Something Called Love

Something Called Love
Terhubung



Musim panas. Musim yang berarti satu hal untuk para murid Hanyang Senior High School. Waktu yang selama ini mereka habiskan untuk belajar akan segera terisi dengan kesenangan, karena saat angin musim semi pamit pergi, maka saat itulah liburan mereka dimulai.


Sarah mengamati tingkah teman-teman sekelasnya yang tampak sangat senang. Sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama. Hanya seorang workaholic yang benci liburan. Dan, Sarah tidak termasuk ke dalam kategori tersebut. Ia hanya tidak tahu harus berencana apa untuk mengisi liburan pertamanya di Daegu.


"Kenapa melamun?" tegur Song Eun.


Sarah menoleh lalu tersenyum tipis.


"Tidak. Aku hanya sedang melihat kegembiraan kalian semua," jawabnya sembari bertopang dagu. Tiba-tiba ia jadi penasaran mengenai rencana Song Eun di liburan musim panas. "Apa kegiatanmu liburan nanti?"


"Seperti biasa, bekerja." Jawaban Song Eun menyadarkan Sarah akan satu hal. Son Eun tak sama dengan teman-temannya yang lain. Saat yang lain sibuk berpikir cara untuk menghabiskan uang saku mereka, Song Eun justru bekerja keras untuk mendapatkannya.


"Di kedai makanan seperti katamu itu?"


Song Eun mengangguk. Tangannya beralih menuju tumpukan buku di hadapannya. Memasukkan buku-buku tersebut ke dalam tas, bersiap untuk pulang.


"Menyenangkan jika memiliki rencana sepertimu," gumam Sarah. Ia sekarang duduk dengan tegak, berganti memainkan ujung rambutnya yang terikat pita ungu dengan bosan.


"Astaga, Sarah. Tidak ada yang menyenangkan dari bekerja selain saat kamu menerima gaji," canda Son Eun, sekadar ingin menghangatkan suasana.


Tawa Sarah berderai mendengar ucapan Song Eun. Ia rasa gadis itu akan menjadi orang yang paling ia rindukan selama liburan.


"Ya, sudahlah. Kapan-kapan aku akan mampir ke tempat kerjamu bersama eomma."


"Tentu. Kamu juga boleh datang bersama Hong Ki," goda Song Eun yang sumringah melihat wajah Sarah tertekuk seketika begitu nama Hong Ki terucap.


"Berhentilah menggodaku, Song Eun," pinta Sarah. Matanya melirik ke arah bangku Hong Ki dengan cepat. Pemuda itu sudah pergi, sehingga ia tak perlu takut membicarakannya bersama Song Eun.


Hong Ki memang baru saja memenangkan olimpiade sains tahunan. Hanya juara ketiga, tapi itu cukup membanggakan untuk pihak sekolah. Harusnya sekarang ia ikut menikmati euforia menjelang liburan yang tengah terjadi di kelasnya, tapi pemuda itu malah segera pergi.


"Kamu bertemu dengan orang yang gigih, Sarah. Bahkan lebih dari usahamu mendekati Black," cetus Song Eun. Teringat betapa Hong Ki pantang menyerah untuk mendapatkan hati Sarah.


"Aku sedang tidak ingin membicarakannya." Sarah mengerucutkan bibirnya.


"Yang mana? Hong Ki atau Black?"


"Dua-duanya."


Giliran Song Eun yang tertawa. Merasa tingkah Sarah sangat menggemaskan. Bagaimana tidak? Gadis itu masih saja merasa menjadi gadis biasa yang tak suka dengan hal-hal heboh. Padahal tanpa Sarah sadari, ia sudah membuat dirinya terhubung dengan tiga pemuda populer di sekolah. Hong Ki, si cerdas anak pemilik sekolah, Tae Sang, berandal yang ditakuti hampir seisi sekolah dan Min Hyuk, pemuda dingin yang tatapannya kerap membuat orang lain tak bisa berkutik.


"Nikmati saja. Tidak semua orang seberuntung kamu," nasehat Song Eun. Ia sudah selesai berkemas.


Sarah tersenyum. Kepalanya mengangguk mengiyakan perkataan Song Eun. Lagipula bukan kedua pemuda itu yang membuatnya sedih. Ia lebih khawatir tentang liburan yang tak bisa ia lalui bersama Song Eun. Dan, saat itu dimulai besok.


