The Cunning Gril's Regret

The Cunning Gril's Regret
perasaan yang hilang



***Hari ini adalah hari Sabtu yang cerah Zidan dan shella kini tengah berjoging bersama di taman, perempuan muda itu terdiam hos-hosan ketika di ajak berlari oleh kapten tentara yang menurut nya terlalu kuat.


 Karna terlalu cape ia memutuskan untuk berdiam diri di pinggir membiarkan Zidan sendiri yang berlarian. 50 putaran telah di laluin Zidan keringat membasahi tubuh nya yang hanya memakai kaos tipis berwarna hitam.


“ Ais daya tahan tubuh kuat, tak bisa bela diri apa kau tak malu menyebut dirimu orang ku?" Tanya zidan. Sambil mengelap keringat di wajah nya.


“ Siapa juga orang mu!!" Balas shella tak Sudi di sebut  sepergi itu.


 “ Kau memang tak malu! Tapi setidaknya kau harus cemburu ketika suami mu di lihat orang lain," Zidan memegang dagu shella membuat wanita itu tersenyum kecut dan mengerakan bibir nya membentuk huruf O.


“ Kenapa harus cemburu! Itu mata mereka jika ingin melihat terserah mereka,"


 Kini tak ada kata yang bisa mengepresikan emosi shella melihat kelakuan zidan yang terkesan sangat kekanak-kanakan.


“ Dari pada membahas tentang cemburu! Kenapa tak lanjut pus ap, sip up karna perit ku mulai buncit terlalu bangak makan," Ejek shella membuat Zidan menautkan alis nya heran.


“ Buncit? Lihat perut six pack seperti ini di sebut buncit! Kau sendiri seharus nya lebih banyak makan buncis dada mu makin lama makin menyusut,"


 Shella spontan langsung terbawa amarah dengan ucaoan nya, ia langsung berdiri dan menggoyang dada nya di hadapan Zidan dengan epresi genit di hadapan nya.


 Tak ingin kalah Zidan membuka pakaian nya membuat orang-orang disana melihat adegan dua orang yang saling berdebat.


" Apa kau tak malu membuka baju mu!"


" Kenapa harus malu? Karna aku juga sudah membiarkan tubuh ku di nikmati oleh mu bahkan dengan tubuh ini aku sudah berhasil membuat buah hanya saja ada orang yang tak tau diri mengugurkan nya," Ucap Zidan.


MENGUGURKAN


 shella menggaris bawahi kata itu ia sudah cukup berada dalam permainan milik Zidan


Kini hatinya merasakan remut saat Zidan mengungkit kembali kejadian itu, memang benar jika ia tak mengugurkan nya mungkin ia sudah melahirkan sekarang ini


Tapi apalah daya ia tak bisa melahirkan mahluk yang berasal dari orang paling ia benci di dunia ini.


 Shella berusaha menyembunyikan perasaan nya yang kini sangat hancur mengigat kejadian beberapa bulan lalu.


“ Aku ingin pulang," ucap nya singkat.


“ Shella...!"


 Pangil Zidan namun wanita itu pergi begitu saja dari sana. Mentari memaparkan cahaya nya makin terik membuat wanita itu kepanasan. Tapi panas hari itu tak sepanas hati nya mengigat kejadian beberapa bulan silam Ingin rasanya ia menjadi pembunuh sekarang dan membunuh Zidan mencaci maki dirinya bahkan memotong-motong nya sampai menjadi bagian paling kecil.


 Suara telpon terdegar membuat shella merogoh saku celana nya dan menekan tombol hijau di layar pipih milik nya.


Ia menempelkan benda itu pada telinga nya.


“ Hallo kak?"


[ Shel cepat kemari Alisa akan lahiran kami berada di villa dan tak ada dokter di sini]


“ Kenapa tak bawa kerumah sakit!!"Tembal shella sedikit panik.


[ Semua dokter sedang cuti! Shel bukan nya kamu juga berada di sekitaran tempat ini kakak mohon bantu Alisa].


