
***Di sebuah ruangan bernuansa hitam dan kotor terlihat beberapa orang pemuda tengah melihat peta di hadapan nya, paku payung menjadi salah satu pembatas peta di meja besar itu.
Para pemuda itu menganguk dan Tersenyum licik penuh akan semangat mendapatkan misi itu.
Anjou merenung di hadapan tubuh shella yang masih belum sadar juga, beberapa toples di meja telah habis di makan
Suara ribut di luar membuat anjou keheranan.
Anjou menyentuh dahi shella mengukur suhu panas tubuh nya.
Dan
* BRAKH *
Pintu di dobrak dengan kasar.
" Bawa gadis itu pergi! Sekarang juga kau ikut aku," Jalvis datang dengan terburu-buru.
" Ada apa ini." Anjou panik melihat para Prajurit bayaran dengan senjata lengkap di tangan nya.
" Kau ikut aku,"_
DOR, DOR ,DOR
" Awww _____ Awww _____ Sialan kau ” pekik nya.
Sekelompok tentara muncul dengan gagah, ransel dan senjata menjadi ciri khas mereka semua.
" Serang! Jangan sampai mereka lolos,” ucap salah satu dari mereka yang muncul dari barisan belakang.
" Arifin, Carly, rose, Leon " Printah nya.
Jalvis memegang lengan nya yang terkena tembakan, ia meraih tubuh shella yang masih terbaring di ranjang.
Ia mengendong nya helaian rambut hitam menyapu lantai, Jalvis terduduk karna luka di badan nya.
Dor . . .
Belum sempat menghindar jelvis sudah terkenal peluru yang datang dari arah samping.
Tubuh nya langsung tumbang.
" Shell uhukk-uhukk ” ia mencoba meraih pengelangan lengan shella yang terbaring di lantai.
Sepatu kokoh itu menginjak pengelangan tangan nya, Jalvis meringis merasakan tekanan kuat membuat jari-jari nya mati rasa. Berjalan mendekati sang target
Senyum puas terlihat di bibir nya.
Melihat target telah terkapar di lantai.
" Kapten! Target berhasil," ucap sosok lain yang muncul dari balik pohon mendobrak jendela di hadapan nya.
" Lepaskan,"
Anjou memberontak melihat sosok itu mengendong shella, menyandarkan tubuh mungil itu pada dada bidang milik pemuda nya.
" Hei kau mau mebawa hime-san kemana?" Triak anjou mengeleger membuat Leon menutup mulut wanita itu dengan sapu tangan milik nya.
" Antarkan dia ke rumah sakit," ucap sosok itu ke bawahan nya.
Sebuah helikopter mendarat di atas Mashion itu. Sosok itu membawa tubuh shella mendengkap nya dalam tubuh bongsor milik nya.
" Zi! Apa dia istri mu?"
" Ais, kau ini! Dia kenapa bisa berhubungan dengan musuh mu itu . . . Jelvis memang tak mati tapi_-" ucapan nya terpotong dengan nada dingin zidan.
" Dia akan kembali lambat laut untuk menargetkan shella sebagai tameng kan?" Carly menganguk kan kepala nya sebagai balasan.
Jam menunjukkan pukul 3 pagi Zidan merenguh tubuh mungil shella mendekapnya dalam perlukan hangat miliknya, semakin erat seakan tak ingin melepaskan nya.
Zidan merasakan ada gerakan lemah menyapu wajah nya, ia mengejapkan mata nya melihat ke arah istrinya yang berusaha melepaskan pelukan nya.
" Lepaskan! Kau berat, tubuh mu berat ” Shella berusaha melepaskan pelukan nya.
" Ini hukuman mu! Jangan memberontak kau sendiri yang memulai nya sayang!”
Zidan semakin mencekam erat pinggang shella. Perempuan itu hanya bisa pasrah saja menegelamkan wajah nya pada dada bidang milik Zidan.
" Bau mu sangat enak!" Ucap shella tanpa sadar membuat Zidan Tersenyum lembut.
KE ESOKAN PAGI NYA. . .
Zidan lebih dulu bangun ia masuk ke Kamar mandi memutuskan untuk membersihkan sisa-sisa keringat kejadian kemarin, butuh waktu sepuluh menit untuk diri nya membersihkan tubuh nya
Tak berselang lama ia menuju lemari dan membuka isi lemari itu.
" Tck, teryata kau bahkan tak Sudi untuk menaruh pakaian mu di lemari ini," Zidan memandang wajah shella yang masih terlelap dalam tidur nya.
Ia mengambil salah satu baju kasual
Memakai nya dan menuju ke bawah
Sarapan telah tersedia di meja makan.
" Hai bro!!" Ucap sosok lain yang tengah menunggu di sofa.
" Sejak kapan kalian di sini?" Tanya nya dengan nada dingin.
" Sejak kemarin malam . . Aku dan teman-teman sudah berada di sini loh" ucap seseorang yang paling ceria di antara mereka semua.
" Ouh!!" Jawab nya singkat.
Kelima orang itu tengah berdiam- Diaman di sana dengan dunia mereka masing-masing Rose hanya fokus pada dunia game dalam ganjet nya saja tanpa memperhatikan sekitar nya ia adalah wanita satu-satunya dalam anggota Nagara inferior yang di ketuai Zidan.
Carly yang paling ceria diantara mereka hanya memfokuskan diri nya pada kuaci tanpa henti memakan beda kecil berasa asin itu.
Arifin berbaring di sofa merilekskan tubuh nya yang kaku karna pertempuran kemarin malam. Arifin di juluki sebagai " SMALL DEVIL'S " dimana senyuman yang menawan merupakan pusat paling berbahaya siapa pun yang melihat senyuman menawan akan mendapatkan hal buruk.
Leon adalah tipe yang dingin dan selalu bersikap kejam hanya saja ia adalah mafia paling bucin dalam " NAGA INFERIOR ” ia hanya akan bersikap lembut dan manja seperti seorang kucing hanya pada istri nya saja.
" Bagaimana keadaan istri mu?' tanya Arifin dengan sunyuman khas nya.
" Baik saja! Singkirkan senyuman palsu mu itu di depan ku,” tatapan dingin Leon membuat Arifin cengegesan.
Tap, tap, tap
Shella menuruni anak tangga penampilan khas bangun tidur terlihat, rambut yang sedikit acak-acakan, kaos yang lusuh dengan legging hitam membuat diri nya jauh dari kata shella yang dulu.
Tatapan mereka berlarih pada gadis itu yang berjalan tanpa menghiraukan mereka semua. Shella membuka pintu kulkas mengambil minuman dingin dan meleguk kandas isi gelas itu***.