"Mau saran untuk mengisi liburan dariku?" Song Eun menawarkan diri setelah melihat wajah Sarah yang tampak kusut.


Pertanyaan tersebut sontak mengubah raut Sarah menjadi berbinar.


"Apa?"


"Buatlah kue blackberry yang banyak dan enak. Sepertinya Hong Ki dan Black menyukainya."


Sarah bermaksud mencubit lengan Song Eun, tapi gadis berkacamata itu sudah kabur lebih dulu. Mereka pun berkejaran di hari terakhir sebelum libur musim panas. Diselingi tawa yang berderai di bawah langit sore kota Daegu.


***


"Song Eun, tolong siapkan ramyeon dua porsi untuk pesan antar." Suara Tuan Kim memenuhi dapur yang sudah sibuk sejak pagi.


Song Eun menjawab permintaan bosnya tersebut dan segera menyiapkan pesanan yang dimaksud.


Little Daegu Ramyeon Shop memang tak pernah sepi pelanggan. Selain rasanya yang enak, pelayanan kedai tersebut juga terkenal baik. Hal itu menjadikan kedai kecil yang hanya memiliki beberapa pegawai saja tersebut selalu laris manis.


Song Eun sudah bekerja di sana sejak dia kelas satu di Senior High School. Gajinya lumayan untuk menambah keuangan Song Eun yang tak bisa hanya mengandalkan penghasilan sang nenek dari berjualan sayur di pasar. Ia juga bersyukur karena tuan Kim adalah sahabat ayahnya saat sekolah dulu. Beliau membiarkan Song Eun bekerja di sana setiap liburan sekolah. Lagipula, beliau bilang sangat menyukai pekerjaan Song Eun. Meski masih sekolah dan hanya bekerja di sana sebagai asisten koki utama, Song Eun dikenal teman-teman kerjanya sebagai gadis yang rajin.


"Sudah siap. Ramyeon dua porsi untuk pesan antar," seru Song Eun sembari meletakkan makanan yang dimaksud di atas meja dekat dapur.


"Ne."


Suara yang menjawab seruan Song Eun terdengar berbeda. Biasanya tugas mengantar dilakukan oleh Jin Young, sunbae Song Eun di Junior High School.


"Sedang apa kamu di sini?" Song Eun terkejut sewaktu melihat si pengantar makanan.


"Bekerja, sepertimu," jawab pengantar tersebut santai. Ia mengambil ramyeon buatan Song Eun lalu membawanya pergi.


Song Eun mematung di tempat meski si pengantar telah menghilang dari hadapannya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


Bagaimana mungkin pemuda itu bisa bekerja di tempat yang sama dengannya?


Pemuda itu. Kim Tae Sang.


***


Ia mendekat ke intercom dan memberitahukan bahwa ia petugas pengantar ramyeon. Seorang gadis yang menjawab dan memintanya menunggu.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara pagar yang dibuka. Tae Sang yang tadinya ingin segera memberikan pesanan pemilik rumah agar bisa langsung pergi terkejut sewaktu si gadis pemilik rumah menampakkan diri.


Kim Ye Na.


Tanpa berkata apa pun, Ye Na mengambil ramyeon pesanannya dan menyerahkan sejumlah uang. Gadis itu tak mengenali Tae Sang yang sekarang tengah memakai seragam kerja. Sebuah jaket merah bertuliskan Little Daegu Ramyeon Shop dengan huruf berwarna hitam di depan dada.


"Ye Na?"


Sang pemilik nama menoleh dan sama terkejutnya melihat Tae Sang. Ia buru-buru menghindar, hendak masuk dan menutup pagar ketika tangan Tae Sang lebih dulu mencekalnya.


"Lepaskan aku!" seru Ye Na.


Tae Sang bergeming. Ia menatap Ye Na yang malam ini tampak begitu cantik dengan piyama warna pink bermotif bunga sakura. Penampilan yang sangat berbeda dengan Ye Na yang ia kenal di sekolah.


"Kamu sudah mau tidur, tapi memesan makanan? Itu bisa membuatmu gemuk," nasehat Tae Sang. Ia ingat jika dulu Hye Ran sering mengeluhkan hal tersebut.


"Bukan urusanmu. Lepaskan aku. Ini rumahku, bukan sekolah. Kamu tidak bisa seenaknya di sini atau akan ku laporkan pada polisi," ancam Ye Na.