" Ok "


 Shella memutuskan sambungan telepon nya dan bergegas berlari menuju ke villa yang tak jauh dari tempat nya berada.


 Nafas yah tersengal-sengal melihat bangunan mewah yang masih terlihat jauh kaki jenjang itu perlahan menambah kecepatan lari nya. Cukup lama ia berlari akhirnya sampai di pintu dengan cepat ia membuka pintu melihat ketiga orang yang terlihat panik.


 Shella mencoba acuh melihat zidan yang menatap nya dengan pandangan aneh.


“ Kau yakin bisa?" Tanya Zidan dengan Tatapan mengintimidasi.


" Jika kau ragu jangan melakukan nya! Bisa saja dia juga terbunuh sepergi anak ku," Ucap Zidan bagaikan lesatan pisau menghantam jantung nya.


 Shella menepis kasar lengan itu dan beralih pada Alisa yang kini tengah kesakitan dengan banyak nya darah berceceran.


“ Jangan pernah ungkit mahluk itu! Dia memang pantas agar tak lahir"


" Jika anak Galen bernasib sama seperti anak ku! Bersiap lah untuk menemui liang lahan mu,"


 Shella memerintah kan agar mereka keluar dari kamar itu, shella sunguh gugup dan ketakutan Bagaimana bisa ia membantu persalinan Alisa ia dokter bedah bukan dokter kandungan.


Keringat membasahi pelipis nya melihat Alisa begitu kesakitan, ia tak boleh ragu hanya karna masalah pribadi ada dua nyawa yang sedang di pertaruhkan di sini


Dengan tubuh bergetar shella menutup kedua paha Alisa mengunakan kain putih.


“ Alisa dorong yang kuat," 


" SAKITTTTTR ....."


" Ayo kamu bisa Alisa dorong lagi," ucap shella memberikan arahan.


" Sakitt Aaaaaaa"


 Triak Alisa mengema.


Galen mondar-mandir di luar kamar dengan kecemasan yang begitu mendalam Bagaimana anak nya dan istri nya. Ia tak bisa tenang memikirkan konsekuensi apalagi shella sendiri tega mengugurkan anak nya.


 Cukup lama mereka berada di sana.


Shella menghembuskan nafas lega saat benda mungil itu berhasil keluar.


" Oaakkkk .... Oakkkkk "


" Alisa sukur lah," ucap shella mengendong bayi laki-laki itu.


 Galen yang mendegar tangisan itu terdiam tak percaya. Dengan cepat membuka pintu dengan kasar melihat Alisa tengah terdiam melihat langit-langit.


 Shella memberikan bayi laki-laki itu yang telah ia bersihkan kepada ayah nya.


" Bayi nya selamat!!" Shella memberikan bayi itu.


 Zidan masuk keruangan bersama dengan Reva yang menangis karna mendengar triakan dari ibunya.


" Reva____ sekamat______ menjadi_____ ka-kak,"


" GUBRAK "


 Tubuh itu tak sadarkan diri shella terbaring di lantai dengan air mata yang masih membekas disana. Zidan mengendong nya keluar dari kamar itu membawa nya keruang tamu untuk menyadarkan nya.


 " Mama .... Mama .... Mama"


 Suara itu bagaikan kaset rusak yang terus berputar dalam kepala shella, wanita itu terlonjak kaget dan memegang dada nya sunguh sakit rasa nya.


 Ia melihat jam sudah menunjukan pukul 12 malam seperti nya sudah setengah hari ia tertidur. Sukurlah Alisa bisa selamat dan bayi nya sangat tampan guman shella.


" Bibi sudah sadar?"


" Reva! Sejak kapan kamu disini?" Tanya shella lembut.


" Baru saja, Bibi tau Reva tak ingin punya adik pasti Reva akan di buang oleh mama dan papa nantinya," Tangis Reva pecah dan memeluk tubuh shella.


" Reva sayang mama dan papa tak akan melupakan Reva kok! Kamu harus nya senang punya teman bermain kali mama melupakan Reva bibi bakalan marah ok," Ucap shella berusaha menghibur anak itu yang masih menangis dalam pelukan nya***.