Something Called Love

Something Called Love
Semudah Itu



Min Hyuk menghela napas. Ia tak bisa berhenti bertanya pada dirinya sendiri. Dari sekian banyak orang di sekolah, kenapa ia harus bertemu dengan Sarah? Di hari yang masih terlalu pagi untuk terbawa perasaan.


Seperti biasa, Sarah sedang berjalan bersama Song Eun. Arah datang kedua gadis tersebut berlawanan dengan Min Hyuk. Hanya tinggal menunggu sampai saat mereka akhirnya berpapasan.


Lima langkah sebelum hal itu terjadi, Sarah yang sedari tadi menundukkan kepala akhirnya mendongak. Kedua mata coklatnya tampak terkejut melihat Min Hyuk. Namun, tak lama. Karena setelah itu ia kembali menunduk. Bahkan, gadis itu menggeser tubuhnya hingga jarak antara dirinya dan Min Hyuk semakin bertambah sebelum mereka sempat mendekat. Caranya menghindar terlalu mencolok.


Entah kenapa Min Hyuk tak suka melihatnya. Sembari mendengus kesal, ia mempercepat langkah. Berharap mereka bisa segera pergi ke tempat tujuan masing-masing. Tak perlu lebih lama lagi berada dalam atmosfer yang sama.


"Mianhae, Sunbaenim."


Seorang siswa junior buru-buru meminta maaf segera setelah menabrak Min Hyuk. Akan tetapi, ia memilih untuk bergegas pergi ketika jawaban kakak kelasnya itu adalah tatapan dingin yang menakutkan.


Min Hyuk sendiri tak ambil pusing. Ia sudah terbiasa ditakuti di sekolah. Meski ia sendiri tak begitu yakin apa yang menyeramkan darinya. Lagipula, ada hal lain yang lebih penting dari itu.


Sarah.


Karena siswa junior tadi, Min Hyuk dan Sarah yang sudah berusaha untuk saling menjauh justru jadi lebih dekat. Siswa junior tadi membuat tubuhnya terhuyung ke Sarah dan hampir saja membuat gadis itu terjatuh jika tangannya tidak segera bertindak.


Tangan Min Hyuk memegang lengan Sarah. Keduanya berhadapan dan bertemu pandang sepersekian detik hingga akhirnya tersadar, lalu buru-buru membuat jarak.


"Mianhae." Sama seperti siswa yang menabrak Min Hyuk tadi, Sarah tak mau menunggu jawaban. Gadis itu segera berlari pergi setelah meminta maaf. Seolah melarikan diri adalah cara terbaik untuk menghadapi Min Hyuk.


Song Eun yang sedari tadi hanya terdiam menonton kejadian tersebut ternyata masih diam di tempat. Tak mengikuti langkah Sarah. Gadis itu justru menatap Min Hyuk cukup lama. Sama sekali tak tampak seperti yang lain.


Jengah dengan tatapan meneliti yang Song Eun layangkan, Min Hyuk bersiap pergi. Namun, ucapan Song Eun membuat langkahnya terhenti.


"Kamu tidak perlu secanggung itu jika tidak peduli pada Sarah," ujar gadis berkacamata tersebut sebelum akhirnya pergi terlebih dulu.


Tersisa Min Hyuk yang mematung di tempat. Meresapi setiap ucapan Song Eun yang baru saja merambah telinganya.


Min Hyuk tidak canggung saat tanpa sengaja menyentuh Sarah tadi. Ia yakin. Bahkan sangat yakin. Karena ia tidak peduli pada gadis itu.


Hanya saja...,


Min Hyuk hampir tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam sepulang dari mengantar Sarah. Ia kesulitan melupakan rasa asing yang muncul ketika tangan mereka bersentuhan, saat Min Hyuk menyerahkan Seung Jo kembali pada Sarah semalam.


Baru saja mereka kembali bersentuhan. Lebih tepatnya, Min Hyuk yang menyentuh Sarah. Dan, rasa asing itu kembali muncul. Seperti riak kecil yang menggoda aliran darah Min Hyuk.


Perasaan macam apa itu?


Ah, sial!


Ini semua gara-gara ucapan konyol sang paman tempo hari.


Min Hyuk tidak mungkin jatuh cinta pada Sarah, kan? Semudah itu?


***


"Kalian bertengkar?" Pertanyaan pertama Hong Ki saat mengiringi langkah Sarah keluar gerbang sekolah.


Mereka hanya berdua. Song Eun tak ikut serta. Dan, meski belum tahu pasti kenapa, Hong Ki yakin ada sesuatu di antara Sarah dan Song Eun. Sesuatu yang membuat kedua gadis itu saling diam semenjak pagi.


"Siapa?"


"Kamu dan Song Eun."


Sarah tak bersuara. Seperti enggan untuk bercerita.


Hong Ki pun memilih untuk diam. Tak ingin memaksa. Mungkin sesuatu itu adalah masalah antar perempuan yang tak dapat ia campuri.


"Hong Ki-ssi, pernahkah kamu memendam perasaan pada seseorang?"


Alih-alih memberi kejelasan atas apa yang terjadi antara dirinya dan Song Eun, Sarah justru melontarkan pertanyaan lain.


Kening Hong Ki berkerut. Namun, ia tersenyum simpul sebelum akhirnya menjawab.


"Jinjja?"


