekorasi di sini terkesan sangat ambigu dan dingin.
Para pegawai menyambut shella dengan senang bahkan senyuman tak lepas dari bibir nya untuk membalas semua sapaan dari mereka semua. Sekarang di sinilah shella berada di sebuah ruangan bernuansa abu dengan dekorasi yang terkesan dingin hanya ada beberapa panjangan dan Poto ketentaraan membuat shella yakin jika Zidan memang seorang prajurit.
" KREK"
Shella membuka pintu itu pelan terlihat sebuah meja besar dekat dengan jendela kaca.
Pemandangan indah terlihat jelas, pantas saja banyak orang yang menginginkan posisi direktur karna duduk di kursi ini sangat nyaman.
“ Ais, coklat nya enak," Shella memakan coklat pemberian anak kecil yang berada di lobi tadi.
Kantong yang ia bawa penuh dengan poky dan coklat membuat nya sedikit senang tak sia-sia ia ke kantor zidan.bahkan bisa merasakan duduk di kursi direktur.Rasa bosan mulai merajalela. Shella mengambil beberapa berksa yang berada di meja ia membolak-balik halaman putih itu. Tanpa ia sadari Zidan kini tengah berada di samping nya memperhatikan adegan shella yang sedang menyambar sebuah pemandangan dalam dokumen penting itu.
Ingin rasa nya ia menjewer gadis itu merante nya dengan rantai baja agar tak berbuat sembarang, dengan kelakuan shella sekrang perusahaan bisa rugi beberapa juta. Namun ia harus tahan dan bersabar keberadaan shella di depan nya membuat zidan cukup menyurutkan emosi nya.
“ Ekhem” Zidan berdehem lalu mendekatkan diri nya kearah shella. Sontak gadis itu langsung terlonjak kaget ia bergegas beranjak dari kursi itu.
“ Karna kau sudah datang aku pergi!" Ucap shella sambil mengambil bungkusan coklat tadi. Sayang nya tangan kekar itu menahan lengan nya sedikit mengelintir nya membuat shella merontak merasa sakit.
“ Bukan nya kau jenius yah shella? Bagaimana jika buatkan aku sebuah Rancangan untuk proyek baru,” Ia memberikan rincian tentang hal yang dimakan proyek ke arah Shella yang mendegus kasar.
Shella membaca rintisan itu lalu mulai merancang hal yang ia pikirkan, Zidan menatap datang kelakuan shella yang bagaikan anak SD Bagaimana tidak dia tengkurap di lantai dengan mengacungkan kedua kaki nya, sesekali bibir mungil nya memakan poky dengan antusias.
Di tengah keheningan itu muncul sesuatu yang tak terduga, membuat shella mendongkrak menatap seorang wanita bohai dengan pakaian minim menampilkan paha dan dada yang tercetak jelas.
" Zidan sayang,” Triak wanita itu mengeleger shella menutup telinga nya menoleh ke samping melihat wanita itu mendudukkan dirinya di pangkuan Zidan.
" ..........."
Shella menghela nafas pelan.
“ Zidan kenapa kamu tak menjemput ku di bandara! Padahal aku kangen loh," Ucap wanita itu genit mencium pipi Zidan Dengan agresif.
" Raya lepas! Disini masih ada orang," ucap Zidan berusaha mengontrol kelakuan wanita Di hadapan nya.
Shella tersenyum ramah saat mendapati tatapan raya. Seakan menyuruhnya untuk pergi dari tempat itu, raya menyuruh shella untuk membawakan minuman dan makanan membuat shella menganguk dan meninggalkan mereka berdua.
Cukup lama berada di dapur shella kembali dengan nampan berisi makanan dan camilan untuk mereka berdua, dengan sopan menaruh nya di depan mereka.
“ Silahkan Nyoya," ucap nya singkat membuat raya menganguk.
“ kau bisa kembali bekerja,...”
“ Cukup! Apa kau tau siapa dia raya?" Tanya Zidan dengan tatapan mengitimidasi nyamembuat raya meneguk ludah nya.
“ .......?"
“ Dia shella Wijaya istri ku,"
" JDERR”
Raya bagaikan di sengat petir tumbuh nya merosot mendegar ucaoan itu. Mana bisa Zidan memberikan status pada orang lain padahal dirinya yanh selama ini selalu berada di sisi pria itu. Sunguh kejam kau Zidan.
“ Maaf hiks," ucap raya dengan tampang sedu nya pergi meningalkan mereka berdua dalam kecanggungan yang hebat.