Tae Sang tertawa. Menganggap ancaman Ye Na hanya lelucon.


"Laporkan saja. Aku tidak takut," tantangnya.


Ye Na berpikir ulang untuk bemar-benar melakukannya. Ia lupa kalau Tae Sang bukan penakut. Polisi tidak akan menghentikannya.


"Kalau begitu pergilah. Aku sudah membayar pesananku, kan?"


"Sayangnya aku sedang ingin di sini." Jawaban Tae Sang membuat Ye Na jengah. Rasa jengkelnya pada pemuda itu sejak kejadian di kantin dulu, saat Tae Sang membela Song Eun, masih belum hilang. Dan, sekarang ia masih harus menghadapi pemuda itu lagi.


"Apa maumu sebenarnya?"


"Kamu sendirian di rumah?"


Sikap Ye Na langsung berubah waspada. Pertanyaan Tae Sang benar-benar mencurigakan.


"Apa urusannya denganmu?"


Tae Sang kembali tertawa. Tangannya masih memegang lengan Ye Na.


"Sendirian atau tidak, kamu tidak akan mengijinkanku masuk. Dan, kamu tetap akan memakan ramyeon itu sendirian. Jadi, duduk dan makanlah di sini. Aku akan menemanimu," pinta Tae Sang sembari menunjuk anak tangga di depan pintu.


"Anio. Di sini dingin," tolak Ye Na. Ia juga tidak mau begitu saja menurut pada Tae Sang.


Tiba-tiba Tae Sang melepas jaketnya, lalu meletakkannya di pundak Ye Na. Membuat gadis itu merasa lebih hangat.


Terkejut sekaligus terpana, Ye Na bahkan tidak sadar jika tangannya telah bebas dari cekalan Tae Sang. Ia bisa saja segera melarikan diri, bukannya malah terdiam dengan ekspresi bingung.


"Baiklah. Ini karena kamu memaksa," ujar Ye Na akhirnya.


Ia memilih segera duduk di salah satu anak tangga yang tadi ditunjuk Tae Sang. Lalu mulai membuka ramyeon pesanannya.


Tae Sang tersenyum tipis, lalu duduk di sebelah Ye Na. Menemani gadis itu makan dalam diam. Meski ada begitu banyak yang ingin ia ungkapkan sekarang, Tae Sang memilih bungkam.


Malam ini, di bawah langit gelap yang cerah tanpa mendung, Tae Sang mensyukuri satu hal. Ia baru saja membuat sebuah kenangan dengan gadis pujaannya.


Hanya sebuah kenangan kecil yang mungkin tidak akan Ye Na ingat. Namun, satu hal yang pasti. Tae Sang tidak akan pernah melupakannya.


***


Menyebalkan.


Min Hyuk merutuki dirinya sendiri. Sudah kesekian kali ia melewati toko kue itu. Tentu saja, jalan menuju tempat tinggalnya memang di sana. Masalahnya adalah ia harus melihat kue itu hampir setiap hari. Kue berhias buah blackberry yang terpajang cantik di etalase depan toko tersebut.


Kenapa hanya kue itu saja yang dipamerkan? Apakah pemilik toko itu mengenal Sarah? Sehingga selalu menyajikan kue yang meski beraneka macam, tetapi tak pernah meninggalkan buah blackberry sebagai toppingnya.


Ah, benar, kan? Kue-kue itu sangat mengganggu.


Min Hyuk kembali merutuki dirinya. Kue-kue itu mengingatkannya pada Sarah. Padahal ia sudah bertekad untuk tidak memikirkan gadis itu lagi.


Ah, tidak. Kue-kue itu mengganggu Min Hyuk lebih karena ia teringat dengan Hong Ki dan Sarah. Teringat saat kedua sejoli itu tengah asyik memakan kue tanpa tahu jika Min Hyuk juga menginginkannya.


Namun, untuk apa mereka harus tahu? Min Hyuk sudah cukup malu saat Sarah memergokinya melihat mereka berdua dari atap sekolah. Akan lebih memalukan jika gadis itu tahu bahwa Min Hyuk merindukan kue buatannya.


"Masa bodoh. Aku memang menginginkannya," gumam Min Hyuk tak peduli. Kakinya lalu melangkah mantap menuju toko kue tersebut.


Blackberry, aku datang.


***