Something Called Love

Something Called Love
Cinta Bersegi



Dengan pikiran yang tiba-tiba saja penuh dengan kekhawatiran, langkah Min Hyuk memburu menuju sumber suara teriakan tadi. Dibukanya pintu besi menuju atap dengan kasar, lalu ia setengah berlari menuruni tangga.


Wajah Min Hyuk seketika memerah menahan emosi sewaktu mendapati Sarah di anak tangga paling bawah, tengah berhadapan dengan Tae Sang. Wajah gadis itu tampak ketakutan, sementara tangannya dicekal oleh Tae Sang.


Apa yang harus aku lakukan?


Min Hyuk tidak bisa membiarkan Tae Sang menyakiti Sarah. Gadis itu tak bersalah. Namun ia juga tak bisa begitu saja menolongnya. Pertolongan Min Hyuk bisa jadi boomerang bagi dirinya sendiri dan Sarah kelak. Bukan tidak mungkin setelah itu Tae Sang justru berpikir jika Sarah adalah umpan yang tepat untuk memancing emosi Min Hyuk, lalu menyakiti gadis itu. Min Hyuk tak ingin lagi terbebani dengan tanggung jawab.


Namun, tangan Min Hyuk mengepal dengan kuat saat melihat Tae Sang menyudutkan Sarah di dinding dekat tangga. Ia tidak rela tangan penuh dendam milik Tae Sang menyentuh gadis itu lebih lama lagi. Namun, hatinya terus menggaungkan satu fakta, bahwa itu bukan urusannya.


"Berteriaklah lagi! Supaya pahlawanmu itu datang menolong," perintah Tae Sang. Ia tampak begitu menikmati raut ketakutan di wajah Sarah.


Masa bodoh.


Min Hyuk berusaha memantapkan hati untuk tak peduli, tetapi dengan aneh kakinya justru melangkah menuruni tiap anak tangga menuju tempat Tae Sang dan Sarah berada.


"Lepaskan dia!" Seruan itu membuat Tae Sang dan Sarah menoleh, lalu tersentak mendapati Hong Ki mendekat dengan langkah cepat dan wajah penuh emosi.


"Hong Ki-ssi!" Sarah memanggil namanya, meminta bantuan untuk melepaskan diri dari Tae Sang yang hanya bisa tersenyum mengejek.


"Yang benar saja. Bukan dia yang aku harapkan datang," gumam Tae Sang tidak senang.


"Lepaskan Sarah sekarang juga!" Hong Ki tak meminta. Ia memerintah. Suaranya terdengar berat dan tatapan matanya sangat tajam. Sarah hampir tidak percaya jika itu adalah Hong Ki yang ia kenal.


Tae Sang terdiam. Bukan karena takut, tapi karena sudut matanya bisa menangkap bayangan Min Hyuk di tangga atas. Memperhatikan mereka bertiga. Dari kejauhan, ia juga bisa melihat sosok Ye Na dan gadis berkacamata yang berjalan mendekat. Tae Sang tersenyum puas. Sungguh, hari ini keberuntungan sangat berpihak padanya.


"Baiklah. Aku hanya ingin berkenalan dengan pacarmu ini. Tak perlu marah." Sengaja Tae Sang memberi jalan pada Sarah yang segera menghambur ke balik punggung Hong Ki.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Hong Ki memastikan. Sarah mengangguk pelan dengan tubuh yang masih gemetar. "Tenanglah, aku bersamamu sekarang," lanjutnya berusaha menenangkan Sarah.


"Sebaiknya jangan biarkan pacarmu ini berkeliaran di atap lagi. Aku tidak bisa menjamin keselamatannya jika hal itu terulang." Tanpa menunggu reaksi Hong Ki, Tae Sang berbalik dan melangkah pergi. Bertepatan dengan Ye Na dan Song Eun yang baru tiba. Mereka berdua segera menyongsong Sarah dengan khawatir.


Hong Ki hampir kehilangan kesabaran dan bermaksud mengejar Tae Sang jika Sarah tidak segera menahan tangannya. Gadis itu menatapnya dengan pandangan memohon. Tak ingin Hong Ki terlibat hal yang lebih buruk.


Hong Ki terdiam. Mata coklat milik Sarah adalah hal pertama yang membuatnya langsung menyukai gadis itu. Bahkan, ia ingin sekali menatapnya setiap saat. Meski kali ini tatapan gadis itu tidak seperti yang ia harapkan, Hong Ki tetap tak bisa mengabaikannya.


"Mianhae, Sarah. Aku hampir saja membuatmu kembali terluka." Hong Ki menuruti keinginan Sarah untuk tak mengejar Tae Sang. Ia lalu membimbing tubuh Sarah yang masih gemetar menuju kelasnya. Song Eun dan Ye Na yang baru tiba pun segera ikut membantu.


"Gwenchana, Sarah?" tanya Song Eun yang tampak sangat khawatir. Lagi-lagi ia kecolongan, membuat Sarah hampir celaka untuk kedua kali.