“ Kemari shella ”
“ Apa sekarang gadis seperti mu tak punya nyali lagi?" Tanya Zidan sambil menarik shella ke pangkuan nya.
“ Heeee mana ada," balas shella.
“ Aku baru tau mendapatkan seorang istri berhati lapang! Bahkan berani untuk mencarikan wanita lain nya,"
Kata Zidan sambil mengedus leher shella
Mencium kuping shella membuat shella merinding tak karuan di buat nya.
“ Ini di kantor," Seru shella saat Merakan nafsu zidan mulai membara bahkan tak henti nya menciumi leher dan beralih pada dada yang telah terbuka dua kancing.
“ Ini bukan pertama kali nya shella," ucap Zidan sambil mengelus perut shella.tangan nya telah bermain nakal dengan menjamah punggung nya.
“ Apa kamu benar menyukai ku?
Apa kau benar mencintai ku...?" Tanya shella ntah kenapa ia tak bisa menahan kata itu agar tak keluar dari mulut nya
Zidan langsung menatap lekat wajah shella.
“ Apa aku perlu menjawab hal bodo itu," Balas Zidan dingin membuat shella menghembuskan nafas nya kasar.
“ Ini peringatan untuk mu aku bukanlah pilihan mu dan kamu bukanlah pilihan ku jarak antara kita begitu lebar. Mungkin saja suatu hari nanti kau akan menyesali perbuatan ku ini,” ucap shella singkat.
Zidan menjatuhkan tubuh shella ke lantai
Ia sudah cukup muak dengan ucapan gadis itu. Dia menindihnya membuat shella merontak kasar ia tak ingin melakukan hal gila seperti itu.
“ Bos jadwal rapat di majukan,” Ucap asisten Yun dengan cangung melihat adeganh seperti itu membuat wajah nya memanas.
' kalian bisakah tak membuat jiwa jomblo ku membawa'
" Maaf mengangu! Kalian bisa melanjutkan nya," ucap nya dingin sambil menutup pintu kembali.
Shella sudah memerah seperti seekor kepiting rebus, ia tak kuat menahan malu seperti itu rasa nya ingin mengali lubang dan bersembunyi di sana menjadi tikus tanah.
Shella mendorong tubuh Zidan kasar ke samping, ia memakai hig heels yang sempat terlepas itu dan oergi dari sana dengan cepat tanoa menghiraukan zidan yang menatap nya dengan Tatapan aneh.
Nafas tak teratur terlihat pada dada shella untung nya ia bisa kabur dari sana. Shella menatap sekeliling nya seperti sebuah toko ia berjalan kedalam tak menyangka di tengah gedung yang menjulang tinggi akan ada sebuah toko yang bahkan hampir tersered.
Toko itu terlihat sudah lama dan tak terurus Shela masuk kesana terlihat debu tebal yang menempel pada kusen dan dingdin toko.
Tak ada seorang pun disana aneh itu lah kata yang keluar dari dirinya sekarang. Tanpa segaja shella menjatuhkan sebuah kotak disana terlihat beberapa benda yang jatuh, Hati nya seakan teriris melihat isi kotak itu kenapa bisa ada di tempat ini sebenarnya ini tempat apa?
Tak ingin membuang waktu shella membuka sebuah pintu yang tersambung ke arah saluran air, ia mengikuti jalur air pembuangan itu dan sampai lah di sebuah pintu yang terbuat dari baja.
Shella membuka pintu itu dengan perasaan was-was, mata nya memandang tak percaya ke arah seseorang yang ia kenali berada di dalam sana. Tangan nya terbogor di dingdin bercak darah mulai mengering di sekeliling ruangan itu sebenarnya ini tempat apa.
Pemuda itu menatap shella nanar penuh akan kesedihan dan kekosongan, bahkan lidah nya tak kuat untuk mengucapkan beberapa kata.
“ Yoyo tenanglah!" Ucap shella sambil berusaha melepaskan kunci borgol mengunakan jepitan rambut nya.
“ Shell," ucap seseorang dari belakang sana dengan cepat ia menoleh dan mendapati Kevin tengah menatap nya dengan pandangan waspada.
“ Kevin! Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya shella dengan tampang devil kearah Kevin yang meneguk Saliva nya takut.
“ Aku hanya bisa bilang ini perseteruan antar mafia! Kita harus bergegas sekarang?" Ucap Kevin sambil membopong yoyo pergi dari sana***.