
Kanya tengah duduk menikmati makanan yang dibawakan Alex yah walaupun Alex telah ia tolak tapi Kanya tak ingin membuat hubungan mereka rentang.
Di saat mereka tengah berbicara muncul seorang pemuda sambil mengendong seorang wanita yang berteriak-teriak.
" DOKTER TOLONG"
" DOKTER. . . DOKTER TOLONG"
Kanya mengalihkan perhatian nya menatap seorang pemuda yang panik sambil mengendong wanita di dada nya ala bridal style.
" Li bangun jangan buat aku takut" lirih pemuda itu.
" Nona Al ada pasien baru"
" Ok"
Kanya berjalan beriringan bersama dengan suster itu, tanpa segaja ia berpapasan dengan pemuda yang bertriak-triak.
Wajah wanita itu telah pucat, Kanya bertanya kenapa wanita itu tak di obati
Kesal jawaban mereka membuat Kanya kesal karna tak ada biaya segitukah uang bagi ke kehidupan bahkan nyawa manusia pun bisa terabaikan.
" Bawa gadis itu"
" Tapi dokter"
" Aku bilang bawa keruang Operasi nyawa nya lebih penting" bentak Kanya membuat pemuda itu menganguk.
Devan memaki dirinya sendiri, ia menyalahkan dirinya sendiri karna ulah jahil nya lia tertabrak mobil .
Cukup lama ia menunggu seorang dokter wanita muncul dengan stestop mengalung di leher nya Devan mencerca pertanyaan membuat Kanya menjitak kepala remaja itu.
" Bicara satu satu dong" ia mengacak pingang dihadapan pemuda itu.
" Gimana kondisi Lia?" Tanya nya.
" Tenang saja dia sudah stabil satu jam lagi akan sadar, hanya saja pendarahan nya begitu parah ia membutuhkan darah b "
" Aku saja dok"
Devan mengikuti Kanya masuk kesalah satu ruangan ia menghela nafas melihat kisah cinta anak remaja.
Kanya membawa darah itu lalu mentraspusikan darah nya ke pada Lia.
Kanya merasa iri seorang pemuda remaja saja bisa segitu posesif pada gadis idaman nya kapan dia bisa kaya gitu.
' Shela ingat pelajaran mu'
Kanya tersetak dengan pukulan keras mengenai bahu nya, tatapan nya melihat Alisa tengah berdiri dengan membawa bingkisan.
" Kenapa kau disini?"
" Lia? Apa Lia disini?"
" Ouh, gadis itu dia masih di UGD tuh "
" Makasih . . Makasih . . "
" Sejak kapan kau jadi cengeng?" Tanya Kanya dengan tatapan dingin dan menusuk membuat Alisa diam tak bergeming.
Alisa tahu bahwa Kanya sedang dalam mood yang buruk, bahkan dirinya tak memperdulikan tatapan orang-orang yang berlalu-lalang menyapa dirinya.
" Aku ingin pulang bye"
" Sampai jumpa" balas nya.
Kanya mampir kesebuah mini market ia membeli kebeutuhan sehari-hari nya, tanpa sengaja ia menyengol seseorang membuat Kanya kesal melihat siapa orang itu.
Kanya berlalu begitu saja membiarkan orang itu, tanpa sadar Zidan memegang pengelangan tangan kanya dengan keras.
" Apa mau mu?"
" Minta maaf pada ku," tegas nya.
" Kau berani, tak sopan pada seorang tentara nona Kanya " Ucapan itu penuh penekanan membuat Kanya menghembus nafas kasar.
" Bapak komandan yang terhormat saya minta maaf....'
Zidan menyetir mobil nya dengan perasaan tak nyaman, pikiran nya melayang pada Kanya yang biasa nya dingin bisa mengucap kan kata maaf.
Tak ingin ambil pusing Zidan menyetir mobil nya memasuki salah satu perlatihan tentara.
Ia berjalan gontai menuju salah satu ruangan, pintu terbuka menampakan seorang pria berwibawa bernama Digo salah satu atasan zidan.
" Zi aku punya tugas untuk mu "
" Kapten ada apa? Apa serius?" Tanya Zidan menatap ketua nya.
" Beberapa hari ini bantuan yang kita kirim untuk misi rahasia pembangunan jalan tergangu dengan serangan beberapa penjahat " Penjelasan ketua itu membuat Zidan menganguk.
" Aku ingin kau pergi bersama regu 10 untuk membantu,"
" Baik kapten" ucap nya.
Kembali pada Kanya, gadis itu tengah merapikan dirinya di depan cermin, ia mengikat rambut nya tinggi lalu mengelung nya menyisakan beberapa helai poni di depan dengan jepitan merah.
Drttt... Drttt ... Drttt...
Kanya menoleh mendapati sebuah pangilan masuk dengan mendengus kesal ia menggeser tombol hijau di layar kecil henfoun nya.
" Yah ada apa "
[ Shela aku menunggu mu di rumah sakit ]
" Ada apa? Aku sibuk "
[ Bawa beberapa baju dan perlalatan lain nya ada tugas untuk mu ]
" Males, cari orang lain saja lagian apa untung nya untuk ku ?"
[ Tak ada penolakan ]
Kanya mendengus kesal. Henfoun di matikan dengan sepihak membuat Kanya merasakan amarah tak terbendung.
~~~~~~~
Sesampainya di rumah sakit Kanya mendapati beberapa tentara khas dengan baju loreng berserta pistol di gengaman nya.
Perlahan ia membuka pintu terlihat tiga orang tengah menunggu nya disana.
" Ste . . Kanya aku menugaskan mu untuk ikut mengerjakan misi di pedalaman"
" Apa?"
" Kanya ayolah, ini cuma seminggu" bujuk pemilik rumah sakit dengan jurus puppy eyes nya.
" Apa tak ada dokter lain kenapa harus dia "
Sosok lain berbicara membuat pemilik rumah sakit itu memegang dagu nya.
" Kapten! Kanya sudah bertahun-tahun terjerumus dalam dunia medis kemampuan nya tak bisa di remeh kan "
" Pak, dengan keadaan tubuh nya yang kecil aku tak tega membiarkan dia berada dalam situasi rumit " Digo ikut mencampuri perdebatan diantara mereka.
" Semua dokter tengah bertugas hanya Kanya saja yang sengan"
" AKU MENOLAK" Jawab tegas Kanya Dengan nada tinggi.
" Padahal tadi nya aku ingin menyumbang kan satu miliar untuk panti asuhan itu"
Kanya dengan cepat menganguk membuat para tentara itu keluar dengan Kanya sebagai bantuan medis, mereka menaiki mobil jip menuju ke bandara...
Yah misi kali ini Meraka akan dikirim ke luar kota Dengan beberapa bantuan medis dan bahan makanan yang dibawa.