Sarah mengangguk pelan dan membiarkan Song Eun mengambil alih dirinya dari Hong Ki. Keduanya berjalan meninggalkan Hong Ki dan Ye Na yang masih terdiam di belakang.


"Untuk apa kamu ke sini?" Hong Ki tak menunggu lebih lama untuk menunjukkan rasa tidak sukanya atas kehadiran Ye Na.


Ye Na tidak segera menjawab. Ia memandang Hong Ki yang menatapnya dengan tatapan datar. Menunggunya bersuara.


"Kalian pacaran? Kamu dan Sarah?" Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Ye Na, membuat tatapan Hong Ki berubah tajam.


"Apa hanya itu yang ada di pikiranmu?"


Kalau saja tadi ia tak mendengar Tae Sang mengatakannya, Ye Na tak akan sepenasaran ini.


"Oppa, aku hanya..."


"Ya, kami pacaran. Apa jawaban itu bisa membuatmu segera pergi menjauh dariku? Karena aku sama sekali tidak respect dengan teman gadungan sepertimu." Tanpa menunggu jawaban Ye Na, Hong Ki melangkah pergi. Tak peduli sama sekali dengannya.


Cinta. Seringkali memang mengubah manusia menjadi lebih bodoh. Sama seperti yang terjadi pada Ye Na. Sang pujaan hati akhirnya menganggap kehadirannya, tapi hanya untuk menunjukkan bahwa Ye Na adalah orang yang ia benci.


Ye Na bahagia. Sangat bahagia, hingga air mata ikut mengalir di pipinya. Ia berusaha tersenyum dengan mata yang basah, memandangi kepergian Hong Ki dengan rasa bahagia yang samar.


"Drama," gumam Min Hyuk yang masih bergeming di tempatnya tadi. Menyaksikan semua ulah Tae Sang dan drama kecil dari teman-teman Sarah. Ia tersenyum tipis. Setidaknya, sekarang ada orang lain yang sudah menyatakan diri sebagai pacar Sarah. Artinya, dia tak perlu peduli.


Min Hyuk bebas.


Itu berarti tidur siang yang kembali damai. Namun, harus Min Hyuk akui, ia mungkin akan merindukan kue-kue ungu buatan Sarah.


Yah, ia rasa itulah hal terburuknya.


***


"Jelaskan padaku sekarang, Sarah!" Song Eun memasang wajah marah di depan Sarah. Mereka berdua sedang berada di sebuah kedai es krim dekat sekolah. Sarah merasa perlu menenangkan diri dengan segelas es krim blackberry setelah kejadian tadi.


"Jelaskan apa?" Sarah pura-pura tak mengerti. Sibuk mendahulukan keinginannya untuk melahap habis es krim ungu di depannya.


"Yah, jangan berlagak tak tahu. Kamu berhutang penjelasan padaku. Tentang kue, malaikat penjaga dan atap sekolah. Pokoknya jelaskan sekarang juga."


Sarah tertawa kecil melihat reaksi Song Eun. Temannya itu benar-benar tampak lucu saat sedang berusaha marah. Sangat tidak cocok.


"Baiklah, tapi satu satu ceritanya. Ok?"


"Ok."


Sarah kembali memasukkan satu suap es krim ke dalam mulutnya. Ia memejamkan mata, sengaja menikmatinya selama mungkin. Song Eun yang menghadap segelas es krim cokelat hanya bisa menunggu dengan dongkol. Tak berniat melakukan hal yang sama.


"Jadi, mulai dari mana?" tanya Sarah setelah selesai. Es krim blackberry berhasil mengembalikan keceriaannya, sehingga sekarang ia bisa memasang wajah manis.


"Atap. Apa yang kamu lakukan di sana?"


"Malaikat pelindungmu?"


"Ne."


Song Eun menarik napas sebelum kembali bertanya. Pertanyaan terpenting dari semuanya.


"Siapa dia? Jangan bilang namanya Tae Sang."


Senyum menghias wajah Sarah sebelum menjawab. Menunjukkan betapa bahagianya gadis itu hanya dengan menyebut nama sang pujaan hati.


"Bukan."


"Lalu?"


"Nam Min Hyuk."


Mata Song Eun membulat seketika. Tak percaya dengan apa yang ia dengar. Mungkin ia salah dengar.


Tidak. Bukan lagi mungkin, tapi Song Eun pasti salah dengar.


"Black?"


"Iya, dia. Memangnya ada yang lain?" tanya Sarah polos. Membuat Song Eun tak tahan untuk mencubit pipinya karena sebal.


"Aku sudah memperingatkanmu, Sarah," sesal Song Eun. Teman baiknya menuju masalah dan ia baru tahu. Sungguh buruk.


"Dia baik, Song Eun-ah. Bahkan, dia menerima kue dariku dan mengucapkan terima kasih," cerita Sarah.


Antara percaya dan tidak, Song Eun hanya bisa menatap Sarah dalam-dalam. Mencari tahu seberapa jauh temannya itu sudah terjerat panah cinta. Dan, Song Eun harus berhati-hati karena sepertinya hati Sarah sudah tertancap cukup dalam.