Tatapan mata Sarah seolah menayangkan sederet kalimat yang bisa Hong Ki baca. Seperti berbunyi 'bagaimana dengan gadis-gadis yang kamu sukai?'


"Kamu yang pertama."


"Mwo?" Sarah memasang tampang bodoh mendengar jawaban Hong Ki. Sebaliknya, pemuda itu justru kembali tersenyum kecil.


"Gadis pertama yang aku sukai. Dan, aku mengakuinya secara terbuka, bukan?"


Penjelasan Hong Ki sukses membuat wajah Sarah memerah karena malu. Ia tidak bermaksud membahas hal itu. Sejujurnya, ia bahkan tidak ingin membicarakannya.


"Dan, kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?"


Mana mungkin Sarah jujur tentang kisah Song Eun yang ternyata sudah memendam perasaan pada Tae Sang cukup lama. Pertama, Sarah tidak berhak melakukannya. Dan, kedua, ia tidak ingin menumpuk masalah.


Sarah sendiri masih tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah mendengar pengakuan Song Eun. Ada sebersit kecewa dan juga amarah yang tidak bisa ia ungkapkan. Namun, Sarah juga tak bisa memungkiri perasaan khawatirnya pada Song Eun.


Hong Ki menyenggol lengan Sarah pelan. Membuyarkan lamunan gadis tersebut.


"Tidak apa-apa." Akhirnya hanya jawaban itu yang keluar. Berharap bisa meyakinkan Hong Ki.


Ada banyak pertanyaan yang bergumul di otak Hong Ki tentang Sarah. Namun, ia memilih untuk bungkam. Membiarkan waktu yang mereka lewati bersama bebas dari segala curiga.


Langit malam itu memamerkan tirai kelamnya yang penuh dengan kerlip bintang. Hong Ki tidak ingin merusak suasana.


Ia tak tahu apa yang Sarah rasakan. Apa yang Sarah pikirkan. Apakah tentang dirinya? Ataukah tentang orang lain?


Tentu saja tak akan jadi masalah jika orang lain itu adalah Song Eun, Seung Jo atau keluarga Sarah lainnya. Hong Ki hanya takut jika orang lain itu adalah seseorang yang mampu memalingkan Sarah darinya.


"Kamu menyimpan perasaan pada seseorang? Apa itu alasanmu menolakku?"


Dan, nyatanya rasa yang berusaha Hong Ki tahan itu tetap muncul menjadi sebuah pertanyaan. Sikap diam Sarah membuat kekhawatiran Hong Ki bertambah.


"Apa yang membuatnya lebih dariku?"


Hong Ki menangkap sesuatu yang asing dari raut wajah Sarah. Kilat mata gadis itu menunjukkan emosi yang berbeda. Sarah marah.


"Ini bukan tentang kita," ujar Sarah. Tampak jelas ia tengah berusaha menahan amarah. "Dan, bisakah kamu tidak menanyakannya?"


Hong Ki tahu ia berlebihan. Namun, ia benar-benar tidak ingin kehilangan Sarah. Sekali pun gadis itu belum membuka hati untuknya, Hong Ki akan memastikan tidak ada yang bisa membuat Sarah berpaling.


Cinta pertama Hong Ki. Tidak boleh ada yang merenggutnya.


"Aku hanya...,"


"Gomawoyo, Hong Ki-ssi. Aku pulang dulu." Sarah bersyukur karena bus datang bertepatan dengan mereka tiba di halte. Ia jadi tak perlu menunggu lebih lama untuk menghadapi Hong Ki.


Hong Ki tak bisa mencegah Sarah yang sudah melompat naik ke dalam bus. Gadis itu bahkan tak berpaling untuk sekadar melemparkan senyum dan lambaian tangan. Hal yang selalu Sarah lakukan saat mereka berpisah. Menandakan jika Hong Ki sudah membuat kesalahan padanya.


Sarah segera duduk di salah satu bangku kosong di dekat jendela. Sengaja tak menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Hong Ki masih berada di halte atau tidak.


Sarah tak tahu pasti apa alasannya marah pada Hong Ki. Ia hanya merasa pemuda itu terlalu menuntutnya untuk membuka hati. Tak mempedulikan hal lain yang juga penting untuk hidup Sarah.


Namun, mengingat semua kebaikan Hong Ki, Sarah tak bisa begitu saja marah. Maka dari itu, ia memilih untuk diam. Sengaja mengabaikan pemuda itu dengan cara yang halus. Meski begitu, tetap ada sedikit sesal di hati Sarah karena sudah bersikap buruk pada Hong Ki.


Bus melaju pelan meninggalkan halte. Sarah berusaha mengabaikan perasaannya yang campur aduk mengenai Song Eun dan Hong Ki dengan melayangkan pandangan ke luar bus. Ke jalanan malam kota Daegu yang tampak damai. Akan tetapi, niatnya sama sekali tak berhasil. Karena tak jauh dari halte, Sarah melihat sepasang remaja yang tengah berjalan bersama menuju halte tempatnya menunggu bus tadi.


Kedua mata coklat Sarah membulat. Namun, ia tak dapat melakukan apa pun selain berharap Hong Ki sudah pergi dari halte. Karena jika pemuda itu masih di sana, maka ia akan bertemu dengan sepasang remaja yang baru saja dilihatnya.


Kedua remaja itu. Song Eun dan Tae Sang.


***