"Tapi, dia berbahaya untukmu. Sikapnya itu..,"


Sarah buru-buru memotong ucapan Song Eun. Ia tahu temannya itu khawatir, tapi Song Eun juga harus tahu jika seburuk apa pun seseorang, mereka juga pasti memiliki sisi baik. Tak terkecuali Min Hyuk.


"Song Eun-ah, aku menyukainya. Cukup biarkan saja satu hal itu. Karena dia juga sudah memintaku untuk tak lagi mengganggunya."


"Dia memintamu menjauhinya? Aish, aku tidak percaya dia sekasar itu," komentar Song Eun dengan nada jengkel. Sudah bagus ada yang perhatian padanya, tapi Min Hyuk malah bersikap kasar. Tapi, bukankah kasar adalah julukan lain untuk Min Hyuk. Song Eun seharusnya tak perlu heran.


"Sudahlah. Aku rasa dia hanya tidak ingin gadis ceroboh sepertiku terluka di dekatnya dan membuatnya repot. Kejadian di gudang waktu itu sepertinya membuat Min Hyuk terkenal dan dia jelas tidak suka."


Benar juga. Sejak hari itu, Min Hyuk memang hampir tak tampak di manapun. Bukan berarti Song Eun memperhatikan Min Hyuk. Biasanya pemuda itu tak benar-benar menghilang. Hanya sesekali muncul tanpa pernah ada yang menggubris. Song Eun adalah salah satu dari orang-orang itu. Yang hanya melirik sebentar lalu bersikap tidak peduli.


"Ah, soal itu. Aku masih tidak mengerti untuk apa kamu pergi ke gudang waktu itu?"


Sarah segera ingat tentang hal aneh yang membawanya ke gudang dulu.


"Sebenarnya, aku datang ke gudang karena seorang siswi memberitahuku bahwa kamu memanggilku ke sana. Tetapi waktu aku masuk, yang ada di dalam sana justru Min Hyuk. Aku lalu bermaksud keluar ketika tiba-tiba saja pintunya terkunci dari luar."


Mata Song Eun kembali membulat. Jelas-jelas ada yang sengaja ingin mencelakakan Sarah.


"Tapi aku tidak pernah ke sana."


"Aku tahu, Song Eun-ah. Sepertinya ada yang sengaja berniat menjebak kami berdua di dalam sana. Saat itu, aku dengar Min Hyuk menyebut nama Tae Sang."


Tidak salah lagi. Apa pun hal buruk yang berhubungan dengan Min Hyuk pasti ada kaitannya dengan Tae Sang. Semua orang sudah tahu jika mereka bermusuhan. Selama ini tak pernah ada orang lain yang terlibat, apalagi melibatkan diri. Akan tetapi, dari cerita Sarah barusan, seolah Tae Sang sengaja membawa serta Sarah dalam perseteruannya.


Pertanyaan pentingnya adalah, kenapa?


"Itu mungkin saja. Ah, sudahlah. Lupakan. Yang penting kamu harus hati-hati mulai sekarang. Turuti saja perintah Min Hyuk untuk menjauh. Karena Tae Sang tidak akan mendekat jika kamu tidak berhubungan dengan Min Hyuk."


Sebenarnya Sarah tidak suka dengan ide menjauh dari Min Hyuk. Namun demi keselamatan diri sendiri, ia harus melakukannya. Toh, ia masih bisa mengagumi Min Hyuk dari kejauhan.


"Tentu saja akan aku lakukan. Lagipula dia hanya memintaku menjauh, kan? Bukan berhenti menyukainya."


Apa yang baru saja Sarah ucapkan menegaskan satu hal. Dia benar-benar menyukai Min Hyuk. Song Eun hanya bisa menghembuskan napas perlahan dengan perasaan bingung. Tidak menyangka jika ia benar-benar dihadapkan pada kisah cinta yang ia pikir hanya ada dalam film.


Hong Ki menyukai Sarah, yang menyukai Min Hyuk, yang sama sekali tak peduli. Dan Ye Na sangat menyukai Hong Ki tanpa tahu jika ada Tae Sang yang juga diam-diam menyukainya.


Lalu, Song Eun? Dia juga terlibat. Karena Song Eun menyukainya. Bahkan, jauh sebelum kisah itu berawal. Namun tak ada yang tahu, atau mau tahu.


"Song Eun-ah!" panggil Sarah yang heran melihat temannya itu tiba-tiba melamun. "Apa yang kamu pikirkan?"


Tersadar dari lamunannya, Song Eun segera memberikan seutas senyum. Ia memandang Sarah sejenak, lalu memutuskan dalam hati bahwa Sarah tak perlu tahu tentang 'dia'. Karena hal itu hanya akan memperumit masalah yang ada.


"Tidak ada," jawab Song Eun akhirnya, lalu mulai memakan es krim cokelat miliknya yang semenjak tadi tak tersentuh.


***


● gwenchana : kamu tidak apa-apa?


● yah : hei


***